BISIK HENING CINTA

BISIK HENING CINTA
BERUSAHA TEGAR


__ADS_3

POV Sandyakala


Rumah sebelah terdengar meriah. Suara tawa Abi, bunda dan mama memenuhi ruangan. Itu menandakan kemungkinan Arunika ada di sini. Aku langsung ke meja makan dan mendapati semur ayam kesukaanku tersaji di meja. Tanpa banyak kata, aku langsung mengambil piring dan menyantap hidangan favoritku. Memang masakan bunda paling juara sedunia.


Selesai makan aku bergabung dengan semua di halaman belakang yang sedang asyik bersama Abi. Namun mengapa Arunika tidak terlihat. Ku urungkan niatku untuk bertanya, saat ini rasanya aneh jika mencari Arunika tanpa alasan yang tepat.


Abi tampak rewel dan sepertinya dia mengantuk, aku lalu menawarkan diri untuk menggendongnya. Sementara Mbak Asih menyiapkan ASIP yang masih harus dihangatkan. Walaupun awalnya mama dan bunda tidak yakin, namun diserahkan juga Abi ke tanganku setelah panjang omelan mereka mengenai cara menggendong yang baik dan benar. Gendongan sudah dipasangkan ke badanku, sebotol penuh ASI sudah tersedia dan Abi tampak sudah nyaman namun matanya tak kunjung dipejamkan.


"Diayun pelan-pelan sambil dinyanyiin," saran mama yang tampak tidak sabar dan ingin mengambil Abi dariku.


Ku bawa Abi ke ruang tengah dan menjauhkan dari ocehan nenek-nenek lincah yang panik tanpa sebab dan merasa Abi berada di tangan yang salah. Coba ku ayunkan seperti saran mama dan kunyanyikan lagu bintang kecil. Perlahan matanya mulai sayu, saat botol susunya sudah kosong, Abi mulai lelap di gendonganku. Kuserahkan Abi ke Mbak Asih untuk ditidurkan di kamar. Bahuku terasa lumayan pegal padahal baru menggendongnya sebentar. Mama dan bunda seakan tidak percaya atas keberhasilanku.


"Mungkin Abi terlalu capek sampai nggak bisa nahan ngantuk," kata bunda berusaha beralibi.


"Remehin aja terus," kataku sambil duduk di samping bunda dan minta dipijat.


"Gendong baru sebentar udah ngeluh," kata mama sambil mencibir.


Arunika memasuki halaman belakang dan bergabung dengan kami. Sama seperti mama dan bunda, dia juga tidak percaya kalau aku berhasil meninabobokan Abi. Menurutnya Abi itu paling susah untuk tidur siang.


"Ya sudah kalau semua nggak yakin," kataku putus asa berusaha meyakinkan semua.


Arunika pamit sebentar untuk melihat Abi di kamarnya. Mama dan bunda juga pamit untuk pergi arisan bersama gengnya. Tinggal aku di sini sendiri. Ku keluarkan ponselku untuk mengecek ada pesan penting apa saja yang masuk. Kembali ada pesan dari Kanaya dan lagi-lagi ku abaikan. Aku bersiap-siap untuk pergi saat Arunika datang dan menyapaku.


"Katanya ada hal penting yang mau dibicarakan, ada apa?" tanyanya sambil duduk di depanku.


"Iya, Kanaya sudah kembali," kataku membuka pembicaraan, seperti rencana awal.

__ADS_1


"Nika sudah tahu, kemarin dia ke rumah menemui ibu," kata Arunika sambil tersenyum menatapku.


"Oh ya? Kemarin Kanaya juga menemui mama," kataku dengan dan merasa sangat aneh. Untuk apa Kanaya menemui Bu Wening?


"Lalu, untuk apa dia menemui mama?" tanya Arunika serius.


"Dia izin ke mama untuk kembali kerja di cafe, tapi mama mengembalikan semua ke aku" kataku.


"Terus Sandy setuju?" tanya Arunika dengan nada yang terdengar sangat tenang dan bijaksana. Sejak Arunika kembali, rasanya dia jauh lebih dewasa, pembawaannya lebih tenang terkesan sangat sabar.


"Menurut Nika gimana?" aku berusaha meminta pendapatnya seperti rencana awal.


"Katanya Sandy kurang sreg dengan kinerja karyawan cafe yang sekarang. Mungkin Kanaya bisa membantu membimbing mereka biar bisa seperti keinginan Sandy. Kerja Kanaya itu bagus lho, dulu Nika juga diajari Kanaya," saran Kanaya dengan penuturannya yang sangat adem.


Aku lalu meminta Arunika untuk kembali juga ke cafe atau membantuku di PT. Namun Arunika menolaknya dengan alasan dia ingin meluangkan banyak waktu untuk Bu Wening dan Abi. Namun seiring berjalannya waktu, dia akan mempertimbangkan lagi penawaranku namun dia tidak berjanji untuk bisa memenuhi permintaanku.


Arunika lalu mengucapkan terima kasih padaku karena sudah membantu menidurkan Abi. Dia juga tahu kalau aku menyanyikan lagu bintang kecil untuk Abi. Ternyata diam-diam Mbak Asih memperhatikan saat aku bersama Abi dan melaporkannya pada Arunika.


Ku buka tasku dan ku keluarkan buku harian Abhi lalu kuserahkan pada Arunika. Aku meminta Arunika untuk membuka dan membacanya. Arunika menerimanya dengan tangan bergetar, dan bergantian memandangku dengan bukunya.


"Aku harap Nika punya waktu untuk membacanya sampai selesai. Aku harus berangkat kerja, banyak yang harus aku selesaikan," kataku sambil menepuk puncak kepalanya. Sama seperti yang sering aku lakukan dulu. Aku tidak tahu, apakah sudah tepat menyerahkan buku harian itu untuk Arunika. Mungkin tembok ketegaran yang dengan susah payah dibangunnya roboh seketika. Aku memperhatikan air mata Arunika yang jatuh dan membasahi buku harian Abhi begitu dia membaca halaman pertama. Aku berlalu pergi, mataku mampu menahan jatuhnya air mata, tapi hatiku lain, deras tak terbendung.


...****************...


Aku duduk di pojok cafe menunggu Kanaya. Dia datang dengan gayanya yang anggun dan menjadi pusat perhatian karena pesonanya, ku akui Kanaya memang cantik, tapi aku tidak pernah tertarik dengan kecantikannya. Kanaya duduk di depanku dan memesan jus alpukat. Dia terus tersenyum dan terlihat sangat senang.


"Kemarin kamu menemui mama, izin mau balik kerja di sini lagi?" tanyaku langsung tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Iya, kenapa? Nggak boleh?" tanyanya. Sifat arogannya masih belum berubah juga.


"Tergantung niatmu apa," kataku ketus. Aku merasa yakin jika ada maksud tersembunyi di balik semua keputusannya.


"Aku ingin menemani Om Alden, tapi tidak mungkin kalau aku hanya diam di rumah," katanya sambil mengaduk-aduk minumannya.


"Lalu kenapa kamu nggak kerja sama Om Alden aja?" tanyaku menyelidiki.


Kanaya hanya diam. Mungkin otaknya sedang mengumpulkan berjuta alasan yang akan dikatakan kepadaku. Sesekali dia menghela nafas dan memandangku dengan tatapan sebal.


"Apa sih yang ada di pikiranmu? Kamu kan tinggal bilang boleh atau tidak," katanya menggebrak meja sambil berlalu pergi.


...****************...


POV Kanaya


Aku mencoba pergi berharap Sandyakala mengejarku dan memohon padaku untuk duduk kembali lalu membicarakan semuanya baik-baik. Ternyata Sandyakala tidak segampang itu masuk ke dalam perangkapku. Jelas saja jika aku ingin bekerja di cafe supaya aku bisa terus dekat dengannya dan semakin mudah bagiku untuk meraih cintanya.


Lama aku menunggu namun ternyata Sandyakala tidak menyusulku. Aku malu jika harus kembali. Benar-benar sebuah tantangan besar bagiku untuk mendapatkannya. Apalagi yang dia cari? Dulu Arunika menjadi penghalang bagiku, tapi kini Arunika sudah bukan sainganku, dia hanyalah seorang janda matre beranak satu. Apa yang bisa dibanggakan darinya.


"Kanaya," suara yang kurindukan memanggilku dan dengan segera aku membalikkan badan


"Iya," jawabku berpura-pura ketus.


"Ku kira kamu sudah pergi," katanya santai.


"Lalu untuk apa kamu menyusulku?" tanyaku dengan tatapan dingin.

__ADS_1


"Siapa bilang aku menyusulnya? Aku mau pergi, ada banyak urusan yang harus segera aku selesaikan," katanya sambil berjalan menuju parkiran dan mengabaikanku.


Rasanya runtuh semua harga diri dan kesombonganku. Lebih baik dia menamparku daripada memperlakukanku seperti ini. Aku berlari tanpa tujuan dan tiba-tiba sesuatu menabrakku dengan keras, kepalaku menghantam aspal dan semua menjadi gelap dan sunyi.


__ADS_2