
POV Sandyakala
Aku bangun sangat pagi. Rasa bersalah masih menyelimuti perasaanku. Menyesali keegoisan dan kebodohan yang aku lakukan sekian lama. Ku kemudikan mobilku menuju rumah mewah itu, sampai di sana aku disambut para pelayan dengan tubuh membungkuk hormat. Aku lalu duduk di ruang tamu dan memanggil Pak Oman selaku kepala pelayan. Benar saja Pak Oman tampak tertunduk dan gugup.
"Pak, saya minta tolong dong, panggil semua pelayan kumpul di sini," kataku
Dengan sigap Pak Oman melaksanakan permintaanku. Memang benar, total ada sepuluh orang yang bekerja di sini.
"Ini Mas Sandy, pemilik rumah yang baru, dia sahabat baik Mas Abhi." kata Pak Oman memperkenalkan diriku pada mereka.
"Jadi begini, saya punya beberapa peraturan baru yang harus kalian patuhi," kataku membuka pembicaraan, semua tertunduk diam dan tidak ada seorangpun yang berbicara atau berani menatapku.
"Saya tidak suka kalian membungkukkan badan saat saya datang. Jadi tolonglah anggap saya sebagai salah satu teman atau kerabat kalian," kataku sebisa mungkin dengan nada yang sopan dan tidak terkesan merendahkan.
"Iya Mas Sandy," jawab Pak Wan sambil tersenyum.
"Aku ingin ziarah ke kubur Abhi. Apa ada diantara kalian yang mau ikut?" ajakku.
Semua menunjukkan tangan tanda setuju. Kami berangkat dengan dua mobil. Kebetulan ada seorang sopir yang membawa lima orang lainnya, sedangkan aku bersama Pak Oman, Pak Wan dan dua wanita lainnya menaiki mobil yang sama yang dikemudikan oleh Pak Wan. Benar kata Abhi bahwa mereka sudah berumur. Berkisar di usia 55 tahun ke atas. Ada rasa bahagia bisa membantu mereka. Bisa ku bayangkan kesedihan mereka saat tahu akan kehilangan pekerjaan. Aku berusaha mengajak mereka berbincang-bincang mengenai perjalanan hidup mereka terutama selain Pak Oman dan Pak Wan yang memang direkrut langsung oleh Bu Wening untuk memastikan Abhi baik-baik saja.
Delapan yang lain bertemu dengan Abhi saat dia memulai petualangannya saat awal-awal Abhi keluar dari rumah orang tuanya. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang tersingkirkan serta tunawisma. Ekonomi mereka lemah, bahkan ada yang tidak sempat menempuh pendidikan formal. Abhi mengajak mereka tinggal di rumah itu dan memberi mereka pekerjaan. Ada yang diajari Abhi untuk menjadi sopir, ada yang membantu Pak Oman melakukan pekerjaan rumah tangga, ada yang mengurus taman. Padahal jika dinalar, rumah ini jarang ditinggali, sebenarnya tidak membutuhkan pelayan sebanyak itu. Tapi sekali lagi aku menyadari, inilah kemuliaan hati Abhi, dia mempekerjakan mereka bukan untuk kepentingan dirinya tapi lebih kepada membantu mereka yang membutuhkan.
Kami tiba di tanah pemakaman, menabur bunga dan menguntai doa untuk Abhi. Seumur hidup selain untuk Arunika, air mataku juga jatuh untuk Abhi. Berkali-kali aku menyesali pernah menyimpan benci untuk Abhi. Sengaja ku bawa semua pelayannya supaya mereka juga punya kesempatan untuk memberi penghormatan kepada kebaikan Abhi. Sesuai wasiat Abhi, aku akan menjamin kehidupan mereka dan meneruskan perjuangan Abhi.
Kami sudah selesai dan bersiap-siap untuk pulang saat dari kejauhan tampak sosok yang tidak asing bagiku. Aku berhenti dan menunggu mereka semakin mendekatiku dan ternyata benar, itu ada Om Alden dan sebuah kejutan, ternyata Om Alden datang bersama Kanaya. Kanaya tampak menangis tersedu-sedu dan terlihat sangat terpukul. Aku meminta Pak Oman dan yang lainnya untuk pulang terlebih dahulu. Nanti aku bisa pulang dengan taksi online.
“Om Alden,” kataku sambil mengulurkan tangan menjabat tangan beliau.
“Sandy, sudah lama di sini?” tanya Om Alden yang sedikit terkejut melihat keberadaanku.
“Iya Om, ini baru mau pulang,” jawabku
__ADS_1
“Kalau tidak keberatan, mau menunggu Om sebentar?” pinta Om Alden dan aku menyetujuinya.
Tiba-tiba Kanaya memelukku dengan tangis yang seolah tidak bisa berhenti. Aku tidak mampu dan tidak tega untuk menolaknya. Akhirnya ku rangkul bahunya dan mencoba menenangkannya.
“Walaupun kadang Abhi menyebalkan, tapi dia selalu baik padaku. Dia yang membantuku bangkit dari keterpurukanku. Dia mengupayakan segala cara yang terbaik untukku.” kata Kanaya disela-sela tangisnya.
...****************...
Kami kembali ke cafe. Om Alden tampak kagum dengan perkembangan cafe yang tampak luar biasa.
“Om kan bantuin Abhi juga di luar negeri?” tanyaku membuka pembicaraan.
“Iya, itu sebelum dia menikah. Setelah itu kan semua dihandle Nika. Tapi Nika cerdas lho, sejak hotel dipegang dia, perkembangannya luar biasa pesat” puji Om Alden.
“Abhi sudah menikah?” tanya Kanaya heran
“Iya, sayang. Sudah punya anak juga. Anaknya cowok baru usia 9 bulan,” kata Om Alden.
“Aku ke sini nemenin Kak Widura ada kerjaan. Dari bandara Kak Widura langsung ke lokasi pemotretan. Aku tanya dong kabar kalian ke Om Alden, dan hal pertama yang Om Alden sampaikan itu tentang Abhi, Aku langsung ngajak Om ke makam.” kata Kanaya sambil menahan tangisnya
“Padahal Kanaya pingin banget bertemu Abhi untuk mengucapkan terima kasih,” lanjut Om Alden sambil mengelus punggung Kanaya.
“Tapi lucu juga ya Om, Nika nggak ngurusin cafe sama Sandy tapi malah bantuin Abhi di luar negeri,” kata Kanaya sambil menyeruput jus jeruknya.
“Kan Arunika istrinya Abhi, jadi nggak papa dong bantuin suaminya?” kata Om Alden menjelaskan.
“Apa? Jadi Abhi menikah sama Nika? Bukannya.. … …,” kata-kata Kanaya menggantung sambil dia menatap tajam ke arahku seolah minta penjelasan.
“Om belum sempat cerita,” kata Om Alden
“Kanaya kok nggak yakin ya Om,” kata Kanaya sambil matanya tidak lepas menatapku.
__ADS_1
“Ya memang itu faktanya mau nggak yakin gimana?” kata Om Alden meyakinkan Kanaya.
“Ya udah, ini Om mau ada urusan jadi Om harus pergi ya,” lanjut Om Alden berpamitan.
“Kanaya boleh tinggal di sini nggak Om?” pinta Kanaya
“Tanya Sandynya repot apa nggak?” kata Om Alden secara tidak langsung meminta persetujuanku.
“Nggak papa Om kalau Kanaya mau di sini. Nanti aku anterin pulang,” kataku sambil berusaha tersenyum.
Om Alden lalu pergi dan Kanaya terus menerus menatapku aneh.
“Ada yang mau kamu ceritain nggak?” tanya Kanaya.
Aku hanya diam sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalaku walau aku sadar ke arah mana pembicaraan ini. Kanaya terlihat berbeda, dia tampak lebih tenang dan pembawaannya lebih dewasa. Emosinya sudah tidak berapi-api seperti dulu.
“OK, lalu Jeevan sekarang di mana?” tanyanya mencoba mengubah topik pembicaraan.
“Setelah lulus SMA dia kembali ke rumahnya. Sekarang dia buka bengkel dan punya show room mobil,” kataku menjelaskan.
“Kelihatannya dari dulu Jeevan itu memang cenderung suka dunia otomotif,” kata Kanaya sambil tersenyum.
“Awalnya sih dulu dia mau sekolah STM, tapi berubah pikiran, masuk SMA biar ada temannya,” kataku sambil pikiranmu terbang kembali ke masa itu.
“Heran, memangnya kalau sekolah STM nggak bisa punya teman?” kata Kanaya sambil tertawa kecil.
“Ya, biar bisa dekat-dekat Nika terus,” kataku sambil tersenyum.
"Tapi akhirnya Nika sama Abhi, kayak nggak percaya aja, kukira kamu yang sama Nika, ya mengingat dulu kamu sangat cinta dan tergila-gila sama Nikaku" kata Kanaya sambil mengaduk-aduk jus jeruknya dengan sedotan.
"Ya, jalan takdir nggak ada yang tahu," kataku sambil pandanganku menerawang jauh.
__ADS_1
Ternyata setelah tidak ada benci untuk Abhi, membahas mengenai mereka tidak melukakan hati. Andai Kanaya tahu kalau sampai detik ini cintaku masih sama untuk Arunika, rasa tergila-gilaku juga belum berubah untuk Arunika-Nikaku.