
Sandyakala mulai memaparkan rencana kerja untuk musim natal dan tahun baru yang akan segera mereka jalankan. Tentu saja dengan menghias cafe dengan tema natal dan tahun baru, sekaligus launching beberapa menu baru. Para barista juga akan diberi pelatihan untuk membuat latte art tema natal, seperti boneka salju, pohon cemara, mungkin malaikat. Akan ada tambahan menu minuman seperti eggnog dan cokelat panas. Untuk menu kudapan akan ada tambahan Klappertart khas Manado, serta Red Velvet dan Choco Lava Cake. Untuk makanan nanti bisa bekerjasama dengan catering mama. Arunika, Kanaya dan Abhi hanya menyimak, tidak terlihat usaha mereka untuk memberi kritik dan saran.
"Abhi, Kanaya semua ini akan jadi tanggungjawab kalian, soalnya tanggal 31 dan tanggal 1, aku sama Nika nggak bisa datang" Kata Sandyakala.
"Nggak bisa gitu pak bos, padahal 2 hari itu pas rame-ramenya" protes Kanaya.
"Mau ke mana?" tanya Abhi
"Rahasia dong, nanti kalian susul lagi" kata Sandyakala berusaha menenangkan.
"Kok Nika dibawa-bawa?" jawab Arunika polos dan membuat Sandyakala gemes.
"Jadi, Arunika nggak tau? Ini hanya akal-akalan mu?" tuding Kanaya.
"Ya, kan mau kasih surprise buat Nika" kata Sandyakala sambil menghela napas.
Sandyakala lalu berdiri dan menarik tangan Arunika , lalu mengajaknya ke lantai atas dan menuju ke balkon.
...****************...
POV Sandyakala
Memang salahku, belum pernah memberitahu Arunika tentang rencana ulangtahun kami. Ulangtahun kami yang ketujuh belas dilewatkan begitu saja, karena aku cukup tahu diri, orangtua kami mengeluarkan banyak dana untuk memiliki cafe ini. Mana mungkin aku tutup mata dan telinga lalu menuntut ulangtahun dirayakan. Kali ini pun aku tidak ingin ada perayaan, sejak mengelola cafe, aku tahu betapa sulitnya mengumpulkan uang. Aku hanya ingin hanya ada aku dan Arunika. Aku akan mengajak ke Magelang untuk menonton sendratari Ramayana di pelataran Candi Prambanan. Jujur aku kangen menghabiskan waktu bersamanya. Banyak kegiatan yang menyita waktuku, kalau ingin ku ikuti kata hati, inginku hanya bersama Arunika. Tapi aku harus menuruti saran papa untuk banyak bergaul supaya menambah kenalan dan wawasan yang tentu saja berguna ke depannya. Ingin ku ajak Arunika kemanapun aku pergi, hanya saja, aku tidak yakin kalau dia menyukainya, kasian melihatnya merasa kesepian di tengah keramaian. Memang terlalu awal aku menggeluti dunia bisnis, namun aku sangat menyukai ini. Bertemu dengan orang-orang baru, mencoba berbagai hal baru.
"Sandy malah bengong" tanya Arunika, selalu dengan muka manis yang menggemaskan.
"Jadi pas ulangtahun kita, kita pergi ya. Berdua aja" ajakku.
"Mau ke mana?" tanyanya dengan nada datar.
"Nika ikut aja, kan suprise, please" kataku sambil merayu.
Satu anggukan dan seulas senyum di bibirnya menyejukkan hati. Akhirnya sesuai rencana, aku tinggal berkoordinasi dengan rekan-rekan karyawan supaya semua bisa berjalan baik saat aku tinggalkan. Dan tentu saja aku akan meminta bantuan mama untuk memantau.
Saat aku menolehkan kepala, ku lihat Jeevan baru keluar dari kamar. Arunika lalu pamit untuk kembali ke ruang kerja, lalu tanpa basa-basi Jeevan mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
...****************...
POV Jeevan
Apa yang direncanakan Sandyakala? Ke mana mereka akan pergi? Aku harus mencari tahu dan bertanya ke Arunika tanpa harus menyinggung perasaannya. Sesampainya di ruang kerja, ternyata ada Kanaya di sana. sedang serius berhadapan dengan laptopnya. Arunika lalu duduk di sebelahnya dan membaca lembaran yang baru saja diprint oleh Kanaya. Mereka sangat serius, sehingga aku tidak berani mengganggu. Tiba-tiba Kanaya berdiri dan memberi kode dengan anggukan kepalanya supaya aku mengikutinya. Ku sejajarkan langkah kakiku dengan Kanaya dan menuju ke sisi pojok cafe yang kebetulan tidak ada pengunjung yang duduk di situ.
"Sandy sama Nika ada rencana mau pergi berdua" kata Kanaya setelah duduk.
"Iya, tadi mereka bicarakan itu di balkon, aku tidak sengaja mendengarkan dari kamar, ya sekalian ngupinglah" jawabku santai.
"Kok kamu tahu?" tanyaku penasaran.
"Sandy mau happy-happy tahun baruan sama Nika, semua tugas dan tanggungjawab di cafe dipasrahkan ke aku sama Abhi" jelasnya.
"Mereka bukan tahun baruan, mereka mau merayakan ulangtahun mereka" kataku santai
"Kok bisa?" tanya Kanaya mulai penasaran
"Sandy kan lahirnya tanggal 31 Desember ni, Nika itu lahir tanggal 1 Januari, dari umur setahun memang mereka selalu merayakan ulangtahun bersama." terangku yang membuat Kanaya heran.
Lalu dari lantai atas terlihat Sandyakala menuruni tangga. Kanaya tampak sedikit panik, lalu bergegas berdiri.
Selang berapa menit aku lalu berdiri, menuju ke kamar untuk mengambil handphone yang aku letakkan di dalam tas. Ternyata sudah ada WA dari Kanaya.
[Mereka bilang nggak mau ke mana?] tanya Kanaya
[Nggak, kata Sandy buat surprise] balasku cepat
[Pastikan, sebelum Mereka berangkat, kamu sudah menyatakan cinta ke Nika] saran Kanaya yang membuatku terkejut
[Kok jadi begini?] balasku penasaran
[Siapa tau Sandy mau nembak Nika, kalau kamu duluan nembak, Nika tau kalau kamu suka sama dia, nyuri start lah istilahnya] kata-katanya yang ku sambut dengan senyum.
[Ide bagus, OK lah] balasku
__ADS_1
Lalu ku kantongi handphoneku dan membawa tasku. Aku kembali ke ruang kerja mencari Arunika. Ternyata Kanaya sudah ada di sana.
"Nika, aku pulang duluan ya, kalau kamu butuh apa-apa WA aja" pamitku.
"Iya" jawabnya singkat.
...****************...
POV Arunika
Biar saja Jeevan pulang sendirian, nanti aku bisa pulang diantar Pak Santo seperti biasa. Sebenarnya, pekerjaanku sudah selesai. Aku hanya bingung harus berbuat apa.
"Kenapa nggak ikut pulang?" tanya Kanaya.
"Nggak pa pa" jawabku malas-malasan.
"Mulai canggung ya karena tahu dia suka kamu? Ada orang yang tulus menyayangimu, kamu sia-siakan, nanti menyesal lho" kata Kanaya.
Namun, entah mengapa kata-katanya membuat hatiku gelisah. Aku memilih diam, tidak ingin memperpanjang pembicaraan mengenai Jeevan.
"Eh, ternyata ulangtahun Sandy dengan ulangtahunmu cuma selisih sehari ya?" tanya Kanaya mengalihkan topik pembicaraan.
"Iya" jawabku singkat
"Tahun kemarin sweet seventeen kenapa nggak dirayain?" tanyanya dengan nada meledek.
"Tahun kemarin kan udah dikasi kado cafe."jawabku sekenanya
"Padahal yang menggebu-gebu ingin punya cafe kan si Sandy? Kok jadinya malah kamu ikut-ikutan dapat kado cafe?" tanyanya dengan nada yang semakin menyebalkan.
"Kenapa? toh akhirnya aku nggak bermasalah?" jawabku dengan nada sinis.
"Masalahnya, awalnya kan kamu nggak tahu menahu mengenai cafe ini. Biarpun akhirnya kamu kelihatan enjoy. Itu tandanya kalau Sandy itu egois. Hanya memikirkan kepentingannya saja. Orang lain harus nurut sama maunya dia" panjang sekali ocehannya Kanaya.
Aku hanya diam, malas menanggapi ocehannya. Namun entah mengapa, setiap perkataan dari Kanaya seolah meracuni pikiranku. Sudah lama aku mengenal Sandy, bagiku semua baik-baik saja, namun apa betul yang dikatakannya? Bahwa Sandy hanya memikirkan dirinya sendiri. Tapi kalau memang begitu, mengapa Sandy berusaha memberiku kejutan di hari ulangtahunku?
__ADS_1
"Kayaknya ni, dia juga ngajak kamu pergi ya karena kepentingannya sendiri. Mungkin kalau sama kamu lebih gampang dapat izin" tambah Kanaya yang membuat kepalaku semakin penuh.
"Ya bukan urusanmu juga" jawabku singkat dan kemudian aku berlalu pergi.