
POV Jeevan
Ternyata tidak semudah yang ku bayangkan. Walaupun aku selalu berada di dekat Arunika, namun mengapa aku masih merasa dia sangat jauh. Awalnya aku menceritakan isi hatiku ke Sandyakala supaya dia bisa membantuku, tapi nyatanya malah Sandyakala seolah-olah mempersulit langkahku.
Aku lalu duduk di samping Arunika, memperhatikan apa yang dia kerjakan. Banyak yang tidak aku mengerti. Tiba-tiba Abhi masuk disusul oleh Sandyakala dan duduk tepat di depanku.
"Sudah aku putuskan, Jeevan nanti jadi asistennya Abhi" kata Sandyakala dengan tegas
"Kenapa nggak sama Nika saja?" protesku
"Oke..apa yang dikerjakan Arunika?" tanya Sandyakala dengan nada menantang.
"Ya, mana aku tau. Aku kan belum mulai" jawabku sekenanya.
"Justru itu, karena kamu nggak tau apa-apa, kamu harus belajar dulu sama Abhi. Kita ini hampir final lho, sebentar lagi kick off" kata Sandyakala dan aku akui dia sangat berwibawa.
"Nurut aja lah kamu, jangan melawan sama bos" Kanaya ikut menambahkan.
Aku hanya diam, tidak tau harus apa. Sandyakala masih menatapku menanti jawaban. Tiba-tiba, pintu ruang kerja terbuka. Tante Naomi memasuki ruang kerja dengan tatapan aneh
"Ada apa ini? tegang sekali" tanya Tante Naomi sambil menatap kami satu per satu
"Ini Tante, Jeevan mau ikut kerja di cafe" jawab Kanaya dengan sopan.
"Bagus dong, terus Sandy kenapa mukanya begitu?" tanya Tante Naomi lagi.
"Maunya Sandy, Jeevan jadi asistennya Abhi, tapi sepertinya Jeevan keberatan" lagi-lagi Kanaya yang menjawab.
"Gini ya ma, Jeevan itu belum tau apa-apa, jadi bisa diajarin Abhi. Tapi sepertinya Jeevan maunya sama Nika, Nika kan juga masih belajar. Ini tempat kerja, bukan tempat belajar kelompok" kata Sandyakala sambil terus menatapku "Kalau mau kerja ya ikut aturan, jangan malah kerjaan yang ikuti maumu" lanjutnya.
"Ya, kalau kamu keberatan tinggal bilang saja. Nggak usah bertele-tele" jawabku sedikit emosi.
"Gimana sih Van? Sandy itu nggak keberatan, tapi mencarikan solusi buat kamu" Arunika buka mulut juga akhirnya.
__ADS_1
Rasanya aku diserang dari berbagai sisi. Semua mata di ruangan ini tertuju padaku. Sekilas ku lirik Kanaya, berharap bantuan darinya. Namun dia malah sedikit melotot ke arahku dan menatapku tidak senang. Matanya seolah menyalahkan aku.
"Ya, aku pikir-pikir lagi" jawabku hampir putus asa.
"OK.. kamu pikir dulu sampai mateng. Aku, Sandyakala sama Nika harus pergi sama Tante Naomi" kata Abhi dan mereka semua pergi.
Hanya tinggal aku dan Kanaya. Kanaya lalu memukul kepalaku dengan setumpuk laporan yang ada di tangannya.
"Harusnya kamu itu 'iya'in aja maunya Sandy" kata Kanaya
"Ya kalau sama Abhi, jadi nggak sama Nika dong" jawabku sambil mengelus-elus kepalaku.
"Abhi kan kerjanya bareng Nika terus" jelas Kanaya gregetan.
"Kamu nggak bilang sih" jawabku sambil menghela napas
"Dari tadi kan aku sudah bilang, kamu nurut sama bos, terus kenapa kamu masih ngeyel? Masak iya, harus aku jelaskan sampai detail di depan mereka? Ya ketauan dong. Kamu tuh bisa mikir nggak sih?" Kata Kanaya dengan emosi yang meledak-ledak.
Kanaya lalu membereskan berkasnya, memasukkan semua barang-barangnya lalu pergi meninggalkan aku sendiri. Kepalaku rasanya seperti mau pecah, ingin ku maki Kanaya itu. Dia punya ide, tapi tidak memberikan detail apa yang harus aku lakukan, sekarang malah menyalahkan aku.
POV Arunika
Kami akan ke toko kue mama. Iya, setelah cateringnya berjalan dengan sukses, mama membuka toko kue yang lokasinya tidak jauh dari cafe. Sand's Pastry namanya. Aku berjalan sambil menggandeng tangan mama. Sesekali tangan jahil Sandyakala menarik rambutku dari belakang disusul oleh tawa kecil dari Abhi. Aku kagum, Sandyakala yang selama ini selalu usil padaku dan tampak sangat santai ternyata bisa tegas dan sangat berwibawa. Sandyakala juga bisa mengambil keputusan yang sangat tepat. Tadi, dia terlihat seperti orang yang berbeda
Kami menaiki mobil Holden Kingswood tahun 80an berwarna merah milik Sandyakala.
"Kenapa nggak pakai mobil mama aja?" protes mama dengan muka masam
"Berasa jadi temannya Toretto sama O'Conner" jawab Sandyakala
"Kemakan film kamu. Nggak heran mama, kamu bisa klop sama Abhi. Si Abhi bisa beli moge malah ke mana-mana naik Vespa" kata mama dengan nada nyinyir.
"Lebih baik naik Vespa, Tante" jawab Abhi yang membuat kami semua tertawa.
__ADS_1
Handphone ku bergetar, ku buka WA
[Maaf ya Nika, tadi suasana jadi nggak enak] pesan Jeevan
[Santai aja. Kita semua nggak ada masalah kok] balasku.
Lalu ku masukkan kembali handphone ke dalam tasku. Ku lemparkan pandanganku ke luar jendela memandangi kendaraan yang lalu lalang dan gedung-gedung yang tinggi. Mungkin Kanaya sudah pergi dan Jeevan sendirian di cafe. Aku tau, mengapa dia ngotot sekali ingin bekerja bersamaku. Mungkin dia kesepian, tidak punya teman. Menurutku, Jeevan itu seperti aku yang dulu, sangat sulit membuka diri untuk bergaul dengan orang-orang baru. Sudah hampir 3 tahun dia tinggal di kota ini, tidak pernah sekalipun aku melihat dia bertemu dengan orang lain selain dari circle nya sendiri. Jeevan pasti bingung tidak punya teman karena sekarang aku tidak hanya diam di cafe, menghadap laptop dan setumpuk kertas berisi laporan-laporan. Aku juga harus ke sana-sini, mencari kebutuhan cafe dan yang terpenting membangun relasi dengan orang banyak dan menurut Sandyakala sangat berguna untuk kemajuan bisnis.
Ada benarnya keputusan Sandyakala untuk menjadikan Jeevan sebagai asisten Abhi. Lihatlah hasil didikan Abhi terhadapku, perlahan aku mulai punya kepercayaan diri untuk bertemu orang-orang baru. Abhi bisa berteman dengan siapa saja, mulai dari tukang parkir bahkan preman, sampai ke beberapa konglomerat. Siapa yang akan menyangka kalau Abhi yang ke mana-mana menaiki Vespa butut itu adalah pewaris tunggal pemilik hotel ternama di kota ini. Dia masih bekerja di cafe hanya karena dia suka dan nyaman dengan lingkungannya. Abhi bebas melakukan apapun yang dia mau. Mungkin karena itu, hidupnya tampak sangat santai tanpa beban, tapi dia sangat bertanggungjawab.
"Ceritanya Jeevan tadi gimana ya Sand?" tanya mama membuyarkan lamunanku.
"Tanya Abhi tuh" jawab Sandyakala sambil menunjuk Abhi dengan bibirnya.
"Pas Abhi sama Nika di ruang kerja, Jeevan datang, tiba-tiba saja Jeevan mau bantu-bantu, mau belajar kerja di cafe. Terus nggak cocok sama jobdesc dari Juragan Wiro ini" jawab Abhi
"Oalahh..si Juragan Wiromu maunya gimana?" tanya mama sambil terkekeh
"Maunya si Jeevan ikut Abhi, tapi Jeevan maunya ikut Nika. Juragan nggak rela.. .. .."
"Ahh...sudahlah, si Jeevan saja nggak ngerti-ngerti" tiba-tiba Sandyakala memotong perkataan Abhi.
"Juragan Wiro kembali marah-marah" kataku menggoda Sandykala.
"Nika juga, ngapain ikut-ikutan manggil Sandy Juragan Wiro" jawab Sandyakala sewot.
"Jangan terlalu kaku lah Sand, Jeevan itukan sepupumu. Bantulah dia" kata mama serius.
"Mungkin Jeevan nggak nyaman sama Abhi, Jeevan kan bukan orang yang gampang bergaul" kataku menambahkan.
"Eh Sand..Nika belain Jeevan" kata Abhi meledek.
"Belain apa? ini semua karena Jeevan itu nggak ngerti apa-apa tapi nggak mau diarahkan. Kalau dia ikut Abhi kan juga bakal bareng Nika terus" kata Sandyakala dengan nada tegas.
__ADS_1
Semua hanya diam. Karena debat, tanpa terasa mobil sudah masuk ke area parkir dan kami sampai ke tujuan.