BISIK HENING CINTA

BISIK HENING CINTA
PENEMBAKAN


__ADS_3

POV Arunika


Desember sudah berjalan bersama gerimis yang membawa kesejukan. Untuk urusan cafe semua berjalan sesuai rencana. Dengan tema White Christmas pilihanku. Namun, Sandyakala dan Abhi sekarang jarang ke cafe, kata mereka ada urusan yang harus dikerjakan. Hanya mama, aku dan Kanaya yang selalu sibuk di cafe. Hanya saja, sekarang aku jarang ketemu Jeevan. Kami hanya bertemu saat di sekolah. Jeevan selalu langsung pulang ke rumah. Itu pun pulang dengan bus umum. Dia juga sudah tidak pernah nebeng bunda untuk berangkat dan pulang sekolah. Mungkin dia tersinggung dengan keputusan Sandyakala.


Jam pulang sekolah telah tiba. Cuaca yang tadi gerimis, sekarang berubah menjadi hujan deras. Perlahan ku dekati Jeevan yang memasukkan buku dan alat tulisnya ke dalam tas.


“Van, hujan deras ni. Kita pulang bareng aja, kalau kamu naik bus, pasti kehujanan” ajakku.


“Kamu nggak bareng Sandy?” tanya Jeevan.


“Bareng Sandy berangkatnya aja. Kalau pulang pasti dijemput bunda.” jawabku.


Jeevan tersenyum dan setuju untuk pulang bersama. Hujan masih deras saat kami tiba di rumah. Bunda mengajak Jeevan untuk makan siang di rumah. Hari ini bunda masak soto ayam dengan sambalnya yang pedas mantap. Rasanya enak banget. Cocok dengan hawa dingin siang ini. Selesai makan, aku mengajak Jeevan ke halaman belakang dengan membawa dua gelas coklat hangat.


"Kamu nggak ke cafe?" tanya Jeevan.


"Nggak, hari ini mama seharian di cafe. Jadi aku off dulu" jawabku sambil tersenyum.


"Iya, kita kan masih anak sekolah, seharusnya belum memaksakan diri untuk urusan bisnis." Jawab Jeevan dengan sangat serius.


"Kamu udah lama nggak main ke cafe. Kenapa?" tanyaku mencari tahu.


"Kamu terlalu sibuk di cafe. Aku nggak bisa ketemu kamu." jawaban Jeevan yang membuat aku bingung.


"Kok bisa begitu?" aku malah balik bertanya.


"Ya karena aku suka kamu. Jujur saat itu aku nggak ada niat sama sekali untuk kerja di cafe. Aku melakukan itu semua supaya aku bisa dekat kamu terus. Nika, aku suka kamu, aku sayang banget sama kamu." Kata Jeevan yang membuat aku gugup.


"Van, aku.. … …" kata-kataku menggantung. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Ternyata benar kata Kendra kalau Jeevan menyukaiku.

__ADS_1


"Sejak awal bertemu di dapur aku langsung jatuh hati. Lalu aku putuskan sekolah di sekolah yang sama denganmu walau tidak sesuai dengan rencana awalku. Aku abaikan semua keinginanku, kesenanganku dan hobiku supaya aku bisa dekat kamu terus Nika" lanjutnya.


Jeevan menatap mataku sangat dalam. Rasanya tatapan itu sampai menembus jantungku. Aku menunduk menghindari tatapannya. Pikiranku bercampur aduk. Kembali terngiang semua kata-kata Kendra saat itu.


"Nika, aku tidak menuntut apa-apa. Aku hanya ingin kamu tau kalau aku mencintaimu. Dan aku berharap kamu mau jadi pacarku. Tapi kalau hatimu menolakku, tolong kamu jangan pernah menjauhiku dan berubah terhadapku. Aku hanya ingin menjagamu dan membuatmu bahagia" ucapan Jeevan yang terus menerus membuatku resah.


Jeevan lalu pamit pulang. Meninggalkanku dengan perasaan yang rasanya sulit ku kendalikan. Aku masuk ke kamarku. Berharap akan ada jawaban di sana.


...****************...


POV Jeevan


Aku melangkahkan kaki pulang ke rumah. Santai berjalan di bawah derasnya hujan. Mungkin Arunika bingung atau shock sehingga dia tidak menahanku. Sudah sekian lama aku menunggumu saat ini datang. Lega rasanya sudah memberanikan diri mengungkapkan semua ke Arunika. Semudah ini tanpa perlu menunggu bantuan dari Kanaya. Namun, hatiku masih bimbang. Apakah Arunika akan menerimaku atau bahkan mengabaikanku. Aku akan mengajak Arunika pergi saat hari ulang tahunnya yang bertepatan dengan tahun baru. Ya, memang Sandyakala sudah lebih dulu mengajaknya pergi. Tapi aku akan berusaha supaya Arunika membatalkan semuanya dan lebih memilih bersamaku.


Sandyakala dan Abhi baru saja keluar dari mobil saat aku tiba di rumah. Wajah Sandyakala tampak kusut dan Abhi tampak berusaha menenangkannya. Kemudian Sandyakala masuk ke rumah dengan terburu-buru dan Abhi menunggunya di luar. Tidak biasanya mereka berdua seperti itu.


"Ada apa?" tanyaku setelah berada di dekat Abhi.


"Hah?! Terus gimana?" kataku dengan nada kaget.


"Belum pasti. Aku sama Sandy mau ke sana. Ini juga Om Alden baru ke luar negeri jadi tidak ada yang mengurusnya." Jawab Abhi.


Tidak lama kemudian Sandyakala keluar dengan membawa ransel. Lalu mereka pergi dengan sangat tergesa-gesa.


Aku lalu masuk ke rumah. Mengganti pakaian dengan yang bersih dan kering lalu menelpon Arunika. Lama tapi dia tidak menjawab. Apa mungkin dia merasa tidak nyaman dengan pernyataan cintaku tadi? Aku lalu mengambil payung dan bergegas ke rumah sebelah. Tanpa permisi, aku langsung menuju ke kamar Arunika.


"Nika, Kanaya kecelakaan" kataku sambil menggedor pintu kamarnya.


Arunika keluar dari kamar dengan wajah panik. Ini"Kapan?" tanyanya.

__ADS_1


"Sepertinya baru saja. Kata Abhi Kanaya tidak sadarkan diri. Sekarang Abhi dan Sandy sedang ke rumah sakit. Om Alden di luar negeri jadi Kanaya nggak ada yang ngurus" kataku menjelaskan.


"Aku ganti baju dulu. Kita susul ke rumah sakit." Kata Arunika lalu kembali ke kamar.


...****************...


POV Arunika.


Sandyakala pasti sedang mengemudi. Aku lalu memutuskan untuk menelpon Abhi dan menanyakan lokasi rumah sakitnya. Menurut cerita Abhi, saat itu Kanaya hendak menyebrang jalan. Namun, Kanaya kepleset karena hujan dan jalanan licin. Malangnya lagi, saat itu ada mobil yang melintas dan menabrak Kanaya. Ada seorang pelanggan cafe yang berada di lokasi kecelakaan dan mengenali Kanaya. Dia lalu menghubungi pihak cafe dan customer service menyampaikan berita ini ke Sandyakala.


Aku bergegas menghubungi Pak Santo untuk mengantarkan kami ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, kami tidak sengaja bertemu dengan Abhi yang sepertinya baru keluar dari mobil.


"Kok Abhi di sini?" tanyaku masih dengan nafas yang ngos-ngosan.


"Iya, ambilin jaketnya Sandy. Kanaya sudah sadar. Sebentar lagi harus menjalani operasi pemasangan pen untuk tulang tangan kanannya yang patah" jawab Abhi terlihat lelah.


Kami lalu berjalan menuju ke kamar rawat inap Kanaya. Tampak Kanaya menangis menahan rasa sakitnya sambil bersandar di bahu Sandyakala sementara Sandyakala menghapus air matanya dan terlihat berbisik di telinganya. Aku tidak rela melihat Sandyakala memperlakukan Kanaya seperti itu. Walaupun aku tahu, ini bukan saat yang tepat untuk merasa iri kepada Kanaya. Aku harusnya berempati dan ikut menyemangati Kanaya.


Aku mendekati mereka, mencoba membantu Kanaya. Namun Kanaya seolah enggan menjauh dari Sandyakala. Bodohnya, aku malah meneteskan air mata karena tidak bisa menahan sakit hati yang tidak seharusnya aku rasakan. 


"Nika kok nangis?" tanya Sandyakala dengan nada khawatir.


"Nggak papa, Nika hanya nggak tega melihat Kanaya" aku berbohong untuk menutupi perasaanku yang sebenarnya.


"Kapan operasinya?" tanya Abhi.


"Kanaya harus puasa kurang lebih 6 jam sebelum mulai operasi" jawab Sandy.


"Sand, tapi aku tidak mau tanganku ada bekas luka operasi. Nanti jelek," kata Kanaya merengek manja yang hanya dibalas Sandyakala dengan anggukan pasrah. Persis seperti seorang ayah yang menghadapi anaknya yang tantrum.

__ADS_1


Apa? Di situasi seperti ini Kanaya masih memikirkan penampilannya. Apa susahnya, kan bisa ditutupi dengan memakai baju lengan panjang. Rasa ibaku berkurang, entah kenapa Rasanya aku hanya buang-buang waktu berada di sini.


"Ya udah, Nika tunggu di luar. Kalau ada apa-apa WA aja" kataku sambil berlalu pergi dan disusul oleh Jeevan yang berjalan sambil merangkul bahuku.


__ADS_2