
POV Sandyakala
Kanaya sudah lumayan lama keluar dari rumah sakit dan hanya perlu rawat jalan. Namun dia seolah memanfaatkan keadaan dan seperti menuntutku harus merawatnya dengan alasan tidak ada yang merawatnya. Akhirnya aku putuskan untuk menghubungi Om Alden untuk meminta solusi. Aku tidak mungkin untuk terus menerus menjaganya seperti memiliki anak bayi padahal seharusnya dia sudah bisa mengurus dirinya sendiri. Akhirnya Om Alden memutuskan untuk mempekerjakan seorang ART. Akhirnya aku bisa bernapas lega sampai di suatu malam setelah cafe tutup dan kami semua sudah bersiap-siap untuk pulang.
"Jadi kamu yang minta Om Alden untuk punya ART?" bentak Kanaya dengan nada sangat tinggi sampai semua karyawan memusatkan perhatian ke arah kami.
"Iya." jawabku mencoba santai.
"Maksudnya apa?" tanya Kanaya dengan emosi yang meluap-lupa.
"Eh, kamu tuh ya. Hidup Sandy itu bukan cuma untuk mengurusmu. Emangnya kamu siapa?" bantah Abhi tidak kalah emosi.
"Kamu jangan ikut campur ya." kata Kanaya sambil berusaha mendorong tubuh Abhi namun tidak berhasil.
"Iya, banyak hal lain yang ingin aku lakukan. Aku merasa terkekang. Waktuku jadi terbatas" jawabku membela diri.
"Kan kamu yang bilang kalau kamu mau menjaga dan merawatku sampai aku sembuh" sela Kanaya.
"Kamu sudah sembuh kan? Udah bisa dandan cantik begini, bisa kesini sendiri. Bisa teriak-teriak sama orang." Balas Abhi tidak mau kalah.
Aku lalu menarik Abhi dan mengajaknya meninggalkan Kanaya. Biar saja dia histeris sendiri seperti orang sakit jiwa.
"Ini semua karena aku cuma mau kamu itu untuk aku. Aku mencintaimu Sandy" teriak Kanaya sampai seluruh cafe mendengarnya. Abhi berusaha melawannya tapi aku cegah. Lebih baik pergi daripada meladeni Kanaya. Bisa tertular sakit jiwa.
"Sinting Kanaya. Ada orang mencintai seperti itu?" Abhi ngedumel saat kami sudah aman di atas Vespanya.
"Iya, ngeri banget," balasku sambil terus tertawa.
"Seneng ya kamu? Ya ampun dicintai sampai segitunya" kata Abhi ikut tertawa.
__ADS_1
Aku hanya mampu menggelengkan kepala mengingat perbuatan Kanaya barusan. Bagiku itu sangat memalukan. Marah dan berteriak histeris di tempat umum. Belum terlalu jauh kami berjalan, handphoneku berbunyi dan ada panggilan dari cafe. Aku meminta Abhi untuk menepi sebentar. Sungguh mengagetkan! Dari cafe melaporkan kalau Kanaya memarahi semua karyawan dan membuat cafe menjadi berantakan. Dia masih berada di sana, menangis dan tidak mau pulang. Tidak ada yang berani membujuknya.
"Ngadi-adi!" kata Abhi setelah aku memberitahunya.
"Kita balik cafe aja. Kasian teman-teman yang masih di sana" saranku cemas.
"Nggak perlu nanti Kanaya malah ngelunjak." kata Abhi sambil mengacak-acak tasnya mencari sesuatu.
Setelah menemukan handphonenya, Abhi lalu membuat panggilan. Wajahnya tampak sangat serius. Ada sorot amarah di matanya. Baru kali ini aku melihat Abhi seperti ini.
"Halo, Om. Maaf Om, Om sudah kembali kan?" kata Abhi begitu telpon tersambung "Kanaya, Om. Dia ngamuk di cafe. Dia bikin masalah sama Sandy. Sandy sekarang aman sama aku. Om bisa bantuin? Kasihan karyawan lainnya kena imbasnya" kata Abhi lagi lalu diam mendengarkan. "Ya, terimakasih Om" lanjut Abhi lalu mengakhiri panggilan.
Abhi lalu menyalakan Vespanya dan melanjutkan perjalanan. Tapi kali ini tidak menuju ke rumah dan tidak juga kembali ke cafe namun masuk ke area perumahan elite. kami masuk ke salah satu rumah yang bernuansa putih serta bergaya Eropa klasik dengan pilar-pilarnya yang besar. Abhi lalu mengajakku masuk. Ada seorang pelayan yang bergegas menyambutnya sambil membungkuk memberi hormat. Tapi ada perasaan tidak suka dari raut wajah Abhi diperlakukan seperti itu. Aku hanya bisa membuntuti Abhi. Tidak tahu ini di mana dan entah mengapa aku juga tidak berani untuk menanyakan ke Abhi. Abhi mengajakku ke kamar tidur yang sangat luas. Ada ranjang ukuran besar, ada TV dan sofa serta ada kulkas mini berisi minuman soda. Kamar mandinya juga dilengkapi dengan bathtub. Persis seperti kamar hotel kelas atas. Aku masuk lalu duduk di sofa.
"Bi, tolong siapin makan dua porsi ya. Nanti dianter ke rooftop" kata Abhi lewat telepon.
Abhi lalu mengajakku ke rooftop, ada tempat duduk yang nyaman dan ada juga kolam renang yang lumayan besar. Hamparan langit bertabur bintang-bintang terlihat terang dan indah.
"Kenapa?" tanyaku penasaran.
"Biar kamu aman dari Kanaya" jawabnya santai.
Tidak lama kemudian, datang seorang lelaki berbusana koki membawa makanan menggunakan troli. Persis seperti di rumah sakit.
"Kita makan dulu. Nanti baru aku ceritakan semua" kata Abhi. Aku mengangguk tanda setuju.
...****************...
Ternyata Tante Dhira, istri Om Alden adalah tantenya Abhi. Tante Dhira adalah adik kandung dari ayahnya Abhi. Sebelum menikah, Tante Dhira pernah mengidap kanker rahim sehingga rahimnya terpaksa diangkat. Jadi dari awal Om Alden sudah tahu kalau Tante Dhira tidak bisa hamil, namun karena cintanya yang luar biasa akhirnya mereka menikah juga. Tante Dhira jugalah yang mengajak Om Alden untuk mengasuh Kanaya.
__ADS_1
Sejak kelahiran adik tirinya, Kanaya mengalami trauma psikis. Memang tidak ada yang tahu kalau psikisnya terganggu karena dia berpenampilan normal namun dia memiliki temperamen yang sulit diprediksi dan cenderung anti sosial. Dia memiliki sifat narsistik tertentu, seperti penuh pesona, manipulatif, egois, terlalu percaya diri, merasa lebih baik dari orang lain, dan sombong. Dia tidak ingin disaingi dan terlalu terobsesi pada seseorang.
Maka dari itu Kanaya tidak pernah bersekolah di sekolah umum. Hingga saat ini Kanaya masih menjalani homeschooling. Itu juga yang menjadi alasan kenapa Tante Dhira mengajari Kanaya bisnis sejak Kanaya masih sangat kecil. Supaya Tante Dhira bisa bekerja sambil terus mengawasi Kanaya. Saat Tante Dhira mulai didiagnosa kanker payudara, saat itu Tante Dhira mulai khawatir dan meminta Abhi untuk ikut mengawasi dan menjaga Kanaya. Ternyata selama ini Abhi main band di cafe bukan karena ingin membeli Vespa seperti yang dia gembar-gemborkan. Ternyata semua ini supaya di bisa punya alasan untuk masuk ke cafe dan untuk menutupi identitas Abhi. Tidak ada satupun karyawan cafe yang tahu kalau Abhi adalah keponakan Tante Dhira karena jika sampai hal itu diketahui oleh Kanaya, psikisnya bisa terganggu karena merasa Abhi adalah saingannya. Kanaya tidak akan rela jika Om Alden dan Tante Dhira membagi kasih untuk Kanaya dan Abhi. Perlahan Om Alden juga mengajari Abhi mengelola cafe dengan alasan harus ada dua divisi, divisi Administrasi dan divisi Marketing dan Humas. Kanaya bisa menerima alasan itu tanpa curiga apapun ke Abhi.
Saat Cafe diambil alih oleh ku dan mama meminta Kanaya tetap bekerja di sana. Abhi juga memintaku untuk dia bisa tetap membantu di cafe supaya dia bisa terus mengawasi dan mendampingi Kanaya.
Sejak pertama melihatku, Kanaya sudah menyukaiku dan itu yang membuat Abhi selalu waspada serta selalu berusaha menjauhkan Kanaya dariku. Supaya Kanaya tidak banyak berharap kepadaku dan supaya Kanaya tidak kecewa. Sayangnya, saat kecelakaan itu aku memberi Kanaya banyak waktu dan membuatnya salah paham.
...****************...
"Kanaya nggak tahu rumah ini, kalau dia mencariku pasti ke kontrakan" kata Abhi sambil pandangannya lepas menatap langit luas.
"Kenapa nyari kamu?" tanyaku.
"Eh Juragan Wiro, Kanaya kan tahunya kamu sama aku berdua-dua naik Vespa keliling kota sampai binaria" jawab Abhi.
"Ini rumahmu?" tanyaku sambil tertawa.
"Ini rumah orang tuaku. Kalau kontrakan itu baru rumahku" jawab Abhi.
"Kontrakan atau rumahmu?" desakku mulai bingung.
"Rumahku. Aku ngakunya ngontrak. Udahlah jangan banyak tanya. Ayo tidur, aku udah ngantuk" ajak Abhi sambil berdiri dan pergi.
"Kenapa sih kamu selalu manggil aku Juragan Wiro?" kataku sambil berjalan di samping Abhi.
"Nggak tau, kayaknya cocok aja di kamu" kata Abhi santai sambil terkekeh.
Dasar Abhi, tidak jelas sama sekali. Aku lalu mengambil handphone dan mengirimkan WA ke Pak Santo supaya besok pagi mengantarkan Arunika ke sekolah. Aku juga menyampaikan ke Pak Santo kalau aku sekarang bersama Abhi supaya tidak membuat semua orang khawatir.
__ADS_1
Abhi sekaya ini tapi kenapa dia selalu menutupinya? Dia hanya menaiki Vespa ke mana-mana dan tinggal di perumahan tipe 45 di pinggiran kota yang katanya kontrakan namun ternyata rumahnya sendiri. Kalau mama tidak menjalin kerjasama dengan hotel milik keluarga Abhi, mungkin sampai detik ini aku tidak tahu kalau Abhi pewaris tunggal perusahaan yang luar biasa. Apalagi saat masuk ke rumah ini. Aku bertambah kaget. Sekaya apa sih dia?