BISIK HENING CINTA

BISIK HENING CINTA
PINDAH RUMAH


__ADS_3

POV Arunika


Akhirnya aku membawa Abi pulang ke rumah. Ada rasa senang karena bisa berkumpul lagi dengan keluargaku. Walau bagaimanapun rumah tempat kita dibesarkan adalah tempat ternyaman bagiku.


Sandyakala terlihat sangat bahagia, dia memilih duduk di belakang sambil memangku Abi dan memintaku untuk mengemudi. Jadilah aku seperti sopir pribadi yang mengantar Juragan Wiro dan momongannya. Sepanjang perjalanan Abi terus mengoceh dan tertawa bersama Sandyakala. Jika orang belum tahu kebenaran pasti mereka mengira kalau Sandyakala adalah ayah dari Abi. Bahagia juga rasanya ada yang tulus menyayangi Abi. Apalagi di rumah nanti, akan ada banyak yang sayang dan selalu menemani Abi. Pasti ayah, bunda, mama dan papa akan sangat antusias menyambut Abi. Abi dan tumbuh bahagia seperti aku karena dikelilingi oleh orang yang menyayanginya.


Saat kami tiba Sandyakala langsung membawa Abi ke rumahnya dan aku hanya mengekor dari belakang. Karena ternyata Abi menolak saat ingin ku gendong


"Sudah, jangan dipaksain Abi maunya sama aku," kata Sandyakala dengan girang.


Aku jadi terkenang saat Abi bersama Aslan, dia sama sekali tidak peduli dengan kehadiranku. Ya sudahlah, pasti Abi akan aman bersama Sandyakala, aku putuskan untuk pulang saja ke rumah dan menata semua barang bawaanku terutama barang-barang milik Abi yang dan aku harus menyelamatkan ASIP nya dan ku masukkan ke freezer.


...****************...


POV Sandyakala


Papa dan mama pasti senang saat aku pulang bersama Abi karena mereka juga sangat menyayangi Abi. Namun bukan papa dan mama yang aku temui tapi Kanaya yang menyambutku di ruang tamu.


"Sandy, kenapa kamu bawa-bawa Abi ke sini?" tanya Kanaya seperti tidak senang.


"Kenapa kamu jadi keberatan begitu?" jawabku ketus.


"Mamanya ke mana? Kok nggak ngurusin anaknya?" tanyanya lagi dengan nada yang sangat mengganggu di telingaku.


"Kenapa kamu jadi ngurusin mamanya Abi?" tanyaku lagi kemudian meninggalkannya sendirian menuju ke kamar tidurku.


Kenapa Kanaya dari tadi nggak pulang-pulang? Apa dia tidak malu sendirian di rumah orang sedangkan tuan rumahnya entah ke mana. Aku lalu bermain bersama Abi. Dia sangat senang saat aku menggelindingkan bola basket ke arahnya dan sangat menikmati saat aku memainkan gitar untuknya. Sampai terdengar suara pintu diketuk dan Kanaya berdiri di sana. Dia langsung masuk ke kamarku tanpa permisi begitu pintu ku buka.

__ADS_1


"Kok kamu masuk ke kamarku?" tanyaku dengan nada kasar.


"Kenapa? Kamu keberatan? Nika juga pasti sering masuk ke sini kan?" kata Kanaya sambil duduk begitu saja di atas tempat tidur.


"Seumur hidup, Nika nggak pernah masuk kamar Sandy. Sandy juga nggak pernah masuk ke kamar Nika. Itu aturan keluarga kami, nggak boleh sembarangan masuk ke kamar tidur orang," kata mama yang tiba-tiba muncul di depan pintu.


Baguslah, sehingga aku tidak perlu menjelaskan panjang lebar pada Kanaya dan bersusah payah mengusirnya. Kanaya lalu berdiri, meminta maaf den mendekati mama di depan pintu. Dia sempat berhenti sejenak di depanku.


"Kamu tamu, harusnya tetap berada di ruang tamu, bukannya malah keluyuran ke mana-mana. Nggak sopan," kataku sambil menutup pintu.


Tiba-tiba pintu diketuk lagi. Mau apa lagi Kanaya? Mau drama meminta maaf? Dengan langkah malas aku membuka pintu. Dan ternyata bukan Kanaya yang ada di sana tapi Arunika. Untung saja aku belum mengeluarkan sepatah katapun untuk mengumpat Kanaya.


"Abi waktunya minum susu," kata Arunika sambil berdiri melipat tangan di depan dada.


"Ya udah," kataku


"Nanti dibalikin ke sini ya," kataku memohon


"Nggak!" kata Arunika


Aku lalu merangkul Arunika dan mengikutinya dan sampai di ruang tamu ternyata ada Kanaya dan mama. Mama lalu memintaku untuk menunggu sebentar untuk menitipkan semangkuk sop ayam untuk ayah. Tapi entah kenapa Kanaya malah ikut bersama kami bahkan menawarkan diri untuk menggendong Abi. Tapi, Abi menolak bahkan menangis sejadi-jadinya. Dengan cekatan aku mengambil Abi dari tangan Kanaya dan berusaha menenangkannya. Sepertinya Abi tidak suka dengan Kanaya yang pastinya penuh kepalsuan. Aku berjalan mendahului Arunika dan Kanaya.


...****************...


POV Arunika


Lama-lama Abi seolah tidak bisa dipisahkan dari Sandyakala. Senyaman itu dia, langsung diam saat berada di tangan Sandyakala.

__ADS_1


"Jam segini kamu masih di sini, nggak pulang? Bukannya kamu sudah punya tempat tinggal sendiri" tanya Kanaya dengan nada sinis.


"Lho? Aku kan di rumah orang tuaku. Harusnya nggak ada masalah, aku bisa di sini kapanpun aku mau. Kamu sendiri kenapa belum pulang?" kataku balik bertanya dan pasti Kanaya sangat tidak senang.


"Kamu ngusir aku?" tanya Kanaya semakin judes.


"Aku kan cuma nanya," kataku sambil berjalan lebih cepat dan meninggalkannya.


Kok aku merasa nggak rela kalau Sandyakala menikah sama Kanaya. Bukannya aku ingin menguasai Sandyakala, tapi melihat kelakuannya yang tidak jelas dan selalu mencari masalah denganku membuatku sangat tidak nyaman. Dia itu datang saja tidak diundang, harusnya tahu diri dong. Dari pembicaraan kami terlihat jelas kalau Kanaya sangat tidak suka dengan kehadiranku di sini. Tapi siapa dia mau mengaturku. Sampai di rumah, Kanaya langsung memeluk bunda


"Bunda, aku kangen," katanya manja.


"Iya," jawab bunda biasa saja dan aku ingin tertawa keras melihat adegan ini.


"Oh iya bund, gimana semur ayam buatan ku untuk Sandy tadi pagi?" tanya Kanaya yang sedikit memancing emosiku.


Untuk apa dia memasak untuk Sandyakala? Mau cari perhatian atau apa? Apa dia nggak tahu kalau bagi Sandyakala tidak ada yang spesial di dunia ini selain masakan bunda. Aku juga kurang yakin dengan rasanya.


"Menurut Sandy masih banyak yang kurang, kamu harus lebih banyak belajar lagi ya mengenai takaran bumbunya," kata bunda dan aku yakin maksudnya masakan Kanaya sangat tidak enak.


"Nika, kata Sandy kamu akan tinggal sama bunda terus ya dan Bu Wening sendiri yang mengizinkan?" kata bunda menyambutku dengan senang dan sepertinya bunda baru saja menyadari kehadiranku.


"Iya bund, ih Sandy memang mulut ember. Harusnya kan Nika yang bilang sendiri ke bunda," kataku.


"Malam ini biar Abi bobo sama bunda ya," kata bunda sambil merangkul ku dan kami masuk ke dalam rumah.


Ternyata Abi sudah minum susu dari botol dan sekarang dia bermain bersama Sandyakala. Memang Sandyakala mengajari Abi menjadi lelaki sejati, mereka bergelut dan kemudian tertawa gembira. Tidak lama kemudian ayah datang dan bergabung bersama mereka membuat rumah menjadi semakin meriah. Suasana berkumpul yang sebenarnya sangat ku rindukan. Aku lalu menelepon papa dan memintanya untuk mengajak mama berkumpul bersama. Tidak lama kemudian papa dan mama datang menambah keceriaan di rumah ini. Aku tertawa lepas bahagia hanya Kanaya terlihat menyendiri mengasingkan diri.

__ADS_1


__ADS_2