
POV Sandyakala.
Kami mengantarkan jenazah Abhi untuk upacara pemakaman. Penghormatan terakhir kami untuknya. Ada penyesalan sangat dalam karena aku telah membencinya sekian waktu dan rasanya ada yang belum selesai di antara kami. Abhi berhutang banyak penjelasan kepadaku. Tentang aku, dia dan Arunika. Tentang waktuku bersama Arunika yang dicurinya dariku. Namun, dari semua itu aku merasa kehilangan yang sangat besar. Seperti ada bagian dari hidupku terbawa pergi bersama perginya Abhi. Dadaku sesak menahan tangis, aku berusaha tegar tapi kesedihan semakin menghancurkan pondasiku.
Arunika terlihat mendampingi Bu Wening yang tampak sangat terpuruk. Matanya terlihat sembab namun dia terlihat sangat tegar. Seorang anak laki-laki terlelap digendongannya. Mungkin anak itu kelelahan karena melakukan perjalanan jauh. Kami berjalan mendekati mereka. Ingin rasanya ku peluk Arunika tapi aku harus menahan diri. Walau bagaimanapun dia itu istri orang. Bunda dan mama mendekati Arunika dan memeluknya. Saat kami mengajaknya pulang, Arunika menolak dan berjanji akan pulang dua atau tiga hari lagi. Kecupan sayang diberikan kepada anak yang tertidur di gendongannya dari sepasang kakek neneknya. Arunika harus tetap tinggal untuk menemani Bu Wening yang baru saja kehilangan anaknya.
Perjalanan pulang juga sangat hening, tiada satupun dari kami yang berbicara, semua menyimpan duka. Tiada satu pun dari kami yang tahu ternyata Abhi mengidap penyakit leukimia sejak lama. Bahkan aku yang mengaku sebagai sahabat juga sama sekali tidak tahu menahu mengenai sakitnya itu. Rasa bersalah semakin menyelimutiku. Sepintar itu Abhi menutupi semuanya dariku. Abhi hanya berbagi kebahagiaan denganku, tanpa pernah membiarkan aku merasakan kesedihannya dan kesusahannya.
Terakhir dia berpamitan denganku adalah saat dia merasa penyakitnya mulai merajai tubuhnya. Lalu di mana aku saat itu? Hanya sibuk dengan diriku sendiri. Lalu membencinya karena dia meminta kebahagiaanku yang nyatanya hanya dinikmatinya sebentar saja.
...****************...
"Sandy, ada yang mencari di ruang tamu," kata mama dari balik pintu.
Aku lalu berganti pakaian rapi dan keluar menemui tamu yang tidak diundang itu. Mama dan papa sudah ada di sana menemani tamu itu. Seseorang yang asing bagiku bergegas berdiri menjabat tanganku dan menyambutku begitu melihat kedatanganku. Penampilannya sangat formal.
"Saya Cakra Ismawan, pengacara dari mendiang Aslan Abhiseva," katanya memperkenalkan diri.
"Sandyakala," kataku walaupun aku yakin dia pasti sudah tahu namaku.
"Kita langsung saja ya. Ini ada wasiat dari Mas Aslan yang harus saya sampaikan setelah pemakamannya untuk saudara Sandyakala." katanya.
__ADS_1
"Wasiat? Mungkin ada kekeliruan. Saya memang mengenal Abhi, maksud saya Aslan. Tapi kami hanya teman tidak ada hubungan lain yang membuat saya layak," jawabku keheranan.
"Tidak mungkin salah, di sini tertulis nama saudara Sandyakala Jingga dan alamat rumah ini,' katanya sambil menunjukkan selembar kertas.
Ku terima kertas itu dari tangannya dan ku baca dengan teliti. Ini memang tulisan tangan Abhi, di bagian bawah ada tanda tangan Abhi di atas materai. Rumah mewah hadiah ulang tahun dari orang tuanya beserta isinya diberikan kepadaku, termasuk Vespa kesayangannya.
"Harusnya ini untuk anaknya, saya bukan siapa-siapa dan tidak berhak menerima ini semua," kataku menolak.
"Wasiat itu dibuat oleh mas Aslan sendiri, saya hanya menyampaikannya," kata Cakra sambil tersenyum.
"Ini juga harus saya serahkan ke saudara Sandyakala," lanjutnya sambil menyerahkan sebuah kotak.
Ku terima semuanya dengan berat hati dan penuh teka teki. Apa maksudmu Abhi? Berhentilah membuatku merasa bersalah
Aku kembali ke kamar setelah basa basi sebentar dengan Cakra. Ku letakkan semua di atas meja lalu berbaring di atas tempat tidurku. Aku lelah hanya butuh tidur sebentar.
...****************...
POV Arunika
Aku baru saja kehilangan teman terbaikku. Aslan Abhiseva. Dia memintaku memanggilnya Aslan, bukan Abhi seperti saat awal bertemu, supaya dia merasa kami dekat. Aslan adalah seutuhnya dirinya, sedangkan Abhi hanya sisa-sisa hidupnya yang diisi sesuai keinginannya. Ada Aslan yang terpuruk menahan leukimia yang bersembunyi dibalik nama Abhi yang santai dan ceria yang berusaha mengisi sisa waktunya dengan berbuat kebaikan dimanapun itu.
__ADS_1
Walaupun sejak awal aku sudah tahu, Aslan akan pergi karena sakitnya dan aku telah berusaha menyiapkan diri untuk hari ini, tapi nyatanya kesedihan tetap saja menyelimuti hatiku. Dua tahun aku hidup bersamanya. Sedetikpun dia tidak membiarkan aku bersedih apalagi terbebani dengan keadaannya. Kini tidak ada lagi kata-kata konyolnya yang menghiburku saat aku lelah. Semangatnya untuk membangun kehidupan yang baik bagi orang sekelilingnya tanpa memikirkan keadaannya sendiri membuatku belajar betapa berharganya setiap detik dalam hidup ini. Bahkan sampai saat terakhirnya, dia masih saja bercanda dan membuatku tertawa.
Padahal saat malam itu sepertinya kesehatannya jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Tidak seperti biasanya, saat malam itu Aslan izin tidur bersama aku dan Abi. Dia memeluk dan membelai Abi yang sudah lelap seolah tidak ingin melepasnya. Dia terus menerus bercerita tentang Sandyakala dan kekonyolan-kekonyolan yang mereka lakukan. Juga tentang Kanaya yang dia rindukan, tentang keinginannya kembali ke rumah sederhananya dan berkeliling menaiki vespanya. Entah apa lagi yang dia ceritakan sampai aku tertidur. Saat aku terbangun keesokan paginya, wajahnya tampak sedikit pucat. Dia tampak tenang, tidak bergerak sama sekali. Tidak ada lagi hangat nafasnya dan tak terasa lagi detak jantungnya. Aku dan suster mambawanya ke rumah sakit dan dokter menyatakan bahwa Aslan sudah tiada. Walau aku sudah berjanji pada Aslan untuk tegar dan ikhlas saat hari kepergiannya, namun tetap saja air mata berguguran. Aku masih ingin menemaninya sedikit lebih lama lagi, tapi jika inilah takdirnya apa yang bisa aku lakukan? Hanya bisa membisikkan terima kasih untuk hari-hari yang sudah kami lalui bersama dan sudah mengizinkan aku untuk masuk di kehidupannya. Aslan orang hebat yang pernah aku temui. Aslan orang baik membuatku tidak menyesal dan bangga memutuskan untuk menjadi ibu dari anaknya. Ini bukan pengorbanan seperti yang Aslan katakan, ini adalah bukti persahabatan yang indah yang aku miliki.
Tadi, saat di pemakaman aku bertemu dengan keluargaku, ayah, bunda, papa, mama dan juga Sandyakala. Ada rindu yang menggebu untuk Sandyakala, ingin rasanya berlari ke pelukannya tapi nyatanya itu sulit. Keadaannya berbeda sekarang, walaupun tiada yang tahu kebenarannya. Tapi statusku saat ini adalah seorang janda beranak satu yang baru seminggu ditinggalkan oleh suaminya. Mana pantas berbuat seperti itu, menyimpan rasa untuk Sandyakala saja sudah sudah tidak layak.
Ku belai lembut rambut Abi, anakku yang tertidur pulas di pelukanku. Dia belum mengerti kalau ayah yang disayanginya sudah tidak bisa lagi memeluknya saat terlena seperti ini.
Abimanyu Wicaksana namanya. Ayahnya menginginkan nama 'Abi' untuknya dan memintaku mencari dari nama tokoh pewayangan. Abimanyu anak Arjuna, yang tidak kenal takut, bersifat lembut, bertingkah laku baik, jujur, berhati teguh, bertanggung jawab, dan pemberani.
Ku rebahkan diri di samping Abi dan ku pejamkan mataku untuk sejenak melepas lelah.
...****************...
POV Sandyakala.
Jam menunjukkan pukul satu dini hari saat aku terjaga. Aku tertidur dari sore dan terbangun di jam segini.Tenggorokanku terasa kering, aku lalu menuju ke dapur untuk mengambil minum dan kembali ke kamar.
Mataku terhenti pada kotak dari Abhi yang aku letakkan begitu saja di atas meja. Rasa penasaran menuntunku membuka kotak tersebut dan isinya adalah sebuah buku yang tebal. Ku buka halaman pertama, terukir tulisan Abhi yang sama sekali tidak rapi namun masih bisa dibaca. Ku buka acak dari halaman depan sampai ke belakang. Tulisannya semakin lama semakin tidak karuan, ini ternyata buku harian Abhi. Aku kembali ke halaman depan, hanya tertulis beberapa kata.
Kisahku untuk sahabat terhebatku Sandyakala Jingga. Kita selalu sahabat seperti Spongebob dan Patrick Star
__ADS_1
lalu aku masuk ke halaman berikutnya.