BISIK HENING CINTA

BISIK HENING CINTA
Buku Harian - Bagian keempat


__ADS_3

POV Sandyakala


Aku kembali ke kamar dan merasa betapa bodoh dan kekanak-kanakan tingkahku tadi. Mengumbar emosi dan membuat Arunika kebingungan. Untuk apa aku meluapkan semua amarah di depan Arunika sedangkan Abhi yang menjadi penyebab kemarahanku sudah tiada. Dia telah pergi dan takkan kembali. Aku lalu mengambil tasku dan mengambil catatan harian Abhi. Masih ada rasa penasaran memenuhi benakku untuk mengetahui kehidupan yang dijalani Abhi bersama Arunika. Aku mengambil posisi rebahan di tempat tidur. Ku buka halaman berikutnya


...****************...


Catatan Abhi


Melati terus mengomel sepanjang hari karena aku menolak untuk minum obat. Aku rasa sudah cukup untukku membebani orang sekelilingku dengan penyakit yang semakin parah ini. Melati menyerah dan melaporkan semuanya ke Nika sampai saat Nika masuk ke kamarku dan mengatakan kalau dia sendiri yang akan merawatku. Aku menolak dengan alasan Abi, tapi menurut Nika ada Mbak Asih yang lebih terampil mengurus bayi, Nika hanya perlu menyediakan ASIP untuk Abi. Nika berjanji tidak akan meninggalkanku selama dalam perawatannya karena menurut Nika aku lebih membutuhkannya daripada Abi. Aku semakin terpukul, haruskan Abi yang dikorbankan hanya karena keputusasaanku? Tapi pasti kamu sudah tahu, walaupun Nika terlihat diam, tapi dia sangat keras kepala. Jika dia sudah memutuskan sesuatu, pasti sebisa mungkin semua harus setuju dan memenuhi keinginannya itu.


Sejak saat itu Nika menjadi sangat sibuk, setiap pagi saat aku masih terlelap, dia sudah sibuk menyiapkan makanan sehat untukku sekaligus membuat MPASI untuk Abi. Memaksa menyuapi ku walaupun aku bersikeras untuk makan sendiri, memapahku ke toilet atau kamar mandi. Dia merawatku dengan sangat telaten dan membuat rasa bersalahku terhadapnya semakin besar. Melihat perjuangan Nika yang sangat bersusah payah menginginkan aku sembuh, akhirnya aku bangkit dari keputusasaan. Aku menyetujui prosedur transplantasi sumsum tulang belakang. Nika sangat bahagia dan bersemangat sekali melihat aku mencoba bangkit. Melihat itu, aku terus berusaha menjaga kesehatanku. Aku harus membahagiakan Nika, itulah janjiku padamu. Sebisa mungkin aku harus sehat, aku tidak ingin lagi merepotkan Nika.


...****************...


Aku rutin melakukan pemeriksaan ke dokter dan meminta Melati yang terus merawatku supaya aku tidak terlalu merepotkan Nika. Awalnya Nika enggan melepaskan, tapi melihat kesungguhan ku akhirnya dia mempercayakan perawatanku kepada Melati lagi dengan catatan jika aku berulah kembali, semua urusan pengobatanku akan diatasi olehnya sendiri.

__ADS_1


Ternyata tidak semudah itu mencari donor sumsum tulang belakang. Keluargaku tidak ada yang cocok. Satu-satunya harapan adalah Abi, namun syarat pendonor harus berusia 18-44 tahun. Apa aku mampu bertahan sampai saat itu? Aku melarang Melati untuk memberitahu Nika tentang masalah ini, namun aku berjanji untuk tetap melakukan pengobatan rutin yang harus aku lakukan.


...****************...


Aku tahu waktuku sudah tidak banyak, aku harus menyelesaikan apa yang harus aku tuntaskan. Aku mendiskusikan dengan ibu mengenai rumahku dan seluruh isinya dan ibu setuju dengan ideku. Semua terserah aku karena semua itu adalah milikku. Aku lalu menelpon Cakra, temanku yang juga seorang pengacara. Aku ingin memberikan seisi rumah itu untukmu, termasuk Vespa kesayanganku dan juga saat kematian memanggilku, aku ingin buku yang ditulis ini bisa selamat sampai di tanganmu.


Aku tahu, mungkin kamu akan menolaknya karena merasa kamu tidak berhak untuk itu, atau mungkin kamu akan berusaha mengembalikannya ke Abi, tapi aku mohon terimalah pemberianku ini. Ibu meminta Nika dan Abi untuk tinggal di rumahnya dan sepertinya Nika lebih nyaman berada di situ.


Ini bukan mengenai nilai materinya tapi aku yakin hanya kamu yang akan bisa dan sangat mampu menolongku mengatasi masalahku ini. Aku akan merepotkanmu kali ini.


Apalagi kamu juga mengenal Pak Oman dan Pak Wan dengan baik. Aku titip mereka sama kamu ya. Tolong perlakukan mereka dengan baik. Jika kamu tidak ingin tinggal di sana, datanglah paling tidak seminggu sekali atau dua kali supaya mereka tidak merasa makan gaji buta. Aku biasa pulang di hari Rabu dan Jum'at. Sehingga di hari itu mereka benar-benar menyiapkan segala kebutuhanku mulai dari rumah yang bersih, baju ganti yang bersih dan makanan yang enak. Atau aku akan tiba-tiba datang saat aku butuh ketenangan tapi mereka tetap akan melayani ku sebaik mungkin


Mengenai uang untuk membayar gaji mereka, aku sudah membahasnya dengan ibu. Semua akan dibayar dari perusahaan kami.


Memang tidak banyak yang bisa dilakukan di rumah itu sendirian, pasti sangat membosankan. Jika bosan melanda, aku suka berada di rooftop tempat ternyaman untuk melepaskan semua penat dan lelah baik tubuh dan pikiran serta memandangi jutaan bintang yang selalu setia menghiasi langit malam.

__ADS_1


Tiba-tiba aku rindu rumah itu. Rindu dengan Pak Oman yang banyak bicara namun gugup saat berhadapan denganku, dan juga dengan masakan Pak Wan yang tidak kalah jika dibandingkan restoran manapun. Rindu bathtube tempat aku berendam saat sakit kepala melandaku dan tempat terbaik untuk menyembunyikan semua kesakitan yang aku rasakan saat itu. Mungkin aku tidak akan pernah bisa kembali lagi ke sana walaupun sebenarnya aku sangat ingin.


Mengenai Vespa, tolong rawatlah dengan baik. Vespa itu yang menemani perjalananku sejak pertama kali aku memutuskan untuk keluar dari rumah orang tuaku dan berpetualang di sisa hidupku. Vespa yang membawaku bertemu dengan manusia-manusia hebat dari berbagai kalangan, termasuk bertemu dengan kamu. Jika kamu tidak ingin memakainya, atur saja supaya bisa jadi pajangan di depan rumah.


Lagi-lagi ada noda darah yang menetes di buku dan tulisan tangannya sangat berantakan.


...****************...


POV Sandyakala


Aku menyesal sudah berprasangka buruk pada Abhi mengenai niatnya memberikan rumah itu padaku. Bahkan aku sudah mengungkapkan semuanya di depan Arunika. Aku malu, sangat malu dengan jalan pikiranku yang sangat picik. Benar kata Arunika bahwa Abhi melakukannya karena dia mempercayaiku dan dia tulus untuk menolong banyak orang.


Betapa baik dan mulianya hati Abhi. Bahkan di saat dia kesulitan dan kesakitan dia masih memikirkan nasib orang lain, apalagi orang-orang yang pernah berjasa dalam hidupnya. Dia tidak ingin karena kepergiannya orang-orang di sekitarnya mengalami kesulitan. Dia sangat peduli dengan semua kesulitan yang dialami orang lain.


Aku menangis tersedu, air mata tidak tertahankan mengalir deras membasahi pipiku. Menyesali perbuatanku yang dengan sangat bodoh menyimpan benci untuknya selama bertahun-tahun. Abhi hanya meminjam kebahagiaanku sebentar karena waktunya tidak banyak. Banyak yang harus diselesaikan dalam waktunya yang terbatas. Lalu aku dengan egois tidak pernah mau peduli. Harusnya aku bangga pernah memiliki sahabat sehebat kamu.

__ADS_1


__ADS_2