BISIK HENING CINTA

BISIK HENING CINTA
SEMBUNYI


__ADS_3

POV Abhi


Sandyakala masih tertidur pulas. Pagi-pagi sekali aku harus sudah sampai di rumahku. Sial, gara-gara Kanaya aku harus membuka semuanya ke Sandyakala. Aku berpesan kepada semua pelayan rumah supaya melayani kebutuhan Sandyakala dengan baik dan tidak membiarkan Sandyakala pergi dari sini. Aku memutuskan untuk menaiki motor Ninja karena aku harus buru-buru. Mana bisa Vespa diajak ngebut. Dan benar saja, Kanaya sudah wiri-wira seperti setrikaan di depan rumah.


"Sandyakala mana?" tanya Kanaya galak.


"Di rumah lah" jawabku ketus


"Kamu umpetin di mana?" tanyanya lagi dan berusaha menyerang ku.


"Ada di rumah" jawabku sambil memegang tangannya yang berusaha memukulku dan ku paksa dia duduk di kursi.


"Dengar, Kanaya! Kamu harus tenang. OK?" kataku sambil menatap ke dalam matanya.


Kanaya lalu duduk dan mulai menangis terisak-isak. Kanaya mengatakan kalau dia sangat menyukai Sandyakala karena wajah Sandyakala yang tampan dan berlesung pipi seperti ayahnya. Sandyakala juga anak orang kaya, apalagi sejak Sandyakala menjadi bos di cafe. Namun yang paling membuat Kanaya jatuh hati adalah saat Sandyakala mulai menceritakan tentang Arunika, Kanaya melihat ada ketulusan yang luar biasa dari Sandyakala. Itu yang membuat Kanaya sangat ingin memiliki Sandyakala. Dia ingin dicintai dengan tulus.


"Tapi ketulusan itu buat Nika, bukan buat kamu. Kamu berharap pada sesuatu yang pasti tidak bisa kamu miliki. Kamu mengecewakan diri sendiri dan menyakiti diri sendiri." kataku lembut saat emosinya sudah mulai mereda.


"Apa pedulimu? Di dunia ini selain Om Alden dan Tante Dhira tidak ada yang peduli padaku." katanya lirih.


Aku hanya diam memandangi wajahnya. Kasihan kamu Kanaya, terlalu haus kasih sayang sampai tidak tahu kalau ada orang lain yang peduli dan sayang sama kamu.


"Sepertinya dia juga menyambut cintaku. Dia sangat telaten merawatku saat aku di rumah sakit." lanjut Kanaya.


"Ya karena dia peduli sama kamu, karena dia juga temanmu, nggak lebih Kanaya! Aku dan Tante Naomi juga ikut merawatmu. Hanya karena kamu terlalu fokus ke Sandy, kamu nggak lihat ada orang lain juga yang baik sama kamu. Kalau memang dia menyambut cintamu, ngapain dia mengadu ke Om Alden?" aku berusaha menjelaskan baik-baik namun tangis Kanaya semakin menjadi. Aku jadi bingung harus berbuat apa.


"Tadi saat masih subuh aku ke rumah Sandy. Aku ketemu Pak Santo. Kata Pak Santo, Sandy nggak pulang semalam. Pak Santo juga nunjukkin WA Sandy ke Pak Santo. Kata Sandy dia sama kamu. Makanya aku datang ke sini," lanjut Kanaya sambil mengusap air matanya.


"Ya tapi sekarang sudah nggak sama aku. Ayo aku anterin kamu pulang. Istirahat dulu biar kamu tenang" kataku sambil mengulurkan tangan memintanya berdiri.


...****************...


POV Arunika.


Pak Santo sudah bersiap di depan rumah dengan senyum semangatnya. Dia membukakan pintu untukku dan mengatakan kalau Sandyakala yang memintanya untuk mengantarku ke sekolah. Semalam Sandyakala tidak pulang karena sedang bersama Abhi dan tadi saat subuh Kanaya datang mencarinya. Ada apa sebenarnya? Aku mencoba menghubungi Sandyakala namun nomornya tidak aktif. Kemudian aku coba menghubungi Abhi tapi tidak diangkat.

__ADS_1


Sesampainya di sekolah, aku lalu menuju ke kelas Sandyakala namun dia belum kelihatan. Aku kembali ke kelas dan bertemu Jeevan.


"Semalam Sandy nggak pulang?" tanyaku


"Nggak tahu" jawab Jeevan.


"Gimana sih Van? Kalian kan serumah," protesku lalu kembali ke tempat dudukku.


Aku hanya diam saat Kendra bertanya ini itu kepadaku. Aku hanya menanti jam istirahat untuk kembali ke kelas Sandyakala dan memastikan dia baik-baik saja. Namun, saat jam istirahat tiba tidak ada jawaban yang aku temukan. Sandyakala absen hari ini. Aku lalu nekat minta izin pulang dengan alasan kurang enak badan. Aku lalu bergegas ke cafe. Mungkin Sandyakala ada di sana.


Aku bertanya pada karyawan dan aku syok mendengarkan cerita mereka tentang peristiwa semalam dan saat ini tidak ada satupun dari mereka yang tahu di mana Sandyakala. Terakhir Sandyakala pergi bersama Abhi tapi, tadi pagi Abhi datang ke cafe bersama Kanaya tanpa Sandyakala. Mereka hanya ke ruang kerja sebentar lalu pergi lagi.


Aku mengambil handphone ku dan mencoba menghubungi Sandyakala, namun tetap tidak terhubung. Sandy, kamu di mana?


...****************...


POV Sandyakala


Aku baru saja bangun dan terkejut saat jam sudah menunjukkan jam 10. Ku cari handphone ku yang ternyata mati karena lowbat. Sial, aku tidak membawa charger. Aku keluar kamar dan berusaha mencari Abhi. Rumah ini terlalu besar, aku tidak tahu arah mana yang harus ku tuju. Sampai saat seorang pelayan berjalan mendekatiku dan membungkukkan badan. aku merasa sangat tidak nyaman diperlakukan seperti itu.


"Mas Abhi sudah pergi pagi-pagi sekali. Mas Abhi berpesan kepada kami untuk melayani Mas Sandy dengan baik dan Mas Sandy tidak diizinkan meninggalkan rumah" katanya sangat sopan.


"Aku butuh charger handphone. Aku harus menghubungi Abhi" jelasku.


"Kalau sangat penting bisa pakai telepon rumah" katanya menawarkan.


Aku mengangguk tanda setuju. Hanya perlu menekan nomor 3 maka langsung terhubung ke nomor Abhi.


"Ada apa? Teman saya baik-baik saja kan?" kata Abhi terdengar panik.


"Aku mau pulang. Bosen tau!" jawabku.


"Baru bangun? Mandi dulu, sarapan dulu, sebentar lagi aku pulang" kata Abhi lalu menutup telepon.


Aku lalu diberikan charger serta diberi seperangkat alat mandi dan baju ganti. Mungkin ini baju Abhi. Usai mandi aku disuguhi sepiring nasi goreng sosis dan segelas susu coklat. Tidak lama kemudian terdengar suara Abhi.

__ADS_1


"Buronan datang" katanya sambil mengangkat kedua tangan seperti menyerah.


"Iya, aku jadi sandra di sini." kataku dengan nada judes.


"Sandra Dewi?" tanyanya mulai gimmick.


"Sandra Mason." jawabku sambil melotot ke arahnya.


"Siapa tuh Sandra Mason?" tanyanya dengan mengernyitkan dahi.


"Presiden Barbados." jawabku lantang.


"Jauh kali mainmu sampai Barbados. Sama siapa ke sana?" katanya dengan nada nyinyir.


"Jack Sparrow. Aku saat itu menyamar jadi Spongebob. Kan kamu ikut jadi Patrick."


Pelayan yang dari tadi melayaniku membawakan sarapan untuk Abhi. Semangkuk oatmeal yang berisi buah-buahan dan segelas jus jeruk.


"Kok sarapan kita beda?" protesku.


"Katanya kamu suka sarapan itu. Jadi aku minta dibuatin nasi goreng sosis dan susu coklat." jawabnya.


"Oh, macam tu" jawabku menirukan Upin Ipin.


"Mau ganti?" tanya Abhi menawarkan.


"Nggak, ini aja udah mau habis" kataku sambil menepuk perut.


"Kanaya aman tadi sudah aku pulangkan ke rumah Om Alden. Kata Om Alden mau dibawa ke psikiater yang sudah terbiasa menangani Kanaya dari dulu." Kata Abhi serius.


"Dia baik-baik aja kan?" tanyaku perhatian.


"Cie..peduli ni ya, perhatian ni ya" ledek Abhi sambil tertawa.


Aku berpura-pura ngambek dan berdiri meninggalkan meja makan. Aku kembali ke kamar. Ku lihat handphoneku yang masih dicharge. Lumayanlah sudah terisi 60%. Segera kunyalakan dan astaga banyak misscalled dan pesan WA dari Arunika.

__ADS_1


__ADS_2