
POV Sandyakala
Ingin rasanya ku susul Arunika. Tapi saat ini Kanaya membutuhkan aku. Tidak ada satupun keluarganya yang bisa ku hubungi. Ku bujuk Kanya untuk tetap tenang dan beristirahat. Dia mulai tenang setelah aku berjanji untuk menjaga dan merawatnya sampai dia sembuh. Tidak lama kemudian dokter dan perawat datang untuk memeriksa kesiapan Kanaya untuk operasi. Kesempatan ini aku gunakan untuk mencari Arunika. Ternyata dia dan Jeevan masih berada di ruang tunggu.
"Kok Sandy ke sini?" tanya Arunika begitu aku mendekatinya.
"Iya, Kanaya baru diperiksa dokter. Persiapan untuk operasi." jawabku sambil duduk di samping Arunika.
Aku bersandar sambil memejamkan mata, tubuhku terasa sangat lelah. Biarlah sementara Kanaya diurus oleh Abhi. Dan aku merasakan tangan halus yang mengusap keningku.
"Sandy capek ya? Kita makan dulu yuk." ajak Arunika.
"Bunda masak apa?" tanyaku masih dengan mata terpejam.
"Makan di dekat-dekat sini aja. Ngapain nanya bunda masak apa?" Omelan yang sangat merdu di telinga.
Perlahan-lahan ku buka mataku.
"Lho, Nika ! Kok bisa di sini? Ke mana aja? Udah lama ya nggak ketemu?" tanyaku berpura-pura dengan ekspresi terkejut.
"Udah dong Sand, jangan bercanda gitu." kata Arunika sambil tertawa.
Tangan kirinya menutupi mulut, tangan kanannya memukulku. Baru saja aku mau berdiri dan menggandeng Arunika untuk pergi makan, Abhi datang dan memintaku kembali ke kamar karena Kanaya terus-menerus mencariku.
"Nika, aku harus ke dalam dulu. Kalau Nika udah lapar, makan duluan aja sama Jeevan ya" kataku sambil menepuk lembut pipinya.
Dengan berat hati aku tinggalkan Arunika dan Jeevan dan menuju kembali ke Kanaya. Maafkan aku Arunika, entah mengapa waktuku tidak pernah banyak untukmu.
Sesampainya di kamar, Kanaya menyambutku dengan muka cemberut. Dia hanya diam dan memalingkan wajahnya dariku.
"Kata Abhi kamu nyariin aku, kok malah diam?" tanyaku.
"Kamu nemuin Nika ya?" tanya Kanaya dengan nada kesal.
"Aku nyari udara bentar, mau makan juga." jawabku lirih.
"Janjinya mau menjagaku sampai sembuh" rengeknya manja.
"Ya aku kan juga perlu istirahat, perlu makan juga. Kalau aku sakit siapa yang jaga kamu?" kataku mulai kesal.
Aku lalu duduk di kursi, mengambil handphoneku dan bermain game. Kalau bukan karena keadaan yang memaksa. Rasanya ingin ku tinggalkan saja Kanaya.
"Maaf ya Sand, aku egois. Ya kamu makan aja dulu" kata Kanaya dengan nada memelas namun aku abaikan.
Hilang sudah selera makanku. Apalagi saat Abhi kembali dan memberitahu kalau Arunika sudah pulang.
__ADS_1
...****************...
POV Arunika
Aku memutuskan untuk pulang saja. Tidak ada gunanya aku di sini. Rasanya Kanaya hanya membutuhkan Sandyakala untuk ada di sisinya.
"Sesayang itu Sandy ke Kanaya sampai rela nggak istirahat, nggak makan padahal tampangnya tadi kelihatan capek banget." Kata Jeevan.
"Iya, pas aku sakit juga Sandyakala sampai bolos sekolah hanya untuk menjagaku" jawabku.
"Berarti Sandyakala baik pada semua. Nggak ada yang special" kata Jeevan.
Aku hanya diam tidak menanggapi Jeevan. Ku pupus lagi harapanku, ku pendam lagi rasaku untuk Sandyakala. Sandyakala memang baik pada semua orang yang dikenalnya. Aku lebih beruntung karena lebih dulu mengenalnya sebelum mereka.
Mataku awas mencari Pak Santo dan menemukannya. Hujan yang tadinya deras sudah mulai reda. Tiba-tiba Jeevan menggenggam tanganku. Jeevan juga baik dan dia juga dengan jelas mengatakan kalau dia melakukan semua karena dia mencintaiku. Namun kenapa bimbang memenuhi hati ini?
"Kita jalan-jalan dulu aja. Kamu mau ke mana biar aku temenin" ajaknya.
"Kita ke cafe aja ya? kan semua di sini. Pasti mama juga butuh bantuan." kataku.
Jeevan menjawab dengan anggukan dan mobil yang dikemudikan Pak Santo perlahan berjalan menembus sejuknya udara sehabis hujan.
Cafe masih ramai saat aku tiba. Beberapa pegawai mendekatiku dan mengabariku tentang kecelakaan Kanaya. Di ruang kerja, mama tampak fokus menatap ke layar laptop.
"Mau dioperasi, ma. Tadi Nika di sana cuma sebentar" jawabku sambil duduk di samping mama dan Jeevan menyusul duduk di sebelahku.
"Sandy masih di sana?" tanya mama.
"Masih" jawabku sambil menganggukkan kepala.
"Dia sudah makan?" tanya mama.
"Kayaknya belum ma. Tadi mau makan tapi nggak jadi soalnya keburu dicari Kanaya" jawabku.
"Selalu saja begitu. Ya udah, Nika di sini dulu sama Jeevan. Mama mau nyusul Sandy ke rumah sakit."
...****************...
POV Sandyakala
Akhirnya Kanaya masuk ke ruang operasi. Menurut perawat, lama operasi kurang lebih dua jam. Andai Arunika masih di sini mungkin aku tidak sebosan ini. Aku menelpon Pak Santo untuk menanyakan keberadaan Arunika. Namun, baru saja aku bersiap-siap untuk menyusulnya mama datang dengan wajah panik.
"Gimana Kanaya?" tanya mama khawatir.
"Baru saja masuk ruang operasi. Harus pasang pen karena tangannya patah." jelasku.
__ADS_1
Mama lalu duduk di kursi lalu mulai sibuk dengan handphonenya. Abhi malah ketiduran. Mungkin dia lelah karena seharian wira-wiri mengurus semua keperluan Kanaya sedang aku hanya duduk menemani Kanaya.
"Kalian makan dulu aja." kata mama setelah menutup telponnya.
"Nika tadi di cafe ma? Sandy mau nyusul Nika aja." jawabku.
"Makan dekat-dekat sini aja biar bisa cepat balik. Sepertinya di lantai atas ada kantinnya. Mama cuma sebentar mau memastikan semua baik-baik saja. Kalau kamu pergi siapa yang jaga Kanaya? Ini juga mama mau ajak Abhi sebentar buat bantuin mama." jelas mama panjang lebar.
"Sandy di sini sendiri?" tanyaku setengah protes.
"Ya iyalah. Masak pak Santo yang harus jaga?" balas mama.
Aku menghela nafas panjang. Ku hempaskan pantatku di kursi. Kenapa semua bisa jadi tanggung jawabku? Memangnya siapa Kanaya sampai aku yang harus mengurusnya? Ku pandangi mama dengan wajah memelas, seolah memohon supaya aku dibebastugaskan.
"Udah, kamu nurut sama mama! Jagain Kanaya! Kasihan dia sendirian. Jangan ngeliatin mama kayak gitu. Nggak mempan sama muka melasmu" tegur mama seolah bisa membaca pikiranku.
Abhi malah tertawa padahal matanya tertutup. Ku lemparkan jaket yang dari tadi ku pegang ke muka Abhi dan membuat tawanya semakin keras. Abhi pun membuka matanya lalu berdiri.
"Udahlah, tante tolong tunggu disini dulu ya. Kami mau makan dulu." kata Abhi sambil menarik tanganku.
...****************...
"Kamu kalau mau bantuin orang harus ikhlas," kata Abhi sambil mengaduk-aduk mie kuahnya.
"Ikhlas Bhi, cuman aku takut kalau Kanaya salah paham" jawabku lemas.
"Memangnya kenapa?" tanya Abhi dengan senyum meledek.
"Orangnya memang baik tapi Kanaya itu terlalu agresif. Genitnya gimana gitu. Risih aku. Dia itu lenjeh abis" jawabku semangat.
"Agresif militer." kata Abhi sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Iya. Kalau dia kelewatan digranat aja" kataku sambil tertawa.
"Terus dia sembunyi di ruang bawah tanah" lanjut Abhi.
"Terus ketemu cacing, dia takut lalu pingsan" tambahku.
"Terus kamu jadi Gundala lalu datang menolongnya" lanjut Abhi.
"Nggak. Aku jadi Ki Walawuk terus maksain kamu buat nolongin dia" tolakku mentah-mentah.
"Kamu jadi jahat gitu? Udah ah, aku pergi saja" kata Abhi dan berlalu pergi.
Aku tertawa terbahak. Cepat sekali makannya. Aku saja masih separuh porsi. Inilah kenapa aku suka bersama Abhi. Ini memang obrolan yang absurd tapi mampu menaikkan mood jadi happy lagi. Kuselesaikan makanku dan bergegas menyusul Abhi. Dan ternyata Abhi sudah bersiap-siap untuk pergi bersama mama.
__ADS_1