BISIK HENING CINTA

BISIK HENING CINTA
BERTEMU ASLAN


__ADS_3

POV Arunika


Waktu sangat cepat berlalu, ujian pun sudah berlalu dengan hasil yang baik. Sandyakala merupakan lulusan terbaik di angkatan kami. Aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti keinginan orang tuaku untuk mengambil jurusan ekonomi,. Demikian juga dengan Sandyakala sehingga kami mendaftar di Universitas yang sama. Ku tinggalkan mimpiku untuk kuliah di jurusan filsafat. Seperti yang ayah katakan bahwa filsafat bisa dipelajari melalui literasi maupun seminari. Jeevan memilih kembali ke rumah orang tuanya walaupun papa Bram dan mama Naomi sudah memintanya untuk tetap tinggal.


Aku dan Sandyakala sudah mulai mengurus cafe lagi dan kali ini luar biasa sibuk karena kami akan membuka cabang di rest area jalan tol. Semua rencana sudah dimatangkan oleh mama dan Abhi sehingga aku dan Sandyakala tinggal menjalankannya. Namun semua itu tetap saja menyita waktu. Untung saja jadwal kuliah tidak sepadat jadwal sekolah.


Karena sibuk mengurus cafe, aku jadi jarang ke rumah Om dan Tante. Hingga suatu saat Kak Serena datang ke rumah dan memintaku untuk menghadiri ulang tahun pernikahan Om dan Tante yang akan diadakan di sebuah hotel yang mewah. Di acara itu Om dan Tante akan memperkenalkan aku dengan Aslan karena menurut Kak Serena, Aslan pasti hadir. Aku diperbolehkan mengajak empat orang lainnya yang justru membuatku bingung. Saat Kak Serena pulang, Sandyakala sudah memasuki pekarangan rumah.


"Sandy, tolongin Nika dong," kataku memelas.


"Lho? Kenapa?" tanya Sandyakala keheranan.


Aku lalu menggandeng tangan Sandyakala dan menuntunnya ke halaman belakang.


"Om dan Tante ngundang Nika ke ulang tahun pernikahan mereka, tapi hanya boleh berlima," kataku cemas.


"Lha terus?" tanya Sandyakala masih belum paham juga.


"Kan kita berenam. Ayah, bunda, mama, papa, Sandy, Nika," jawabku polos.


"Acaranya kapan?" tanya Sandy


"Lusa, jam 7 malam" jawabku singkat.


"Lusa jam 7 malam itu aku ada janji mau pergi dengan Abhi. Jadi cukupkan undangannya untuk berlima?" kata Sandyakala mencoba menenangkanku..


"Jadi Sandy nggak ikut?" tanyaku mempertegas.


"Nggak papa, lagian kata Abhi, nanti aku mau dipertemukan dengan kolega-kolega bisnis bapaknya, siapa tahu ada rejeki baik bisa kerjasama cari investor," jelas Sandyakala.


"Sandy sekarang otaknya bisnis melulu," protesku.


"Kan nggak bisnis melulu, otakku kan ada Nika juga," katanya mulai menggodaku.


"Siapa sih Nika sampai ada di otak Sandy?" tanyaku memancingnya.


"Ya terserah Nika, maunya aku jadi apa, yang jelas aku sayang Nika, akan selalu sayang Nika," jawabnya serius tanpa candaan, tatapannya menusuk tajam ke mataku menembus ke hatiku.


"Nika maunya Sandy jadi ranger pink," jawabku asal menutupi kegugupanku.

__ADS_1


"Nika jadi ranger merah ya," balasnya sambil menyelipkan rambutku ke belakang kuping.


"Kalau Nika pingin jadi pacar Sandy boleh?" aku memberanikan diri menanyakan hal ini namun ku sesali.


"Boleh," jawab Sandyakala yakin.


"Kalau pingin jadi musuhnya Sandy?" tanyaku lagi berusaha mengubah topik untuk menutupi perasaanku yang sebenarnya.


"Boleh juga," jawab Sandyakala walaupun tidak seyakin tadi.


"Kalau jadi… … …," kata ku sambil berpura-pura berpikir keras.


"Jadi apapun boleh, yang penting Nika senang," katanya sambil menjambak rambutku.


...****************...


Malam pesta ulang tahun pernikahan telah tiba. Aku memakai gaun bermodel sederhana yang berwarna salem. Bunda memaksaku untuk berdandan di salon supaya aku pantas menghadiri pesta besar ini.


Om dan Tante menyambut hangat kehadiran kami. Dan mataku menangkap sosok yang tidak asing dan tentu saja sangat akrab denganku berada di belakang tante


"Sandy?" tegurku.


"Lho? Nika kenal?" tanya Tante keheranan.


"Abhi juga di sini?" tegurku begitu melihat Abhi yang baru saja membalikkan badannya.


"Nika sudah kenal Aslan?" tanya Tante bertambah heran.


"Ini Abhi kan?" tanyaku berusaha meyakinkan diri.


"Ternyata yang dipuja-puja ibu itu Arunika yang ini?" kata Abhi sambil melepaskan tawanya.


Aku menjadi bingung dengan semua keadaan ini. Sambil tertawa Abhi mengajak kami duduk di satu meja bundar yang besar.


"Aslan Abhisheva namanya," kata Tante sambil tersenyum mulai mengerti.


"Nika udah penasaran setengah mati sama Aslan," kata Sandyakala sambil tertawa kecil.


"Sandy sudah tau ya kalau Aslan itu Abhi?" kataku menuduh.

__ADS_1


"Aku tahu kalau namanya Aslan Abhiseva tapi aku nggak tahu kalau Aslan ini yang dimaksud, Di dunia ini kan ada banyak Aslan" kata Sandyakala membela diri.


"Sudah, kita nikmati dulu pestanya. Begini lebih nyaman sudah saling kenal jadi nggak akan canggung," kata Abhi menengahi kami.


Dari acara ini aku baru tahu kalau Om bernama Darma Wicaksana dan Tante bernama Wening Welasasih dan ternyata Aslan yang misterius itu adalah Abhi. Dia memilih menggunakan nama Abhi supaya tidak mudah dikenali. Saat berusia tujuh belas tahun, Abhi meminta kado ulang tahun yang mengejutkan yaitu dia ingin menikmati hidupnya sendiri. Orang tuanya membelikannya rumah mewah dilengkapi dengan pelayan dan fasilitas yang mewah namun dia menolaknya dan memilih memulai hidupnya melalang buana tanpa arah yang jelas sampai saat Tante Dhira memintanya membantu menjaga Kanaya. Aku juga baru tahu kalau Tante Dhira isterinya Om Alden adalan adik kandung Om Darma. Karena Tante Dhira tidak memiliki anak, Abhi bisa dikatakan sebagai generasi terakhir dari garis keturunan Om Darma. Sampai saat Abhi punya anak, barulah ada regenerasi. Tante Wening terus menerus meminta Abhi untuk segera menikah supaya keturunan Pak Darma Wicaksana tidak punah seperti Badak Putih Utara.


Berbincang tentang berbagai hal mulai dari masalah keluarga, bisnis, politik dan bermacam hal membuat waktu berjalan begitu cepat tanpa terasa. Abhi meminta waktu berbicara dengan ku sebentar saat pesta sudah selesai dan kami bersiap-siap untuk pulang. Abhi mengucapkan terima kasih karena aku terlalu menolong ayahnya. Abhi juga senang karena aku sering berkunjung dan menemani orang tuanya yang sangat merindukan kehadiran anak di rumah itu. Abhi juga meminta kepadaku agar tidak sungkan untuk berkunjung kapanpun aku mau. Dia senang ternyata Arunika yang diceritakan oleh ibunya adalah orang yang sudah dikenalnya dengan sangat baik. Kami lalu bubar, malam ini Abhi pulang ke rumah orang tuanya dan Sandyakala ikut pulang bersama kami.


...****************...


"Nika belum ngantuk," kataku saat kami tiba di rumah. Sudah hampir jam setengah sebelas malam.


"Boleh Sandy temenin Nika sampai ngantuk?" tanya Sandyakala ke ayah dan bunda dan disetujui oleh mereka asalkan kami hanya di rumah dan tidak pergi ke mana-mana.


Aku dan Sandyakala lalu menuju ke halaman belakang sambil membawa dua cangkir coklat panas dan sepiring French fries. Kami memasang musik klasik instrumental supaya suasana terasa seperti di cafe.


"Udah nggak penasaran sama Aslan?" tanya Sandyakala menggodaku.


"Ya nggak dong, malah senang ternyata udah kenal," kataku sambil tersenyum.


"Baguslah, Nika bisa tidur nyenyak nanti," kata Sandyakala sambil tersenyum dan menepuk puncak kepalaku.


"Abhi itu kelihatan orangnya santai, bebas, ceria ternyata rumit ya," kataku sambil membenarkan poniku.


"Itu namanya pilihan Nika, Kadang kita perlu keluar dari zona nyaman untuk mendapatkan pengalaman dan pencapaian yang lebih lagi," kata Sandyakala sangat bijak.


"Nika nyamannya kalau sama Sandy," tiba-tiba saja kata-kata itu melompat keluar dari mulutku.


"Lalu? Nika mau ninggalin aku? Nyari yang lebih lagi?" kata Sandyakala yang membuat aku terkejut.


"Bukan itu maksudnya, Sandy jangan bilang gitu," kataku dan aku mulai panik karena kelihatannya Sandyakala salah paham dengan kata-kata ku barusan.


Sandyakala malah menertawakan kepanikanku. Ternyata dia berulah lagi, selalu saja menggangguku sampai aku ngambek lalu dia akan melakukan berbagai macam cara agar aku bisa tertawa lagi.


Aku memberanikan diri untuk bersandar di dadanya yang tampak bidang dan mulai kelihatan kekar. Aku diam dan memejamkan mata berpura-pura merajuk. Dapat ku rasakan detak jantungnya yang berdegup sangat cepat. Sandyakala lalu menggeser posisi duduknya sehingga kami sangat dekat. Tangan kirinya merengkuh bahuku dan tangan kanannya membelai lembut rambutku. Dapat kurasakan kecupannya di puncak kepalaku dan bisikan lembut kata-kata sayangnya yang sering diucapkan untukku. Kata sayang yang selalu sulit ku artikan.


Ku angkat kepalaku dan kudekatkan wajahku dengan wajahnya. Ku pegang lembut pipi Sandyakala lalu perlahan bibirku mendarat di bibirnya. Ciuman lembut aku yang  daratkan membuat degup jantung kamu berdetak semakin kencang. Ku tarik bibirku sesekali untuk memberi jarak antara aku dan Sandyakala kemudian kami menatap mata satu sama lain. Kami berhenti sebentar-sebentar sehingga membuat ciuman kami terasa jauh lebih intens begitu kami mempertemukan bibir kembali. masing-masing mata kami bertatapan lembut dan panah cinta tertancap di hati kami.


"Sudah malam, ikan bobo," kata Sandyakala sambil menyentuh ujung hidungku.

__ADS_1


Kami berdua lalu meninggalkan halaman belakang. Aku langsung masuk ke kamar. Masih bisa ku dengar dari balik pintu suara Sandyakala pamitan dengan ayah yang sepertinya masih menonton bola.


Aku tertidur dengan perasaan yang melayang, ku pegangi bibirku terus menerus dan sesekali ku gigit bibirku pelan. Rasanya tidak percaya aku yang memulainya dan Sandyakala tidak menolaknya. Kami sudah bukan anak-anak lagi, wajar saja jika cinta ini tumbuh. Lalu bagaimana harus ku ceritakan perasaan ini ke bunda atau mama? Ah, sialan aku jadi malu sendiri. Aku juga merasa malu untuk menghadapi Sandyakala besok. Kututupi wajahku dengan selimut seolah tidak ingin siapapun melihatku yang sedang malu. Rasa kantuk sudah menyerang dan tak mampu ku lawan lagi. Selamat tidur Sandyakala Jingga, Nikamu mencintaimu.


__ADS_2