
POV Author
Beberapa tahun sudah berlalu sejak Abhi pamit dan sudah lama tidak ada kabar darinya. Di bawah kepemimpinan Sandyakala dan Arunika, cafe benar-benar berkembang dengan baik dan sudah membuka banyak cabang. Mereka juga mengembangkan usaha franchise berupa booth minuman kopi dengan target pasar street food serta mengeluarkan merk dagang sendiri untuk kopi kemasan yang dijual di mini market atau toko-toko. Semua pengelolaan diserahkan ke beberapa orang kepercayaan dan karyawan-karyawan sangat bisa diandalkan sehingga mereka cukup memantau kinerja perusahaan tersebut.
Arunika lebih serius dengan kuliahnya. Karena merasa punya lebih banyak waktu, dia akhirnya kuliah di dua jurusan yakni jurusan Ekonomi dan filsafat seperti keinginannya. Dia juga masih mengurus cafe. Namun dia juga sering bepergian sendirian tanpa teman maupun sopir. Semakin hari, pembawaan Arunika semakin tenang, cara bicaranya juga semakin menunjukkan kesabaran dan pola pikir yang terkesan sangat dewasa.
Sandyakala berusaha keras mengejar ketertinggalan kuliahnya. Dia masih sama seperti dulu, mengisi waktunya dengan kegiatan musik dan olahraga. Gaya bicara dan pembawaannya tidak banyak berubah, selalu punya ide-ide konyol dan membawa keceriaan. Hanya jika jika berurusan dengan bisnis, dia sangat serius dan setiap keputusannya tidak bisa diganggu gugat. Dia sangat disegani oleh karyawan dan tidak dipandang rendah oleh kolega bisnis manapun. Banyak perempuan yang mencoba menaklukkan hatinya. Bagaimana tidak seorang pria muda, berparas tampan, sukses dia usia muda dan bermasa depan cerah. Tapi dalam keheningan hatinya, hanya ada Arunika. Selalu Arunika.
Di balik kesuksesan anak-anak mereka. Bram dan Rendra bangga luar biasa sekaligus bimbang berkepanjangan karena faktanya mereka gagal pensiun dini. Bagaimana tidak, Sandyakala dan Arunika yang disiapkan untuk meneruskan PT. Sahabat Sejati malah mengembangkan usaha sendiri bahkan kekayaan perusahaan mereka tidak main-main. Di satu sore yang cerah, mereka berkumpul di halaman belakang rumah sebelah dan bersiap-siap memilih siapa yang akan memimpin PT. Sahabat Sejati yang sudah berkembang sangat pesat dan butuh regenerasi organisasi.
"Kita berenam buat kocokan aja seperti arisan. Yang dapat tulisan 'DIRUT' berarti dia yang jadi Direktur Utama PT. Sahabat Sejati dan bertanggung jawab untuk kelangsungan PT." kata Sandyakala sambil membawa gelas berisi 6 potong sedotan yang di dalamnya terdapat kertas. Semua setuju dan berharap-harap cemas. Mereka berurutan mengambil potongan sedotan dan membukanya pelan-pelan.
Arunika berteriak histeris saat kertas di tangannya yang bertuliskan DIRUT sedangkan yang lain bertepuk tangan.
"Tapi Nika nggak bisa," katanya sambil meletakkan kertas itu ke tengah meja.
"Tenang, Nika. Nanti ada training 3 bulan. Ada sekretaris pribadi juga yang akan membantu menangani semuanya." kata Sandyakala sambil menepuk kepala Arunika.
"Bukan masalah pekerjaannya, tapi karena Nika ingin menikah saja dan tinggal bersama suami Nika di tempat yang jauh" kata Arunika yang membuat semua terkejut.
"Apa sih Nika? Memangnya kamu mau menikah sama siapa?" tanya Rendra.
"Rasanya Nika jarang bepergian, teman-teman Nika ya itu lagi itu lagi. Kenapa tiba-tiba sekali Nika? Siapa yang mau menikah dengan Nika?" tanya bunda dengan nada syok berat.
"Kalau semua bolehin Nika menikah, baru Nika cerita," kata Nika santai sambil melipat kedua tangan di dadanya dan tersenyum.
Semua menatap Arunika yang terlihat bersungguh-sungguh dengan kata-katanya. Tidak ada sedikitpun keraguan di matanya. Arunika kelihatan sangat yakin dengan keputusannya yang terkesan sangat tiba-tiba. Di luar pemikiran semua orang yang menganggap Arunika hanyalah gadis polos yang sedang belajar dan butuh banyak bimbingan, tidak mengenal dunia luar apalagi percintaan. Tidak pernah Arunika membawa seorang laki-lakipun yang dikenalkan sebagai kekasihnya dan sekarang tiba-tiba Arunika menyatakan keinginannya untuk menikah dan dia sungguh sangat serius.
"Nika pasti cari-cari alasan untuk kabur dari tanggung jawab mengurus perusahaan," kata Sandyakala menebak-nebak.
"Ayolah, Sandy. Nika tidak sedang bercanda. Ini serius, usia Nika juga sudah cukup untuk menikah " kata Arunika sambil menyelipkan rambutnya di belakang telinga.
"Baiklah, kalau Nika sungguh-sungguh, ajak calon suamimu ke sini bersama keluarganya" tantang Naomi yang disetujui oleh yang lainnya kecuali Sandyakala.
__ADS_1
"Oke, tinggal atur waktunya aja," jawab Arunika mantap.
"Nika yakin mau menikah muda?" tanya Mikha masih seolah belum terima dengan keputusan putrinya.
"Kalau salah satu dari kalian belum yakin, kita bicarakan lagi sampai kita semua sepakat. Nika nggak main-main, bund. Apa salah kalau menikah muda?" kata Arunika yang membuat semua semakin yakin.
Dalam hati Sandyakala seakan tidak percaya, seperti apa lelaki yang akan mendampingi Arunikanya? Akankah lelaki itu bisa membahagiakan Arunika? Diam-diam Sandyakala meninggalkan mereka semua dan kembali ke rumahnya.
...****************...
POV Sandyakala
Tidak mungkin Arunika bercanda dengan ayah bunda maupun mama papa. Tapi, jika itu benar lalu siapa lelaki yang beruntung itu? Tapi Arunika terlihat sangat tenang saat menerima tantangan dari mama. Sepertinya dia sudah mempersiapkan segalanya dengan baik.
Ternyata tidak semudah saat berbicara jika aku akan mengikhlaskan dan merelakan Arunika dengan lelaki lain asal Arunika bahagia, asal itu kemauan Arunika dan tidak dipaksa, asal itu yang terbaik untuk Arunika. Hatiku terasa sangat sakit. Berkali-kali aku menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Tapi tetap tidak bisa menenangkan diri. Ku acak-acak rambutku berusaha meyakinkan diri jika semua akan baik-baik saja.
Tiba-tiba pintu kamarku diketuk. Dengan malas ku seret kakiku menuju pintu. Dan ada senyum manis Arunika di sana dengan segelas susu coklat panas ditangannya.
"Boleh masuk?" tanya Arunika sambil melirik ke dalam kamarku.
"Jadi, kita ngobrol di luar!" katanya sambil melangkah menuju ruang keluarga.
Dia sudah menyalakan televisi saat aku menyusulnya. Namun matanya malah tertuju pada buku yang dibawa-bawanya dari tadi.
"Benar mau nikah?" tanyaku memulai pembicaraan.
"Menurut Sandy, Nika bercanda? Ini tuh tentang masa depan, nggak baik buat dibuat bercanda," katanya sambil memukul kepalaku dengan buku di tangannya.
"Kurang meyakinkan aja," kataku sambil memegang tangannya.
"Kalau menurut Sandy gimana?" tanyanya tiba-tiba dengan nada serius dan jemarinya menggenggam erat jemariku.
"Nika bahagia dengan keputusan Nika?" tanyaku berusaha tenang walau sebenarnya hatiku memberontak.
__ADS_1
"Ini keputusan Nika, pasti sudah Nika pikirkan baik-baik," katanya sambil tersenyum menatapku. Matanya seolah memohon kepadaku untuk mengikhlaskannya.
"Siapapun dia, asal Nika bahagia pasti aku dukung," kataku sambil berusaha menegarkan hati.
Dia hanya tersenyum, tetesan air mata jatuh dari sudut matanya. Aku mengusap air mata yang jatuh di pipinya. Semakin lama semakin deras. Aku tidak tahu harus berbuat apa, aku lalu menarik kepalanya ke dadaku dan membiarkannya menangis di pelukanku. Seribu tanya bertumpuk sesak di dadaku, biar saja Arunika menuntaskan tangisnya.
"Kalau Nika sudah jadi istri orang, apa Sandy akan tetap sayang sama Nika?" tanyanya setelah mengangkat kepala dan menhapus air matanya.
"Sepertinya rasa sayang itu sangat sulit hilang," kataku sambil memegang kedua pipinya.
"Sangat serakah ya, mau menikah dengan laki-laki lain, namun masih mengharapkan sayang dari Sandy," katanya merendahkan dirinya sendiri.
"Nggak ada yang salah dengan itu," kataku.
"Benar kata Kendra," katanya sambil mengusap seluruh wajahnya dan nada bicaranya mulai tenang.
"Kendra? tentang apa?" tanyaku penasaran.
"Kita ini seperti Radha dan Krishna," katanya sambil tersenyum dan mengusap lembut pipiku.
"Radha Krishna itu kan cinta sejati, abadi," kataku sok tahu.
"Iya, tapi Sandy tidak pernah tahu kalau nyatanya Radha dan Krishna tidak pernah menikah walaupun mereka saling menyayangi," katanya dengan senyumnya yang tidak pernah tidak manis.
Ku tatap ke dalam matanya, entah kata-kata apa yang harus ku ucapkan untuk mengimbangi pembicaraan ini. Ada keretakan hati yang harus juga supaya tidak hancur dan berantakan. Arunika, kenapa semua yang ku anggap akan baik-baik saja nyatanya tidak bisa aku atasi. Hilang sudah akal sehatku, ku pejamkan mata dan ku tempelkan bibirku ke bibirnya yang merah dan ku rangkul pinggangnya yang ramping. Terasa tangannya melingkar di leherku dan kami saling ******* bibir. Perlahan dia menjauhkan wajahnya dariku.
"Maaf, Nika. Sebesar apapun aku mencintaimu aku harusnya bisa menahan diri," kataku tiba-tiba diselimuti rasa bersalah.
"Nggak apa-apa, Nika akan tetap menikah dan Sandy tetap di hati. Nika janji," katanya sambil melepaskan leherku.
"Berjanjilah kalau Nika akan bahagia, aku pasti tenang kalau Nika selalu bahagia," kataku berusaha tampak tegar dan ikhlas sambil melepas pinggangnya yang dijawabnya dengan anggukan mantap.
"Nika pasti bahagia," kata Nika lalu berdiri dan pergi dari hadapanku.
__ADS_1
Mungkin ini akan jadi ciuman terakhirku dengannya. Setelah dia pergi, barulah aku merasakan retakan hati mulai terlepas satu per satu dan mulai menjadi kepingan yang aku sendiri yang akan bertanggungjawab merangkainya menjadi hati yang utuh lagi walau sudah tidak seindah dulu. Aku sudah tidak peduli lagi dengan laki-laki yang mampu membuat Arunika mengambil keputusan itu. Aku seolah tidak mau tahu lagi dengan semua itu, aku hanya ingin menata hati supaya aku bisa berdiri tegar melihat Arunika bahagia. Aku kembali ke kamar dan menumpahkan semua air mataku di atas bantal dan berusaha tidur. Berharap saat aku terjaga nanti, semua akan baik-baik saja.