
POV Sandyakala
Semua mata tertuju padaku dan Arunika saat aku masuk ke gedung kantor. Arunika terlihat tidak nyaman menjadi pusat perhatian. Dia hanya tertunduk sampai akhirnya kami masuk ke dalam ruanganku. Aku kemudian memanggil sekretaris untuk masuk ke dalam ruangan.
"Tolong sampaikan pada seluruh pimpinan dan direksi kita akan meeting jam 10, jangan sampai telat," perintahku.
"Sebentar lagi jam 10 jadi Nika harus sudah pergi dong?" tanya Arunika polos.
"Nika ikut rapat," kataku tegas
"Ngapain? tanya Nika
"Udah ikut aja," kataku memaksa.
Aku memeriksa beberapa laporan yang perlu aku tandatangani sambil berbasa basi dengan Arunika mengenai perkembangan pekerjaannya di perusahaan Bu Wening. Ternyata dia sudah tidak mengalami kendala apapun, lumayan lama hanya karena banyak laporan yang harus dipelajarinya. Tapi sepertinya Arunika menyerahkan semua pada Om Alden dan merekrut orang dari pihak keluarga Abhi untuk menjadi Asisten dan sekretaris pribadi. Bu Wening cenderung tidak percaya jika perusahaannya di pegang oleh orang yang tidak diketahui asal usulnya.
Karena sudah jam 10 aku mengajak Nika ke ruang meeting. Suasana hening dan dipecahkan oleh suara hak sepatu Arunika. Aku duduk mengambil posisi duduk dan mempersilahkan Arunika untuk duduk di sampingku. Tidak lama kemudian, papa memasuki ruang meeting.
"Karena Pak Bram sudah hadir dan Pak Rendra berhalangan hadir karena sedang sakit, segera saja kita mulai rapat ini," kataku dan menimbulkan bisik kecil di antara semua.
"Hari ini saya mengajak ibu Arunika Dewi Maharendra selalu salah satu dari CEO perusahaan ini. Beliau adalah putri dari Pak Rendra yang baru pulang dari luar negeri. Beliau berhak mengambil keputusan-keputusan penting untuk perusahaan ini," kataku.
"Maaf Pak Sandy, berarti Ibu Arunika ini menjadi wakil bapak?" tanya salah satu anggota rapat.
"Tidak, posisinya setara dengan saya," kataku tegas.
"Tapi akan sangat sulit jika berjalan dengan dua pimpinan," protes salah satu anggota rapat.
"Setahu saya, dari dulu perusahaan ini dijalankan oleh dua orang pimpinan yaitu Pak Bram dan Pak Rendra. Apa pernah ada masalah?" tanyaku tegas dan semua hanya diam.
"Baiklah, rapat selesai kalian bisa kembali bekerja," kataku.
Hanya tinggal aku, Arunika dan papa yang ada di ruangan ini. Papa dan Arunika menatapku dengan mata penuh protes. Membuat aku memandangi mereka bergantian sambil tertawa.
"Ada apa?" tanyaku penasaran.
"Kamu minta papa ke sini hanya untuk ini? Nggak harus ada papa juga bisa," kata papa.
__ADS_1
"Iya dong, papa kan pemilik perusahaan ini, biar sangat meyakinkan," kataku.
"Pa, Sandy itu sudah menjebak Nika," kata Arunika mengadu pada papa.
"Posisi ini dari awal milik Nika, kali ini sudah nggak dan alasan untuk Nika menghindar lagi," kataku tapi Nika menanggapinya dengan wajah cemberut.
"San, Nika juga harus mengurus perusahaan ibu," kata Arunika, dia pasti berharap aku bisa melepaskannya.
"Big no, aku nggak mau tahu. Aku juga saat itu harus mengurus usahaku sendiri. Nika bantuin lah, aku pusing sudah begini sekian lama," kataku menolak jika Arunika lari lagi dari tugas dan tanggungjawabnya.
"Ya udah silahkan kalian berdua atur, papa mau pulang aja," kata papa yang akhirnya meninggalkan kami berdua di ruang meeting.
Aku harus menyelamatkan diri dan ikut papa meninggalkan ruang meeting dan kembali ke ruanganku supaya tidak diomeli Arunika lebih panjang lagi.
...****************...
POV Arunika
Sandyakala memang keterlaluan, bisa-bisanya tanpa aba-aba dia mengambil keputusan tanpa persetujuanku dan mengumumkannya seperti itu. Ku susul Sandyakala ke ruangannya, namun dia terlihat sibuk dengan sekretarisnya. Dia tampak sangat serius dengan wajah menahan marah. Aku kemudian duduk di sofa dan membuka buku tentang otomotif yang sama sekali tidak aku mengerti. Kemudian datang seorang karyawan laki-laki yang terlihat gugup dan menjadi sasaran amarah Sandyakala.
Ruangan menjadi sepi saat semua sudah keluar. Sandykala tampak mengacak-acak rambutnya. Belum pernah aku melihat seorang Sandyakala tapak tegang dan stress seperti itu. Sandyakala duduk di sampingku.
"Jangan galak-galak sama karyawan, nanti pada lari," kataku memperingatkannya.
"Ada salah sedikit saja aku pasti langsung emosi, karena jujur aku nggak suka kerja di sini," kata Sandyakala sambil bersandar di kursi dan menarik-narik rambutku, kebiasaanya yang mulai kambuh lagi.
"Ya Sandy sukanya apa?" tanyaku sambil menepis tangannya.
"Sukanya sama Nika lah," kata Sandyakala yang membuat aku tersipu, pasti pipiku merah merona.
"Kamu kan cowok, harusnya suka dunia otomotif," kataku mengabaikan gombalan dari Sandyakala.
"Aku sukanya nongkrong, ngopi-ngopi, main musik, olahraga. Kayak kamu nggak tahu aja," kata Sandyakala sedikit sewot.
"Sandy aja ngeluh Kayak gitu, malah Nika dicemplungin ke sini," protesku sesuai harapan.
"Biar aku bisa selalu bertemu dengan Nika. Biar orang tahu kalau Nika itu punya hak di sini, biar lebih dihargai aja, nggak difitnah sama orang yang nggak suka sama Nika" kata Sandyakala yang membuatku berfikir keras.
__ADS_1
"Siapa yang jahat gitu sama Nika?" tanyaku menyelidiki.
"Adalah nanti lama-lama juga Nika tahu sendiri." kata Sandyakala yang kemudian berdiri. " Pulang yuk, aku kangen sama Abi," lanjut Sandyakala yang kemudian menggandeng tanganku.
"Jangan digandeng Sand, nggak enak dilihat orang," aku mencoba menolak.
"Apa mau digendong aja?" tawa Sandyakala tanpa mau melepaskan tanganku.
Aku berjalan tertunduk melewati meja-meja karyawan yang melirik dan mencuri memandang kami. Ada juga yang berbisik-bisik entah apa yang dibicarakan. Mungkin di mata mereka tidak pantas seorang janda beranak satu mendampingi bos mereka yang sempurna.
...****************...
POV Sandyakala
Apa peduliku dengan kalau dilihat orang, biar satu dunia tahu kalau saat ini yang aku mau hanya Arunika. Saatnya aku mengambil sikap dan mempertegas hubungan ini. Semua salahku selama ini karena aku yang menggantung hubungan ini. Andai dari awal aku berterus terang pada Arunika bahwa aku mencintainya dan ingin menikahinya, mungkin pernikahan Arunika dengan Abhi tidak akan terjadi, mungkin sejak awal aku dan Arunika yang bersama-sama meneruskan perusahaan keluarga ini.
Saat berdialog dengan hatiku sendiri, ponselku berdering dan ternyata itu dari Kanaya.
"Iya, Kanaya, ada apa?" jawabku
"Kamu nggak ke cafe?" tanya Kanaya dengan suara manjanya.
"Nggak," jawabku singkat
"Kamu sekarang di PT? aku susul ke sana ya," kata Kanaya penuh semangat
"Ini aku udah mau pergi," kataku.
"Kemana? Kamu mau pulang? Aku tungguin di rumahmu aja ya, atau di rumah bunda," kata Kanaya lagi mendesak ku
"Aku nggak pulang, mau pergi dulu," jawabku semakin mulai merasa terganggu.
"Ke mana?" Kanaya mencari tahu.
"Udah ya, aku udh mau nyetir nih," jawabku kemudian mengakhiri panggilan.
Lift terbuka dan ternyata Kanaya sudah menunggu di lobi, berarti tadi dia menelepon dari situ.
__ADS_1