BISIK HENING CINTA

BISIK HENING CINTA
SALAH PAHAM


__ADS_3

POV Arunika


"Sudahlah Kanaya, nggak usah mainan begini" Kata Sandyakala


"Benci aahhh. Segampang itu nebaknya" Kata gadis yang bernama Kanaya.


Kanaya lalu melepaskan tangannya dari wajah Sandyakala dan kemudian duduk di samping Sandyakala. Dengan santainya dia melingkarkan tangannya ke lengan Sandyakala dan Sandyakala hanya membiarkannya. Sepertinya mereka sudah terbiasa seperti itu. Sandyakala juga tampak nyaman saat Kanaya bergelayut manja di sisinya. Kemudian, datang lagi seorang lelaki yang dengan langkah yang mantap berjalan menuju ke arah meja kami. Sandyakala lalu berdiri menyambutnya dan mempersilahkan dia duduk di sampingku.


"Kanaya ngapain di sini?" tanyanya ke Kanaya dengan nada datar


"Kan ini tempat umum" jawab Kanaya


"Oh iya, ini teman-teman aku. Kendra, Jeevan, dan ini Nika" kata Sandyakala sambil menunjuk kami satu per satu


"Oh...ini yang namanya Nika? hai aku Abhi, teman bandnya Sandy, aku vokalis, dan ini Kanaya yang pegang Keyboard, ada lagi si Alfi sama Ryan, cuma mereka belum bisa ke sini" sapanya dengan ramah kepadaku sambil mengulurkan tangan ke arahku.


Aku membalas menyalaminya dan tersenyum padanya, seperti biasa aku tidak banyak berbicara saat bertemu orang baru. Tapi, dalam hatiku bertanya-tanya. Kenapa seolah-olah Abhi mengetahui tentang aku, apa selama ini Sandyakala bercerita tentang aku kepadanya?


"Abhi ini yang melukis tembok ini" kata Sandyakala


"Tapi Sandy yang minta, pesanan khusus buat yang istimewa katanya" kata Abhi sambil terus menatapku.


Sandyakala terlihat tersenyum bangga dan yang bisa aku lakukan hanya tersenyum tersipu malu. Seistimewa apa aku bagi Sandyakala? Tapi aku merasa aneh dengan tatapan Kanaya kepadaku. Seperti ada perasaan tidak suka dan menyelidiki.


"Tapi, kan kalian cuma homeband di sini, kenapa diizin buat melukis di tembok? tanya ku penasaran


"Cuma homeband?" tanya Kanaya heran dan membingungkanku "Kamu itu beneran dekat dengan Sandy nggak si?Kok aku nggak yakin" lanjutnya.


Aku hanya diam sepertinya ada yang salah dengan pertanyaanku tadi. Tapi aku melihat Abhi malah melirik ke arah Sandyakala.


"Eh, Kanaya. Ikut aku sebentar ya" kata Abhi lalu berdiri dan terkesan menarik paksa tangan Kanaya dan mengajaknya pergi dari sini.


...****************...


POV Sandyakala


Nasib baik ada Abhi yang tanggap dan cepat bertindak sehingga aku terselamatkan. Abhi tau semua tentang Arunika. Aku selalu curhat padanya, dan dia selalu merespon dengan baik. Sudah jelas, Kanaya tidak menyukai Arunika, tiap kali aku menyebut nama Arunika, dia selalu mencela Arunika. Kata Abhi, Kanaya menyukaiku, tapi untuk saat ini, aku belum ada hati untuk berpacaran dengan siapapun. Aku tahu Kanaya tadi berusaha menyudutkan Arunika, membuat situasi berapa tidak pentingnya Arunika di hidupku karena Arunika sama sekali tidak tahu mengenai cafe ini. Aku juga tidak pernah bercerita kepada Kanaya, dia tahu hal ini dari Om Alden dan mengatakannya kepada teman-teman band. Bukannya apa, aku hanya mencari waktu yang tepat saja untuk memberitahu Arunika mengenai cafe ini. Bahkan mungkin sampai aku sepenuhnya bisa mengakuisisi cafe ini dan sepenuhnya menjadi milikku dan mama. Om Alden sepertinya sudah tidak tertarik dengan bisnis cafe ini karena akhir-akhir ini, beliau lebih fokus dengan bisnis properti yang sudah setahun dijalaninya. Aku melihat Arunika sepertinya bingung dengan situasi ini. Entah bagaimana untuk memecahkan ketegangan ini.


Tiba-tiba, handphone Kendra, berbunyi kemudian dia pamit pulang dengan Gojek karena ibunya sudah di rumah.


"Kita juga pulang yuk Nika, kan sudah selesai makan es krimnya" kata Jeevan.


Arunika menyetujui ajakan Jeevan. Saat aku meminta mereka untuk menunggu Pak Santi, ternyata Jeevan sudah memesankan taksi online untuk mereka. Aku mengikuti mereka sampai ke pintu keluar dan membukakan pintu mobil untuk Arunika.

__ADS_1


"Sandy nggak ikut Nika pulang?" tanya Arunika.


"Nanti saja biar dijemput Pak Santo, aku juga masih ada urusan" kataku sambil menutup pintu dan melambaikan tangan ke arahnya. Ya sudahlah, masih banyak waktu untuk aku bersama Arunika.


...****************...


POV Jeevan


Taksi online yang ku pesan berjalan perlahan. Sandyakala masih berdiri di sana menatap kepergian kami sampai akhirnya, kami berbelok dan menjauh dari cafe itu. Sepertinya ada yang dirahasiakan Sandyakala dan teman-temannya tadi. Pasti tadi Kanaya hampir saja keceplosan lalu Abhi mengajaknya pergi. Tapi syukurlah, aku yakin kalau Sandyakala dan Arunika tidak berpacaran, nyatanya Sandyakala dan Kanaya mesra di depan Arunika. Melihat dari tingkah manja Kanaya, aku yakin kalau Kanaya adalah pacar Sandyakala selama ini. Lalu kenapa dia membuatkan lukisan yang kata Abhi khusus untuk Arunika? Mungkin karena itu juga tadi Kanaya bersikap tidak bersahabat dengan Arunika. Perempuan mana yang tidak panas hatinya kalau pacarnya memberikan sesuatu untuk perempuan lain.


Ku lihat Arunika menatap jauh ke luar jendela. Begitulah kebiasaan Arunika jika di dalam mobil. Denganku juga dia tidak banyak bicara. Selalu aku yang memulai pembicaraan.


"Capek?" tanyaku mulai basa-basi.


"Dikit" jawabnya singkat.


Ingin rasanya ku tawarkan bahuku untuk Arunika bersandar seperti yang biasa Sandyakala lakukan, tapi aku takut kalau dia malah menganggap aku kurang ajar. Beruntungnya Sandyakala, yang walaupun sudah memiliki Kanaya, tapi masih bebas menunjukkan perhatian dan rasa sayangnya ke Arunika.


"Kamu capek?" tiba-tiba Arunika bertanya kepadaku.


"Aku ?! Nggak. Kita kan hanya duduk-duduk santai" jawabku


"Kamu kenapa nggak pernah gabung sama Sandy? Kalian kan sesama cowok?" tanyanya bernada serius.


"Maksudnya?" tanyaku minta kejelasan


"Aku kan nggak punya teman" jawabku sederhana


"Kan bisa kenalan. Sandy kan juga awalnya belum kenal sama mereka. Karena dia ramah jadi bisa punya banyak teman" jelas Arunika dengan nada bangga.


"Ya aku kan bukan Sandy, jangan banding-bandingkan" kataku dengan nada sedikit ketus.


Suasana kembali hening, aku menyesal sedikit emosi dengannya. Mungkin maksudnya baik, tapi saat ini aku hanya fokus berusaha mendekatinya. Dan aku juga sama sekali tidak tertarik dengan apa yang dilakukan Sandykala.


"Kanaya itu pacarnya Sandy ya?" kataku berusaha memecahkan keheningan.


"Aku nggak tahu" kata Arunika sambil tetap memandang ke luar jendela.


"Kok bisa kamu nggak tahu? Sandy nggak pernah cerita? Atau malah dia merahasiakannya?" kataku mulai berusaha memprovokasi Arunika.


"Kenapa harus dirahasiakan? Dia hanya tidak ingin cerita. Biarpun dia terlihat ramah supel, dia selalu menutup diri untuk urusan pribadi. Kata menurutnya tidak penting, dia tidak mungkin cerita" jawab Arunika dengan nada sangat-sangat serius.


Berarti Arunika tidak terlalu peduli dengan siapa Sandyakala berhubungan. Dia juga sepertinya tidak peduli dengan keberadaan Kanaya, pacar Sandykala yang menurutku genit itu. Sebentar lagi kami sampai di rumah, aku bersiap-siap untuk turun.

__ADS_1


...****************...


POV Arunika


Akhirnya sampai rumah juga, Jeevan masih ingin mengajak ngobrol tapi aku menolak dengan alasan aku ingin istirahat. Sepertinya ayah dan bunda sudah di rumah, tadi aku lupa belum memberi kabar ke orangtuaku kalau aku pergi. Begitu masuk ke rumah, aku bergegas mencari kedua orangtuaku di ruang keluarga, tempat biasa kami berkumpul.


"Aybund, maaf ya tadi Nika lupa nggak pamitan" kataku begitu duduk di samping bunda


"Iya, bunda tau, tadi Sandy sudah WA tadi" kata bunda sambil tersenyum.


"Gimana es krimnya? enak?" tanya ayah


"Iya, enak" jawabku.


Aku lalu pamit ke kamarku. Sesampainya di kamar aku langsung rebahan, buku Radha Krishna masih tergeletak di atas bantal. Entah mengapa, tidak ada hasrat untuk membacanya. Pikiran dan hatiku rasanya bercampur aduk. Aku mencoba memejamkan mata, terbayang wajah Kanaya. Kulitnya yang putih mulus dengan make up seperti artis, cantiknya paripurna. Mungkin itulah kenapa Sandyakala meledekku dan mengatakan kalau aku seperti biasa, padahal aku sudah berusaha berdandan walaupun tidak sekeren Kanaya. Kami bak langit dan bumi. Jelas saja Sandyakala memilih Kanaya.


Aku menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Lalu aku mulai menertawakan diriku sendiri. Bodohnya seorang Arunika, selama ini mungkin bagi Sandyakala, aku hanya bagian dari keluarganya. Konotasi Kakak adik yang sesungguhnya. Lalu kenapa aku bisa berharap dan jatuh cinta padanya hanya karena pendapat Kendra? Tapi jika ini bukan cinta, lalu kenapa ada rasa sakit di hati saat melihat Sandykala bersama Kanaya. Harusnya aku bersyukur, walaupun dia sudah punya kekasih, dia tidak pernah melupakanku. Meskipun waktunya sekarang tak banyak lagi untukku. Aku bisa menerima kenyataan kalau sesungguhnya aku cinta sendiri. Ayolah Arunika, ikhlaslah jika memang Sandyakala bahagia. Dengan pikiran yang bercampur aduk aku lalu tertidur sangat pulas. Saat membuka mata, aku lalu duduk, mengambil handphone dari dalam tasku. Ada banyak pesan di WA. Ada pesan dari Sandyakala. Itu sudah dua jam yang lalu.


[Nika, sudah di rumah?] tanyanya


[Sudah dari tadi Sand, maaf baru sempat balas. Nika baru pegang HP] cepat ku balas pesannya.


[Iya, gimana tidurnya? Nika pasti kecapekan ya? 😄] balasnya beberapa detik kemudian


[Tau dari mana Nika tidur? diinfo bunda ya?] tebakku sambil tersenyum sendiri.


[Tahu sendiri dong, suara ngoroknya kedengaran sampai radius 5 km] balasnya becanda dan membuat aku tersenyum


[bohong!!] ku keluarkan jurus andalanku, membalas singkat supaya dikira aku ngambek


[aku tadi ke rumah sebelah, pas bunda masak semur ayam pula] jelasnya


[O] singkat lagi aku balas.


Ada juga WA dari Kendra yang mengabari kalau dia sudah sampai di rumah dan ibunya menang arisan. dan chat dari Jeevan yang hanya memanggil namaku namun aku abaikan.


Aku lalu bergegas mandi supaya badanku lebih segar. Usai mandi dan mengucir rambutku, segera aku menuju ke meja makan. Memang benar, ada semur ayam di meja dan hanya tersisa satu porsi. Aku mengurungkan niatku untuk makan. Aku lalu mencari bunda di ruang keluarga, ternyata tidak ada. Ku ayunkan langkah kakiku ke halaman belakang dan ternyata bunda ada di sana bersama Mama Naomi.


"Sandy tadi ke sini?" tanyaku


"Iya, biasa mama malas masak" jawab Mama Naomi.


"Bunda, ayah sama Sandy jahat tu ma, Nika ditinggal nggak diajak makan" kataku manja sambil memeluk Mama Naomi dari belakang.

__ADS_1


"Kan Nika tidur, kalau dibangunin pasti Nika mengeluh pusing, ya kami cari amanlah" bela bunda.


Mereka berdua lalu kompak tertawa, aku jadi ikut tertawa. Senang rasanya punya dua orang ibu, dua orang ayah dan tentu saja saudara laki-laki yang sangat menyayangiku, yang selalu mengisi hari-hariku dengan kisah yang lain. Rasanya serakah sekali jika aku harus berharap untuk jatuh cinta dan mengkhayal tentang kisah cinta yang lain dengan Sandyakala.


__ADS_2