BISIK HENING CINTA

BISIK HENING CINTA
BERTEMU SANDYAKALA


__ADS_3

POV Arunika


[Aku baik-baik aja, Nika. Ini aku sama Abhi] WA masuk dari Sandyakala.


[Pulang dong. Nika khawatir] segera ku balas.


[Iya. Nika sekarang di mana?] tanya Sandyakala.


[Di cafe] balasku.


[Tunggu ya! Aku segera ke sana].


WA dari Sandyakala membuatku lega. Aku lalu ke lantai atas dan menunggu di kamar sambil rebahan di kasur. Andai aku bisa seperti Kanaya yang dengan bebas menyatakan cinta ke Sandyakala. Untuk mengisi waktu menunggu Sandyakala, aku bangkit dari kasur lalu membuka laptop. Aku mulai browsing tentang Konfusius, seorang filsuf Tiongkok. Aku tertarik dengan kata dari Konfusius yang berbunyi 'Kesunyian adalah kawan sejati yang tak pernah berkhianat.' dan juga kata-kata 'Kenal tidak seindah mencintai; mencintai tidak seindah menikmati.' Kata-kata itu seolah menegurku dan membuatku tersenyum.


Aku lalu memutuskan kelak aku akan kuliah jurusan filsafat supaya aku bisa mempelajari cara berpikir dan terlatih untuk mempertanyakan suatu keadaan. Selain itu, juga aku akan belajar bagaimana memformulasikan dan mengokohkan pandanganku secara merdeka tentang suatu permasalahan di dunia ini. Aku akan bisa untuk mengenal jenis-jenis kesesatan berpikir, karakteristik ilmu pengetahuan, mengkritik suatu karya seni, pentingnya empati, mengkaji kapan suatu tindakan bisa dikatakan baik dan buruk, dan sebagainya. Menurutku itu sangat menarik untuk membentuk kepribadianku yang lebih baik.


Terdengar pintu diketuk. Aku segera membukanya dan melihat Sandyakala berdiri di sana dengan senyum dan lesung pipinya. Spontan aku memeluknya sambil menangis. Lega rasanya melihat Sandyakala berdiri di depanku dalam keadaan baik-baik saja. Terasa juga dia memelukku dengan erat.


"Lain kali jangan bikin Nika takut seperti ini." kataku sambil berlinangan air mata.


"Maafin aku ya, Nika." katanya sambil mengusap air mataku.


"Sandy beneran nggak papa? Sudah makan? Tidur di mana semalam?" aku langsung memberondong Sandyakala dengan pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi otakku sedari tadi.


"Tenang, fakir asmara dan cinta terlantar dipelihara oleh Abhi" kata Abhi yang tiba-tiba nongol di belakang Sandyakala.


Perlahan ku lepaskan pelukanku dan tersenyum ke Abhi namun tangan Sandyakala masih memegangi pinggangku. Rasanya malu dilihat oleh Abhi.


...****************...


POV Sandyakala.


Abhi ini mengganggu best moment aja. Kapan lagi bisa meluk Arunika seperti tadi. Aku sangat rindu padanya. Aku terharu mengetahui Arunika sangat mengkhawatirkan aku seolah dia takut kehilanganku. Aku lalu mengajak Arunika pergi ke restoran cepat saji terdekat. Kami cukup berjalan kaki karena letaknya melewati dua gedung dari cafe. Kami memesan french fries dan sundae. Aku terus menatap Arunika. Entah kenapa mataku tidak ingin lepas dari wajahnya.


"Jadi semalam itu Kanaya menyatakan cinta ke Sandy?" tanya Arunika sambil menatapku tajam.

__ADS_1


"Iya." jawabku setengah hati.


"Terus Sandy mengabaikan Kanaya sampai dia sedih dan bertindak di luar kendali?" tanya Arunika dengan nada seolah menuduh akulah yang jahat.


"Nika, ini urusan hati. Cinta itu butuh perasaan yang lembut. Kalau caranya seperti itu aku nggak nyaman." Aku coba menjelaskan ke Arunika.


"Nggak nyaman karena?" Arunika masih mencecarku dengan pertanyaannya lagi.


"Kanaya kesannya terlalu memaksa dan aku merasa dikekang." jawabku sedikit kesal.


"Kalau Kanaya bilang baik-baik dan bersikap manis, Sandy mau?" tanya Arunika seolah menjebakku.


"Jeevan juga saat itu bilang baik-baik ke Nika. Nika mau?" aku balik bertanya kepadanya karena aku tidak tahu bagaimana cara yang tepat untuk menjawabnya.


"Kok Sandy tahu tentang Nika dan Jeevan" tanya Arunika dengan raut wajah tidak senang.


"Jeevan sendiri yang cerita." Jawabku santai.


"Kalau Nika mau gimana?" jawaban Nika yang perlahan menusuk hatiku.


...****************...


POV Arunika


Kenapa semudah itu Sandyakala merelakan aku bersama Jeevan? Apa memang tidak ada cinta darinya untukku? Aku lalu diam melanjutkan makan.


"Jadi Nika mau sama Jeevan?" tanya Sandyakala seolah memastikan.


"Nika belum bilang ke Jeevan." jawabku apa adanya.


"Karena?" tanya Sandyakala sambil terus menatapku.


"Karena Nika belum tahu jawabannya" kataku sambil pura-pura sibuk dengan Sundae.


Sandyakala lalu menepuk lembut pipiku dan berusaha menyuapi french fries ke mulutku.

__ADS_1


"Apapun itu, apapun yang jadi keputusan Nika, kalau itu buat hati Nika damai dan senang. Nika merasa bahagia maka lakukan saja. Aku akan selalu ada untuk Nika" kata Sandyakala yang membuat mataku berkaca-kaca.


"Kenapa jadi bahas Nika sama Jeevan ya?" kataku mulai kesal.


Sandyakala andai aku bisa bicara jujur, Ingin ku sampaikan kalau hanya bersamamu aku bisa merasakan damai dan bahagia. Tapi kenapa seolah kamu tidak mengerti sama sekali. Dari ucapanmu tadi semua seolah-olah kamu mendukungku untuk jadian sama Jeevan. Tarik aku Sandy. Tanpa kamu meminta, aku sudah memberikan cinta untukmu.


Tiba-tiba handphone Sandyakala berbunyi. Itu adalah panggilan dari Om Alden.


...****************...


POV Sandyakala


Om Alden menelponku dan memintaku untuk menemui Kanaya walau sebentar. Aku lalu menghubungi Abhi untuk meminta pendapatnya. Sebenarnya aku belum mau menemui Kanaya karena aku takut Kanaya malah salah paham dan menjadi masalah lagi. Abhi berjanji untuk datang sebentar lagi dan meminta aku dan Arunika untuk kembali ke cafe dan menunggunya di balkon. Kugandeng tangan Arunika sepanjang perjalanan. Seperti biasa, tali sepatunya selalu terlepas dan aku berlutut untuk mengikatnya.


Kami sampai di depan cafe bersamaan dengan Abhi. Kami bertiga lalu bergegas ke balkon di lantai atas.


"Kalau aku bilang kamu nggak usah ke sana" kata Abhi sangat serius.


"Ini Om Alden yang minta, Bhi" aku memberikan alasanku.


"Om Alden cuma mikirin Kanaya tanpa memikirkan akibatnya di kamu" kata Abhi tegas.


"Aku nggak enak nolak Om Alden, Bhi" kataku memelas.


"Nanti Om Alden biar aku yang urus. Kamu bilang saja ke Om Alden kalau kamu tidak bisa. Nggak perlu ngasih alasan macem-macem." kata Abhi sambil menghela napas dan memegang pundakku.


"Kalau masih ada yang mesti dikerjakan segera diselesaikan. Kalau sudah nggak ada urusan lagi di cafe aku sarankan kalian berdua pulang saja" kata Abhi lagi.


Aku berpikir lebih dalam lagi. Memang sebaiknya aku menjauhi Kanaya dulu sampai keadaan benar-benar kondusif. Luar biasa, rasanya seperti diteror zombie dan harus bersembunyi. Bila perlu lari sejauh mungkin. Ku ajak Arunika untuk pulang namun entah mengapa dari tadi dia hanya diam.


...****************...


POV Arunika.


Ada apa sebenarnya? Kenapa sampai segitunya Abhi melarang Sandyakala untuk bertemu dengan Kanaya. Kenapa Om Alden sampai ikut campur urusan seperti ini? Ini kan urusan pribadi. Apa yang mereka rencanakan? Seolah Sandyakala terus menerus menghindari Kanaya. Bukankah harusnya semua bisa dibicarakan baik-baik? Ini hanya tentang Sandyakala dan Kanaya tapi kenapa Abhi dan Om Alden juga dilibatkan?

__ADS_1


__ADS_2