
POV Sandyakala
Aku meminta sekretaris untuk meninggalkan ruangan. Kanaya melangkah sambil bertepuk tangan. Dan memandang sinis ke arah kami.
"Hebat ya, Nika. Suami baru meninggal, tinggal di rumah mertua tapi sudah menggoda laki-laki lain," katanya sambil tersenyum sinis.
"Kamu ada urusan apa ke sini?" tanya ku kepada Kanaya.
"Nika boleh ke sini kenapa aku nggak?" jawabnya entah dengan tujuan apa.
"Kalau Nika mau ngobrak-abrik tempat ini juga sah-sah aja," kataku tidak ingin menanggapinya lebih jauh.
"Tadi Om Alden buru-buru pulang, katanya mau mengurusmu?" tanya Arunika yang aku juga tidak tahu ke mana arahnya.
"Kamu jangan mencoba mengalihkan pembicaraan." kata Kanaya mencoba mengintimidasi Arunika.
"Kamu ada urusan apa ke sini?" tanyaku sekali lagi kepada Kanaya.
Kalau jawabannya ternyata tidak tepat. Aku tidak akan segan memanggil security untuk membawanya keluar. Aku hanya berjaga-jaga saja kalau Kanaya nekad dan membuat keributan. Sepertinya dia tidak punya niat baik.
"Ya sudah, aku pulang duluan aja. Aku sudah rindu Abi," kata Arunika pamit pulang.
Ku tarik tangannya untuk menahan langkahnya, ku cium keningnya dan menepuk puncak kepalanya. Arunika tampak sedikit terkejut dengan tindakanku yang tiba-tiba
Agak lama dia berhenti menatapku namun akhirnya beranjak pergi juga.
...****************...
POV Kanaya
__ADS_1
Cukup tahu diri juga Arunika. Baguslah kalau dia pergi, pasti dia malu tertangkap basah bermesraan dengan Sandyakala, dasar janda kesepian. Aku bebas berduaan dengan Sandyakala. Bagaimanapun ini ada saatnya bagiku untuk mendapatkan Sandyakala. Aku duduk di meja di samping di depan Sandyakala dengan pose sedikit menantang. Tapi seperti biasa dia hanya memberikanku tatapan dingin.
"Sekali lagi aku tanya, kamu ada urusan apa ke sini?" tanya Sandyakala sedikit membentak.
"Jangan galak gitu dong," kataku protes sambil mencoba melingkarkan lenganku di pinggangnya. Dengan gesit Sandyakala menepisku dan sedikit mendorongku supaya bisa menjauhiku. Dia lalu duduk di kursinya dan mengangkat telepon.
"Kalau kamu aneh-aneh, aku nggak akan segan memanggil security ke sini untuk menyeretmu keluar," ancam Sandyakala.
"Kamu marah ya aku mengganggu acara mesum kalian tadi?" kataku sambil tersenyum sinis ke arah Sandyakala.
"Jaga bicaramu Kanaya," bentak Sandyakala sambil berlalu pergi meninggalkan aku sendiri.
Aku akan tetap di sini sampai dia kembali, walaupun dia kembali besok pagi, aku akan menunggunya.
Lumayan lama aku menunggu sambil mengutak-atik ponselku. Terdengar pintu terbuka dan langkah kaki mendekatiku. Aku tahu Sandyakala pasti kembali untukku. Mana mungkin dia meninggalkan aku sendiri di sini.
"Kamu sudah tahu belum kalau saya calon istri Sandy?" kataku berharap dia percaya dan tunduk kepadaku.
"Izin Bu, tapi ini perintah bapak. Bapak juga sudah pergi," katanya sambil berusaha menarikku.
Sial, daripada aku mendapat malu, lebih baik aku meninggalkan tempat ini. Aku harus mencari cara lagi supaya aku bisa berduaan dan berbicara dengan Sandyakala. Aku harus melakukan rencana selanjutnya.
...****************...
POV Arunika
Aku terkejut saat ibu memberitahuku kalau Kanaya menungguku di ruang tamu. Kebetulan Abi sudah tidur sehingga aku bisa meninggalkannya. Beruntung juga ibu ingin tinggal di kamar untuk menemani Abi tidur. Dengan santai aku menuju ke ruang tamu dan benar saja Kanaya sudah duduk di sana. Aneh, beda dengan saat bertemu di ruang kerja Sandyakala tadi, kali ini Kanaya tampak sangat lembut dan bersahabat. Aku lalu duduk di sampingnya dan berusaha tersenyum serta melupakan kejadian tadi sore.
"Ada apa kamu malam-malam ke sini?" Aku berusaha bertanya baik-baik.
__ADS_1
"Maaf ya, aku ganggu ya Nika?" respon Kanaya sangat hangat tidak seperti yang aku bayangkan.
"Nggak papa," jawabku sedikit dengan sedikit ragu.
Kanaya lalu merapatkan duduknya padaku, perlahan dia tertunduk sambil menggenggam tanganku air matanya mulai jatuh. Aku sedikit panik, tapi aku memilih diam dan menunggu tindakan Kanaya selanjutnya. Dia mulai bercerita tentang kerinduannya pada Om Alden yang sudah bersusah payah membesarkannya serta menceritakan kehidupannya bersama ibu dan kedua kakaknya. Memang di sana di berkelimpahan harta, namun dia merasa bosan karena hanya diam dan mengandalkan hidup kepada orang lain. Dia juga bisa bekerja dan menghidupi dirinya sendiri walaupun sebenarnya hasilnya tidak sebesar jika dia tinggal di sana. Namun setelah dia mencoba, ternyata kemampuannya terbaiknya hanyalah bekerja di cafe. Dia lalu memohon kepadaku untuk meminta pada Sandyakala supaya mau menerimanya bekerja kembali di cafe. Seingatku kata-katanya sangat sesuai dengan ucapan Om Alden. Mungkin ada benarnya apa yang diceritakan Kanaya tadi.
"Aku tadi nekat ke kantor Sandy untuk membahas hal ini padanya tapi maaf aku malah mengganggu kalian dan mengatakan yang kata-kata tidak pantas padamu," katanya dengan air mata. "Tadi juga saat kamu sudah pulang, aku berusaha menjelaskan pada Sandy tapi tadi dia tetap menolak ku, malah dia meminta security untuk mengusirku keluar dari ruangannya," lanjutnya lagi.
Aku merasa iba padanya dan berjanji untuk membantunya kembali ke cafe. Kanaya lalu pamit pulang dengan wajah yang ceria dan berkali-kali mengucapkan terima kasih karena aku mau membantunya. Namun aku sedikit tidak percaya dengan apa yang dikatakannya tentang Sandyakala.
Aku kembali ke kamar, dan mencari kartu nama yang diberikan sekretaris Sandyakala padaku. Sebelum aku pulang tadi, sekretaris itu memberikannya padaku dan berpesan padaku, jika aku butuh info apapun tentang perusahaan, aku boleh menghubunginya di nomor itu kapanpun aku mau. Dari kartu nama itu aku tahu kalau namanya adalah Dinasti, sebuah nama yang unik dan indah. Segera ku hubungi dari ponselku.
"Halo," katanya begitu menjawab panggilanku.
"Dinasti ya? Ini aku Arunika," kataku mencoba memastikan.
"Iya Ibu, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan nada yang sopan dan terkesan profesional.
"Tadi ada tamu Sandy, dia lama nggak di kantor?" tanya ku mencari kepastian.
"Tadi setelah ibu pergi, tidak lama kemudian bapak keluar dan meminta saya menghubungi security untuk memintanya pulang dan mengatakan kalau bapak sudah pergi," katanya satu per satu dan sangat jelas
"Lalu?" tanyaku lagi dengan sangat penasaran.
"Perempuan itu keluar bersama security sambil marah-marah dan setelah memastikan semua aman, bapak lalu kembali ke ruangannya," jawab Dinasti.
"Ok, makasih infonya ya. Maaf malam-malam mengganggumu," kataku sebelum mengakhiri panggilan.
Ternyata ada kebenaran di balik ucapan Kanaya. Heran, mengapa Sandyakala setega itu pada Kanaya. Harusnya dia mengingat bahwa Kanaya juga sangat berjasa dalam merintis cafe sejak awal. Tapi aku tidak bisa begitu saja menyimpulkan masalah ini, aku juga harus klasifikasi dengan Sandyakala. Aku di sini harus menjadi penengah, harus ada pernyataan dari kedua belah pihak. Besok aku harus bicara dengan Sandyakala.
__ADS_1