
POV Sandyakala
Sudah beberapa hari sejak aku membaca buku harian Abhi. Aku menjalani hari seperti biasa, bangun pagi, pergi ke kantor PT. Sahabat Sejati dan ketika hari agak siang, aku meninjau cafe dan mengurus perusahaan waralabaku. Sudah seminggu lebih sejak pemakaman Abhi. Kata mama Arunika sesekali pulang ke rumah sebelah, namun dia masih memutuskan untuk tinggal di rumah mertuanya. Aku harus menemui Bu Wening untuk membahas rumah Abhi yang diwariskan untukku. Aku putuskan bahwa aku akan mengembalikan kepada anaknya saja.
Rumah itu sepi saat aku tiba di sana. Tapi untunglah Bu Wening berada di rumah. Model rumahnya tidak jauh berbeda dengan rumah Abhi. Tidak terlihat Arunika dan anaknya mungkin saat ini dia berada di rumah sebelah.
"Ada apa nak Sandy?" tanya Bu Wening ramah saat kami sudah duduk berhadapan di ruang tamu.
"Mengenai ini Bu Wening," jawabku sambil menyerahkan surat wasiat dari Abhi untukku.
Bu Wening menerimanya, lama beliau membaca dan mempelajarinya. Bu Wening lalu memasukkan surat itu kembali ke dalam map dan menatapku dengan senyum mengembang.
"Lalu ada masalah apa?" tanya Bu Wening tetap dengan senyumnya.
"Bu, saya merasa tidak punya hak untuk menerima semua ini. Saya berniat mengembalikan semua ke keluarganya." kataku tegas.
"Siapa bilang kamu nggak berhak, nak? Bu Wening malah bertanya kepadaku.
"Bu, saya ini bukan siapa-siapanya Abhi, kami hanya berteman itu saja tidak ada yang lain," kataku tetap berusaha menolak.
"Kalau Aslan memberikan itu padamu, berarti kamu punya hak untuk itu. Aslan sudah membicarakannya dengan bapak dan ibu. Mungkin bagimu, Aslan bukan siapa-siapa. Namun, bagi Aslan kamu sangat berarti. Nak Sandy dan Nika adalah sahabat terbaik yang Aslan miliki selama hidupnya. Selama ini Aslan kesepian, tidak punya teman yang tulus bersahabat dengannya sampai saat kalian hadir dalam hidupnya. Dia sangat bersemangat setelah bertemu denganmu, nak." Kata Bu Wening dengan air mata yang mengalir dari ujung matanya namun senyuman tetap tersungging di bibirnya.
Aku hanya diam, tidak tahu harus berkata apa. Mungkin baginya harta seperti tidak ada harganya, namun sikap tulus dan kebaikan itulah yang terpenting bagi Abhi. Akhirnya aku pamit pulang dengan urusan yang belum tuntas.
...****************...
POV Arunika
__ADS_1
Sandyakala terlihat meninggalkan rumah. Untuk apa dia ke sini? Setelah dia tidak terlihat sama sekali, aku masuk ke dalam rumah. Entah mengapa, rasanya aku belum siap untuk menemuinya walau sebenarnya ada rindu yang sangat menyiksaku. Ibu masih duduk di ruang tamu dengan pandangan kosong.
"Ada apa, Bu?" tanyaku sambil duduk di sampingnya.
"Sandy itu anak baik, pantas saja kalau Aslan nyaman berteman dengannya," jawab ibu selalu dengan senyum di wajahnya
"Tadi Sandy ke sini?" kataku berpura-pura tidak tahu.
"Iya," jawab ibu singkat.
"Untuk apa?" tanyaku untuk menjawab rasa penasaran yang sudah ku simpan sejak tadi.
"Dia ingin mengembalikan rumah dan semua yang diberikan Aslan untuknya. Katanya dia tidak berhak. Tapi bagi ibu, kalau Aslan tidak ada untuk apa lagi rumah itu. Kamu dan Abi bisa tinggal di sini," kata ibu menjelaskan.
"Lalu?" tanyaku meminta penjelasan lebih lanjut.
"Ya, ibu tolak. Itu rumah Aslan dan Aslan sudah memutuskan untuk memberikannya ke Sandya," jawab ibu.
Abi baru berusia 9 bulan dan sudah mahir merangkak, sambil memegang benda dengan kecepatan tinggi dan merubah posisi dari merangkak, berputar, atau bangkit. Abi juga bisa merangkak naik turun tangga tanpa banyak kesulitan. Celotehan Abi kian nyaring dan panjang. Jika diperhatikan, Abi sudah mulai bisa berkata 'mama'. Aku selalu meluangkan waktu bersama Abi agar dia dapat belajar banyak dari sesi bermain. Abi juga sudah bisa menikmati musik. Aku mulai memberikan mainan musik seperti kerincingan atau menyanyikan lagu kepada Abi. Gigi Abi mulai tumbuh dan suka menggigit mainan yang keras.
Aslan banyak menghabiskan waktu dengan anaknya selama bulan-bulan pertama setelah kelahiran juga sehingga terjalin hubungan baik antara ayah dan bayinya sampai ia tumbuh lebih besar. Aslan juga menidurkan Abi dan menemaninya tidur. Biasanya Aslan menidurkan Abi sambil menyanyikan lagu atau membacakan cerita untuk Abi.
Aslan juga memberi makan Abi yang lapar, menenangkan Abi yang menangis, bermain dengan Abi yang bahagia, sehingga dia terikat dengan Abi .Aslan juga bisa melakukan bonding dengan Abi melalui bernyanyi, menyentuh, dan tertawa. Semakin banyak waktu yang mereka habiskan bersama bersama sehingga kuat ikatan yang mereka bagi.
Karena sering membacakan buku cerita atau menyanyikan lagu, Abi semakin akrab dengan suara ayahnya. Setiap mendengar suara Aslan, Abi bisa mengerti bahwa ia sedang bersama ayahnya dan merasa nyaman. Namun semuanya tinggal kenangan. Tidak ada lagi Aslan di sisi Abi. Tanpa sadar air mataku jatuh, ku peluk erat Abi yang tenang di gendonganku. Dia kehilangan ayah dan sosok sahabat pertamanya namun dia belum mengerti sama sekali.
...****************...
__ADS_1
POV Sandyakala
"Tadi Nika ke sini tapi sendiri " kata Bunda saat aku baru duduk di meja makan.
"Oh iya? Lalu kapan dia akan tinggal di sini?" tanyaku penuh harap.
"Nika cuma berkunjung, dia memilih menetap di rumah Bu Wening," jawab bunda. "Sayang, Abi tidak diajak," kata bunda lagi.
"Abhi?" kataku dengan nada heran.
"Abi, anaknya," jawab bunda menjelaskan.
"Di pikiranku Abi itu suaminya," kataku sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutku.
"Kalau itu Aslan," kata bunda.
"Gimana ya bund, Aslan itu asing bagiku. Aku sudah terbiasa dengan nama Abhi," jawabku lagi.
Tiba-tiba rindu kepada Abhi memanggilku. Selesai makan, ku bawa Holdenku ke rumahnya yang diwariskan untukku. Terbayang wajahnya di setiap sudut jalanan yang pernah kami lewati bersama. Tak terasa air mataku mengalir. Bodohnya aku menyisakan waktu hanya untuk memendam benci padanya. Saat tiba di rumah itu, aku disambut hangat oleh Pak Oman.
"Saya izin menginap di sini malam ini ya Pak," kataku kepadanya.
"Lho? Kok izin? Ini kan sekarang rumahnya Mas Sandy," kata Pak Oman dengan nada segan.
"Nggak gitu, Pak," kataku mencoba menolak pernyataannya.
"Iya, dua minggu sebelum Mas Abhi meninggal. Dia telepon ke sini dan meminta saya menyambut Mas Sandy dengan baik karena sejak hari itu, rumah ini dan semua isinya termasuk pelayan-pelayannya jadi milik Mas Sandy," penjelasan PaK Oman yang membuatku heran."Mas Sandy istirahat duduk dulu biar saya minta kamar tidurnya dibersihkan sebelum Mas Sandy masuk," lanjut Pak Oman.
__ADS_1
"Ya sudah, saya mau ke rooftop dulu," kataku sambil berlalu pergi.
Aku duduk di kursi santai sambil menatap hamparan bintang yang sempurna. Ku tarik nafas dalam-dalam lalu ku hembuskan perlahan. Ku keluarkan catatan harian Abhi yang sejak kemarin menghuni tasku dan aku mulai membaca bagian berikutnya.