BISIK HENING CINTA

BISIK HENING CINTA
SIDANG SANDYAKALA


__ADS_3

POV Sandyakala


Abhi ini punya kebiasaan ganggu best moment. Tapi, tanpa Abhi mungkin best moment ini tidak bisa aku miliki. Tanganku terus menggenggam jemari Arunika. Rasanya tidak ingin ku lepaskan. Walaupun hampir setiap hari kami bertemu, namun tidak bisa sedekat ini.


Kejutan berikutnya ada di depanku. Papa, mama, ayah, bunda dan Jeevan ada di meja makan. Ku pandangi Abhi dengan tatapan terima kasih yang tidak bisa terlukis oleh kata-kata.


"Abhi, ini.," aku berusaha menemukan kata-kata tapi entah kenapa semua terasa hilang.


"Hari ini hari mu, Sand. Kamu harus bahagia," kata Abhi sambil tersenyum dan menepuk pundakku."Happy birthday ya, Sand. Nikmati makan malamnya, aku harus menemani Kanaya" lanjut Abhi setengah berbisik di telingaku.


"Kamu nggak gabung?" tanyaku heran.


"Nggak, Kanaya butuh aku," jawab Abhi sambil tersenyum.


"Tapi ini kan rumahmu, aku nggak enak kalau kamu nggak ikutan," kataku merasa sungkan


"Santai aja," kata Abhi.


Abhi lalu pamit dan aku mengantarnya ke garasi. Dia pergi dengan Vespa kesayangannya. Aku lalu kembali ke ruang makan dan menikmati makan malam yang luar biasa enak.


"Besok makan-makan lagi disponsori oleh bunda ya! Kangen semur ayam bunda" pintaku setelah kami selesai makan.


"Ihh, jadi Sandy yang ngatur? Besok kan ulang tahun Nika, ya suka-suka Nika dong" protes Arunika manja, pasti cari dukungan seperti biasa.


"Ini juga ulang tahunku, Abhi yang atur semuanya." jawabku sok galak ke Arunika.


"Ya kalau mau semur ayam kan nggak harus pas ulang tahun Nika" timpal Arunika tidak mau mengalah.


"Terus? Nika maunya apa? Nasi Goreng Seafood? Alergi!" balasku tidak mau kalah.


"Besok biar papa yang atur, semua harus nurut," akhirnya papa angkat bicara dan seperti biasa tidak terbantahkan.


...****************...

__ADS_1


Aku berbaring di kamarku sambil memandangi tembok bergambar Spongebob dan Patrick hasil karya Abhi. Entah mengapa rasanya lelah luar biasa namun bahagianya juga luar biasa. Ulang tahunku kali ini terasa luar biasa karena Abhi. Ku ambil handphoneku lalu ku telepon Abhi.


"Pokoknya makasi banget sudah menghadirkan keutuhan di hidupku. Sebuah persahabat yang manis denganmu" kataku begitu Abhi menjawab teleponku.


"Kata-katamu udah kayak Kahlil Gibran aja." jawab Abhi sambil tertawa.


"Nggak asing sama Kahlil Gibran ni." kataku sambil berusaha mengingat.


"Nika punya bukunya," kata Abhi membantuku mengingatnya.


"Oh, iya? Aku malah nggak tahu. Nantilah aku tanya Nika. Be te we, Kanaya gimana?" aku berusaha mengalihkan topik. Aku memang sering menemani Arunika membeli buku, hanya saja aku kurang memperhatikan dengan buku-bukunya.


"Udah stabil, besok sudah bisa pulang." jawab Abhi.


"Besok aku langsung ke rumahnya deh," kataku.


Tidak enak juga kalau menghindari Kanaya terus menerus. Maksudku, aku hanya ingin semua berjalan apa adanya seperti dulu. Walau mungkin akan terasa agak berbeda.


"Ya kalau mau main ajak Arunika atau Jeevan supaya Kanaya tidak merasa diistimewakan," saran Abhi.


"Masih labil kamu, nak" kata mama dengan nada yang lembut namun begitu mengiris hati. Aku hanya mampu diam, tidak sepatah katapun keluar dari mulutku.


"Kamu membuat Kanaya berusaha bunuh diri, tidak ada tanggung jawabnya untuk mengurus Kanaya, bolos sekolah, tidak mengurus cafe dan jarang di rumah" kata mama menghitung kesalahanku. Mama menatapku tajam seolah meminta jawaban


"Jangan hukum Sandy dong, ma!" pintaku karena merasa semua tuduhan benar.


"Point pertama!" kata papa tegas


"Keberatan yang mulia." jawabku


"Serius!" bentak papa menolak candaanku.


"Sandy nggak tau kalau Kanaya bakalan senekat itu, pa, ma. Sandy pikir dia cuma menangis semalam, rencananya besok-besok kalau sudah tenang baru Sandy jelaskan semua baik-baik" kataku pelan sambil menghela napas.

__ADS_1


"Point kedua!" lanjut papa yang berarti alasanku untuk point pertama diterima.


"Sandy jagain Kanaya kok. Tapi gantian sama Abhi sama Om Alden juga. Lagian, kalau full Sandy yang di sana takutnya Kanaya mikirnya Sandy php-in dia. Nggak mungkin juga dong harus Sandy yang terus-terusan jagain dia. Kan Sandy juga perlu istirahat, Sandy juga punya kehidupan sendiri" aku mulai lantang berbicara


"Pas Nika sakit kamu bisa fulltime jagainnya. Ayah bunda kamu usir-usir, kamu bolos sekolah juga. Kenapa untuk Kanaya kamu kebanyakan alasan?" sela mama.


"Kalau Nika kan lain cerita ma. Jangan disamakan dong. Nika itu bagian dari kehidupan Sandy. Sandy susah kalau Nika kenapa-kenapa. Nika juga nggak nuntut aneh-aneh sama Sandy" jawabku tegas.


"Point ketiga!" kali ini gantian mama yang berhitung.


"Point ketiga-keempat, Sandy nggak bisa fokus, gejala-gejala stress, tekanan batin, depresi." jawabku kali ini menggebu-gebu.


"Jangan berlebihan" kata papa yang sudah duduk di sebelahku.


"Iya pa, Sandy merasa bersalah. Coba kalau sampai Kanaya lewat? Kan motifnya karena Sandy" jawabku sudah mulai bertambah pusing.


"Harusnya kalau Sandy merasa bersalah perhatikan point kedua baik-baik" kritik mama dengan nada judes namun tidak aku jawab. Nanti mama pasti melebar ke mana-mana.


"Point kelima" ucap ayah seperti ingin semua ini selesai.


"Sandy bingung, butuh ketenangan. Tapi nggak tahu harus ke mana. Sandy juga paling nginepnya di cafe atau di rumah Abhi. Sandy itu bingung, kalau jagain Kanaya, Sandy merasa bersalah sama Nika. Kalau sama Nika, Sandy takut Kanaya tersinggung lagi," kataku dengan nada memelas.


"Nika sudah bilang tidak keberatan waktu itu, dan nyatanya semalam Sandy sama Nika," ucap mama menyerangku.


"Ya kan itu akal-akalannya Abhi, bukan Sandy yang minta ma. Tiba-tiba aja Nika sudah di depan Sandy, masak iya diusir?" entah kenapa nada bicaraku sedikit tinggi jika mama membahas tentang aku dan Arunika.


"Tapi Sandy seneng kan?" mama terus mencercaku.


"Ya, senanglah, ma. Kan itu rencananya dia dari bulan kemarin. Ingin ulang tahun bareng Nika. Tiap tahun kan juga begitu" kata papa membelaku. Aku tersenyum seperti mendapat angin segar.


"Ya, sudah. Kamu istirahat aja. Besok diajak pergi sama Rendra. Nggak usah begadang malam tahun baru. Biar besok nggak kelabakan." Kata mama sambil berlalu pergi. Lega rasanya semua alibi diterima dan aku bebas hukuman. Aku hempaskan tubuhku di atas tepat tidur.


"Heran, model kayak kamu kok ada yang mau sampai dibela-belain iris nadi," kata papa sambil menggelengkan kepala dan tersenyum lucu sambil berbaring di sampingku.

__ADS_1


"Aah..kan anak papa. Jadi pesonanya menebar ke mana-mana" jawabku sambil tertawa riang.


Papa lalu menimpuk mukaku dengan bantal dan pergi begitu saja.


__ADS_2