BISIK HENING CINTA

BISIK HENING CINTA
RENCANA KANAYA


__ADS_3

POV Kanaya


Desember tinggal menghitung hari, aku tidak mau ikut campur lagi untuk persiapan apapun. Kita lihat saja, sejauh apa kemampuan Arunika menangani semuanya. Arunika hanya beruntung karena dia adalah anak dari Pak Rendra dan kesayangan Tante Naomi, tapi dari segi kemampuan, jelas aku lebih unggul. Lihat saja si cupu itu, apa bisa dia bernegosiasi dengan partner atau relasi yang lain? Arunika itu cenderung tertutup, tidak pintar bergaul dan lihat saja penampilannya. Tidak menarik sama sekali. Rasa tidak suka ke Arunika semakin menjadi, apalagi karena persiapan untuk natal dan tahun baru, dia semakin dekat dengan Sandyakala. Sangat susah untukku mencari celah untuk masuk lagi.


"Nika mana?" tanya Jeevan tiba-tiba mengagetkanku


"Mungkin meeting" jawabku malas


"Kamu nggak ikut meeting?" tanyanya penasaran.


"Aku kan nggak penting" jawabku dengan nada ketus.


"Nggak penting gimana? Bukannya selama ini kamu banyak.membantu?" tanya Jeevan mendesak.


"Nggak penting juga buat kamu untuk tahu" jawabku sambil berlalu pergi.


Mood ku sedang sangat buruk. Jika bukan karena ingin bersama Sandyakala, malas rasanya aku ke cafe ini. Bukankah sebaiknya aku ikut Om Alden untuk mengurus bisnis propertinya?


Ternyata Jeevan mengikutiku dan menghalangi jalanku. Tiba-tiba muncul ide brilian di kepalaku. Aku lalu mengajak Jeevan pergi ke tempat lain untuk membicarakannya. Kami memutuskan untuk pergi ke restoran cepat saji terdekat.


"Kamu nggak ada niat bantuin kerjaan di cafe?" tanyaku membuka pembicaraan.


"Ngapain?" Jeevan malah balik bertanya


"Kamu tau tidak, sekarang itu Nika sama Sandy semakin dekat, karena apa? Ya karena ada kepentingan pekerjaan" kataku mencoba menjelaskan.


"Bukannya selama ini kamu juga kerja di sana, semua urusan dengan Sandy, kamu yang pegang?" Jeevan malah bertanya lagi.


"Untuk agenda bulan Desember, semua dipegang Sandy sama Nika. Nah, kamu kan sepupunya Sandy, ya kan ada alasan kuat. Pura-pura belajar bisnis kah, atau mau bantu untuk balas budi mungkin" kataku memberi masukkan.


"Terus kalau aku kerja di sana, dapat apa?" tanya Jeevan


"Kamu rusaklah rencana mereka" kataku mulai memprovokasi Jeevan.


"Gila kamu Kanaya, mana berani aku. Maksudmu mau bikin cafe bangkrut?" Jeevan mulai sedikit emosi.

__ADS_1


"Bukan itu maksudnya, ini mengenai rencana acara ulangtahun Sandy dan Nika. Aku juga nggak mau kalau cafe bangkrut" dengan tenang aku menjelaskan ke Jeevan.


"OOO" jawab Jeevan singkat tanda mengerti."Lalu apa yang harus aku lakukan?" lanjut Jeevan bertanya.


"Kamu ini banyak tanya, ya kamu pikirlah sendiri" kataku.


Ku selesaikan minumanku lalu pergi meninggalkan Jeevan. Pantes saja Arunika tidak pernah tertarik dengannya. Orangnya tidak ada insiatif sama sekali, dia yang mau mendekati Arunika, aku yang harus memikirkan semuanya?


...****************...


POV Jeevan


Kanaya ini maunya apa? Tidak jelas sama sekali. Dia yang berharap pada Sandyakala, tapi aku yang harus bersusah payah. Tapi kalau aku pikir lebih lanjut lagi, memang ada baiknya membatalkan rencana ulangtahun Sandyakala, kalau bisa. Aku akan berbuat seolah semua salah Sandykala sehingga Arunika akan sangat kecewa dengannya. Tapi aku belum mendapat gambaran apapun untuk ini. Langkah selanjutnya pikirkan nanti saja, yang penting sekarang aku bisa bergabung dan bekerja di cafe.


Segera aku kembali ke cafe, di ruang kerja hanya ada Arunika dan Abhi sedang sibuk membahas mengenai dekorasi untuk ruangan. Abhi menginginkan suasana yang mewah dan gemerlap, namun Arunika menginginkan suasana yang sederhana dan terkesan syahdu, anggun dan elegan. Tidak terlihat Sandyakala di sana. Aku langsung duduk di samping Arunika. Melihat konsep White Christmas dengan lampu sedikit redup dengan musik instrumental. Sedangkan konsep Abhi yang sangat merah meriah, dengan pohon natal, kado-kado dan sinterklas serta lagu natal yang dinyanyikan oleh homeband yang tentu saja minimal memakai topi santa.


"Boleh aku bantu-bantu?" aku berusaha memulai percakapan.


"Maksudnya?" tanya Abhi heran.


"Ya, aku bosan saja selama ini di cafe hanya wira-wiri nggak jelas. Sekalian belajar kerja kayak kalian" kataku mencoba basa-basi.


Ternyata semudah ini masuk, mungkin benar kata Kanaya, karena aku sepupu Sandyakala, jadi tidak ada kesulitan sama sekali. Tapi aku malah bingung, aku harus mulai dari mana, karena jujur sebenarnya aku tidak tertarik sama sekali. Pikiranku buyar saat Sandyakala masuk disusul oleh Kanaya. Kanaya sedikit melirik kepadaku seolah menanyakan hasil usahaku.


"Sand, si Jeevan katanya mau bantu-bantu" kata Abhi begitu melihat Sandyakala.


"Ya udah, biar bantuin cuci piring" kata Sandyakala sambil tertawa diikuti Abhi.


"Aku serius Sand" kataku ke Sandyakala dengan tegas.


"Tiba-tiba sekali, kenapa nggak dari dulu Van?" tanya Sandyakala sambil menatapku tajam.


"Mungkin dulu belum kepikiran" kata Arunika berusaha membelaku.


"Lah terus dia mau bantu apa?" tanya Sandyakala ke Arunika.

__ADS_1


Namun Arunika hanya diam dan seolah berpikir keras. Memang aku tidak punya bakat atau kemampuan apapun yang bisa diandalkan untuk urusan penting seperti ini.


"Biar dia jadi asistennya Nika" usul Kanaya berusaha membantu.


"Kan ada Abhi?" jawab Sandyakala seperti keberatan.


"Ya Abhi kan biasanya sama kamu Sand" bantah Kanaya.


"Biar si Jeevan bantuin kamu, kan sejak Nika ikut di sini nggak ada yang bantuin audit keuangan kan?" kata Sandyakala ke Kanaya.


"Aku tuh nggak perlu dibantuin siapa-siapa" jawab Kanaya.


Tujuan utamaku untuk selalu mendampingi Arunika, kenapa malah disuruh sama Kanaya? Aduh, bisa kacau semua rencana ku. Tak semudah yang ku kira. Kulihat Kanaya yang sedikit melotot ke arahku. Kanaya ini lama-lama menyebalkan, tidak banyak membantu tapi selalu menuntut. Aku balik memberikan isyarat ke Kanaya dengan gerakkan kepala. Kanaya malah membuang muka.


"Yang begitu-begitu kan cocok nya untuk cewek, Sand" kataku asal.


"Ya udah, kamu bantuin Abhi saja sesama cowok" kata Sandykala yang sekali lagi mematahkan semangatku.


Aku hanya bisa diam, alasan apa yang bisa ku utarakan supaya aku bisa kerja sama Arunika.


...****************...


POV Sandyakala


Ada-ada saja si Jeevan, si anak manja yang sukanya hura-hura dan rebahan ada hati mau bantu-bantu kerja. Aku tau ke arah mana pikirannya. Sejak Arunika sibuk dengan urusan cafe, Jeevan jadi tidak punya banyak waktu untuk bersama Arunika. Kalau dia ikut Arunika, dia jadi bisa dekat-dekat Arunika terus. Maaf ya Jeevan, untuk urusan pribadi dan pekerjaan tidak bisa dicampur aduk. Harus profesional. Selain itu, aku perhatikan juga Arunika tidak pernah nyaman saat ada Jeevan. Dia jadi kurang bebas berekspresi. Lebih baik Arunika sama Abhi, dia lebih lepas dan santai.


Aku menyenggol siku Abhi dan memberikan isyarat supaya dia mengikutiku keluar, menuju ke kost cafe. Saat aku pastikan hanya ada kami berdua di balkon aku memulai pembicaraan.


"Tadi kamu setuju Jeevan bantu-bantu" tanyaku ke Abhi.


"Nika yang ACC" jawab Abhi.


"Jeevan nggak niat kerja, dia cuma mau dekat-dekat Nika" kataku.


"Dan sang pangeran pun terbakar api cemburu" sambung Abhi menyalakan korek api di tangannya.

__ADS_1


"Bukan itu, kita ini kerjanya serius, masak iya ada yang main-main kita diamkan saja?" jawabku sambil meniup korek apinya.


Abhi malah tertawa, aku bertanya pada hatiku. Iya memang ada perasaan tidak rela kalau Jeevan selalu ada di dekat Arunika. Jeevan selalu bilang kalau dia menyukai Arunika, tapi aku ragu, apakah Jeevan mampu menjaga dan menyayangi Arunika dengan baik? Apa Arunika bahagia dan nyaman saat berada di dekat Jeevan?


__ADS_2