
"Eh, Angel, silahkan duduk," perintah Satria.
Angel segera duduk di samping Satria. Rasanya ingin kabur saja bila mengetahui siapa Klien yang ingin bertemu dengan atasannya.
Satria segera memperkenalkan Angel kepada Klien tersebut.
"Kenalkan dia sekretarisku, namanya Angelina Puspita," Satria, memperkenalkan sekretarisnya.
Laki-laki itu tersenyum, entah kenapa hatinya begitu senang saat Satria memperkenalkan sekretarisnya.
"Kenalkan saya, Veri Alaska, pemilik perusahaan Alaska group," Veri memperkenalkan diri, lalu mengulurkan tangannya.
Hati Angel semakin tak karuan dan sangat membenci laki-laki yang kini ada di depannya. Angel mencoba menenangkan hatinya dengan menarik napas, lalu menghembuskannya dengan perlahan.
"Helo, Pak, senang bisa bertemu dengan Anda," Angel membalas uluran tangan Veri, lalu dengan segera melepaskannya.
"Iya, saya juga sangat senang bisa ketemu denganmu, Angel," Veri, kemudian tersenyum.
Angel membalas senyumannya dengan terpaksa.
"Gimana, mau mulai sekarang kita bahasnya?" tanya Satria kepada Veri.
"Boleh, kita mulai saja sekarang."
Satria segera memulai membahas kerjasamanya. Sesekali Veri menatap Angel ketika membahas tentang perusahaan. Wanita itu memalingkan wajahnya saat Veri menatap dirinya dan Angel hanya fokus menatap Satria.
Veri merasa terpesona pada wanita yang kini duduk disamping Satria. Bagaimana tidak? Angel kini terlihat sangat cantik dan terlihat dewasa. Veri merasa bersyukur orang yang di cari selama ini kini sudah ketemu.
*Dua jam sudah mereka membahas tentang perusahaannya masing-masing, kini mereka sepakat untuk bekerjasama demi kemajuan perusahaanya.
"Terima kasih, sudah mau bekerjasama dengan saya, semoga perusahaan kita semakin maju dan berkembang pesat," Satria, mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Iya, itulah yang kita harapakan perusahaan kita harus jauh lebih baik dan berkembang pesat saat kita memulai kerjasama," lirih Veri, membalas uluran tangan satria.
"Semoga saja. Saya sangat senang bisa bekerja sama dengan Anda," Satria, tersenyum.
"Saya pun sangat senang bisa bekerja sama dengan Anda," Veri membalas senyuman Satria.
"Oya, apakah sekretarismu sudah lama bekerja denganmu?" tanya Veri kepada Satria.
"Hampir dua tahun lebih dia bekerja denganku. Emanya kenapa?" tanya balik Satria.
"Enggak apa-apa cuma nanya aja."
"Apakah selama hamil dia bekerja dengannya? Tega sekali dia pergi begitu saja. Oya, apa kabarnya anakku? batin Veri, kemudian laki-laki itu menatap Angel"
Tak sengaja Angel menatap Veri, sehingga netra mereka saling bertemu. Lagi-lagi Angel langsung memalingkan wajahnya.
"Miris banget ya hidup ini, kenapa dulu orang yang ada di sampingku malah pergi meninggalkanku," Veri merasa kecewa.
"Maksudnya apa berbicara seperti itu?" Satria merasa tidak mengerti.
Angel membulatkan matanya karena terkejut saat Veri berkata seperti itu. Bagaimana bisa, dia curhat sama orang yang baru di kenalnya.
"Oya? Kenapa bisa dia pergi begitu saja saat kamu sakit?" tanya Satria.
"Entahlah, Aku juga enggak ngerti kenapa dia pergi. Mungkin aku bukan pria yang di dambakan dan dia pergi demi mengejar pria yang bisa memenuhi kebutuhannya."
"Ya ampun ini orang benar-benar menyebalkan. Seharusnya dia bahagia bila aku pergi dari hidupnya. Dia bisa bebas menikah dengan wanita brengsek itu. Oya, apa kabar Via? Apakah dia sudah menikah dengannya? Ah, sudahlah ngapain dipikirin batin Angel."
Satria merasa empati saat Veri menceritakan istrinya yang pergi dari kehidupannya. Satria pernah merasakan bagaimana rasanya saat orang yang dicintainya pergi demi pria lain.
"Aku merasakan apa yang kamu rasa, semoga mendapat wanita yang jauh lebih baik lagi dari dia," ucap Satria.
__ADS_1
"Iya, makasih. Tapi aku tidak mungkin melupakan dia karena dia sedang mengandung anakku," Veri, sekilas menatap Angel.
"Istrimu sedang mengandung anakmu? Mau apa sih dia? Kenapa bisa pergi saat dia mengandung?" Satria merasa tidak percaya.
"Entahlah. Sudah, lupakan saja. Maaf saya jadi curhat."
"Enggak apa-apa, santai aja kalau denganku," ucap Satria.
Angel merasa risih mendengar percakapan Veri dan Satria. Wanita itu meminta izin kepada atasannya untuk ke toilet dulu. Angel segera berjalan menuju wastafel.
'Apa maksud dia berkata itu? Sial sekali harus bertemu dengan dia. Si pria brengsek itu bicara kalau aku pergi karena pria lain? Dasar benar-benar gila!' Vanes berbicara pada diri sendiri dan merasa kesal saat mendengar perkataan Veri.
Angel, kemudian membasuh wajahnya dengan air, wajahnya kini merasa segar saat air tersebut menyentuh wajahnya. Wanita itu mengambil tisu dari tasnya lalu mengusap wajahnya dengan tisu itu.
Saat sudah selesai, Angel segera keluar dari wastafel tersebut. Betapa terkejutnya saat melihat laki-laki yang kini ada di depan matanya.
#########
#Yuk mampir lagi karya temanku ini, dijamin seru banget dan bikin baper nih. Cus ah enggak nyesel baca deh.
Blurb:
Belum ada dalam pikiran Dira untuk segera mengakhiri masa sendirinya, ia masih trauma pasca ditinggalkan oleh suami yang teramat ia cintai pergi untuk selamanya dan disusul satu-satunya superhero yang selalu berada disisinya, yaitu Ibu.
Disisi lain, putra sulung dari pemilik Raymond Group mengalami kegagalannya dalam berumahtangga.
Setelah berhasil dari masa keterpurukannya dan memilih tinggal diluar negeri, akhirnya ia kembali ke tanah air dan menggantikan posisi ayahnya, Erick Raymond.
Awal pertemuan yang tidak sengaja antara Edgar Raymond dan Dira. Dira ternyata bekerja di salah satu cabang milik Raymond group.
Sebuah problema mengharuskan Dira berurusan langsung dengan tuan Edgar Raymond.
__ADS_1
Urusan apakah itu?