
POV Sandyakala
Ku telepon Abhi dan memberitahu kalau besok aku ada acara dan kemungkinan jenguk Kanaya akan mundur. Abhi bisa maklum dan kata Abhi besok dia juga ada acara bersama keluarganya sehingga Kanaya total diurus Om Alden. Acara ku hanya dalam kota jadi besok selesai acara akan aku usahakan menemui Kanaya.
Aku lalu berdiri mengambil tas yang aku gantung di belakang pintu. Ku keluarkan kado dengan bungkus berwarna emas dari Arunika. Pelan-pelan aku buka mulai dari pitanya lalu ke bungkusnya. Bisa aku bayangkan wajah cemberut Arunika kalau aku membuka kado dengan kasar dan asal-asalan. Ingat prinsipnya, buka kado harus pelan dan penuh kelembutan, ini artinya kita menghargai pemberian orang
Ternyata isinya sebuah jam tangan yang menurutku terlalu kebapakan untuk pemuda ganteng berumur 18 tahun sepertiku. Tapi tetap aku pakai. Ada secarik kertas dengan tulisan tangan 'supaya Sandy bisa mengingat Nika setiap waktu' ada tulisan Aksara Jawa yang aku tahu dibaca 'Arunika' Itulah tanda tangannya. Ku simpan tempat jam dan tulisannya di dalam laci.
Jeevan masuk ke kamar saat aku sedang tersenyum sendiri.
"Eh, Van. Kamu nggak pingin tahu jam berapa sekarang?" tanyaku yang disambut dengan muka bingung Jeevan.
"Memang ini jam berapa?" tanya Jeevan masuk dalam permainanku.
Ku sodorkan tangan kiriku ke arah Jeevan dan memamerkan jam tanganku. Jeevan malah menyambutnya dengan tertawa yang keras sambil memegang tanganku.
"Kamu pakai jamnya Om Bram?" tanya Jeevan tanpa berhenti tertawa.
"Bukanlah. Ini jam aku" kataku sambil menarik tanganku.
"Jam bapak-bapak itu" kata Jeevan masih tertawa.
"Kan kita juga mendewasa, Van. Suatu saat nanti jadi bapak-bapak" kataku membela diri namun ikut tertawa.
Sudah lama tidak tertawa bersama Jeevan. Sejak Jeevan bilang kalau dia nembak Arunika, sejak itu perlahan Jeevan menjaga jarak denganku. Entahlah, mungkin semua ini hanya perasaanku saja. Mungkin kalau dia tahu semalam aku memeluk Arunika, mencium keningnya dan mengatakan kalau aku sayang Arunika pasti Jeevan akan bersikap dingin lagi.
Jeevan lalu duduk di atas meja belajarku sambil membolak balik action figure yang tertata rapi di meja
"Udah dewasa masih mainan begini?" penyakit nyinyir Jeevan kumat lagi.
Perlu ditanggapi tidak ya? Rasanya juga tidak penting. Akhirnya aku putuskan untuk pura-pura tidak mendengar.
"Tidur yuk, besok pagi-pagi kita ada acara bareng ayah. Ayah itu kalau kita nggak on time bisa mengomel sepanjang hari," kataku mengubah topik pembicaraan.
"Kok kamu manggil orang tua Nika pakai ayah bunda?" tanya Jeevan masih dengan nyinyir.
"Nika juga manggil orang tuaku papa mama." jawabku sederhana sekali.
__ADS_1
"Kenapa tuh kalian begitu?" tanya Jeevan lagi.
"Penting ya bahas ini?" aku balik bertanya mulai tidak nyaman.
"Aku nggak suka aja kamu terlalu dekat sama Nika kayak di rumah Abhi tadi. Kamu kan tahu aku suka sama Nika. Hargai perasaan aku dong" Jeevan mulai lagi dan jujur ini membuatku muak.
"Udah mulai hilang akal kamu ya?" kataku dengan tegas. "Sudah berapa kali kamu bahas masalah ini?" lanjutku.
"Ya aku mengingatkan kamu" jawab Jeevan seolah menantang.
"Van, sebelum kamu datang ke rumah ini. Sebelum kamu suka Arunika. Aku sudah lebih dulu mengenalnya bahkan saat dia lahir, selain papa dan ayah. Aku laki-laki yang ada di sana. Kamu nggak punya hak buat melarang aku. OK?" kataku tidak kalah lantang.
'Tapi kamu sudah sering buat Nika terluka apalagi saat kamu merawat Kanaya dan saat kamu batalin rencanamu pergi bersama Nika. Harusnya kamu tegas mau Kanaya atau Nika. Laki kok kayak gitu!" kata Jeevan seolah mencari-cari kesalahanku.
"Kanaya juga temanku, apa salah kalau aku baik sama dia? Kalau itu terjadi sama kamu, aku juga akan merawatmu, Van" kataku sambil menahan diri untuk tidak meledak-ledak.
"Alasan. Bilang aja kamu serakah, mau Nika mau Kanaya" kata Jeevan yang kemudian keluar dari kamar.
Nasib baik Jeevan segera pergi, jika tidak pasti suasana semakin panas.
...****************...
Susah memang kalau bicara dengan Sandyakala. Dia tidak pernah menganggap serius setiap apa yang aku katakan kepadanya. Semua dianggap sepele termasuk permintaanku untuk dia menjaga jarak dengan Arunika. Memangnya kenapa kalau dia mengenal Arunika sudah sejak lama? Bukan berarti dia lebih hebat daripada aku kan?
Lihatlah apa yang sudah dia lakukan? Hanya membuat hati Arunika terluka. Tapi, mau bicara banyak tentang Sandyakala di depan Arunika juga rasanya percuma. Pasti berbagai cara digunakan Arunika untuk membelanya. Di saat seperti ini Kanaya malah tidak bisa diandalkan. Ku ambil ponsel ku lalu membuka WA
[Kapan pulang?] ketik ku lalu ku kirim ke Kanaya.
[Mungkin besok.] balas Kanaya lumayan cepat
[Siapa yang jaga?]
[Om Alden.]
[Abhi mana?]
[Baru aja pulang, besok mau ada acara keluarga katanya. Ada info apa?]
__ADS_1
[Besok juga mau ada acara ulang tahun Nika. Tadi ulang tahun Sandy acaranya hanya makan malam aja]
[Katamu Sandy hilang? Kenapa tiba-tiba makan malam?]
[Nggak pasti juga. Tadi tiba-tiba Om Bram ajak aku makan malam di luar ternyata mereka buat kejutan untuk Sandyakala]
[Sama siapa aja?]
[Ya keluarganya Sandy sama keluarganya Nika]
[Ok, makasih infonya. Aku masih sedikit pusing. Ngantuk habis minum obat. Aku mau tidur lagi]
Ku kantongi lagi ponselku.
...****************...
POV Kanaya
Walaupun aku sudah mencoba bunuh diri tapi Sandyakala tetap seolah tidak peduli. Tapi semua ini pasti rencana keluarganya Om Bram. Walau bagaimanapun Sandyakala anak mereka, pastilah mereka memperhatikan dia. Tapi setidaknya Sandyakala tidak berdua saja dengan Arunika.
Ponselku bergetar lagi. Pasti ini WA dari Jeevan. Segera ku ambil ponselku namun hatiku melonjak kegirangan. Sandyakala mengirimkan WA untukku.
[Cepat sembuh ya Kanaya] pesannya ditambahi emoticon senyum.
[Iya, selamat ulang tahun ya, Sand] balasku cepat.
[Iya. makasih ya Kanaya] balasnya 10 menit kemudian.
[Tadi acaranya apa?] tanyaku pura-pura tidak tahu.
[Makan malam sama keluarga aja] balasnya 5 menit kemudian.
[Kemungkinan besok aku bisa pulang] ketik ku ragu takut dia membalasnya lama atau malah mengabaikan ku.
[Iya, Aku tadi sudah tanya Abhi. Besok abis acara ulang tahun Arunika aku usahakan ketemuan sama kamu] kali ini balasan Sandyakala lumayan cepat.
[Ya udah. Aku mau tidur dulu. Abis minum obat jadi rasanya ngantuk berat. Sampai jumpa besok ya, Sand ] segera ku balas. Memang sudah tidak bisa ku tahan kantukku.
__ADS_1
Ternyata masih ada perhatian dari Sandyakala. Walaupun dia tidak di sini, namun dia masih menanyakan keadaanku lewat Abhi. Mungkin benar kata Abhi kalau aku salah jika menuntut Sandyakala harus selalu ada untukku. Sandyakala harus membagi waktu karena dia orang sibuk. Banyak hal yang harus dilakukan Sandyakala. Mulai dari sekolah, bisnis, teman dan keluarganya. Ini saatnya dia bersama keluarganya. Akan ada masanya Sandyakala akan menghabiskan banyak waktunya bersamaku.
Akhirnya aku terlelap dengan perasaan damai setelah mendapat chat dari Sandyakala.