
POV Kanaya
Kenapa aku jadi seperti tidak dianggap di sini? Aku menghabiskan waktuku hampir seharian di sini tapi mereka malah asyik sendiri dan sibuk dengan bayi itu. Apa sih istimewanya bayi itu sampai semua harus menyambutnya? Dan lagi, Arunika akan tinggal di sini terus? Berarti dia pindah ke sini? Kalau Arunika tinggal di sini aku tidak bisa bebas untuk mendekati keluarga ini. Bunda juga tadi sepertinya lebih menyambut Arunika daripada aku yang sudah menyapanya dengan manis. Om Bram dan Tante Naomi juga langsung menurut saat Arunika menelepon dan meminta mereka untuk datang ke rumahnya. Arunika dan anaknya sepertinya bisa menggagalkan rencanaku kapan saja. Lihatlah betapa mereka sangat peduli dengan kehadiran Arunika dan Abi. Lalu untuk apa aku di sini? sebaiknya aku pergi saja dan pasti mereka akan panik mencariku.
Ku arahkan mobilku ke tempat Kak Widura. Rasanya aku kangen padanya dan dia paling bisa ku ajak berdiskusi dan mengeluh. Saat tiba di sana, kak Widura tampak asyik memilih foto dan mengedit beberapa dan itu adalah foto prewedding sepasang kekasih yang sangat indah.
"Kapan ya Kanaya bisa foto seperti itu," kataku sambil memeluk Kak Widura dari belakang.
"Pasti akan tiba di waktu yang tepat dan dengan orang yang tepat," kata Kak Widura tidak pasti
"Susah, Sandy aja sekarang makin galak sama Kanaya," kataku.
Aku lalu menceritakan apa yang terjadi dan apa yang ku rasakan hari ini. Betapa kecewanya aku dengan perlakuan dua keluarga itu. Tapi Kak Widura malah tersenyum dan mengatakan itu hal yang wajar.
"Nika bersama mereka sudah sejak lama, kemudian terpisah pasti mereka sangat rindu. Sama seperti dulu keluarga kita juga menyambut Kanaya," jawab Kak Widura.
"Lalu Abi?" tanyaku lagi.
"Anaknya Nika maksudmu?" tanya Kak Widura yang ku jawab dengan anggukan kepala. "Dia kehidupan baru di keluarga itu, harapan masa depan keluarga itu juga," lanjut Kak Widura dan membuatku semakin pusing mengartikannya.
"Tapi kenapa Sandy galak sama Kanaya, Kak?" tanyaku berharap Kak Widura akan bertindak untukku.
"Kalau Sandy nggak mau jangan dipaksa, bisa bikin dia merasa tidak nyaman. Coba deh Kanaya cari pergaulan yang baru, bertemu dengan orang-orang baru, pasti akan ketemu dengan orang yang tepat dan mau menerima Kanaya," kata Kak Widura sambil menepuk lembut punggung tanganku.
Ponselku berdering dan ternyata itu dari Tante Naomi. Senang sekali, pasti mereka kebingungan mencariku dan juga mereka pasti merasa bersalah karena telah mengabaikanku.
"Nggak apa-apa tante, aku pasti mengganggu kalau tetap di sana," kataku beralasan dan sok manis.
"Tante minta maaf ya," kata Tante Naomi yang jelas saja membakar semangatku lagi
...****************...
__ADS_1
POV Sandyakala
Mama sepertinya selesai menelepon seseorang dan wajahnya terlihat tegang dan tidak tenang. Mama terus mengikutiku dan sepertinya ada hal penting yang ingin dibicarakan denganku.
"Kanaya tadi pulang karena merasa nggak enak," kata mama setelah kami pulang ke rumah karena Abi sudah tidur.
"Kenapa mama laporan ke Sandy?" kataku berusaha lembut pada mama.
"Sand," kata mama seolah memperingatkan ku
"Ma, sudahlah. Kalau aku mau Kanaya yang jadi menantu mama, sudah dari dulu aku lakukan itu. Aku nggak nyaman sama dia," kataku berusaha menjelaskan pada mama.
"Nggak nyamannya kenapa? Mama lihat dia baik," kata mama masih berusaha.
"Iya, dia baik tapi Sandy nggak suka karena dia suka memaksa dan mengancam," kataku mencoba menjelaskan supaya mama mau mengerti isi hatiku.
"Maksudmu apa, nak?" kata mama mulai melembut.
"Mama sudah tahu semua dari awal, Kanaya bahkan sempat bunuh diri karena mencari perhatian Sandyakala. Dia itu hanya memikirkan dirinya saja, nggak pernah berpikir panjang," kataku.
"Mama belum tahu aja," kataku sambil berlalu pergi.
Namun mama masih gigih mengikutiku sampai ke kamar. Akhirnya aku persilahkan mana untuk mengeluarkan semua unek-uneknya, keresahan dan kegelisahannya. Ternyata mama khawatir karena sampai sekarang aku belum juga menjalin asmara dengan perempuan manapun. Dan benar kata ayah, mama hanya ingin menimang cucu karena banyak temannya yang sudah membina rumah tangga dan memiliki anak, bahkan bunda Mikha teman terdekatnya juga sudah mempunyai Abi. Mama hanya iri dengan teman-temannya. Apalagi yang bisa aku lakukan selain tertawa, luar biasa papa yang sangat bisa mengerti mama.
"Bukan berarti mama asal nyomot calon mantu dong," kataku sambil memeluk dan mencium pipi mama.
"Ya habis mama perhatiin sepertinya hanya Kanaya yang tertarik sama kamu," kata mama dengan nada putus asa.
"Ya nggaklah, anak mama ganteng dan mempesona gini masa' iya nggak ada yang mau? Rugi dong," kataku dan terus memeluk mama.
"Ya, mama minta maaf deh," kata mama sambil menarik hidungku.
__ADS_1
"Nantilah, nunggu waktu yang tepat baru Sandy melamarnya," kataku mantap.
"Siapa?" tanya mama penasaran.
"Pokoknya ada, yang jelas bukan Kanaya, Sandy bikin kejutan," kataku sambil menuntut mama keluar dari kamar.
Setelah sampai di depan pintu, sekali lagi ku cium pipi mama dan menutup pintu. Terdengar suara tawa mama sangat lepas dan bahagia. Tidak lama terdengar nyaring suar ponsel mama dan suara mama menjawab telepon.
...****************...
POV Kanaya
"Kok kedengarannya tante senang banget, ada apa?" tanyaku penasaran.
"Tadi kata Sandy mau ngenalin Tante sama calon mantu," kata Tante Naomi terdengar berbunga-bunga.
"Siapa tuh Tante?" tanyaku menyelidiki
"Ada, katanya buat kejutan," kata Tante Naomi yang membuatku semakin penasaran.
"Kriterianya seperti apa? Kayak Kanaya nggak?" tanyaku untuk memastikan.
"Sandy bilang bukan Kanaya. uh, tante jadi nggak sabar," jawabnya yang membuat air mataku jatuh.
"Oh, ya udah tante," kataku langsung mengakhiri panggilan.
Apa? Sandyakala akan mengenalkan calon istrinya? Tapi siapa? Iya tadi dengan jelas kata Tante Naomi kalau itu bukan aku. Aku juga sangat yakin kalau itu bukan aku karena sikap Sandyakala yang sangat cuek dan sering menghindari ku sudah cukup menjawab kalau dia tidak pernah memilih aku. Aku tidak mampu menahan emosiku, air mata mengalir deras. Aku berteriak sekeras-kerasnya dan melemparkan ponselku ke cermin di depanku. Ku ambil pecahan kaca dan ku tusukkan di kedua pergelangan tanganku. Untuk apa aku hidup jika tidak bisa mendapatkan apa yang aku inginkan.
Kak Widura datang dengan wajah panik dan segera menggendongku dan membawaku ke dalam mobil. Aku berusaha memberontak tapi aku tak berdaya melawan kak Widura. Sepertinya Kak Widura akan membawaku ke rumah sakit.
"Biarin Kanaya mati kak, untuk apa Kanaya hidup kalau nggak bisa mendapatkan Sandy," kataku mulai lemah.
__ADS_1
"Jangan aneh-aneh kamu, Kanaya. Sudah cukup!" Kak Widura malah membentakku.
Semakin lama aku merasa semakin lemas dan pandangan ku berkunang-kunang lalu semua menjadi gelap.