
POV KANAYA
Sepertinya Tante Naomi mulai memihak padaku. Saat ini Sandyakala bisa menolak, namun anak mana yang bisa menolak keinginan ibunya? Tidak mengapa kali ini aku pulang sendiri, tapi suatu saat nanti Sandykala akan tunduk padaku dan ikut ke manapun aku pergi. Tinggal tunggu waktu yang tepat saja, dekati semua orang terdekat, seperti melakukan voting dengan suara terbanyak, siapa bisa menolak?
"Nggak apa-apa tante," kataku menolak halus.
Arunika malah menawarkan untuk mengantarkan ku pulang, karena sebenarnya kami memang searah. Aku juga harus berusaha baik dengan Arunika karena dia juga sangat dekat dengan Sandyakala. Aku akan membuat Arunika setuju dan bahkan merestui hubunganku dengan Sandyakala.
"Nggak merepotkan nih?" tanyaku berbasa basi.
"Nggak dong, kan aku yang nawarin," jawab Arunika sambil tersenyum.
Akhirnya aku pulang bersama Arunika. Selama di perjalanan aku berusaha menahan diri untuk tidak membahas mengenai Sandyakala. Aku cenderung memuji-muji bunda yang luar biasa mengurus rumah tangga.
"Kamu bisa masak dong?" tanyaku berharap ada percakapan di antara kami.
"Nggak," jawab Arunika singkat.
"Kok bisa gitu? Kamu nggak pernah mau belajar? Bunda masaknya jago banget lho," kataku berusaha memojokkan Arunika.
"Aku lebih suka menikmati masakan bunda," jawab Arunika.
Wow, aku harus bersemangat belajar memasak karena sepertinya Sandyakala suka makanan rumahnya. Nyatanya dia sering makan di rumah bunda. Mungkin Sandyakala berharap Arunika seperti bunda tapi nyatanya tidak sama sekali.
"Udah sampai ni, titip salam buat Om Alden ya," kata Arunika dan aku turun dari mobil.
...****************...
POV Arunika
Aneh juga dengan Kanaya, padahal dia punya mobil dan bisa mengemudi. Kenapa dia tidak memakainya? Beberapa hari ini, dia sering ke rumah, katanya mau belajar memasak dari bunda. Baguslah dia punya kesibukan baru sekarang daripada dia bingung tidak ada yang harus dilakukannya. Dia juga sepertinya sudah mulai bekerja di cafe.
Aku melihat ke arah Abi, dia tertidur sangat pulas. Sepertinya dia nyaman berada di samping Sandyakala. Tapi kalau terus menerus Abi dibawa ke sana ke sini, dia pasti kecapekan. Jika aku tinggal di rumah orangtuaku, kasihan Ibu Wening harus sendirian di rumah, aku takut kalau terjadi apa-apa dengan ibu.
Aku sampai di rumah sudah sangat malam. Semua sudah tertidur. Aku tidurkan Abi lalu ku tinggal mandi. Bodohnya, kenapa tadi aku tidak mandi di rumah saja ya? Sebelum tidur aku menyempatkan diri untuk membuka ponsel dan ada banyak panggilan tak terjawab dari Sandyakala.
[Aku sudah sampai di rumah] ketikku sambil tersenyum.
__ADS_1
[Abi baru apa?] tanya Sandyakala.
[Bobo dia, Nika nggak ditanya ni?] balasku pura-pura mengambek
[Nika kan baru balas chat ku] balas Sandyakala.
[Nika mau tidur dulu ya, capek ni,] balasku lagi karena aku benar-benar sudah sangat mengantuk.
...****************...
POV Sandyakala
Pasti sangat lelah menjadi Arunika. Dia harus mengurus Abi sekaligus harus mengurus perusahaan yang sangat besar. Terdengar ketukan dari pintu kamar dan dari nada dan temponya itu pasti mama
"Ada apa ma?" tanyaku sambil membuka pintu.
"Mama sama papa mau bicara," kata mama dan papa berada tepat di belakang mama.
"Ma, Sandy udah masuk usia dewasa, sudah nggak layak sidang," kataku menolak.
Aduh ada apa ini? Pasti ini ide mama yang sering mengadakan sidang dadakan atau sekarang disebut diskusi oleh papa.
"Kamu seneng ya sama Abi?" tanya mama saat sudah duduk di atas kasurku.
"Iya, nggak tahu rasanya sayang banget. Tapi Nika pelit, Abi nggak boleh dibawa-bawa sama Sandy," kataku sambil mencibirkan bibir.
"Itu tandanya naluri kebapakanmu keluar," kata mama entah apa maksudnya.
"Papa nggak pernah lihat kamu dekat sama wanita manapun, kamu sudah cukup umur untuk memikirkan perkawinan," kata papa yang membuatku sempat melongo.
"Nika itu wanita dan aku dekat sama dia," kataku menolak pernyataan papa.
"Kamu mau nikah sama Nika?" tanya papa padaku.
"Nggak dong, sebaiknya kamu sama Kanaya. Dia anaknya baik," kata mama memotong pertanyaan papa yang belum sempat ku jawab.
Kenapa mama bisa berpikir kalau aku akan mau sama Kanaya. Papa lebih logis mungkin karena dia memahami perasaan sesama lelaki, walaupun jarang berbicara tapi papa paling mengerti aku.
__ADS_1
"Belum terpikirkan," jawabku santai
"Tapi kamu nggak kepikiran punya keluarga sendiri, punya anak yang lucu," tanya mama serius.
"Kalau masalah anak, sementara pinjam Abi dari Nika aja," kataku sambil rebahan dan menutup mata berpura-pura tidur.
"Ma, sepertinya Sandy memang belum ada niat untuk menikah, jangan dipaksa. Ke depannya kan dia yang akan menjalani kehidupan pernikahan," kata papa yang membuat hatiku senang.
"Baiklah pa, ayo kita juga tidur," kata mama dan kemudian mereka menutup pintu.
Ku buka mataku, memang benar kata papa, selama ini tidak ada wanita yang dekat denganku. Hanya Nika, satu-satunya yang mengisi hidupku, Nika satu-satunya perempuan yang aku cintai sejak aku mengenal cinta, perempuan yang aku rindu untuk memeluk dan menciumnya. Karena sayangnya bermuara di Abi, itulah kenapa aku juga sangat menyayangi Abi. Karena aku merasa perasaanku dan perasaan Nika saling terikat walau kami tidak pernah membicarakannya.
Tiba-tiba terdengar suara pintu kembali terbuka. Dan papa masuk lagi sambil tersenyum padaku.
"Jangan dipikirin yang tadi ya. Mamamu memang begitu, pasti teman-temannya sudah banyak yang punya cucu jadi dia pingin," kata papa sambil tidur di sampingku.
"Iya, Sandy paham," jawabku sambil tersenyum.
Papa lalu tertidur di sampingku, sama seperti masa kecilku dulu. Setiap kali mama memarahiku, papa selalu menemaniku saat tidur. Aku berharap saat aku punya anak aku bisa sehebat papa.
"Mamamu pingin Kanaya yang jadi menantunya, tapi kamu laki-laki harus tegas, semua keputusan ada di tanganmu," kata papa yang ku kira sudah tidur.
"Pa, kalau Sandy mau, dari dulu Sandy sudah sama Kanaya," jawabku apa adanya.
"Nyatanya kamu nggak jadi sama Nika," kata papa.
"Nika yang nggak mau sama Sandy pa," kataku sangat polos.
"Sudah papa duga, dari dulu cintamu hanya untuk Nika," kata papa sambil tertawa terbahak
Aku lalu terduduk seolah tersadar dengan pembicaraanku dengan papa. Rasanya aku menutup rapat semua perasaanku pada Nika supaya tidak ada yang tahu, tapi kenapa papa bisa berbicara seperti itu.
"Nggak usah kaget, semua terbaca saat Nika memutuskan menikah, selama Aslan masih hidup pun kamu selalu mencari info tentang mereka tapi kamu sama sekali tidak pernah mau berhubungan dengan mereka," kata papa lagi.
"Jangan kira papa nggak tahu apa yang kalian lakukan di halaman belakang rumah sebelah," kata papa sambil tertawa lagi.
Aku hanya bisa terdiam seperti tertangkap basah. Ingin ku minta papa keluar dari kamar tapi papa malah sudah tidur mengorok.
__ADS_1