BISIK HENING CINTA

BISIK HENING CINTA
BUKU HARIAN - Bagian kelima.


__ADS_3

POV Sandyakala


"Ada apa, Kanaya?" tanyaku saat menjawab telepon darinya.


"Bosan, kamu baru apa?" kata Kanaya dengan nada khas manjanya.


"Aku baru pulang, belum masuk rumah," kataku dengan nada datar.


"Boleh ketemuan nggak?" tanya Kanaya lagi.


"Aku capek, lain kali aja," kataku sambil mengakhiri panggilan.


Aku keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah. Belum habis bimbangku tentang Arunika, Kanaya kembali lagi dalam hidupku. Ada sedikit trauma menghadapi Kanaya, aku takut memutuskan sesuatu yang bisa berakibat Kanaya berbuat nekad lagi. Sekarang tidak ada Abhi yang membantuku mengatasi tingkah Kanaya. Entah mengapa aku berharap Abhi ada di sini membantuku mengatasi masalahku. Dia pasti punya segedung solusi dengan cara santainya.


Aku bergegas mandi, tidak seperti biasanya perutku juga tidak meronta kelaparan. Ku rebahkan badanku di tempat tidur dan membuka buku harian Abhi untuk mengobati rindu untuknya.


...****************...


Buku harian Abhi


Aku sedikit sesal menuruti keinginan orang tuaku. Bagaimana mungkin saat aku sakit keras dan kemungkinan hidupku tidak akan lama lagi tapi aku malah membangun masa depan yang tidak bisa aku perjuangkan. Aku malah memberi beban untuk Nika dan Abi. Akhirnya membiarkan mereka berdua berjuang melanjutkan cita-cita keluargaku.

__ADS_1


Dan Abimanyu kecilku, bagaimana aku harus menceritakan pedihku? Aku harus berpisah dengannya padahal aku sangat menyayanginya. Jika Tuhan mengizinkan, ingin aku minta waktu lebih untuk mendampingi tumbuh besarnya. Namun kini, sudah beberapa hari aku tidak menemaninya. Aku juga tidak tahu Abi sudah bisa apa, mungkinkah giginya bertambah lagi? Atau dia bertambah pintar? Aku rindu senyum dan celotehan Abi. Mungkin kamu bisa mengerti betapa rindu ini sangat menyiksa. Atau ini karmaku karena memisahkan kamu dari Nika. Mungkin saat ini kamu juga sangat merindukan Nika dan berharap bisa memeluknya tanpa ada yang membatasi. Hingga saat aku telah pergi nanti, mungkin kamu tidak sebebas dulu untuk bercanda dan memanjakan Nika yang berstatus janda. Aku sangat merasa bersalah padamu. Semua salahku, yang mementingkan ego keluargaku sehingga Nika yang masih muda menjadi janda dan harus berjuang sendirian untuk membesarkan anakku yang menjadi yatim karena kesalahanku.


Andai saja Nika menjadi istrimu, pasti kalian bahagia menua bersama, menikmati hari-hari membesarkan anak-anak kalian dengan kebahagiaan. Kalian punya masa depan yang baik tapi aku merusaknya. Dan aku sangat tidak tahu diri, di sini memohon kepadamu, tolong jaga Abimanyu untukku. Jika kamu ingin membenci, tumpahkan semua kebencian padaku saja, jangan kamu lampiaskan pada Nika apalagi Abi. Kutitipkan Abi dan Nika padamu.


Mengenai ibuku, kudengar dia berhubungan baik dengan bunda Mikha dan mama Naomi. Lega rasanya ibu bisa menemukan keluarga baik yang bisa mengisi hari-harinya. Aku tahu, ibu wanita yang kuat dan aku yakin ibu pasti bisa melalui semuanya dengan tegar dan tabah. Aku meminta Nika untuk tinggal di rumah orangtuaku supaya bisa mengisi kekosongan sosok anak di rumah itu dan ibu juga akan dekat dengan cucunya. Namun, seandainya Nika keberatan dan ingin tinggal di rumah orang tuanya, aku tidak akan memaksa. Aku yakin, ibu pasti bisa memahami.


Mbak Asih mungkin akan ikut bersama Nika. Mbak Asih sudah terlanjur nyaman kerja bersama Nika dan Abi juga sudah terbiasa dengannya. Mengenai Melati, dia akan kembali bekerja sebagai perawat di rumah sakit tempat di bekerja sebelum menjadi perawat pribadiku. Nika, Mbak Asih dan Melati adalah wanita-wanita yang luar biasa hebat yang mendampingiku di sisa akhir nafasku.


Mungkin ini akhir kisahku, aku sudah tidak sanggup lagi untuk menuliskan apapun.


Malam ini aku minta ke Melati untuk mengizinkanku pulang dan tidur memeluk Abi sambil menyanyikan lagu bintang kecil kesukaannya. Jika aku beruntung, besok pagi aku akan terbangun dan masih punya kesempatan untuk bermain bersama Abi dan memanjakannya. Namun jika sudah habis waktuku, aku bisa tenang karena semua keresahanku sudah ku tuliskan di sini.


Maafkan aku Sandy, untuk kesalahan terbesar yang pernah aku buat. Tapi aku bangga punya sahabat sepertimu dan bisa membangun kenangan indah. Sampaikan terima kasih dan maaf ku untuk Nika. Aku pamit ya Sand.


...****************...


Perih rasanya hatiku, sakitnya menyesakkan dada melebihi saat aku harus menerima kenyataan ketika Abhi dan Arunika menikah. Ku ulang lagi membaca tulisannya dari awal. Bagaimana mungkin Abhi menjalani hidupnya dengan rasa bersalah kepadaku?


Jika aku putar ulang semuanya, aku juga punya andil dalam semua kejadian ini. Aku tidak pernah tegas mengikat Arunika, aku juga membebaskan Arunika untuk memilih dengan siapa dia ingin menjalani hidupnya. Aku juga dengan gagah sesumbar kalau aku akan mengikhlaskan Arunika dengan lelaki manapun asalkan dia bahagia. Kesombongan dan ego masa muda dengan emosi yang sangat labil. Lalu, bahagia kah Arunika bersama Abhi? Kulihat tidak ada derita di mata Arunika, yang ada hanya ketulusan dan kebanggaan menjalani semuanya bersama Abhi. Wajar jika Arunika bersedih karena kehilangan Abhi, tapi dia mampu tegar dan masih berjuang untuk anaknya. Lalu siapa yang egois? Abhi kah atau aku? Aku juga belum tahu apa alasan Arunika memutuskan menjalani semua ini, padahal dia tahu dari awal jika begini akhirnya.


...****************...

__ADS_1


Walaupun aku tidur dini hari, pagi ini terdengar suara mama membangunkan ku seperti biasa. Kepalaku terasa lumayan berat, ku buka pintu hanya untuk setor wajah ke mama supaya mama tahu kalau aku sudah bangun. 


"Sampai kapan sih kamu harus dibangunin tiap pagi?" tanya mama dengan wajah galak


"Apaan sih, ma? Kan biasanya juga udah begitu," kataku sambil mengucek mataku.


"Ngejawab terus," kata mama sambil menjewer telingaku kemudian berlalu pergi.


Walaupun usiaku sudah termasuk golongan dewasa, namun mama masih saja memperlakukan seperti anak kecilnya.


Ku atur strategi ku untuk hari ini. Pertama-tama ku hubungi Pak Oman untuk mengirimkan sopir ke rumah. Aku takut jika ngantuk tidak bisa ku tahan kalau harus mengemudi sendiri. Aku lalu mandi dan bersiap-siap untuk kerja. Banyak meeting yang harus aku hadiri hari ini. Jadwal sangat padat. Belum lagi masalah karyawan cafe yang hasil kerjanya tidak pernah memuaskan.


Sopir utusan Pak Oman yang bernama Andra akhirnya datang. Aku memintanya membawa mobilku saja, terlalu mencolok memakai sedan mewah yang dibawanya. Dia sedikit terkejut saat membukakan pintu belakang, aku malah memilih duduk di samping sopir.


Aku tidak banyak bicara dengannya karena sibuk dengan ponselku dan beberapa pesan yang baru sempat aku buka. Ada chat dari bunda yang memberi info menu hari ini, yang balas dengan janji akan makan siang di rumah sebelah. Ada chat dari karyawan mengenai pekerjaan yang aku skip semua. Ada juga chat dari Kanaya yang mengajakku bertemu namun aku memilih untuk mengabaikannya begitu saja.


"Kita ke PT dulu ya," kataku kepada Andra saat kami mulai memasuki jalan raya.


"Maaf Mas, lokasinya mana ya?" tanya Andra sambil menggaruk-garuk kepala.


Aku lalu memberi petunjuk arah padanya dan memintanya memakai aplikasi dari ponselku. Setelah memastikan dia paham dan tidak bingung, aku izin untuk tidur sebentar dan memintanya untuk tidak sungkan untuk membangunkan aku jika dia mengalami kesulitan.

__ADS_1


Andra menepuk pundakku pelan untuk membangunkan aku saat kami sudah sampai di gedung perkantoran PT. Sahabat Sejati. Aku memintanya untuk meninggalkanku dan kembali menjemputku sebelum jam.12.


Saat memasuki ruang kantor, setumpuk laporan sudah menunggu di mejaku dan sekretaris masuk memberi laporan agenda meeting hari ini. Sebelum memulai kerja aku menelpon Arunika untuk memintanya datang ke rumah sebelah untuk makan siang karena aku harus berbicara dengannya mengenai cafe dan Kanaya.


__ADS_2