BISIK HENING CINTA

BISIK HENING CINTA
MISI ABHI


__ADS_3

POV Abhi


Akhirnya Om Alden datang juga. Saatnya pergantian shift jaga. Sebenarnya emosi Kanaya sudah stabil hanya saja fisiknya masih lemah. Harusnya besok sudah bisa pulang.


"Aku pulang ya" pamitku ke Kanaya.


"Sandy kapan ke sini?" tanya Kanaya lemah.


"Biar aja dia istirahat dulu." kataku beralasan.


"Istirahat atau menghindari ku? Besok dia ulang tahun, pasti sekarang dia pergi sama Nika." kata Kanaya menebak-nebak.


"Itu hanya bayanganmu saja . Jangan ambil kesimpulan yang tidak pasti. Aku pergi dulu, kami baik-baik di sini, jangan kebanyakan mikir yang aneh-aneh. Om Alden, Abhi pulang dulu ya." kataku dan pergi meninggalkan tempat ini.


Badanku terasa sangat lelah. Bagai diinjak-injak seribu gajah. Aku putuskan untuk pulang ke rumah orangtuaku. Saat seperti ini di sanalah tempat yang tepat untuk pulang. Urusan makan, baju bersih, kamar bersih, semua tersedia dan aku tinggal menikmati.


Ku kendarai vespaku dengan santai sambil menikmati angin malam yang sejuk dan terasa nyaman. Akhirnya terlihat juga gerbang rumah putih itu. Sudah terbayang empuknya kasur. Lebih nikmat berendam air hangat di bathtub sambil menunggu makan malam tersedia. Menu capcay kuah pasti enak. Ku parkir vespaku di garasi dan aku langsung mencari Pak Oman, kepala pelayan di rumah ini.


"Aku mau capcay kuah, nanti anterin ke kamar ya" pintaku.


"Maaf Mas, saya sekalian mau melapor," Pak Oman mohon izin.


"Nanti aja aku capek" kataku menolak.


Aku langsung ke kamarku dan alangkah terkejutnya aku saat melihat Sandyakala tidur nyenyak di atas ranjang ku dan memakai bajuku pula. Tapi aku tidak tega membangunkannya. Tidurnya saja seperti orang yang berbeban berat. Ku biarkan saja Sandyakala menikmati tidurnya. Paling tidak aku harus mandi karena badanku mulai terasa lengket dan gatal.


Aku berendam dalam air hangat suam-suam kuku yang nyaman dan dengan wangi aroma terapi serta busa yang banyak. Tapi entah kenapa aku tidak ingin berlama-lama. Segera saja ku bilas tubuhku yang penuh dengan busa dan ku sudahi acara mandiku.


Saat aku kembali ke kamar tidur, Sandyakala sudah bangun dan menonton TV.


"Kok kamu bisa masuk sini?" tanyaku sambil duduk di sampingnya.


"Aku bilang sama ART mu yang saat itu mengurusi ku kalau kamu yang minta aku ke sini" jawabnya tapi pandangan matanya menyorotkan kesedihan.


"Dia namanya Pak Oman. Kenapa juga ke sini?" tanyaku sambil mengganti channel TV. Mungkin tadi Pak Oman mau melaporkan tentang Sandyakala.


"Sini tempat bersembunyi teraman. Nggak ada yang tahu. Ku kira tadi kamu pulang ke kontrakan eh, maksudku ke rumahmu." jawab Sandyakala.


Cap cay kuah pesananku sudah datang. Aku mengajak Sandyakala makan malam sebelum aku melemparkan banyak pertanyaan yang memenuhi otakku. Dari cara makannya terlihat Sandyakala kurang berselera lalu ku tawari Sandyakala menu yang lain tapi namun dia menolaknya. Fix, pasti dia ada masalah. Selesai makan, aku mengajak Sandyakala ke rooftop, tepat terbaik untuk nongkrong dan ngobrol. Ku bawa juga dua mug kopi yang masih panas. Cuaca cerah membentangkan bintang yang berkelip indah. Kunyalakan rokok dan ku hisap perlahan. Ku tunggu sampai Sandyakala membuka pembicaraan.


"Semua berantakan" kata Sandyakala sambil berbaring di kursi santai sambil menutup mata. "Arunika menolak pergi denganku karena dia berharap aku lebih memperhatikan Kanaya." lanjutnya.


Sandyakala lalu duduk dan tertunduk. Lama dia diam. Namun ku biarkan saja, saat ini Sandyakala hanya butuh pendengar yang baik bukan komentar, kritik dan saran.

__ADS_1


"Kalau Arunika tidak mau pergi, it's fine. Aku lebih baik sendiri daripada aku harus di dekat Kanaya dengan perasaan penuh marah. Semua ini berantakan karena Kanaya." kata Sandyakala lagi.


Jadi, dia ke sini untuk menghindar dari Arunika dan Kanaya. Ya memang betul kata Sandyakala, saat ini rumah ini merupakan tempat teraman baginya untuk bersembunyi.


"Tadi siang Nika telepon aku. Pesannya kalau ketemu Sandy, tolong hubungi dia" kataku.


"Tadi pas aku pergi Nika sempat mengejarku. Nika juga terus menghubungi handphoneku tapi ku abaikan" kata Sandyakala.


Dia lalu bercerita bagaimana Kanaya mengatakan hal buruk tentangnya ke Arunika. Yang membuat Sandyakala sedih adalah karena Arunika mempercayai ucapan Kanaya itu tanpa menyelidiki terlebih dahulu. Sandyakala sendiri bingung dengan perasaan yang bercampur aduk antara kecewa, sedih, marah atau benci.


"Silahkan menikmati perasaan nano-nano. Aku udah ngantuk banget dan harus tidur. Besok aku ada urusan harus bangun pagi-pagi sekali. Kamu mau tetap di sini atau ke mana terserah." Kataku sambil menepuk pundaknya. Ku biarkan Sandyakala menikmati kesendiriannya. Hanya itu yang dia butuhkan saat ini.


...****************...


Saat aku bangun, Sandyakala masih tidur. Ada sisa air mata di pipinya. Aku segera mandi dan menemui Pak Oman untuk melayani Sandyakala dengan baik dan memintaku Pak Oman untuk menghubungiku jika Sandyakala pergi dari rumah. Aku mengemudikan Mini Cooper kuning yang jarang sekali ku sentuh menuju ke rumah Arunika.


Ternyata Arunika sedang bersiap-siap untuk ke sekolah. Aku menawarkan diri untuk mengantarnya ke sekolah dan dia setuju.


"Kamu sendiri nggak sekolah?" tanya Arunika.


"Aku kan setahun di atasmu. Harusnya aku kuliah tapi aku tunda dulu" kataku sambil tersenyum."Sebelum ke sekolah aku ajak kamu mampir ke suatu tempat ya. Nggak akan telat kok sekolahmu nanti" lanjut ku meminta.


Arunika setuju dan aku membawanya ke rumah sakit untuk menemui Kanaya.


"Nggak apa-apa, nanti bilang saja gantian yang jaga" jawabku menenangkannya.


Aku harus memberitahu Om Alden baik aku maupun Sandyakala tidak bisa menjaga Kanaya. Selain itu, hari ini Sandyakala ulang tahun dan memang ada rencana Sandyakala untuk pergi bersama Arunika namun batal.


Aku harus menunjukkan ke Kanaya kalau Arunika batal pergi bersama Sandyakala. Setidaknya Kanaya bisa sedikit tenang dan merasa Arunika bukan saingannya. Aku hanya khawatir mental Kanaya drop lagi karena hal itu dan aku juga takut kalau Kanaya malah nekat mengganggu dan meneror Arunika karena beranggapan Sandyakala lebih memilih Arunika daripada dia.


"Sandy nggak di sini?" tanya Arunika.


"Nggak, semalaman aku sama Om Alden. Sandy nggak sama kamu?" kata Kanaya balik bertanya.


Arunika hanya menggelengkan kepala. Mereka berdua hanya saling pandang.


"Terus kok kamu bisa sama Abhi?" tanya Kanaya.


"Kenapa? Nggak boleh?" jawabku judes.


"Sandy di mana?" tanya Kanaya lagi


"Aku juga nggak tahu. Kemarin siang di ke rumah, terus pergi sampai sekarang nggak bisa dihubungi" kata Arunika jujur.

__ADS_1


"Ayo Nika, nanti kamu telat" ajakku agar Kanaya tidak bertanya lebih jauh lagi.


Kugandeng tangan Arunika dan mengajaknya pergi. Aku mengantar Arunika ke sekolah dan berjanji untuk menjemputnya.


Misi pertama untuk meyakinkan Kanaya kalau Sandyakala tidak bersama Arunika selesai.


...****************...


Sudah jam setengah dua dan Arunika belum juga kelihatan. Aku malah risih jadi pusat perhatian anak-anak. Ku lihat lagi jam di tangan, 10 menit sudah berlalu. Aku mencoba menghubungi handphonenya namun tidak dijawab. Agak lama Arunika baru muncul diikuti Jeevan yang bersusah payah mengikuti langkah Arunika.


"Aku ikut ya." Kata Jeevan begitu ada di dekatku.


"Maaf ya, Van. Aku butuh berdua saja dengan Nika." kataku sambil berusaha tersenyum.


"Mau apa kamu berdua-duan sama Nika?" kata Jeevan sok jagoan dengan nada menantang.


"Gini ajalah biar adil. Tanya Nika mau nggak pergi sama aku? Kalau Nika nggak mau ya aku tinggal," aku berusaha memberi solusi.


"Nggak papa kok aku pergi sama Abhi" kata Arunika.


Aku lalu membukakan pintu untuk Arunika lalu duduk di belakang setir. Jeevan sedikit mundur memberi jalan kepada kami. Aku membunyikan klakson sekali tanda menyapanya dan pergi meninggalkan halaman sekolah. Aku mengajak Arunika ke salah satu restoran ayahku dan meminta ruang VIP supaya kami bebas bicara di sana tanpa merasa terganggu dengan kehadiran tamu yang lain.


"Hari ini Sandy ulang tahun. Kamu sudah nyiapin kado?" tanyaku.


"Ada, tapi biasanya aku ngasihnya setelah jam setengah enam sore. Sandy nggak mau terima kalau sebelum jam itu." jawab Arunika.


"Lho? Kenapa?" tanyaku penasaran.


"Dia belum lahir katanya. Kata mama, Sandy lahirnya jam setengah enam sore" kata Arunika yang membuatku tertawa.


"Tapi dari kemarin Sandy pergi dan belum bisa dihubungi. Orang rumah mengira Sandy di rumah sakit sama Kanaya. Tapi nyatanya dia hilang" kata Arunika dengan pandangan yang menerawang jauh dan air matanya jatuh.


"Jangan sedih, Nika. Sandy nggak mungkin hilang. Kalau Sandy tahu kamu nangis dia jadi ikut sedih" aku coba menenangkannya.


"Iya, tapi terakhir itu sepertinya Sandy marah sama aku. Dia pergi tanpa bicara apapun" kata Arunika dengan nada sedih


"Sandy itu sayang banget sama kamu. Nggak mungkin dia marah. Mungkin sedikit sedih dan kecewa." jelasku


"Tapi sedih dan kecewa karena aku kan?" tanya Arunika lagi sambil mengusap air matanya.


"Dia sedih dah kecewa karena dirinya sendiri. Dari awal dia punya rencana besar mau buat kamu senang saat kalian ulang tahun. Dia mau menebus hari-hari dia ninggalin kamu karena kesibukannya. Dia mau ajak kamu nonton Sendratari Ramayana dan menghabiskan waktu berdua aja. Dia hanya ingin kamu bahagia, Nika" kataku panjang lebar dan disambut Arunika dengan tatapan seolah tidak percaya.


"Aku tahu di mana Sandy . Sekarang kita makan, abis itu aku anterin kamu pulang. Kamu istirahat, lalu siap-siap dandan cantik jam lima kurang aku jemput kamu lalu kita kasih kejutan untuk Sandy, Ok?" kataku sambil tersenyum dan disambut dengan anggukan penuh semangat dari Arunika.

__ADS_1


Misi kedua untuk menghibur Arunika dan mengajaknya memberi kejutan untuk Sandyakala selesai.


__ADS_2