BISIK HENING CINTA

BISIK HENING CINTA
STRATEGI KANAYA


__ADS_3

POV Kanaya


"Berarti kamu keponakan Alden, anak angkat Dhira?" tanya Bu Wening sangat lembut.


"Iya, Bu. Saya ikut berbelasungkawa atas kepergian Abhi. Ternyata Abhi yang selama ini saya kenal adalah keponakan Tante Dhira," kataku dengan wajah sedih.


"Terima kasih, nak." Kata Bu Wening sambil mempersilahkan aku untuk duduk.


"Maaf Tante, selama bersama Abhi, dia terlihat sangat sehat dan bahagia, ternyata di balik semua itu dia menyimpan sendiri sakitnya," kataku sambil meneteskan air mata.


"Dia sudah bahagia, itu pilihannya." Kata Bu Wening sambil tersenyum.


Bu Wening tidak banyak bercerita tentang Abhi, usepertinya beliau sudah benar-benar mengikhlaskan kepergiaan anak semata wayangnya. Dia malah banyak bertanya tentang aku dan kegiatanku sehari-hari. Sampai saat yang ku tunggu-tunggu tiba, Arunika datang sambil bercanda dengan bayi yang ada di gendongannya. Dia tampak terkejut dengan kehadiranku namun menyambutku dengan hati yang gembira.


"Kamu ngapain ke sini?" tanyaku pura-pura tidak tahu.


"Nika, menantu di keluarga ini," kata ibu Wening menjelaskan.


"Menantu?" kataku sambil sedikit melotot menyempurnakan dramaku. "Jadi? Akhirnya kamu menikah dengan Abhi, dan anak lucu ini anakmu dengan Abhi?" kataku sambil memasang tampang heran.


"Udah nggak perlu merasa heran, aku ke dalam dulu ya," kata Arunika seolah lari dariku dan menghindar untuk memberi penjelasan.


...****************...


POV Arunika


Kanaya sudah kembali, apa dia masih mengharapkan cinta dari Sandyakala? Kalaupun iya, apa urusan ku? Kalau pada akhirnya Sandyakala memilih Kanaya menjadi pendamping hidupnya, apa urusanku untuk tidak setuju dan menghalanginya? Aku tahu saat aku menikah dengan Aslan, aku tanpa sadar sudah menggores luka di hati Sandyakala.


Aku menidurkan Abi yang tampak lelah bermain seharian, ku usap wajah lucunya. Andai Aslan masih ada, pasti Abi bisa tidur nyaman di pelukan ayahnya. Air mataku mulai menetes, ku kira semua akan mudah saat sudah memenuhi janjiku pada Om Darma dan Tante Wening untuk memberi mereka cucu. Tapi malah rasa kasihan pada Abi terus ku rasakan. Walaupun Abi belum bisa mengatakannya, tapi dapat aku rasakan bahwa Abi kesepian. Selama ini Aslan selalu bersamanya dan sebisa mungkin menemaninya. Kini, Abi hanya bermain sendiri dan aku sendiri bahkan tidak tahu permainan apa yang paling disukainya.


Kudengar pintu kamarku diketuk dan saat aku membukanya, Kanaya berdiri di depan pintu sambil tersenyum. Aku membalas senyumnya namun aku yakin ada yang lain di senyum Kanaya.


"Anakmu tidur? Sayang sekali, padahal aku ingin mengajaknya bermain," kata Kanaya sambil melihat Abi yang tertidur pulas.


"Kamu masih berhutang cerita padaku, Nika." lanjutnya dengan nada arogan seolah aku akan mengikuti semua kemauannya.

__ADS_1


"Mengenai apa?" tanyaku dengan nada sedikit ketus.


"Mengenai pernikahanmu," katanya dengan nada yang terkesan menyindir.


"Itu urusan pribadiku, aku tidak ingin membaginya dengan siapapun," jawabku tegas menolak keinginannya.


"Itu bukan alasan untuk menghindar," katanya sangat angkuh


"Siapa kamu berani menyuruhku?" balasku dengan nada menantang.


"Baiklah, kalian para pengkhianat pasti bungkam, mana berani mengungkap kebenaran," kata Kanaya sambil berlalu pergi.


Apa tujuan Kanaya ke sini hanya untuk mencelaku? Seperti ada senyum kemenangan di bibirnya. Pekan ku tutup pintu dan menguncinya dari dalam. Aku juga butuh istirahat, bukan hanya tubuhku yang lelah tetapi hati dan pikiranku juga.


...****************...


POV Kanaya


Lega rasanya bisa mengatakan jika Arunika adalah pengkhianat. Dia sepertinya sangat terpukul dengan kata-kataku. Aku perlu selalu mengintimidasi Arunika sehingga dia merasa rendah diri dan tidak pantas mendampingi Sandyakala.


Aku lalu menghubungi Kak Widura dan meminta izin untuk tetap tinggal di sini untuk beberapa waktu dengan alasan aku sangat rindu dengan Om Alden dan aku juga kasihan karena nyatanya Om Alden hidup sendirian. Abhi yang dulu berjanji menemaninya sudah tidak ada lagi. Syukurlah Kak Widura menerima semua alasanku.


Di dalam mobil, aku lalu menelepon Tante Naomi untuk mengajaknya bertemu. Dan Tante Naomi menyambutku dengan senang hati. Kami berjanji untuk bertemu di cateringnya. Segera saja aku perintahkan sopir untuk menuju ke sana secepatnya.


...****************...


"Halo, Kanaya kamu nih tambah cantik aja," kata Tante Naomi menyambutku sambil kami cipika cipiki.


"Ah, Tante bisa aja. Tante lho, forever young," kataku balas memuji tulus dari hati. Pantas saja Sandyakala seganteng itu, ibunya saja punya kecantikan yang luar biasa.


Kami lalu duduk sambil menikmati segelas jus jeruk yang segar. Kami lalu bercerita mengenai hari-hari yang kami lalui selama kami berpisah. Tante Naomi juga menceritakan mengenai pernikahan Arunika. Menurut Tante Naomi, Arunika menikahi Abhi atas keinginannya sendiri, tanpa paksaan dari pihak manapun, dan menurut Tante Naomi mereka berdua adalah pasangan yang serasi.


Sedangkan mengenai Sandyakala, sejak pernikahan Arunika dia cenderung lebih fokus ke bisnisnya. Baik itu bisnis keluarga, cafe dan waralaba. Sandyakala masih bermain basket, namun sudah tidak lagi bermain musik. Hanya sesekali bermain gitar sendirian di kamar. Aku yakin Sandyakala pasti berusaha menyibukkan diri sebagai usaha untuk move on dari Arunika.


"Tante, kalau saya kembali bantuin di cafe boleh nggak?" tanyaku berusaha menawarkan diri.

__ADS_1


"Yakin? Apa kamu nggak kembali ke luar negeri?" tanya Tante Naomi antusias.


"Nggak Tante, mungkin saya akan lebih memilih tinggal di sini, kasihan Om Alden sendirian," kataku berusaha menarik simpatinya.


"Baiklah, nanti Tante bicarakan dengan Sandy. Dia juga sering mengeluh katanya kinerja karyawan cafe terutama bagian administrasi kurang memuaskan," kata Tante Naomi yang membuatku lega.


Ku rasa langkahku kembali ke cafe akan mulus, tinggal aku perlahan tapi pasti harus bisa meyakinkan Sandyakala. Sikap dinginnya padaku pasti bisa aku luluhkan. Namun kali ini aku akan bermain cantik dan tidak akan pakai cara agresif seperti dulu, hanya terbawa emosi dan tanpa berpikir panjang.


"OK Tante, ini sudah malam. Saya pamit pulang dulu ya, takut dicari Om Alden,". pamitku sambil cipika cipiki dengan Tante Naomi.


...****************...


POV Sandyakala


Mama memang manja, pakai acara minta dijemput segala. Memang susah mencari pengganti Pak Santo yang aku paksa pensiun karena sudah lelah. Apa aku sebaiknya memakai sopir dari rumah Abhi saja? Ya, coba besok aku bicarakan dengan Pak Oman.


Setibanya di catering, aku masih harus menunggu mama berkemas-kemas padahal aku sudah kirim pesan ke mana setengah jam yang lalu.


"Lama banget sih, ma," protesku sambil membawakan tas ibu yang berat dan entah apa isinya.


"Tapi ada tamu, jadi mama telat." kata mama sambil membuka ponselnya. Pasti mama mengecek orderan yang masuk.


"Siapa?" tanyaku sambil membukakan pintu mobil untuk mama.


"Kanaya," kata mama sambil tersenyum.


"Kanaya?! Ngapain?" tanyaku kaget


"Dia bilang mau kerja lagi di cafe, dia akan tinggal di sini lagi. Katanya kasian Om Alden sendirian," kata mama menjelaskan keinginan Kanaya.


"Terus mama bilang apa?" tanyaku berharap mama menolaknya.


"Ya mama bilang kalau mau bicara dulu sama Sandy," kata mama sambil menutupi mulutnya karena menguap.


"Ya, nanti Sandy pikir-pikir dulu, baru capek nih," kataku beralasan.

__ADS_1


Pikirin ku menerawang, apa yang harus aku lakukan? Mama juga sudah lama tidak campur tangan dengan urusan cafe. Bisnis catering mama saja sudah menggurita, mana mungkin mama punya waktu seperti dulu lagi pula menurut mama aku bukan anak SMA lagi, aki sudah cukup dewasa untuk mengelola bisnis sendiri.


Akhirnya, kami sampai di rumah. Baru saja masuk ke garasi, ponselku berdering dan tertera nama KANAYA di sana. Aku bimbang antara menjawabnya atau tidak.


__ADS_2