BISIK HENING CINTA

BISIK HENING CINTA
KERINDUAN


__ADS_3

POV Sandyakala.


Si Abhi pulang langsung tidur, bangun tidur langsung mandi dandan ganteng dan wangi banget lalu pergi lagi dan cuma meninggalkan pesan supaya aku tidak pergi ke mana-mana. Padahal ketika seharian dia pergi aku sempat pulang ke rumah untuk ambil pakaian ganti dan pamit sama papa mama kalau aku mau pergi bersenang-senang. Untunglah saat Abhi pulang tadi aku sudah kembali lagi ke sini. Tidak seperti biasa, Abhi pergi menggunakan mobil, vespanya seharian diam di garasi. Dia pun tampak bahagia seperti dapat jackpot di Timezone.


Aku berkeliling untuk membunuh kebosanan. Di rumah ini ada beberapa pelayan dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Sepertinya dibuat supaya pelayanannya seperti di hotel mewah. Aku lalu bertemu dengan Pak Oman, kepala pelayan di rumah ini yang sedang sibuk menutup jendela dan menyalakan lampu di rumah yang sangat besar ini.


"Pak Oman sudah lama kerja di sini?" tanyaku sambil membantu Pak Oman untuk mengisi waktu.


"Sudah sejak Mas Abhi usia 2 bulan" jawabnya sambil sesekali memohon padaku untuk tidak membantunya.


"Mama Papa nya Abhi kok nggak pernah kelihatan?" tanyaku mencari tahu.


"Ya di rumah mereka." jawab Pak Oman mulai santai.


"Lho? Terus ini rumah siapa?" tanyaku keheranan.


"Rumah Mas Abhi. Bapak dan ibu di rumah satunya. Rumah ini kado ulang tahun untuk Mas Abhi saat usianya tujuh belas tahun." kata Pak Oman menjelaskan.


Aku jadi semakin bingung dengan jalan pikiran Abhi. Dia punya rumah semegah dan semewah ini dengan banyak pelayan tapi malah tinggal di tempat yang terlalu sederhana.


"Tapi Abhi jarang di sini ya, Pak?" aku melanjutkan percakapan kami.


"Mas Abhi nggak betah di sini. Katanya sepi." jawab Pak Oman. "Mas Abhi butuh teman buat cerita, bercanda yang yang begitu-begitu itu." lanjut Pak Oman


"Begitu-begitu itu gimana?" tanyaku sambil tertawa.


"Ya seperti Mas Sandy ini. Sejak Mas Sandy di sini kelihatannya Mas Abhi itu cahaya wajahnya lebih hidup. Ketawa terus, ceria banget. Kita pelayan sungkan kalau mau akrab dengan Mas Abhi." jawab Pak Oman sambil tersenyum.


"Setahu saya Abhi memang ceria, hidupnya seperti tidak ada beban" kataku.


Pak Oman lalu pamit untuk memantau kerjaan dapur. Ada pesanan khusus dari Abhi yang harus dikerjakan. Aku lalu mengikuti Pak Oman meskipun Pak Oman berulang kali melarangku.

__ADS_1


Dapurnya seperti dapur di restoran yang ada di TV-TV. Ada Pak Wan yang bertugas memasak di sini yang ternyata koki dari salah satu restoran yang dikelola oleh keluarga Abhi. Saat asyik membantu atau tepatnya mengganggu Pak Wan, Abhi datang dan menegurku, "Ngapain di sini?".


"Layangan! Mau ikut?" tawarku.


"Nggaklah! nanti kalau mainan gundu bilang-bilang ya" balas Abhi yang disambut tawaku dan Pak Wan.


"Ke Rooftop yuk. Serahkan acara masak memasak ke Pak Wan yang memang ahlinya." ajak Abhi.


Aku lalu meletakkan semua yang ku pegang, mencuci tangan lalu mengikuti Abhi. Abhi memintaku untuk naik terlebih dahulu karena ada sesuatu yang harus diambilnya di kamar.


...****************...


POV Arunika.


Aku tidak tahu ke mana Abhi membawaku dengan mata tertutup sejak dari rumah sampai ke sini. Ini seperti berada di atap sebuah gedung. Aku duduk di kursi setelah mataku dibuka dan Abhi pamit untuk pergi sebentar. Ku pegang erat kado yang kusiapkan untuk Sandyakala. Langit senja berwarna jingga tampak sangat indah. Terdengar langkah kaki menuju ke arahku. Segera ku balikkan badan dan menemukan sosok yang ku rindukan berjalan pelan mendekatiku. Matanya menatapku seolah tak percaya aku ada di sana. Ku berikan senyumku untuknya.


"Selamat ulang tahun, Sandy" kataku sambil menyerahkan kado untuknya saat di sudah berada tepat di depanku.


"Nika?" tanyanya dengan nada masih tidak yakin bercampur haru.


"Iya, dan aku Sandyakala Jingga," balasnya sambil tersenyum dan mengambil kado dari tanganku.


"Boleh aku peluk Nika?" tanyanya meminta izin dan ku jawab dengan anggukan kepala.


Bisa ku rasakan tangan Sandyakala melingkar di pinggangku dan dagunya menempel di puncak kepalaku. aku merasakan kecupan lembut mendarat di puncak kepalaku. Aku lalu membalas pelukannya. Ku benamkan wajahku di dada Sandyakala. Sikap Sandyakala sangat hangat, terasa luapan kerinduannya. 


"Maafin Nika ya Sandy, sudah membuat Sandy sedih dan kecewa saat terakhir Sandy memeluk Nika" kataku dalam pelukannya dan tanpa bisa ku kendalikan air mataku jatuh lagi.


"Aku yang minta maaf karena tidak bisa memenuhi janjiku." Kata Sandyakala sambil memelukku semakin erat.


Ku nikmati hangat peluknya. Sesekali terasa tangannya membelai rambutku. Tangan yang biasanya menarik rambutku dengan usil namun di hari ini memperlakukanku dengan lembut. Perlahan aku mendongakkan kepala, menatap wajah ganteng Sandyakala lebih lekat lagi.

__ADS_1


"Bisa bertemu Sandy itu suatu kebahagiaan buat Nika. Kita nggak perlu pergi jauh karena di manapun itu asalkan kita bisa bersama itu sudah lebih dari cukup" kataku sambil pelan melepaskan pelukanku.


Sedikit terkejut, ternyata air mata juga membasahi pipi Sandyakala. Ku hapus air matanya dengan lembut dan ku berikan senyum kebahagiaan untuknya. Tidak ada kata yang mampu ungkapkan perasaanku saat ini. Lama Sandyakala menatapku dengan senyum dan mata berbinar. Tangannya terus menggenggam jemariku seolah tidak ingin dilepaskannya.


"Aku sayang Nika, Sangat sayang Nika" bisik Sandyakala perlahan yang membuat aku merasa tersihir, seluruh tubuhku rasanya lemas tak berdaya.


"Aku hanya ingin Nika tahu kalau aku sayang Nika. Terserah Nika mau mengartikan sayangku seperti apa. Bisa dianggap teman sebaya, mungkin adik kakak atau bahkan kekasih" lanjut Sandyakala.


"Nika juga sayang Sandy. Sayang Sandy sebagai segalanya." jawabku sambil tersenyum dan menatap ke dalam matanya. Lega rasanya bisa mengungkapkan itu kepadanya. Sandyakala lalu  mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Terasa hangat hembusan nafasnya di kulit wajahku. Aku berusaha mengendalikan detak jantungku lalu aku memejamkan mata. Dapat aku rasakan bibir Sandyakala menempel di keningku sangat lama. Perlahan Sandyakala melepaskan ciumannya. Dia menatapku dengan tatapan yang hangat lalu menyentuh pipiku lembut.


"Duduk yuk" ajakku.


Kamu duduk berdampingan di kursi santai. Sandyakala menarik tubuhku agar lebih mendekat ke dirinya, melingkarkan tangannya ke bahuku, merengkuhku. Aku tersenyum kecil, merasa sangat hangat dengan perlakuan manis Sandyakala. Aku lalu menyandarkan kepalaku di bahunya.


"Aku buka kadonya ya," izinnya.


"Sejak kapan buka kado di depan pemberinya?" protesku tidak setuju.


"Tapi, Aku nggak punya kado untuk Nika. Atau aku bungkus diriku sendiri saja ya untuk kado Nika?" kata Sandyakala semangat.


"Repot bawanya" tolakku bercanda dan kami tertawa bersama.


"Kok Nika bisa sampai sini? Ini tuh markas rahasia lho" tanya Sandyakala di sisa tawanya.


"Di ajak Abhi. Bisa dibilang tadi Nika seharian sama Abhi. Pantesan juga tadi sepanjang jalan mata Nika ditutup. Ternyata ini markas rahasia" jawabku sambil memainkan jari-jarinya.


Baru saja dibahas Abhi muncul sambil berdeham. Ku angkat kepalaku dari bahu Sandyakala namun Sandyakala masih merengkuh bahuku.


"Pada lapar nggak?" tanya Abhi sambil berjalan ke arah kami


"Mau diajak makan nggak?" kata Sandyakala balas bertanya.

__ADS_1


"Turun yuk, ke ruang makan" ajak Abhi.


Aku dan Sandyakala lalu berdiri dan mengikuti langkah Abhi. Langit yang tadinya jingga sudah berubah gelap namun dihiasi indahnya taburan bintang. Malam ini semua tampak indah seindah perasaanku yang berbunga-bunga.


__ADS_2