
POV Sandyakala
Aku terbangun saat ada pergerakan dari papa. Di dunia ini pasti hanya aku yang sudah sebesar ini tapi tidurnya ditemani papa. Segera saja aku cucu muka dan gosok gigi. Aku lalu memutuskan untuk jogging, hal yang sudah lama tidak aku lakukan. Menghirup udara pagi, dan mungkin aku akan bergabung dengan anak-anak bermain basket di taman. Sudah lama rasanya otot-otot ku tidak ku gerakkan. Suatu saat nanti aku akan mengajari Abi bermain basket dan dia harus menguasai beberapa alat musik seperti bapaknya.
Aku tersenyum sendiri, seperti jatuh cinta lagi, kenapa sekarang otakku selalu diisi oleh bayi lucu itu. Sepertinya saat bertemu dengan Abi, hilang semua rasa lelah dan stress karena pekerjaan. Sudah aku putuskan, setiap sore sepulang kerja aku akan ke rumah Abi untuk bermain dengannya. Abi perlu sosok seorang ayah yang selalu menemaninya dan mengajarinya tumbuh menjadi pria sejati.
Selesai berolahraga kecil, aku kemudian pulang untuk mandi dan bersiap-siap untuk berangkat kerja. Lumayanlah aku bisa langsung ke PT, cafe sudah ada Kanaya yang mengurusnya. Menurutku dia bisa mengatasi semuanya, sangat bisa diandalkan. Kapan aku bisa menarik Arunika untuk bisa membantu di PT ya? Aku kangen untuk bisa berduaan bersamanya. Tapi sepertinya urusan di perusahaan Bu Wening belum beres, terlihat dari wajahnya yang tampak kusut kemarin sore.
Sudah merasa ganteng dan wangi, aku lalu berjalan ke rumah sebelah. Ayah tidak ada, kata bunda ayah sedang sakit kepala jadi tidak ikut sarapan. Aku lalu ke kamar untuk menjenguk ayah yang duduk menatap laptopnya.
"Sakit kok mainan laptop, yah?" tanyaku sambil duduk di samping ayah.
"Baca berita, sekarang udah nggak langganan koran," kata ayah sambil menunjukkan berita olahraga yang dibacanya.
"Ayah kenapa?" tanyaku sambil memijat pundaknya.
"Biasa, Sand udah tua, udah bercucu," kata ayah sambil terkekeh.
"Nggak ah, bercucu kan karena Nika menikah muda," kataku meralat ucapan ayah.
"Sandy, kalau saat Sandy menikah. Cari perempuan yang baik ya, yang nggak hanya sayang sama Sandy, sayang juga sama mama papa, sama ayah bunda juga," kata ayah sambil mengelus kepalaku.
Apa mama papa dan ayah bunda sudah berembug terlebih dahulu ya? Sepertinya dari semalam tema nya adalah pernikahan Sandyakala. Atau hanya kebetulan karena aku yang memulai membahas tentang Arunika yang menikah muda.
"Ayah mau dianterin ke dokter dulu sebelum Sandy kerja? Atau mau dibeliin apa gitu?" tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Udah ada obat, ini udah baikan, cuma ayah males aja bangun, masih nyaman di sini," jawab ayah.
__ADS_1
Aku lalu meninggalkan ayah dan menuju ke meja makan. Sarapanku sudah tersedia dan aku bergegas duduk. Tumben sekali bunda masak semur ayam lagi. Memang ini makanan kesukaanku, tapi bunda tidak pernah mengulang menu yang kemarin dan biasanya selalu berganti setiap hari. Dan biasanya lagi semua ayam untuk menu makan siang atau makan malam. Padahal aku berharap nasi goreng sosis yang sedikit pedas. Tapi, mungkin karena ayah tidak ikut sarapan jadi bunda memasak semua yang aku sukai. Segera ku suapkan ke mulutku dan rasanya kok aneh, tidak seperti biasanya. Ada apa sih dengan bunda, kenapa masakan seperti kurang bumbu begini. Saat berpikir keras, bunda malah datang dan duduk di kursinya.
"Kalau Sandy ganti menu boleh nggak bund?" tanyaku hati-hati takut bunda tersinggung.
"Kenapa?" tanya bunda sambil tersenyum.
"Sandy, pingin nasi goreng sosis. Bikinin dong bund, Sandy tahan deh laparnya," kataku merayu bunda.
"Memangnya semurnya kenapa?" tanyanya bunda.
"Kalau Sandy bilang bunda jangan tersinggung ya, rasanya aneh. Kenapa sih bund?" tanyaku sambil menatap bunda.
"Ya udah, bunda ambilin nasi goreng sosisnya, pakai telor ceplok nggak?" tanya bunda
"Pakai dong bund," jawabku penuh semangat.
Sepiring nasi goreng sosis dan telor ceplok sudah tersedia ditemani segelas susu coklat hangat. Kenyang perut senanglah hati. Semua sesuai keinginan, memang bunda paling top untuk urusan lidah dan perut.
"Review dong semurnya tadi," permintaan bunda yang membuat aku salah tingkah.
"Padahal nasi goreng sosisnya enak seperti biasa, tapi semurnya aneh bund. Ini bunda cicipi deh," kataku sambil menyuapkan semur ke bunda.
"Iya, kurang bumbu ini, Sand," kata bunda dengan wajah aneh.
"Dulu Nika pernah masakin Sandy, tapi kan cuma kurang kecap jadi masih bisa ketolong, tapi ini parah bund," kataku dengan deg-degan takut bunda marah.
"Iya deh, lain kali bunda bilang ke Kanaya," kata bunda yang membuat aku heran.
__ADS_1
"Kok Kanaya?" tanyaku
"Iya, tadi pagi-pagi sekali Kanaya ke sini nganterin ini buat sarapan, tapi bunda juga udah terlanjur masak, cuma belum bunda taro di meja aja," kata bunda.
"Bunda ngajarinnya salah ya?" tanyaku menggoda bunda.
"Kemarin itu baru bunda kasih tahu bumbunya tapi belum takarannya, bunda kan kalau masak nggak punya takaran, pakai feeling aja" kata bunda.
Aku tertawa, memang susah kalau belajar masak sama bunda. Dia pakai feeling, lah kita nggak ada feeling sama sekali. Yang ada cuma I feel i fall in love with masakan bunda. Kanaya juga sok tahu banget orangnya. Bersyukur juga karena aku tidak menyinggung perasaan bunda.
"Besok kasih makan Sandy masakan bunda aja ya," pintaku manja.
"Bahasamu lho Sand, dikasih makan, udah kayak kucing aja," kata bunda sambil tertawa.
Aku lalu pamit dan berangkat kerja. Aku adalah orang paling beruntung di dunia ini karena memiliki dua pasang orang tua yang semua sangat menyayangiku. Dan aku punya Arunika yang sangat istimewa.
Aku punya rencana untuk menarik Arunika kembali ke keluarga ini salah satunya dengan menjebaknya supaya Arunika mau berurusan di PT. Mungkin dia mengurus perusahaan Bu Wening karena Abi, tapi aku ingin dia juga mempunyai rasa memiliki PT yang akhirnya untuk Abi juga. Cukup untuk membungkam Kanaya yang pernah menuduh bahwa Arunika mengincar warisan dari keluarga Pak Darma. Segera ku ambil ponselku dan menghubungi Arunika.
"Nika, nanti main ke PT ya," kataku saat Arunika sudah menjawab teleponku.
"Boleh, kebetulan aku juga sudah selesai dengan laporan di perusahaan ibu," jawab Arunika yang membuatku tambah semangat.
"Jadi bisa pagi ini?" tanyaku.
"Bisa, kebetulan Om Alden juga nggak bisa ngantor jadi pagi ini aku kosong" jawab Arunika.
"Ya udah, kamu tunggu di situ biar aku jemput," langsung aku putuskan tanpa menunggu persetujuan dari Arunika.
__ADS_1