
POV Sandyakala.
Sebulan sudah berlalu, hari ini hari besarnya Arunika. Ayah, bunda, mama, papa semua heboh. Jantungku berdetak tidak beraturan, berulang kali aku mengatur nafas untuk menenangkan diri. Aku harus bisa menyambut calon suami Arunika dengan baik. Semua demi kebahagiaan Arunika.
Arunika terlihat manis seperti biasanya, dengan memakai dress salem selutut dan high heels yang indah melingkari kakinya. Rambutnya tertata cantik dengan model messy hairbun. Make up nya sederhana, tapi sangat cocok dengannya. Gadis yang selalu sempurna di mataku itu akan menjadi milik orang lelaki lain walaupun rasa sayangku selalu jadi miliknya. Ku dekati dirinya yang aku tahu dia berusaha menutupi rasa gugupnya dibalik senyum manisnya.
"Boleh ya aku peluk Nika sebelum jadi istri orang?" tanyaku setengah berteriak dan disambut Arunika dengan merentangkan kedua tangannya.
Ku lingkarkan tanganku di bahunya, bisa kurasakan tangannya melingkar lembut di pinggangku. Ku kecup puncak kepalanya.
"Berjanjilah Nika akan selalu bahagia," kataku sambil perlahan melepaskan pelukanku.
"Iya dong, ini Nika sedang bahagia," katanya sambil menarik hidungku dan disambut tawa oleh semuanya.
Tamu yang ditunggu sudah tiba. Sedan mewah hitam yang tidak asing bagiku berhenti di depan kami. Penumpangnya keluar dari sedan itu, sepasang suami istri dan anak lelaki mereka. Wajah-wajah yang sangat ku kenal, ya aku mengenali wajah mereka dengan baik. Aku tersentak seakan tidak percaya melihat dia di depanku. Tidak seperti biasanya dia tampil sangat rapi, hanya saja tubuhnya tampak sedikit lebih kurus. Sedikit amarah menggugah emosiku. Dia yang menyadarkan ku tentang cintaku ke Arunika, dia yang selama ini selalu menolongku, dia yang sudah ku anggap lebih dari sahabat dan nyatanya dia tega menghancurkan perasaanku. Pantas saja dia menghilang sekian lama, ternyata dia kembali untuk mengambil Arunika dariku.
"Sand," katanya menegurku.
"Abhi," kataku sambil menjabat tangannya.
"Kejutan," kata Arunika sambil berdiri di samping Abhi dan tersenyum kepadaku.
"Ternyata Nika mau menikahnya sama Abhi?" tanyaku sambil menatap ke dalam matanya.
__ADS_1
"Iya, ini benar-benar kejutan luar biasa kan?," jawabnya sambil melirik ke arah Abhi dan tersenyum.
"Iya, aku sangat terkejut sampai rasanya susah bernafas," jawabku sambil terus menatap Abhi dengan pandangan tajam meminta penjelasan.
Semua bahagia menyambut kedatangan Pak Damar, Bu Wening dan Abhi yang diperkenalkan Arunika sebagai calon suaminya. Tawa bahagia mengisi malam ini mengiringi senyum palsu yang ku kembangkan di bibirku. Ingin rasanya ku acak-acak rambutku dan berteriak sekeras-kerasnya. Harusnya Abhi sangat tahu sebesar apa cintaku ke Arunika, tapi kenapa dia merampas kebahagiaanku. Di saat semua sangat senang mengetahui hal ini, aku merasa tertampar. Ya, semua senang karena mereka merasa tidak ada masalah. Semua mengenal baik keluarga Pak Darma karena kami memang punya hubungan yang baik dengan mereka. Sama seperti aku yang seharusnya punya hubungan baik dengan Abhi, yang ku kira dia paling memahami hatiku. Seumur hidup, baru kali ini aku membenci seseorang sampai sebesar ini.
Semua senang semua bahagia dan sepakat untuk melangsungkan pernikahan Abhi dan Arunika. Di sini hanya aku yang terluka, setelah aku berusaha menata hati mengikhlaskan Arunika, tapi ternyata aku dikhianati oleh Abhi. Perlahan aku menjauhi kebahagiaan mereka, aku harus menyingkir agar tidak merusak suasana.
...****************...
"Semua ini keputusan Nika, Nika cuma berharap Sandy menghormati dan menerima semua dengan berlapang dada," kata Arunika tiba-tiba dari belakangku. Aku menoleh dan sepasang calon pengantin itu berdiri sempurna tepat di depan mataku.
"Tapi kenapa harus dengan Abhi?" ada rasa tidak terima dan tidak yakin dengan keputusan Arunika.
Aku hanya diam lalu memunggungi mereka. Iya, Abhi tidak mungkin menyakiti Arunika tapi Abhi menyakiti perasaanku. Lalu apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus memohon pada Abhi untuk menjauhi Arunika? Sangat konyol, aku jadi teringat Jeevan yang terus menerus memintaku menjauhi Arunika agar dia bisa mendekatinya. Mungkin inilah yang dirasakan Jeevan saat itu, sangat berharap dalam keputusasaan. Dan aku saat itu malah menantang dan seolah merendahkannya karena Arunika nyatanya tidak menghiraukan perasaannya. Ku kembalikan pertanyaan ke Jeevan kepada diriku sendiri. Arunikanya mau sama aku? Apa Arunika peduli dengan cinta dan sayangku yang besar untuknya? Nyatanya dia lebih memilih Abhi. Sangat tidak terduga. Ku kira malam ini aku akan berhadapan dengan seseorang yang masih asing bagiku, dan berbasa-basi membahas Arunika, tapi semua jauh di luar nalar ku.
"Kalau kamu keberatan, biar aku batalkan semuanya," kata Abhi yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingku.
"Untuk apa? Kamu tahu semuanya dari awal, kamu tahu konsekuensi dari keputusanmu menikahi Arunika" kataku sambil menahan kepedihan hati
"Aku tahu, kata maafku tidak berguna. Tapi aku nggak aku menyakiti Nika, aku akan menjaganya dengan baik" katanya yang membuat luka dihatiku semakin menganga. Dia tahu perasaanku tapi kenapa dia melakukan itu. Sahabat seperti apa dia?
"Aslan, tidak perlu merasa bersalah seperti itu, semua akan baik-baik saja. Di saat yang tepat Sandy pasti mengerti," kata Arunika yang ternyata dari tadi masih berada di belakang kami.
__ADS_1
Aku akan mengerti, tapi kalian tidak akan mengerti perasaanku. Untuk apa Abhi merasa bersalah? Harusnya Abhi tidak melakukan ini jika dari awal dia tahu semua salah. Aku sudah tidak tahan untuk terus berada di dekat mereka, tanpa banyak kata aku meninggalkan mereka berdua. Terdengar jelas ditelingaku teriakan Abhi memanggilku dan suara Arunika berusaha menenangkannya. Dan Arunika bahkan memanggilnya dengan nama Aslan. Nama yang hanya disebutkan oleh orang-orang tertentu, yang punya hubungan sangat dekat dengannya.
...****************...
Dua tahun lebih sudah berlalu sejak pernikahan Arunika. Arunika dan Abhi tinggal di luar negeri menjalankan bisnis perhotelan keluarganya. Pak Damar meninggal setahun yang lalu karena serangan jantung dan Bu Wening sering berkumpul bersama mama dan bunda. Hubungan perbesanan yang sangat luar biasa baik.
Arunika sudah mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Abimanyu. Sepertinya mereka benar-benar bahagia sampai-sampai tidak pernah pulang ke rumah ini. Aku berusaha legowo dengan pernikahan mereka dan menjalankan hidupku sebaik-baiknya.
Hidupku berjalan seperti biasa hanya saja tanpa Arunika. Aku masih ke rumah sebelah untuk menikmati masakan bunda yang tidak pernah gagal memuaskan hati. Dari ayah dan bunda aku tahu kabar mengenai Arunika dan Abhi. Aku belum memutuskan untuk menikah, belum ada yang bisa menggantikan Arunika di hatiku. Aku mengisi hari-hariku dengan mengurus PT. Sahabat Sejati, cafe dan perusahaan waralabaku. Nama Arunika masih menjadi petinggi di sini walaupun Arunika sudah membicarakan untuk mencopotnya saja namun aku menolak. Biar saja seperti itu. Mungkin bagi Arunika uang bukanlah masalah besar baginya, mertuanya meninggalkan warisan yang sangat banyak untuk keluarga kecilnya.
Hingga sampai di suatu sore saat aku pulang, terdengar tangisan dari dalam rumah dan aku bergegas mencari sumber suara itu. Di ruang keluarga berkumpul papa, mama, ayah dan bunda dengan wajah sedih dan sangat terpukul.
"Ada apa?" tanyaku mendekati mereka.
"Aslan," kata papa yang seolah berat mengucapkannya.
"Maksudnya Abhi? Ada apa ini?" kataku mulai tidak sabar.
"Aslan meninggal." lanjut papa yang membuatku tersentak.
Kakiku terasa lemas, aku lalu terduduk. Air mata tidak bisa ku bendung membasahi pipiku ku biarkan saja. Abhi, kenapa kamu meninggalkan Arunika secepat ini? Mana janjimu untuk menjaga Arunika dengan baik?
"ABHI!!!!" teriakkanku mengisi keheningan hatiku.
__ADS_1