
POV Kanaya
Sandyakala ketahuan bohong. Untuk apa dia bilang kalau dia sudah sudah di mobil padahal baru sampai di lobby. Dan, Oh, my God, untuk apa Arunika di sini? Tangan Sandyakala juga terlihat erat menggenggam tangan Arunika. Mau ke mana mereka? Aku ke sini untuk mengajak Sandyakala makan siang dan bertanya mengenai semur ayamku tadi pagi.tapi aku malah makan hati begini.
"Sand, bisa kita bicara?" tanyaku mendekatinya
"Mengenai apa?" tanya Sandyakala dengan nada ketus
"Tentang cafe," kataku berbohong, hanya itu alasan yang tepat bagiku untuk saat ini
"Kan Kamu tinggal telepon, aku bisa ke cafe jadi kamu nggak perlu ke sini," jawab Sandykala dengan arogan, seperti atasan yang menegur bawahannya.
Sandyakala lalu menarik tangan Arunika dan meninggalkan aku di sini. Aku tidak terima diperlakukan seperti ini. Apa lagi banyak mata yang menatap aneh kepadaku. Kenapa aku tidak bisa ke sini sedangkan Arunika digandengnya keluar seolah itu tidak masalah. Ini sungguh tidak adil. Aku lalu berjalan menuju pintu keluar.
"Ngapain sih Nika di sini?" tanyaku kepada satpam.
"Ibu ini gimana, Bu Arunika kan pimpinan di sini, jadi wajar kalau ke sini," jawab satpam itu.
"Segampang itu jadi pimpinan," kataku menggerutu.
"Ya gampang Mbak, dapat warisan dari orangtuanya," kata satpam seolah merendahkan aku.
"Saya ini manajer cafe," kataku supaya satpam itu menunjukkan rasa hormatnya padaku.
"Oh, cafenya bapak? Ya, pokoknya semua yang punya bapak juga punya Bu Arunika. Kita hanya karyawan yang hanya bisa kerja maksimal supaya dipakai terus, nggak dipecat," kata satpam itu malah seolah semakin merendahkanku.
Ingin ku teriak kalau cafe itu dulunya punya pamanku dan bisa saja jadi milikku. Tapi aku sadar, itu dulu. Tapi faktanya sekarang cafe itu memang milik Sandyakala dan Arunika. Daripada pusing kepala, sebaiknya aku ke rumah Bunda Mikha, pasti Sandyakala dan Arunika berada di sana sekarang untuk makan siang. Sekalian review hasil masakan semur ayamku.
Tapi rumah itu terlihat sepi saat aku tiba di sana. Semua terkunci dan saat aku berjalan keluar aku bertemu Tante Naomi.
"Lho Kanaya? Rendra sama Mikha sedang pergi ke klinik, kamu ngapain?" tanya Tante Naomi ramah.
__ADS_1
"Iseng aja nyari bunda, kalau nggak ada ya saya mau pulang aja," kataku.
"Ke tempat tante aja. Kita makan siang bersama. Karena Rendra sakit, jadi hari ini tante yang masak," kata Tante Naomi sesuai harapanku, aku bisa masuk ke keluarga Sandyakala dengan kesan diajak.
"Nggak.usah tante, nanti malah merepotkan." kataku berpura-pura menolak.
"Nggak," kata Tante Naomi menarik dan memaksaku untuk ikut dengannya.
Selesai makan, aku dan kedua orangtua Sandyakala mengobrol sambil menonton TV. Om Bram malah bercerita kalau hari ini Sandyakala mengadakan meeting dadakan dan mengumumkan kalau Arunika resmi ambil bagian dalam pekerjaan di perusahaan keluarga mereka dan posisinya setara dengan Sandyakala sesuai dengan harapan Om Bram dan Om Rendra Bagaimana mungkin, lalu bagaimana dengan perusahaan Tante Wening? Apa Arunika akan melepaskannya begitu saja?
Lamunanku buyar saat Tante Naomi menanyakan padaku mengapa aku sering ke rumah Bunda Mikha. Saat aku menjawab bahwa aku ingin belajar memasak dan mengurus rumah supaya bisa menjadi istri yang baik, Tante Naomi terlihat sangat senang dan antusias. Tante Naomi lalu mengambil ponselnya dan membuat panggilan.
...****************...
POV Sandyakala
"Sandy di mana? Buruan pulang, ada Kanaya di rumah," kata mama saat aku menjawab teleponnya
"Ngapain dia ma?" tanyaku dengan nada datar
"Terus apa hubungannya sama Sandy?" tanyaku lagi kali ini sedikit sinis
"Ya temani dia dong," jawab mama mulai mendikte
"Mama yang ajak ke rumah ya mama dong yang menemani," tolakku kemudian mengakhiri panggilan sebelum aku mendengar permintaan mama lebih jauh lagi. Sepertinya benar kata papa, mama mencoba menjodohkan aku dengan Kanaya.
"Sandy ini aneh, selalu ribut dengan mama," protes Arunika saat mobil sudah berhenti di halaman rumah Bu Wening.
"Mama tuh suka maksa," jawabku padahal Arunika sudah tahu itu.
"Ya kan demi kebaikan Sandy," kata Arunika enteng sambil berusaha melepas sabuk pengaman yang memang sering macet.
__ADS_1
"Kata papa, mama mau jadiin Kanaya menantunya," kataku sambil membantu Arunika melepaskan sabuk pengamannya sehingga membuat kami sangat dekat.
"Bagus dong, Sandy kan juga sudah cukup umur untuk menikah," kata Arunika berargumen.
Tanpa banyak bicara, aku lalu mencium bibir Arunika, menyalurkan emosi dan perasaan yang aku rasakan Kerinduanku padanya membuatku ingin mencium bibir Arunika. Terpisah jarak dan waktu benar-benar menimbulkan rasa rindu yang berat, dan tidak tahu lagi dengan cara apa untuk melampiaskannya kecuali dengan memberikan kecupan di bibir. Arunika juga sepertinya merindukanku karena kemungkinan Arunika jua menikmati ciuman ini. Sebuah jawaban dari kerinduan yang sangat mendalam dari antara kami berdua. Arunika sama sekali tidak menolak bahkan Arunika membalasnya ciuman ini
"Aku maunya Nika, bukan yang lain. Aku nggak peduli lagi, aku tetap mau Nika," kataku sambil menatap ke dalam matanya sambil mengatur nafas dan berhasil melepas sabuk pengamannya.
Arunika tertunduk diam. Tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Dia hanya turun dari mobil dan pergi begitu saja, aku menyusulnya dari belakang dan mensejajarkan langkahku dengannya.
"Nika ini janda beranak satu," kata Arunika memulai pembicaraan.
"Aku nggak peduli," jawabku tidak mau tahu
"Mama maunya Kanaya yang jadi menantu di keluarga," Arunika membuat alasan lagi
"Yang menikah itu aku, bukan mama." tolakku tegas.
Arunika lalu diam dan kami sudah masuk ke dalam rumah. Abi tampak rewel karena mengantuk. Segera aku mengambilnya dari Mbak Asih dan menggendongnya supaya dia bisa tidur lelap. Benar saja, baru sebentar Abi sudah nyenyak dan aku menyerahkannya kembali pada Mbak Asih dengan mencium pipi Abi sebelumnya.
"Nanti kalau Abi sudah bangun aku bawa ke rumah ya," pintaku pada Arunika.
"Ngapain sih Sandy?" tanya Arunika pertanda tidak setuju.
"Aku pingin main sama Abi," kataku tulus.
"Kasian Abi wira-wiri," tolak Arunika lagi
"Kalau menginap gimana? Bobonya sama aku, bisa kok aku gantiin popok sama buatin susu," kataku mencoba meyakinkan Arunika.
"Nggak ada, nggak ada, nggak ada," tolak Arunika keras kepala.
__ADS_1
"Biar saja Abi dekat dengan Sandy. Kalian makan dulu, setelah itu ibu tunggu di perpustakaan, ibu harus bicara dengan kalian berdua," kata Bu Wening yang menghentikan perdebatan kami.
Apa sebenarnya yang ingin dibicarakan oleh ibu Wening? Apa dia akan melarangku untuk mendekati Arunika? Tapi kenapa dia mengizinkanku untuk dekat dan akrab dengan Abi?