BISIK HENING CINTA

BISIK HENING CINTA
AWAL BABAK BARU


__ADS_3

POV Arunika


Terlalu banyak yang menggangu pikiranku akhir-akhir ini. Antara ujian dan mempersiapkan kuliah. Ayah dan bunda sepertinya keberatan jika aku mengambil jurusan filsafat. Mereka mengarahkanku untuk mengambil jurusan ekonomi yang nantinya sangat berguna saat aku mengelola perusahaan. Sedang Sandyakala dengan entengnya mengatakan bahwa kuliahnya hanya untuk formalitas, jadi dia hanya ikut saja ke mana aku pergi. Terlalu pasrah, sungguh tidak punya tujuan. Hampir sama saat menentukan masuk SMA.


Daripada suntuk, aku memutuskan untuk pergi berjalan-jalan sendirian. Seperti biasa aku akan hunting buku terbaru dengan menaiki bus umum karena aku sedang tidak terburu-buru. Setelah pamit pada bunda dan berkali-kali menolak untuk diantarnya, maka berangkatlah aku.


Baru saja aku turun dari bus umum, di depanku terjadi peristiwa darurat, seorang pria berusia paruh baya tergeletak lemah di halte sambil memegang dada kirinya, nafasnya juga terlihat pendek dan pria itu mengeluh pusing. Segera aku membawanya ke rumah sakit dengan taksi. Ternyata pria ini mengalami serangan jantung. Untung saja bisa segera teratasi sehingga pria itu bisa diselamatkan namun harus menjalani perawatan beberapa hari.


Aku berniat untuk pergi meninggalkan rumah sakit saat seorang wanita muda dengan pakaian blezer yang rapi dan sepatu pantofel dengan hak lima sentimeter tergopoh-gopoh mengejarku dan menahan langkahku.


"Maaf, mbak yang sudah menyelamatkan bapak yang kena serangan jantung tadi?" tanyanya sangat santun.


"Iya, kebetulan saya berada di lokasi kejadian." jawabku sambil tersenyum.


"Saya Serena, sekretarisnya bapak," katanya sambil mengulurkan tangan


"Arunika," jawabku sambil menjabat tangannya.


"Mbak Arunika, boleh saya minta nomor telepon yang bisa dihubungi? Nanti kalau bapak sadar biar dihubungi, mungkin untuk sekedar mengucapkan terima kasih," katanya.


"Saya rasa itu tidak perlu, siapapun akan melakukan hal yang sama jika ada yang butuh pertolongan," tolakku berusaha sopan.


"Bukan begitu mbak, menurut bapak, tadi banyak orang di halte saat itu tapi mereka hanya melihat. Tapi saat Mbak Arunika turun dari bus, Mbak Arunika langsung turun tangan membantu," kata Mbak Serena menjelaskan 

__ADS_1


"Ya, tapi rasanya saya tidak perlu meninggalkan jejak," kataku berusaha menolak.


"Mbak, saya mohon. Kalau saya tidak mendapatkan nomor telepon Mbak, saya bisa kena masalah." katanya memohon dengan nada panik.


Akhirnya ku berikan juga nomor teleponku kepadanya karena merasa iba kepadanya. Dia berjanji akan menghubungiku saat pria itu sudah sadarkan diri walau sebenarnya aku tidak terlalu berharap. Aku lalu pamitan. Acaraku untuk ke Gramedia aku batalkan dan aku putuskan untuk pulang.


...****************...


Seminggu sudah sejak peristiwa itu, Kak Serena menghubungiku dan meminta untuk bertemu dan mengundangku untuk makan siang di rumah atasannya. Awalnya aku enggan, namun saat Kak Serena meminta alamat untuk menjemputku, aku mulai tidak bisa menolak.


Aku dibawa ke rumah yang sangat megah dengan pilar-pilar besar. Nuasanya hampir sama dengan rumah Abhi yang dijadikan markas rahasia. Tidak sembarang orang bisa masuk ke sini.


Aku disambut oleh sepasang suami istri dengan dengan sangat ramah. Anehnya aku merasa seperti pernah melihat wajah sang istri. Atau mungkin beliau ini seorang aktris yang selalu muncul di TV sehingga wajahnya sangat familiar.  Kami lalu menuju ke meja makan yang besar dan panjang. Persis seperti di film-film klasik. Aku merasa seperti rakyat jelata yang diundang ke perjamuan kerajaan.


"Nika, Bu!" jawabku sedikit malu-malu.


"Panggilnya Om Tante saja biar akrab," kata suaminya yang ku balas dengan anggukan kepala dan senyuman.


Om duduk di depan layaknya sang raja, Tante duduk di samping kanannya dan aku duduk tepat di depan Tante. Kalau boleh jujur, Sampai saat ini aku belum tahu siapa nama mereka namun aku juga sungkan untuk menanyakannya.


Meja makannya sangat megah, benar-benar seperti bangsawan Eropa. Meja makan diisi dan dihias dengan bunga segar yang ditata dengan cantik, terdapat juga lilin hias, buah-buahan dalam mangkuk, runner cantik, dan set peralatan makan serasi. Hiasan di tengah meja berisi bunga segar yang ditata dengan cantik. Urutan dalam penataan alat makan juga tersusun rapi, pada bagian paling kiri adalah garpu. Selanjutnya piring di bagian kanan garpu. Sedangkan untuk selanjutnya adalah alat pisau. Dimana pada bagian yang tajam menghadap ke piring. Sedangkan untuk alat terakhir adalah sendok di bagian paling kanan. Peralatan gelas untuk jenis minuman baik jus dan air mineral diletakkan di bagian kanan, di atas piring makan, jadi diletakkan pada bagian atas pisau dan sendok.


Aku menoleh ke sebelah kiri ku, ada empat set alat makan padahal kami hanya bertiga.

__ADS_1


"Itu untuk Aslan, anak kami. Berjaga-jaga siapa tahu dia pulang dan ikut makan siang," kata Tante seolah membaca pikiranku sambil memandang penuh harapan ke meja yang kosong itu.


"Maaf Tante, memangnya anak Tante ke mana?" tanyaku hati-hati.


"Ada di kota ini, hanya saja Aslan jarang pulang. Aslan punya rumah sendiri, punya kehidupan sendiri," kata tante sambil tersenyum tapi aku bisa melihat kerinduan yang mendalam di matanya.


"Oh, dia sudah berkeluarga?" tanyaku mulai penasaran.


"Belumlah, dia masih muda, mungkin seumuran kamu. Sekitar 19 jalan 20." kata Tante yang membuatku heran.


Seperti apa si Aslan ini? Di usia yang bisa dikatakan masih muda sudah pisah dengan orangtuanya. Lalu, apa yang dia lakukan saat ini? Bukankah anak seusia kami harusnya masih di bawah perlindungan dan tanggungjawab orangtua?


"Tante berharap suatu saat kamu bisa bertemu dengan Aslan," katanya penuh harapan.


Karena makanan sudah dihidangkan, kami lalu mulai makan. Aku merasa sangat canggung, walaupun mama Naomi selalu mengajarkanku mengenai table manner tapi perasaan tidak nyaman selalu ada apalagi makan dengan orang yang baru aku kenal.


Acara makan pun selesai, setelah sedikit obrolan ringan. Om dan Tante memintaku untuk sering datang ke sini karena mereka merasa sangat sunyi. Padahal di rumah ini ada beberapa pelayan yang selalu siap siaga. Aku beralasan bahwa aku harus belajar karena sebentar lagi ujian dan aku juga harus mempersiapkan diri untuk masuk ke perguruan tinggi.


Tante dan Om malah mengajakku ke sebuah ruangan di lantai dua. Saat pintu terbuka, hatiku bersorak gembira, ini adalah perpustakaan pribadi seperti yang aku impikan. Dan yang lebih memanjakan mataku adalah adanya beberapa buku filsafat kuno yang mempelajari pemikiran-pemikiran Konfusius maupun filsafat Yunani kuno dari Socrates, Aristoteles, dan Plato tentang kehidupan sosial dan politik.


"Di sini cukup nyaman kan untuk belajar?" tanya Tante yang ku jawab dengan anggukan kepala penuh semangat. "Kalau Nika mau ke sini, tinggal hubungi Serena saja," lanjutnya.


Aku lalu pamit pulang setelah berjanji akan sering ke sini dan bertukar pikiran dengan Om mengenai filsafat. Senang rasanya bisa menemukan orang yang bisa diajak berbicara dan paham mengenai apa yang menjadi ketertarikan ku.

__ADS_1


Saat di mobil, ku buka ponselku dan ada banyak panggilan tak terjawab dari Jeevan.


__ADS_2