
POV Arunika
Akhirnya aku bertemu kasur di kamarku setelah seharian yang melelahkan badan, pikiran dan hati. Kurebahkan tubuhku untuk melepas semua kelelahan ini. Pikiranku mulai melayang. Andai saja aku tidak mengenal apa itu cinta pasti semua tidak akan sesulit ini. Pasti aku akan santai saja saat Sandyakala berdekatan dengan Kanaya. Tidak akan ada rasa cemburu yang menggerogoti hati. Pasti aku tidak akan takut menyakiti Jeevan dengan berbuat seolah memberinya harapan padanya padahal hatiku telah lama jatuh ke Sandyakala. Pasti aku tidak akan disiksa oleh hati yang merasakan cinta namun hanya mampu berbisik dalam keheningan.
Sandy, kamu sedang apa? Apakah kamu menjaga Kanaya dengan baik? Sebesar apa sayangmu ke Kanaya? Apakah lebih besar dari sayangmu kepadaku? Kanaya sangat beruntung bisa merasakan kasih sayangmu, mendapatkan perhatianmu. Tentu saja aku pernah merasakan kasih sayang dan perhatianmu, tapi bukan sebagai kekasih yang kamu cintai. Air mata terus mengalir tanpa bisa ku cegah. Kenapa aku selemah ini? Cinta pertamaku begitu menyakitkan. Andai aku bisa sebebas Jeevan untuk mengungkapkan cinta. Tapi aku sadar kalau tidak ada cinta yang sama di hati Sandyakala. Aku pasrah, aku ikhlas asalkan aku masih bisa terus bersama Sandyakala. Ku biarkan diriku terlelap dalam tangis.
...****************...
POV Sandyakala.
"Kalau capek pulang aja, Sand." kata Abhi sambil menyodorkan sebotol air mineral.
"Kanaya gimana?" tanyaku sambil meneguk air dari Abhi.
"Biar sama aku. Besok kamu ke sini lagi. Kita gantian jaganya." kata Abhi
"Okelah, ide yang sangat brilian" kataku penuh semangat.
"Jangan terlalu fokus ke Kanaya. Perhatiin Nika juga. Jangan sampai kisahmu seperti Jiraiya dan Tsunade yang hanya saling memendam perasaan. Sampai Jiraiya mati pun, mereka nggak tau kalau ternyata mereka saling cinta" kata Abhi dengan candaan tapi artinya sangat dalam.
"Dasar Orochimaru!" balasku.
"Bukan! aku Naruto!" jawab Abhi pe de.
"Aku lho, hokage keempat!" kataku sambil berlalu pergi diiringi tawa Abhi.
Dalam lelah ku kebut mobilku supaya segera sampai di rumah. Bisa ku bayangkan segarnya guyuran air saat mandi kemudian ke rumah sebelah untuk makan malam. Pikiranku lalu melayang ke Arunika. Aku hanya ingin mencintai Arunika. aku tidak masalah jika akhirnya dia tidak mencintaiku dan hanya menganggapku teman atau seperti keluarganya. Namun, entah mengapa rasanya sangat sulit untuk seikhlas itu. Merelakan cintaku yang hanya kurasakan sendiri.
Tak terasa mobil sudah memasuki pekarangan rumah. Lama aku bersandar dan memejamkan mata sebelum keluar. Rumah tampak sepi. Ternyata ini sudah hampir jam sepuluh malam. Ku urungkan niatku untuk makan malam di rumah sebelah. Ini sudah melewati jam makan malam. Besok pagi saja aku sarapan ke sana. Aku bergegas mandi lalu ke dapur untuk memasak mie kuah instan yang ku beri telur dan irisan cabe. Hanya itu penolong saat lapar jam segini.
"Demi apa coba? Jam segini baru pulang, makan mie instan pula," kata Jeevan mengagetkanku.
"Kamu belum tidur?" tanyaku sambil mengaduk mie di dalam panci.
"Belum." jawabnya singkat.
"Mau mie?" tawarku.
"Nggak. Aku tadi ke sini mau bikin kopi" jawabnya sambil mengambil kopi.
"Secangkir kopi yang nikmat" kataku sambil menuangkan mie instan ke dalam mangkok.
__ADS_1
Aku lalu ke ruang keluarga. Makan mie instan sambil menonton TV sepertinya asyik. Hanya ada acara kriminal yang menceritakan tentang pengedar narkoba. Tidak lama kemudian Jeevan datang dengan membawa dua buah cangkir. Satu cangkir diberikannya kepadaku. Ternyata susu coklat hangat kesukaanku.
"Kanaya gimana Sand?" tanya Jeevan membuka pembicaraan.
"Ya gitu, pemulihan pasca operasi." kataku.
"Terus di rumah sakit sendiri?" tanya Jeevan lagi.
"Jaganya gantian sama Abhi" jawabku singkat.
Lama kami diam sampai aku menyelesaikan makanku dan menghabiskan susu coklatku. Ku tepuk perutku lalu bersendawa. Sangat kenyang dan lega rasanya. Tinggal tidur dan menikmati malam.
"Tadi siang aku sudah nembak Nika" kata Jeevan yang menyentak hatiku.
"Maksudnya?" tanyaku berusaha menyakinkan diri.
"Aku udah bilang ke Nika kalau aku suka sama Nika. Aku mencintainya" kata Jeevan sambil tersenyum tersipu.
"Terus? Nika mau?" tanyaku berpura-pura santai namun entah kenapa jantungku berdegup kencang.
"Belum bilang apa-apa. Aku juga nggak langsung minta kepastian. Kasih waktulah untuk Nika berpikir" jawabnya dengan nada berapi-api.
"Ooo" balasku lalu aku berdiri.
"Cuci piring terus tidur. Capek banget nih" jawabku sambil berlalu.
Selesai sudah mencuci piring, cangkir dan panci. Bisa diomelin mama kalau dapur dibiarkan berantakan. Kurebahkan tubuhku di tempat tidur. Ku ambil handphone ku dan ku buka WA. Ada beberapa laporan dari Abhi mengenai perkembangan Kanaya yang katanya terus menerus menanyakan aku. Ada juga WA dari rekanan bisnis dan teman-teman sekolah. Dengan pantas ku cari Nama 'NIKAKU' lalu ku ketikkan pesan untuknya.
[Tidur nyenyak ya Nika] lalu ku kirim.
Ingin rasanya aku tuliskan tidur nyenyak ya Nika, aku mencintaimu. Namun aku tidak punya nyali untuk itu. Tidak seperti Jeevan yang tanpa beban mengatakan hal itu. Nika akan kasih jawaban apa nantinya? Aku menguap berkali-kali lalu aku berusaha memejamkan mata sampai akhirnya aku terlelap juga.
...****************...
POV Arunika
Rasanya kepalaku pusing. Aku berdiri di depan cermin. Gara-gara menangis semalam mataku jadi sembab. Aku harus bilang apa kalau ditanya bunda? Nanti ku akali saja dengan memakai kacamata. Tidak mungkin aku jujur ke bunda kalau aku patah hati karena Sandyakala.
Aku membuka handphone sebelum aku mandi. Hatiku berbunga-bunga saat ada WA dari Sandyakala. Hal yang sudah lama tidak Sandyakala lakukan. Mengirimiku pesan sebelum dia tidur. Seperti mendapat suntikan semangat. Aku bergegas ke kamar mandi. Mandi sambil bernyanyi dengan riang kemudian memakai seragam sekolahku, mempersiapkan tas dan semua yang harus ku bawa lalu ke meja makan untuk sarapan. Betapa bertambah kebahagiaanku saat Sandyakala ternyata sudah ada di sana menyantap nasi goreng sosis dan ada segelas susu coklat di dekatnya. Rasanya seperti menemukan oasis di tengah Padang pasir. Aku mencoba santai dan bersikap biasa. Segera aku duduk disampingnya dan iseng meminum susu coklatnya.
"Bund, Nika mbegal susuku" teriak Sandyakala.
__ADS_1
"Nika, ambil sendiri punyamu. Kasian Sandy katanya dari semalam nggak makan" kata bunda menanggapi.
"Kasian banget pangeran cinta. Demi princess kesayangan sampai kelaparan" kataku berpura-pura meledeknya. Padahal dalam hatiku tidak rela Sandyakala sampai kelaparan hanya karena Kanaya.
"Princess Disney itu siapa yang paling enak hidupnya?" tanya Sandyakala tiba-tiba seolah berusaha membelokkan pembicaraan.
"Jasmine kali. Enak dia naik karpet terbang. Berasa shining shimmering splendid" jawabku mengimbanginya.
"Bukan!!" kata Sandyakala senang karena aku tidak berhasil menjawab.
"Lalu?" tanyaku penasaran.
"Aurora the sleeping beauty" jawabnya dengan bangga.
"Lho kok bisa?" tanyaku semakin penasaran.
"Ya kan cuma tertusuk jarum lalu tertidur kemudian datanglah pangeran menjemputnya. Dia nggak disiksa ibu tiri, nggak diracun, nggak dibuang ke hutan, nggak ke medan perang. Iya nggak sih?" kata Sandyakala sambil memasukkan suapan terakhirnya.
Aku hanya tersenyum mendengarkan jawabannya. Alasannya bisa diterima. Sungguh pemikiran yang luar biasa.
"Kayak kamu ini, bangun tidur dijemput Pangeran. Ayo buruan selesaikan sarapanmu biar kita nggak telat." kata Sandyakala. Baru ku sadari ternyata Sandyakala memakai seragam sekolah.
"Sandy nggak ke rumah sakit?" tanyaku heran.
"Nanti sepulang sekolah." jawabnya santai.
"Terus Kanaya gimana?" tanyaku lagi.
"Semalam sama Abhi. Tadi pagi aku sudah minta tolong mama buat gantiin Abhi sampai aku pulang sekolah. Nanti pulang sekolah Nika ikut ya," pinta Sandyakala.
"Nika ada janji sama Jeevan" kataku. Terpaksa aku berbohong karena aku tidak mau melihat betapa manjanya Kanaya ke Sandyakala.
"Oh, sama Jeevan? Oke." jawabnya singkat lalu menepuk pipiku.
Kemudian Sandyakala hanya diam membuka handphonenya sambil menungguku menyelesaikan sarapanku. Segera ku sudahi makanku lalu berdiri dan menarik tangan Sandyakala agar kami bergegas berangkat. Di luar tenyata Jeevan sudah menunggu kami. Dia izin untuk berangkat bersama-sama. Biasanya Jeevan lebih memilih menaiki bus. Tapi kenapa pagi ini dia malah ikut dengan kami. Bukannya keberatan hanya saja aku merasa kurang nyaman sejak kejadian kemarin. Aku belum memberinya jawaban karena aku jelas tidak pernah mencintainya namun aku juga tidak enak hati kalau harus menjauhinya.
"Nika duduk di belakang temani aku ya" pinta Jeevan.
"Jangan dong. Kesannya malah Sandy kayak sopir pribadi padahal kita yang nebeng" tolakku halus.
"Nggak papa kalau Nika mau sama Jeevan" kata Sandyakala yang sudah duduk di belakang kemudi.
__ADS_1
"Ya udah, Jeevan saja yang di depan. Ayo buruan biar kita nggak telat" kataku dan memaksa semua untuk setuju.
Mobil melaju di jalan yang lumayan padat. Aku memandangi ke luar jendela mobil sambil berharap semua kegelisahan yang aneh ini segera berlalu.