
POV Sandyakala.
Om Alden mendekatiku yang sedang duduk termenung. Dia menepuk bahuku.
"Kanaya mau sama kamu. Tapi kamu maunya sama Nika?" kata Om Alden yang mengagetkanku.
"Abhi bilang ke Om?" tanyaku seakan tidak percaya.
"Om tadi sempat memperhatikan kalian. Saat Nika bicara, kamu tanpa protes sama sekali. Walaupun berat buat kamu untuk tetap di sini" Kata Om Alden sambil tersenyum. "Caramu memandang Nika dengan tatapan yang teduh sama seperti cara Om memandang istri Om." lanjutnya.
Aku hanya mampu diam dan menatap wajah Om Alden sambil memberi seulas senyum tipis.
"Maafin Kanaya ya, Sandy" kata Om Alden dengan nada penuh penyesalan.
...****************...
POV Arunika
Rasanya lemas seluruh tubuhku. Kalau aku tidak mengizinkan Sandyakala ada di sana, betapa egois dan tidak berperasaannya aku. Tapi, melihat tadi Sandyakala melakukannya karena terpaksa, ingin rasanya ku bawa dia pergi dari sana. Ternyata aku salah selama ini, Sandyakala tidak mencintai Kanaya seperti yang ku bayangkan. Kebaikan dan perhatiannya ke Kanaya memang karena Sandyakala baik. Tidak ada yang lain.
Mungkin Sandyakala terlalu baik sehingga Kanaya salah mengartikan semuanya.
"Nika nggak masalah kan kalau ulang tahunnya nggak bareng Sandy?" tanya mama sambil membelai rambutku.
"Iya, ma." jawabku " Tapi kasihan Sandy ma, Kanaya juga kasihan" lanjutku.
"Sandy itu persis papa. Dia tidak memikirkan untuk menjalin hubungan khusus. Tapi dia hanya ingin baik sama semua orang." kata mama sambil tersenyum.
Mungkin benar kata mama. Semua sama di mata Sandyakala. Baik itu aku maupun Kanaya.
...****************...
POV Sandyakala.
Sudah beberapa hari ini Kanaya sudah mulai sadarkan diri. Kondisinya mulai membaik meskipun wajahnya masih terlihat pucat. Dia tampak lemas dan masih menolak makan. Drama apa lagi ini. Aku merasa mulai hilang kesabaran.
"Aku mau pulang dulu." pamitku tanpa menunggu persetujuannya.
"Kalau kamu pulang aku sama siapa?" tanyanya dengan nada manja.
"Aku sudah bilang Abhi. Nanti dia ke sini" kataku sambil memakai jaketku bersiap-siap.
"Aku nggak mau Abhi, aku maunya kamu" katanya sambil merengek-rengek seperti anak kecil dan pada saat yang sama Abhi datang.
"Tolong ya, Bhi" kataku ke Abhi tanpa menghiraukan Kanaya dan bergegas pergi.
Aku yakin Abhi bisa mengatasi Kanaya. Seperti kata Abhi, aku harus tegas ke Kanaya supaya dia tahu batasannya.
__ADS_1
Hari ini tanggal 30 Desember dan aku harus menemui Arunika dan bersiap-siap untuk pergi. Ku pacu Holden ku menuju ke rumah sebelah dengan setumpuk harapan dan hati yang berbunga-bunga.
Arunika menyambutku dengan wajah heran saat aku mengetuk pintu kamarnya. Dia menatapku seolah tidak yakin dengan apa yang berdiri di depannya.
"Ayo, kita persiapkan untuk perjalanan kita besok!" ucapku penuh semangat.
"Sandy nggak jagain Kanaya?" tanya Nika masih dengan muka heran.
"Gantian sama Abhi sama Om Alden" jawabku ringan.
"Nggak ah, lain kali aja perginya. Kanaya membutuhkan Sandy." jawab Arunika membuat semangatku hilang.
"Aku kan cuma membantu. Kan ada Om Alden yang jelas-jelas punya tanggung jawab ke Kanaya" kataku dengan muka cemberut.
"Nggak usah cemberut. Nika nggak segampang itu luluh," kata Nika dengan tampang galak.
"Ayolah, Nika" aku masih berusaha merayunya.
"Benar ya kata Kanaya. Sandy hanya mencintai dirinya sendiri. Sandy itu egois. Nggak pernah mau mikirin orang lain, Sandy nggak pernah mau mengalah untuk kepentingan orang lain." kata-kata Arunika seolah menamparku.
"Kanaya pernah bilang begitu ke Nika?" kataku pelan sambil menahan amarah yang membakar hati dan hanya dijawab Arunika dengan anggukan.
"Nika benar-benar nggak mau pergi sama aku?" tanyaku dengan nada mengintimidasi.
"Mau, tapi jangan sekarang. Nanti kalau Kanaya sudah pulih" jawab Arunika.
"OK. Baiklah." kataku.
Akan aku lakukan seperti yang dituduhkan Kanaya. Kalau aku tidak bisa bersama Arunika, aku juga tidak akan membuang-buang waktuku untuk Kanaya.
...****************...
POV Arunika.
Aku syok saat Sandyakala tiba-tiba memeluk erat diriku. Rasanya hangat dan sangat nyaman. Ada rasa bersalah dalam benakku. Apa kata-kataku tadi melukai perasaannya? Saat Sandyakala melepas peluknya dan pergi dari hadapanku barulah aku tersadar.
"Sandy mau ke mana?" teriakku tapi Sandyakala terus berjalan.
Ku susul Sandyakala ke luar rumah tapi dia tidak terlihat. Mana mungkin secepat itu dia pergi. Aku ayunkan langkahku ke rumahnya. Hanya ada Pak Santo yang sedang mencuci mobil.
"Sandy mana Pak?" tanyaku.
"Di rumah sakit masih jagain Mbak Kanaya." jawab Pak Santo.
"Tadi ke rumah sebelah, tapi langsung pergi." kataku.
"Belum pulang ke sini. Saya dari tadi nyuci mobil di sini terus." kata Pak Santo.
__ADS_1
Aku lalu memilih pulang ke rumah. Tampak Sandyakala dengan mobil Holden kesayanganya meninggalkan rumah. Aku tadi terlalu terburu-buru sampai tidak sadar kalau mobil itu ada di rumah. Aku berusaha mengejarnya sambil meneriaki namanya namun Sandyakala semakin menjauh. Ku hentikan langkahku. Ke mana Sandyakala akan pergi?
Kuputar langkah kakiku dan berlari pulang ke rumah. Segera aku menuju ke kamar dan mengambil handphone ku yang tergeletak di atas tempat tidur. Ku hubungi nomor Sandyakala tapi tidak kunjung dijawabnya. Kuhempaskan tubuhku ke tempat tidur. Ku pejamkan mataku berharap ada ide yang muncul untuk mencarinya. Ku ambil lagi handphone ku lalu ku hubungi Abhi. Pasti dia akan kembali ke rumah sakit.
"Iya, Nika" suara Abhi menjawab teleponku.
"Abhi, kalau ketemu Sandy, minta tolong suruh hubungi aku ya." pintaku.
"OK" jawab Abhi.
Aku lalu menutup telepon. Penyesalan terbesar menyerang hatiku. Seharusnya tadi kami bicara baik-baik. Walaupun aku menolak, tidak seharusnya aku mengeluarkan kata-kata seperti itu.
Terdengar suara pintu diketuk. Aku langsung berlari menuju pintu.
"Sandy balik?" kataku dengan semangat sambil membuka pintu.
"Aku Jeevan bukan Sandy" kata Jeevan yang berdiri tegak di depan pintu.
"Ada apa, Van?" tanyaku berusaha menutupi perasaanku.
"Main aja. Nggak boleh?" tanyanya menyindir.
"Boleh." jawabku.
Perlahan ku tutup pintu kamar dan melangkah menuju ke halaman belakang. Jeevan mengikutiku dari belakang.
"Muka bad mood gitu kenapa?" katanya sambil duduk.
"Nggak, baru bangun tidur" jawabku asal.
"Nika, muka bad mood sama muka bantal itu beda." Kata Jeevan sambil menggelengkan kepala pelan-pelan.
"Gimana kalau kita keluar jalan-jalan?" ajak Jeevan.
"Nggak ah. Aku kan baru bad mood" tolakku dengan alasan yang entah dari mana.
Jeevan lalu diam menatapku. Entah apa yang ada di kepalanya. Kadang terlihat Jeevan tidak sabar menghadapi ku.
"Bad Moodnya kenapa?" tanya Jeevan dengan nada sedikit menekan.
"Tadi Sandy... … …"
"Sandy lagi, Sandy lagi! Sepertinya Sandy itu selalu bikin kamu sedih, kecewa, tapi masih saja kamu pikirkan. Dia itu udah jadi beban pikiranmu tahu nggak?" potong Jeevan sebelum aku menyelesaikan kalimatku.
"Van, yang sedih, yang kecewa itu bukan aku, Van tapi Sandy." balasku ketus.
"Tapi dia nggak boleh bikin kamu badmood gitu" jawaban Jeevan yang bikin aku terperangah.
__ADS_1
"Susah ya ngobrol sama kamu. Bikin tambah badmood." kataku ketus.
Aku memilih diam mendengarkan Jeevan yang berniat mengalihkan topik pembicaraan. Entah apa yang dia bicarakan. Ragaku di sini tapi pikiranku melayang mencari Sandyakala yang pergi dalam kekecewaan.