
POV Sandyakala
"Sandy nggak kerja?" tanya Arunika sambil menyuapi Abi.
"Baru pingin santai, rasanya sedikit capek," kataku sambil memegangi Abi yang duduk di pangkuanku
"Kenapa tu mata bengkak?" pertanyaan Arunika yang membuatku gugup.
"Kurang tidur," kataku asal.
"Kenapa tu kurang tidur?" tanyanya lagi sambil terus menyuapi Abi.
"Banyak pikiran mungkin," jawabku lagi sekenanya.
"Mikiran apa tuh?" tanyanya lagi dengan senyum nakal.
"Nanti kalau aku jawab Nika tanya lagi?" ku balas dengan pertanyaan lagi dan disambut tawa oleh Arunika.
Tawa yang ku rindukan kini terdengar renyah di telingaku. Rambutnya yang tergerai indah tertiup angin. Tubuhnya sedikit lebih berisi dan pembawaannya jauh lebih tenang membuat dia terlihat sedikit berbeda. Jauh di lubuk hatiku, ingin membelai dan memeluknya manja, tapi apa mungkin sekarang semua berbeda. Jujur aku masih canggung menghadapinya. Seperti ada jarak yang membatasi di antara kami. Untung saja ada Abi sehingga aku bisa mengatasi kecanggungan. Abi memiliki wajah seperti Arunika, namun mata dan senyumnya sangat mirip dengan Abhi, ayahnya. Dia suka tertawa dan hatiku rasanya adem setiap mendengar celoteh dan tawanya. Aku menyibukkan diri dengan membantu Abi belajar berjalan. Kaki kecilnya sudah mantap melangkah hanya saja Abi belum berani melepaskan pegangan tangannya. Sesekali suara klakson kendaraan yang lewat membuatnya takut dan bingung. Aku selalu sigap memeluknya supaya dia tidak menangis. Sama seperti yang dilakukan Abhi dalam buku hariannya. Ternyata benar, Abi menjadi tenang saat dia dipeluk. Arunika hanya memendangi kami sambil menyuapi Abi. Tidak ada satu katapun yang terucap lagi dari bibirnya.
"Abi sudah selesai makannya?Aku mau siap-siap berangkat kerja, Ayo kita pulang," kataku sambil menggendong Abi dan Arunika berjalan tepat di sampingku. Sial, hatiku berdebar kencang saat Arunika berada begitu dekat denganku.
...****************...
POV Arunika
Kami berjalan pulang, aku tidak menyangka Abi bisa secepat ini dekat dengan Sandyakala padahal baru sekali ini mereka bertemu. Sandyakala juga sepertinya tahu cara memperlakukan Abi saat Abi ketakutan. Biasanya Aslan yang akan menenangkan Abi dengan pelukannya. Aku rindu Aslan, walaupun kami menikah tanpa cinta namun dia adalah sahabat dan partner yang baik dalam segala hal. Apalagi lagi saat ini rasanya ada yang aneh dari Sandyakala. Walaupun aku mencoba mengajaknya bercanda, namun dia seolah kurang lepas dan terasa berusaha menjaga jarak.
Ah, bodohnya aku masih berharap Sandyakala masih seperti yang dulu padahal situasinya telah berbeda. Aku seharusnya tahu diri dengan statusku janda beranak satu. Sedangkan dia, seorang pemuda berwajah tampan dan karir yang cemerlang di usia yang masih sangat muda. Pasti banyak gadis yang terbaik yang lebih pantas untuknya.
"Nika akan kembali keluar negeri?" tanya Sandyakala memecah keheningan.
"Nggak, Nika lebih memilih menemani ibu," jawabku
"Ibu?" tanya Sandyakala memastikan maksud perkataanku.
"Ibu Wening," jawabku.
"OOO..lalu kalau Nika di sini hotelnya gimana?" tanyanya lagi.
"Pastilah ada orang kepercayaan ibu yang akan mengelola," jawabku sederhana.
__ADS_1
"Ku kira Nika akan kembali ke sana," katanya.
"Kayanya Sandy nggak nyaman ya ada Nika di sini? Terus ngusir halus gitu" kataku
"Kok ngomongnya gitu sih, Nika? kata Sandyakala sambil menatapku sedih.
"Ya udah mana Abi? Kan Sandy harus kerja," kataku sambil mengambil Abi dari tangan Sandyakala.
Aku berjalan memunggungi Sandyakala yang berdiri membatu memandang langkahku. Ada perih di hati yang tak bisa ku ungkapkan. Ku peluk Abi yang masih terus melambaikan tangan ke arah Sandyakala. Mungkin sebaiknya aku pulang ke rumah ibu saja karena aku takut hatiku lelah.
"Nika, nanti malam aku tunggu di halaman belakang ya," teriak Sandyakala yang menghentikan langkahku lalu membalikkan badanku.
Dia berlari ke arah rumahnya sambil melambaikan tangan ke arahku. Seperti sosok Sandyakala yang ku kenal selama ini. Sepertinya kami hanya perlu adaptasi ulang setelah sekian lama berpisah.
...****************...
Abi sudah tidur, Mbak Asih tadi sore juga sudah kembali ke rumah ibu. Aku membatalkan niatku untuk pulang ke rumah ibu. Aku lalu menemui Sandyakala di halaman belakang. Dia sudah di sana sedang asyik dengan ponselnya.
"Ada urusan di cafe, capek juga mengurus tiga perusahaan," kata Sandyakala begitu menyadari kehadiranku.
"Kan ada karyawan, tarolah beberapa orang yang bisa dipercaya untuk membantu," kataku memberi saran.
"Sudah sih tapi aku kurang puas dengan kinerjanya," katanya dengan wajah sedikit tegang.
"Entahlah, kurang sreg aja. Beda seperti awal dulu, kita berempat sangat kompak jadi si mama enak tinggal mengawasi," kata Sandyakala membawa kembali semua kenangan.
"Tugas kamu untuk membimbing mereka supaya bisa kompak seperti keinginanmu," lagi-lagi aku memberi saran yang sebenarnya tidak mudah untuk dilakukan.
"Kamu sih curang, harusnya kamu yang jadi CEO PT. Sahabat Sejati, ini malah kabur menikah sama Abhi, menetap di tempat yang jauh pula," kata Sandyakala seolah melimpahkan semua kesalahan padaku.
"Sama Aslan," kataku mengoreksinya.
"Aku nggak terbiasa dengan nama Aslan, terasa. sangat asing, bagiku lebih gampang memanggilnya dengan nama Abhi," kata Sandyakala.
Tahukah kamu Sandyakala kenapa anaknya juga dipanggil 'Abi'? Supaya kamu tidak asing dengan nama itu. Aslan selalu berharap agar suatu saat anaknya bisa dekat dan akrab denganmu. Kamu mungkin tidak tahu betapa berartinya persahabatan kalian bagi Aslan. Darimu dia belajar semangat untuk tetap hidup dan jauh dari keputusasaan. Hanya saja sakit yang dideritanya sudah tidak bisa diajak berkompromi.
"Aku ingin bicara tentang rumah Abhi yang diberikan untukku," kata Sandyakala membuka pembicaraan yang lebih serius.
"Kenapa memangnya?" kataku santai. Aku tahu pasti Sandyakala ingin menolak semua pemberian Aslan itu.
"Aku akan menemui seorang pengacara dan akan menyerahkan semua kepada Abi kecil, dia lebih berhak atas semua itu. " katanya dengan tatapan mata tajam dan dalam.
__ADS_1
"Kenapa begitu, Sand?" aku mencoba menggali alasan.
"Nika, aku nggak butuh semua itu. Kalau aku mau, aku bisa membeli sendiri. Ya, walaupun nggak sebagus itu, tapi fungsinya tetap sama," kata Sandyakala sambil mengeluarkan rokok.
"Ini bukan masalah Sandy butuh atau tidak atau mengenai mampu atau nggak Sand. Ini semua karena Aslan percaya padamu," kataku sambil mengambil rokoknya.
"Kembaliin dong," katanya sambil mencoba merebut kembali rokoknya tapi aku berusaha mengamankannya.
"Sand, Nika ini ibu menyusui lho, nggak baik terpapar asap rokok," kataku beralasan padahal sebenarnya aku tidak ingin melihatnya merokok. Aku tidak ingin dia sakit.
"Oh, maaf ya, Nik," katanya dengan wajah bersalah dan ku balas dengan senyum.
"Sandy lah orang yang paling dipercaya oleh Aslan, seolah jika memungkinkan, seluruh milik Aslan ingin diberikan pada Sandy," kataku mencoba meyakinkanku.
"Omong kosong apa ini? Bukannya sangat mungkin Abhi ingin menebus kesalahannya karena dia mengambil sumber kebahagiaanku," katanya dengan nada yang terisi kebencian.
"Apa-apaan ini Sand? Aslan itu orangnya tulus, nggak seperti itu, ada yang salah dengan pemikiran Sandy. Sandy sudah salah paham," kataku setelah kaget mendengar pernyataan Sandyakala barusan.
"Nggak mungkin aku salah, Nika. Dia sangat tahu kalau aku sangat menyayangi Nika, dia juga tahu sebesar apa aku mencintai Nika. Tapi kenapa dia tega mengambil Nika dariku lalu berpura-pura menutupinya dengan rasa bersalah?" kata Sandyakala dengan nada setengah berbisik namun tegas dan penuh emosi.
"Nika yang memutuskan untuk menyetujui permintaan Pak Darma untuk menikahi Aslan. Aslan bahkan keberatan dengan semua ini" kataku mencoba meluruskan semuanya.
"Tapi tetap saja, Aslanmu itu harusnya bisa saja menolak namun pada akhirnya dia tetap menikahimu dan membawamu tinggal di tempat yang jauh dari sini. Manusia apa yang melukai sahabatnya demi kepentingannya?" tanya Sandyakala dengan emosi yang semakin meninggi.
Aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan pelan. Tidak ada gunanya berdebat dengan Sandyakala saat ini. Emosinya penuh dengan amarah. Sangat sulit untuk diajak berbicara. Yang ada nanti dia akan terus mencari pembenaran diri. Lama kami diam, membiarkan amarah mengisi udara di sekeliling kami dan menyesakkan hati kami masing-masing. Aku biarkan suasana menjadi sedikit lebih tenang.
"Maafkan Nika, Sand" kataku memecah keheningan.
"Untuk apa?" tanya Sandyakala dengan nada bicara yang sudah menurun dan lebih tenang.
"Karena Nika yang memulai semua kekacauan ini. Nika kira saat Nika memutuskan untuk menikah dengan Aslan, Sandy akan baik-baik saja. Ternyata Sandy memendam benci untuk Aslan." kataku sambil tertunduk, tidak sanggup aku menatap mata Sandyakala.
"Aku sudah mencoba ikhlas dan merelakan Nika, asal Nika bahagia. Aku berusaha menikmati cinta dan rindu ini, tapi aku rasa apa yang Abhi lakukan ini nggak adil. Dia tahu kalau waktunya tinggal sebentar, tapi dia masih saja menikahi Nika dan meninggalkan Nina dalam keadaan seperti ini. Sekuat apapun kamu menyiapkan hati, pasti tetap terpukul saat kehilangan," kata Sandyakala yang tidak mampu lagi aku bantah.
Sandyakala lalu berdiri lalu mengambil rokoknya dari tanganku.
"Aku pulang ya, Nika." katanya sambil menatap ke dalam mataku.
"Iya," jawabku singkat.
"Nika buruan masuk, kasihan Abi bobo sendiri," katanya lalu berlalu pergi.
__ADS_1
Hatiku rasanya sangat terpukul, niatku membantu Pak Darma berakhir dengan kebencian antara dua sahabat yang harusnya saling mendukung. Andai Aslan tahu kebencian yang dipendam Sandyakala, pastilah dia sangat bersedih.
Aku lalu meninggalkan halaman belakang dan kembali ke kamar. Abi terlelap pulas diantara tumpukan bantal yang membentenginya agar tidak terjatuh. Ku rebahkan tubuhku dan mencoba lelap. Masih ada besok yang harus ku lalui demi Abimanyu.