BISIK HENING CINTA

BISIK HENING CINTA
KISAH DARI ARUNIKA


__ADS_3

POV Sandyakala


Aku baru tiba di kantor dan seperti biasa aku memeriksa ponselku. Mungkin aku harus memisahkan antara nomer pribadi dan nomor untuk urusan bisnis. Aku mulai dengan pesan dari sekretaris yang mengingatkan ini dan itu. Ya ampun, banyak sekali panggilan dari Arunika yang tidak ku jawab. Segera ku tekan nomornya.


"Nika, ada apa?" tanyaku dengan hati berdebar. Sudah lama sekali nama itu tidak muncul di ponselku.


"Sandy di mana?" dia malah balik bertanya.


"Di PT.," aku menjawab singkat.


"Repot?" tanya seperti ada yang penting yang ingin dia sampaikan.


"Nggak juga, aku baru datang. Ini juga sudah sore," jawabku masih dengan penasaran.


"Boleh Nika ke situ ketemu Sandy?" tanya seperti benar-benar ada yang penting yang tidak bisa ditunda.


"Boleh dong, bebas." jawabku yang kemudian panggilan diakhiri.


Beberapa jam kemudian ponselku berdering lagi dan itu dari Arunika. Heran, apa dia batal ke sini menemuimu? Segera ku jawab telponnya.


"Nih sekretaris nggak izinin Nika masuk, nggak ada dalam agenda katanya," suara Arunika terdengar geram.


Aku keluar dari ruangan dan menemui Arunika di lobi. Arunika berdiri di depan sekretaris sambil sibuk dengan ponselnya. 


"Kamu tahu siapa dia?" tanyaku pada sekretaris yang tertunduk.


"Katanya namanya Arunika, pak," jawabnya sedikit lirih.


"Dia ini putri Pak Rendra, bosmu!" kataku sedikit keras padanya."Nika tuh harusnya sering ke sini, jadi kejadian seperti ini tidak terjadi," kataku ke Arunika dan dibalas dengan muka bengong.

__ADS_1


"Kok jadi Nika yang salah?" Arunika mulai protes.


Spontan ku gandeng tangannya menuju ruanganku. Berpuluh pasang mata tampak curi-curi melihat ke arah kami. Aku tidak peduli sampai kamu masuk ke ruangan dan menutup pintu.


"Harusnya Sandy bilang je sekretaris kalau pak bosnya mau ada tamu," protes Arunika sambil duduk di kursi di depanku.


Ternyata  Arunika hanya ingin memastikan tentang tabrakan yang dialami Kanaya dan menuduh seolah akulah penyebab kecelakaan itu hanya karena aku menolak Kanaya bekerja kembali di cafe. Aku sedikit kecewa, harusnya kami tidak membicarakan tentang Kanaya.


"Sandy nggak kasihan sama Kanaya?" tanya Arunika cukup mengintimidasi.


"Justru jika aku berada di dekat Kanaya dan tidak bisa memenuhi semua keinginan dan harapannya membuat dia makin kasihan dan tertekan, Nika" kataku menegaskannya.


"Dari dulu Kanaya hanya ingin bersama Sandy," kata Arunika menurunkan nada bicaranya. Mungkin dia berharap aku akan luluh.


"Dari dulu aku juga hanya ingin bersamamu, Nika. Tapi apa kamu pernah memikirkanku?" kataku menatapnya dan wajah kami sangat dekat hingga nafas Arunika terasa di wajahku.


Arunika


...****************...


POV Arunika


Mungkin ini saat yang tepat untuk menceritakan semua yang terjadi pada Sandyakala. Jika semua kebenarannya sudah ku ungkap dengan jujur dan pada akhirnya Sandyakala masih menyimpan dendam dan marah, aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


Semua dimulai sejak pertama kali aku pergi ke rumah itu untuk menerima undangan sebagai ucapan terima kasih karena aku sudah membantu Pak Darma. Sejak saat itu aku sering datang ke rumah ini karena aku diizinkan untuk menggunakan perpustakaan pribadi yang menurutku sangat besar dan nyaman. Setelah menghabiskan waktu di perpustakaan aku tidak langsung pulang, tapi aku akan menemani Bu Wening dan mendengarkan ceritanya. Saat itu Bu Wening tidak butuh apa-apa selain teman untuk berbicara yang mau setia mendengarkan cerita dan keluh kesahnya.


Dari situ aku mulai tahu apa yang terjadi di dalam keluarga ini. Dari luar keluarga ini tampak sempurna, harta mereka berlimpah seperti tidak ada yang dikhawatirkan lagi. Tapi siapa tahu derita yang dialami Bu Wening, selain harus mengurus perusahaan yang sangat besar karena suaminya harus fokus pada kesehatan, Bu Wening juga harus memikirkan Aslan yang juga sakit-sakitan sejak kecil. Apalagi sejak Aslan sudah menyerah dengan hidupnya dan memutuskan untuk keluar dari rumah. Untung saja ada Om Alden dan Tante Dhira yang membantu mengarahkan Aslan sehingga dia masih bisa dipantau.


Namun sejak kematian Tante Dhira, Bu Wening kembali frustasi memikirkan  nasib anak semata wayangnya. Namun beliau bisa bernafas lega karena tahu anaknya bergaul dengan orang yang tepat dan membuat hidup Aslan jauh lebih bersemangat.

__ADS_1


Namun timbul kekhawatiran lain, siapa yang akan mewarisi semua harta yang bersusah payah mereka kelola saat semua sudah tiada? Aslan satu-satunya harapan diperkirakan tidak berumur panjang. Aslan harus segera menikah dan sehingga Bu Wening bisa segera menimang cucu, hanya saja Bu Wening tidak bisa menemukan perempuan yang tulus mau merawat Aslan serta mampu mengelola perusahaan. Mereka hanya berfokus pada harta dan kemewahan yang dimiliki daripada memenuhi keinginan Bu Wening untuk memiliki cucu dan mengelola perusahaan mereka.


Karena banyaknya permasalahan yang dialami Bu Wening sering mengalami frustasi dan depresi, walaupun dia terlihat sehat secara fisik, siapa tahu kalau mentalnya tidak sehat. Beliau mengakui saat itu beliau tergantung pada obat-obat yang diresepkan oleh dokter untuknya. Supaya beliau bisa tetap tenang dan untuk mengatasi insomnia.


Sejak Aslan kembali ke rumah, Bu Wening mulai mendesak Aslan untuk segera menikah dan siapa sangka Aslan mengatakan dia mau menikah jika Kanaya bersedia menikahinya namun Bu Wening menolaknya karena walaupun mereka belum pernah bertemu, Bu Wening tahu kondisi Kanaya. Perlu perempuan yang sehat secara fisik dan psikis untuk mengatasi semua masalah keluarga ini.


Sejak saat itu kondisi kesehatan Aslan mulai menurun dan dia memutuskan pamit dari semua yang kehidupan yang dia bangun dengan jatidiri sebagai Abhi. Namun aku masih terus ke rumah Bu Wening dan merawat Aslan, bukan karena aku mencintainya tapi aku mengasihinya sebagai sahabat.


Kesehatan Aslan yang semakin menurun bersamaan dengan kesehatan Pak Darma yang juga semakin memburuk. Bu Wening menjadi bingung harus mengurus siapa, di satu sisi dia tidak mungkin meninggalkan suaminya namun di sisi lain dia membutuhkan sosok yang bisa dipercaya untuk merawat Aslan.


Bu Wening bercerita padaku sambil menangis dan sesekali berteriak histeris. Aku lalu meminta Kak Sandra untuk membawa Bu Wening ke dokter yang biasa menanganinya. Aku lalu merasa kasihan dan sangat terpukul melihat Bu Wening yang bersusah payah dan berjuang sendirian untuk menopang keluarganya. Dia seorang perempuan yang harusnya dilindungi dan dimanjakan malah harus menjadi pilar keluarga.


Saat Bu Wening sudah kembali dan kesehatan mentalnya sudah membaik, aku menyatakan kesediaanku untuk menikahi dan merawat Aslan. Awalnya Aslan menolak dan tidak setuju karena selain ini akan melukai Sandyakala, dia juga tidak ingin menjadi beban hidupku. Namun aku berusaha meyakinkannya bahwa ini bukan lagi tentang aku, dia dan Sandyakala tapi tentang kesehatan jiwa seorang ibu yang memiliki perasaan yang halus. Aku yakinkan Aslan mungkin awalnya Sandyakala akan memendam marah namun jika dia tahu yang sebenarnya terjadi, perlahan dia akan mengerti dan menerima dengan lapang dada.


Sebelum kami menikah, aku mencari info rumah sakit terbaik yang bisa mengobati penyakit Aslan namun itu berada di luar negeri. Untunglah, keluarganya mempunyai hotel di situ dan aku meminta Om Alden untuk mengatur semuanya termasuk pekerjaan di hotel. Segera kami menikah dan tinggal di sana. Kami mengajak Mbak Asih yang baru beberapa bulan bekerja di rumah Bu Wening dan seorang perawat yang bernama Melati.


Status kami suami istri, namun dalam perjalanannya hubungan kami seperti sahabat yang selalu saling dukung dan saling menjaga. Kami sering bercanda dan  bekerjasama dalam segala hal. Sampai saat ajal menjemputnya, Aslan tetap tersenyum dan aku tidak merasa terbebani hidup bersamanya. Aku kehilangan teman baikku yang selalu mengerti perasaanku dan dalam segala keterbatasannya selalu membuat aku bahagia.


...****************...


POV Sandyakala


Aku hanya diam, semuanya masuk akal. Arunika manusia berhati malaikat, yang memiliki simpati dan empati yang tinggi.aku mulai belajar bahwa di balik semua kesedihan ada kekuatan dan kebahagiaan untukku. Aku berdiri dan mendekati Arunika.


"Boleh aku peluk Nika?" kataku meminta izin.


Tak ku sangka, Arunika kemudian berdiri dan melingkarkan tangannya di pinggangku. Ku sambut dirinya dan ku kecup puncak kepalanya. Ku tuangkan semua kerinduanku dalam pelukan ini.


"Aku selalu sayang Nika," kataku berbisik padanya namun dia hanya diam.

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara keributan dari luar ruangan kantorku dan pintu dibuka dengan paksa. Kanaya berdiri di sana disusul sekretaris yang tergopoh-gopoh mengikuti langkah Kanaya dengan muka tegang merasa bersalah.


__ADS_2