
POV Arunika
Sudah beberapa hari ini, saat pulang sekolah aku langsung dijemput Kak Serena dan pulang ke rumah Om dan Tante. Mereka sangat senang karena mereka merindukan sosok anak yang mengisi rumah. Aku juga senang ada Om yang menjadi teman diskusi yang sama-sama suka membaca.
Tante lebih sering bercerita tentang Aslan, hanya sayang tidak ada satupun foto Aslan di rumah ini sehingga aku tidak bisa melihat seperti apa Aslan. Tante hanya menunjukkan foto-foto Aslan sewaktu masih kecil dan tersimpan rapi di album foto yang tampak sedikit usang. Menurut Tante, Aslan tidak senang berada di sini karena kesepian dan bosan dengan lingkungan rumahnya. Semua ini karena saat kecil fisik Aslan sangat lemah, sering mimisan dan pingsan sehingga Tante sangat menjaganya agar selalu berada di dekat tante. Aslan juga sengaja tidak bersekolah di sekolah formal, dia hanya menempuh sekolah home schooling berbasis Internasional yang hanya belajar satu sampai dua jam perharinya, di samping itu Aslan mengikuti berbagai macam les kesenian mulai dari les menggambar, les piano, les gitar, les drum dan les vokal dan sesekali les renang.
Aslan merupakan anak satu-satunya penerus keturunan dari keluarga ini. Tapi dia seolah tidak tertarik dengan kepemilikannya dan hak warisannya terhadap perusahaan keluarga sejak dia memutuskan tinggal sendiri saat berusia 17 tahun. Aslan sekarang sepertinya punya kehidupan sendiri, walaupun demikian Aslan tidak pernah absen menghubungi Tante tiap hari untuk menanyakan keadaan kedua orang tuanya. Biasanya sekitar jam 7 malam dan telponnya juga lumayan lama. Sayangnya, Aslan tidak pernah bercerita detail tentang kehidupan yang dijalaninya di luar sana. Dengan siapa dia bergaul, bagaimana perasaannya, apa saja yang dialaminya.
Akhirnya Tante memutuskan untuk mengirim mata-mata untuk memantau kegiatan Aslan di luar. Awalnya, Aslan tampak seperti seorang pengembara yang pergi ke mana saja. Kadang dia di terminal, di pinggir jalan, di pasar bahkan di emperan toko seperti gelandangan yang tidak punya tujuan. Aslan juga berteman dengan siapa saja, bercanda dan tertawa dengan siapapun yang ditemuinya tanpa memandang ras, suku bahkan status sosial. Aslan tidak menolak bergaul dengan pengamen, tukang parkir dan bahkan barisan preman. Dia juga kadang tampak pergi ke panti asuhan, panti jompo maupun panti-panti sosial lainnya. Namun, saat Om membutuhkannya, Aslan tidak pernah canggung dan tetap elegan bila harus berhadapan dengan kolega-kolega Om yang berstatus konglomerat. Dia sangat pintar menempatkan dirinya.
Menurut mata-mata itu lagi, sudah beberapa tahun terakhir ini Aslan tampak sudah memiliki pekerjaan tetap dan Aslan juga sudah mempunyai seorang teman atau lebih tepatnya seorang sahabat yang selalu bersamanya. Dengan sahabatnya ini, Aslan selalu pergi dan tertawa lepas bersama sahabatnya itu. Fisiknya juga terlihat jauh lebih sehat. Keluarga dari sahabatnya ini juga tampak menerima kehadiran Aslan dengan baik.
"Kedengarannya Aslan ini sangat misterius ya, Tante?" tanyaku sambil tersenyum
"Nggak juga, Aslan hanya meminta izin ke Om dan Tante untuk membiarkan dia menikmati hidupnya. Kalau ada yang penting dan Tante minta Aslan untuk pulang, pasti dia pulang." jawab Tante dengan mata menerawang. "Sewaktu kecil, Aslan merasa kami hanya mengurungnya di dalam rumah. Mungkin ini saatnya Aslan merasakan hidup bebas di luar." lanjutnya.
"Tapi, maaf Tante. Kenapa nggak ada fotonya Aslan saat sudah besar di rumah ini ya?" aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya.
"Sengaja tidak tante pasang, biar nggak terlalu kangen," kata Tante.
Rasa penasaran tentang Aslan memenuhi kepalaku. Orang tuanya sangat baik, hidupnya juga lebih dari cukup. Hanya karena beralasan merasa sepi, dan bosan., dia meninggalkan semua ini, sangat berbeda dengan aku yang sangat nyaman berada di tempat di mana hanya ada aku dan orang-orang tertentu. Aslan mungkin hampir sama dengan Sandyakala yang suka berpetualang menemukan hal-hal baru. Seandainya Aslan bertemu dengan Sandyakala, mereka pasti menjadi sahabat terbaik sedunia. Seperti ayah dan papa.
"Nika kenapa melamun?" tanya Tante sambil membelai rambutku
"Nika teringat sahabat Nika, namanya Sandyakala. Dia juga suka berpetualang seperti Aslan," kataku membuka cerita.
"Dia lelaki?" tanya Tante.
"iya, Tante," jawabku
"Sahabat atau kekasih Nika?" tanya Tante menggodaku.
"Sahabat Tante, kami sahabatan dari lahir. Orangtua kami juga sahabatan," kataku bangga.
"Kok bisa dari lahir?" tanya Tante mulai penasaran dengan ceritaku.
"Iya, jadi Sandy itu lahirnya tanggal 31 Desember pas malam, aku lahirnya tanggal 1 Januari pagi hari, Tante, Terus rumah kami bersebelahan," aku menjelaskan dengan menggebu-gebu.
"Nika mencintai dia?" pertanyaan Tante yang membuatku terkejut.
__ADS_1
"Nggak tante, sayang seperti kakak kandung," jawabku berdusta, aku malu mengakuinya.
"Ya sudah, Nika belajar dulu sana, kalau mau pulang bilang sama Serena. Tante mau pergi keluar dulu," kata Tante mengakhiri percakapan kami.
Tiba-tiba saja aku merindukan Sandyakala, rindu senyuman dan lesung pipinya serta rindu candaannya yang usil. Segera aku memutuskan untuk pulang dan seperti biasa aku diantar oleh Serena. Aku langsung ke rumah Sandyakala dan menuju ke ruang keluarga. Namun, sayangnya Sandyakala tampaknya tidak ada di sana. Segera aku hubungi ponselnya dan dia memintaku untuk menunggunya . Benar saja tidak lama kemudian Sandyakala sudah tiba di rumah.
...****************...
"Kenapa? Kangen ya?" tanya Sandyakala sok kegantengan.
"Mau ngajak belajar kelompok," kataku beralasan padahal aku malu mengatakan kalau aku merindukannya.
"Tadi aku sudah ke rumah sebelah sekalian makan siang. Menunya sop buntut enak lho. Kata bunda Nika pergi sama Kak Serena, ya udah selesai makan siang aku langsung cabut," kata Sandyakala sambil duduk di sampingku.
Wajahnya terasa begitu dekat, sesekali dia mempermainkan rambutku yang ku urai dan sesekali menepuk lembut pipiku. Entah mengapa, rasanya sangat damai jika berada di sisi Sandyakala.
"Kak Serena baik ya?" tanya Sandyakala, aku tahu dia pasti memancingku untuk menceritakan semuanya.
Aku belum sekalipun cerita ke Sandyakala mengenai Om dan Tante, hanya bunda yang baru mengetahuinya. Mungkin bunda sudah cerita ke Sandyakala, hanya saja Sandyakala pasti ingin mendengarkan sendiri ceritanya dariku.
"Kak Serena itu sekretaris pribadinya Om," kataku mulai membuka cerita.
"Om siapa?" tanya Sandyakala penasaran.
"Gimana sih? Apa kita kasih nama juragan Wiro aja?" usul usil dari Sandyakala dimulai.
"Ehm, Juragan Wiro itukan Sandy? Atau begini aja, Om punya anak namanya Aslan, kita sebut saja papanya Aslan, gimana?" usulku lebih masuk akal.
"Ok, lalu?" kata Sandyakala menyetujuinya.
Aku lalu menceritakan ke Sandyakala awal pertemuanku dengan Om yang mendapat serangan jantung di halte bus. Sampai undangan makan siang pertama di rumahnya yang bak istana dengan beberapa pelayan dan fasilitas seperti di restoran mewah serta perpustakaan pribadi yang sangat menarik minatku untuk selalu pergi ke sana. Juga tentang Om yang punya minat tentang filsafat sama seperti aku. Tidak lupa juga aku bercerita tentang Aslan yang misterius yang setiap hari diceritakan Tante kepadaku.
"Kayaknya Nika tertarik ya sama Aslan?" goda Sandyakala.
"Nggak, Nika cuma penasaran saja. Tante sering cerita tapi kan Nika belum pernah bertemu sama sekali." jawabku jujur.
"Hmm…penasaran itu awal dari ketertarikan lho," Sandyakala masih menggodaku.
"Nggak Sandy, buat apa Nika tertarik sama orang yang bahkan Nika belum pernah ketemu," aku berusaha menjelaskan namun Sandyakala hanya diam menatapku.
__ADS_1
"Oh, Sandy cemburu ya? Nggak suka?" Aku hanya berusaha menggodanya.
"Kalau iya kenapa? Nika mau buat apa supaya aku nggak ngambek?" kata Sandyakala mencoba menantangku.
"Ya udah, ngambek aja sana. Nika pulang," jawabku singkat dan siap-siap berdiri.
"Yah, kok jadi dia yang ngambek? Ya udah mau belajar apa ni?" kata Sandyakala mengalihkan perhatian.
Aku lalu mengeluarkan buku-buku yang aku butuhkan untuk belajar. Ternyata belajar bersama Sandyakala lebih menyenangkan karena ada teman untuk berdiskusi dan bertanya. Entah bagaimana Sandyakala mengolah otaknya, dia yang dengan berbagai acara yang menghabiskan seluruh waktunya namun pelajarannya selalu mendapat nilai-nilaii yang baik.
"Jadi Sandy maunya kuliah jurusan apa?" tanyaku setelah selasai belajar sambil membereskan semua buku.
"Ngikut Nika aja," jawabnya enteng sambil
Aku hanya diam dan cemberut mendengarkan jawabannya yang tidak berubah walau sudah berkali-kali aku menanyakannya. Sandyakala lalu menyelinapkan rambut yang menutupi pipiku hingga ke belakang telinga. Sesekali dia membelai lembut pipiku dan menatap dalam mataku.
"Harus berprinsip, punya tujuan," kataku lagi.
"Tujuanku udah jelas, mau mengembangkan cafe, ini aja sudah ada rencana buka cabang. Kuliah itu jadinya hanya semacam formalitas," katanya lembut meredam emosiku.
"Ngikuti siapa gitu?" tanyaku sambil menarik hidungnya.
"Abhi," jawabnya sambil tersenyum.
"Abhinya aja nggak mau kuliah ini, Sandy diracunin sama Abhi mau-mau aja," protesku sambil mengacak-acak rambutnya.
Tiba-tiba tangan Sandyakala menarik tanganku sehingga aku jatuh ke pelukannya.
"Ih, Nika genit ni minta dipeluk," katanya sambil tertawa.
Ku lepaskan diriku dari pelukannya dan mendorong tubuhnya menjauh. Aku lalu mengambil tasku lalu pergi meninggalkan Sandyakala sendiri. Walaupun sebenarnya aku sangat ingin lama dipeluknya, namun aku harus menahan diri. Rasanya masih belum tepat untuk membiarkan Sandyakala tahu bahwa aku mencintainya.
Tiba-tiba Sandyakala menghentikan langkahku dengan memelukku dari belakang. Tangannya melingkar di bahuku. Hembusan nafasnya sangat terasa di ujung telingaku saat dia membisikkan, "Aku yang kangen pingin meluk Nika, bolehkan?".
Aku hanya bisa diam membisu dan membatu. Ku biarkan hangat peluknya menjalari punggungku. Kakiku terasa berat untuk melangkah dan tubuhku terlalu nyaman untuk memberontak.
"Sampai kapanpun, Nika tetap kesayanganku," katanya lalu menggamit tanganku.
"Ayo, aku temani pulang," katanya sambil berjalan setengah menarikku.
__ADS_1
"Pasti mau sop buntut lagi kan?" kataku berusaha mencairkan suasana dan menata hatiku.
"Nggak, aku maunya Nika," jawab Sandyakala santai namun membuat hati yang berusaha ku tata menjadi berantakan lagi. Jantungku berdegup kencang lagi. Namun aku berusaha tenang dan mengiringi langkah kakinya.