BISIK HENING CINTA

BISIK HENING CINTA
BUKU HARIAN-Bagian 1


__ADS_3

Aku perlu menulis semua tentangku karena mungkin suatu saat kamu memerlukan semua penjelasan dariku. Aku yang seperti jelangkung di hidupmu. Datang tak dijemput pulang tak diantar di dalam kehidupanmu. Rasanya kamu berhak tahu dengan semua yang aku lakukan karena ini berhubungan dengan aku, kamu dan Nika-mu. Agar kamu bisa tahu dan mengerti yang sesungguhnya terjadi.


Aku putuskan pamit dari kehidupanmu, Sandyakala. Asal kamu tahu ini keputusan yang berat bagiku karena seumur hidupku kamu adalah teman terbaik yang pernah aku miliki. Yang bisa mengimbangi kegilaanku dan memahami setiap detail keinginanku.


Aku pamit karena aku harus tetap merahasiakan tentang penyakitku ini darimu. Aku sadar penyakitku mulai sulit aku kendalikan dan aku takut jika penyakitku akan merepotkanmu. Sudah cukup bagimu dan Nika menjagaku beberapa hari terakhir ini. Jalan yang terbaik adalah menjalani hidup baru lagi tanpa kamu tahu tentang rahasia terbesarku ini. Biarlah tetap di pikiranmu bahwa aku adalah seorang Abhi yang ceria, santai dan tanpa beban. Jangan ada Aslan yang membawa masalah di hidupmu.


Aku juga harus menjauhinya dan Nika karena nyatanya bapak dan ibu menginginkan Nika untuk menjadi menantu. Menurut ibu, Nika adalah perempuan terbaik yang akan melahirkan keturunan keluarga kami. Perempuan dengan ketulusan hati, kecerdasan pikiran dan penampilan yang sangat manis. Bapakku hanya dua bersaudara. Tante Dhira juga tidak mempunyai keturunan sehingga akulah satu-satunya harapan untuk meneruskan keturunan keluarga. Namun, aku yang sejak berumur tujuh tahun divonis mengidap penyakit leukimia dan diperkirakan tidak bisa hidup lebih lama lagi. Tapi, dokter bukanlah Tuhan, nyatanya aku masih bisa bertahan sampai usia 20 tahun lebih dan aku tidak tahu, tersisa berapa lama lagi waktuku untuk tetap di dunia ini.


Ryan adalah teman pertamaku karena dia adalah sepupu dari pihak ibuku. Dia sering main ke rumahku tapi lama kelamaan mungkin dia bosan denganku yang hanya duduk diam di rumah dan bermain musik. Ryan yang lebih memilih bermain basket terpaksa jarang menemaniku yang tidak bisa kelelahan. Sampai saat Ryan mengenalkan ku pada Alfi dan kamu. Lalu masuklah Kanaya juga dalam hidupku. Itulah awal aku merasa hidupku sangat berarti, aku yang dianggap lemah, dipercaya Tante Dhira untuk menjaga Kanaya yang memang butuh perhatian khusus. Sejujurnya aku menaruh hati pada Kanaya, hanya saja aku harus menahan diri. Aku tidak ingin rasa ini berbalas yang pada akhirnya menimbulkan hanya kesedihan baginya. Kanaya gadis yang menarik, selain cantik dia juga berbicara apa adanya. Dia juga sangat cerdas walaupun emosinya sering meledak-ledak.


Sampai saat Kanaya bilang padaku kalau dia menyukaimu dan aku tahu jika hatimu hanya dipenuhi Arunika, disitulah aku merasa sedih.

__ADS_1


Ingin ku turuti keinginan Kanaya agar dia bisa bahagia namun di satu sisi aku tidak bisa memaksakan cintanya yang menggebu padamu.


Kamu milik Nika dan selamanya akan begitu. Jujur, aku iri padamu dan Nika, sepertinya sangat bahagia punya teman sejak lahir. Walaupun sifat kalian bertolak belakang, namun kalian tetap bisa saling mengisi dan saling membahagiakan. Ketulusan yang kalian miliki membuat semua terasa damai saat berada di dekat kalian. Tidak tega dan jahatnya yang berusaha memisahkan kalian.


Sebisa mungkin aku menjauhkan Kanaya darimu supaya dia tidak terus berharap cintamu dan menyakiti dirinya sendiri. Namun, aku gagal menjaga Kanaya sampai saat peristiwa itu terjadi. Aku berusaha mencari kebahagiaan untuk Kanaya sampai aku menemukan keluarganya kembali. Lega rasanya bisa memulangkan Kanaya ke tangan yang tepat. Apa kabar Kanaya sekarang ya? mungkin sampai nanti aku tidak akan bertemu dengannya lagi dan sampai akhir hidupku Kanaya tidak pernah tahu kalau aku sangat mencintainya.


Namun, tiga hari setelah aku pamit darimu, Nika datang menemuiku. Entah apa yang dikatakan oleh kedua orang tua ku padanya sampai meracuni jalan pikirannya. Nika datang dan menyampaikan keinginannya untuk membantuku serta memenuhi kewajiban dan tanggung jawabku sebagai anak. Nika bersedia menjadi ibu dari anakku. Jelas saja aku menolaknya. Saat aku mengatakan jika keputusannya itu bisa melukaimu, Nika malah tertawa dan memintaku untuk tenang dan percaya saja kepadanya. Nika bilang jika kamu akan mengerti dan tidak akan menyalahkan siapapun. Aku masih saja bersikeras menolaknya. Aku tidak bisa jika hanya demi kepentingan keluargaku, lalu mengorbankan kebahagiaan orang-orang terbaik di hidupku.


Kata bapak, Nika ditakdirkan untuk menjadi menantu keluarga ini saat dia menolong bapak. Bukan aku yang membawa Nika, tapi Nika datang sendiri ke sini. Bagian mana lagi yang harus disangkal oleh kedua orang tuaku saat mereka tahu Nika yang mereka sayangi dan mereka kagumi karena ketulusan dan kecerdasannya ternyata mengenaliku. Apalagi saat aku sakit, terlihat Nika sangat peduli dan merawatku dengan baik dan tanpa terlihat lelah apalagi mengeluh sama sekali.


Beberapa hari setelah protes dengan orang tuaku, aku sakit lagi dan Nika yang terus menerus merawatku. Padahal ada seorang perawat yang ditugaskan untuk merawatku. Perawat itu hanya memeriksa perkembangan kesehatanku dan menyiapkan obat. Selebihnya, semua diurus oleh Nika. Dia sangat sabar dan telaten. Pantas saja kamu sesayang itu padanya. Sungguh aku merasa sangat bersalah padamu, bagaimana tidak. Aku bersusah payah menghindari kalian, tapi Nika seolah enggan pergi dariku. Aku berusaha sepenuh tenaga untuk sembuh supaya tidak ada lagi alasan bagi Nika untuk terus di sini.

__ADS_1


Butuh waktu seminggu bagiku untuk sembuh. Walaupun kondisiku sudah membaik, Nika tetap terus menemaniku. Di sela-sela kesibukannya dia selalu menyempatkan diri untuk datang menemaniku. Memastikan aku tidak terlalu banyak pikiran dan tidak kelelahan supaya kondisi kesehatanku selalu baik. Aku menyerah menghindarinya dan dia tersenyum bangga. Dia bilang kamu pasti bangga dengan apa yang dia lakukan.


Aku mulai terbiasa dengan kehadiran Nika. Saat ini selain ibu dan bapak, dialah satu-satunya teman yang aku miliki. Dia selalu datang dengan buku di tangannya dan sesekali dia mengulas isi buku walaupun aku tidak menginginkannya. Kadang saat menurutnya kondisi badan ku sedang baik, dia mau diajak berkeliling naik Vespa dan singgah di rumah sederhanaku. Lebih sering kami ke kebun bunga ibu saat pagi menjelang siang untuk melihat bunga krokot berkembang dan merawat tanaman yang ada di sana. Dia sangat suka dengan anggrek, apalagi anggrek monyet. Tak jarang kami hanya duduk di perpustakaan bersama bapak, membahas mengenai entah apa, sepertinya hanya Nika dan bapak yang menikmatinya. Nika sangat dekat dengan bapak, karena menurutnya di dunia ini hanya bapak yang mampu memahami dan mengimbangi jalan pikirannya. Bapak juga adalah teman diskusi dan teman berdebat terbaiknya. Menurut Nika, dia dan bapak adalah orang yang memiliki visi dan misi yang sama.


Perlahan aku dan Nika mulai belajar mengelola perusahaan keluargaku dan membuka hotel di luar negeri. Rencana ke depan, akulah yang akan memegang hotel itu dan dibantu oleh Om Alden. Aku sering keluar negeri untuk pekerjaan itu sekaligus melakukan pengobatan di sana. Ayah menyediakan satu tempat di salah satu sisi hotel untukku. Ruangan yang besar selayaknya rumah tinggal, ada dua kamar tidur, kamar mandi yang nyaman, ruang tamu, ruang keluarga dan dapur. Ada dua orang asisten rumah tangga yang mengurus rumah itu. Dan tentu saja salah satunya adalah Pak Oman.


Tanpa terasa bulan berganti tahun, aku menjalani kehidupanku yang menurutku mulai tertata rapi dengan kondisi kesehatanku yang naik turun dan tidak stabil sama sekali. Sampai saat di satu sore kami berkumpul di perpustakaan. Ada aku, bapak, ibu dan Nika yang membahas mengenai rencana pernikahan kami. Kesehatan bapak yang terus menurun serta kondisi kesehatanku juga membuat mereka terus mendesakku. Aku merasa dijebak saat Nika menyampaikan kalau keluarganya menunggu lamaran dari keluarga kami. Nika terus meyakinkanku bahwa inilah saat yang tepat bagi kami. Bahkan, Nika memohon kepadaku untuk setuju demi bapak. Apa yang akan aku katakan padamu Sandy? Rasanya aku merampas kebahagiaanmu demi kebahagiaan keluargaku. Ini sungguh tidak adil. Kata maaf pun tidak akan cukup untuk semua keegoisanku ini. Tapi apa lagi yang bisa aku katakan selain meminta maaf?


...****************...


Terlihat noda darah di bagian bawah dekat dengan tanda tangan yang bertuliskan nama Aslan Abhiseva

__ADS_1


__ADS_2