
POV Jeevan
[Ada apa?] chat WA dari Arunika akhirnya ada juga kabar darinya.
[Kamu di mana?] tanyaku to the point.
[Masih di jalan, sebentar lagi sampai rumah] jawab Arunika
[Sama Sandy?] tanyaku penasaran karena Sandy juga tidak ada baik di cafe maupun di rumah.
[Sendiri] jawab Arunika
[Da pa?] lanjutnya
[Nanti aja kalau sudah di rumah] balasku.
Lama Arunika tidak kunjung membalas lagi. Kukantongi ponselku lalu berjalan menuju rumah sebelah, lebih baik aku menunggu Arunika di rumahnya.
Sebuah sedan mewah berwarna hitam berhenti tepat di depan rumah Arunika. Sopirnya keluar dari mobil dan berlari kecil membukakan pintu untuk penumpangnya. Arunika turun dari sedan itu dan melambaikan tangan ke wanita yang ada di dalamnya. Aku berlari mendekati Arunika saat sedan itu sudah menjauh.
"Siapa, Nika?" tanyaku penasaran.
"Kenalan," jawabnya sambil berjalan masuk ke rumah.
"Kok bisa?" tanyaku karena curiga tapi Arunika seolah mengabaikan pertanyaanku.
Arunika bukan orang yang mudah bergaul dengan orang baru. Mana mungkin segampang ini dia pergi bersama seseorang yang disebutnya kenalan itu.
Entah kapan Sandyakala ke rumah sebelah, tiba-tiba saja dia muncul dari dalam rumah. Dan langsung menggandeng tangan Arunika dan mengajaknya pergi.
"Ikut yuk," kata Sandyakala.
"Nika, capek baru juga datang, mau istirahat dulu." kata Nika yang terdengar manja tidak seperti biasanya.
"Ya udah, aku perginya sama Abhi aja." kata Sandyakala sambil perlahan melepaskan tangan Arunika.
Namun Arunika malah melingkarkan tangannya ke pinggang Sandyakala dan dibalas Sandyakala dengan merangkul bahu Arunika. Hanya sebentar tapi itu cukup menyakitkan mataku. Dengan santai Arunika lalu berjalan masuk ke rumah dan pilihanku adalah mengikuti Sandyakala.
"Sand, sudah berapa kali aku bilang kalau aku suka sama Arunika?" kataku dengan kasar sambil menunjuk wajahnya.
__ADS_1
"Sudah berapa kali aku tanya, Arunika mau?" kata Sandyakala sambil menurunkan tanganku.
Ku pandangi punggung Sandyakala yang berjalan menjauhiku. Tapi harus ku akui, Arunika belum juga memberi kepastian padaku. Ku susul Sandyakala pulang dan melihatnya sudah rapi dan bersiap-siap untuk pergi.
"Gini ya, Van. Kalau memang Arunika mau dan bahagia sama kamu. Aku nggak akan jadi penghalang. Arunika aja ke kamu cuek gitu, bagian mana yang harus aku pertimbangkan?" kata Sandyakala saat muka kami saling bertatapan.
"Bukan berarti kalau kamu suka sama dia, lalu orang lain harus mengerti kamu. Nggak seperti itu. Dengar ya, siapapun lelakinya di dunia ini. Kalau Arunika mau tanpa paksaan, hidupnya Arunika damai dan bahagia, aku nggak ada masalah, nggak keberatan sama sekali," lanjut Sandyakala dengan nada penuh emosi.
"Sandy, Jeevan, ribut apa kalian?" tiba-tiba Tante Naomi keluar dari dalam rumah.
"Jeevan yang mulai, ma" kata Sandyakala sambil menatap tajam ke arahku dan berlalu pergi.
...****************...
Hari sudah menjelang senja saat aku, Om Bram dan Tante Naomi duduk di ruang keluarga menunggu kepulangan Sandyakala. Om Bram yang meminta kami berkumpul untuk meluruskan keributan tadi. Sandyakala yang baru datang tidak langsung menghampiri kami, dia malah berjalan lurus ke kamarnya.
"Sandy, sini dulu, kita mau sidang," perintah Tante Naomi.
"Mandi dulu bentar, ma. Sandy abis olahraga jadi berkeringat," alasan Sandy dan meneruskan langkahnya ke kamar tidurnya.
Lebih kurang lima belas menit kemudian, Sandyakala datang. Air masih menetes dari rambutnya yang sesekali dikibas-kibasnya.
"Kalian ngapain?" tanya Tante Naomi dengan nada serius dan tegas. Belum pernah aku melihat Tante Naomi seperti ini.
Aku hanya diam, malu untuk mengatakannya. Ini kan urusan anak muda, orang tua seharusnya tidak boleh ikut campur. Ku tundukkan kepalaku, tidak berani untuk menatap Tante Naomi. Lama suasana hening dan tiga pasang mata fokus ke arahku seolah semua salahku.
"Silahkan semua diam. Seperti biasa, kita akan bubar kalau masalah sudah selesai," kata Om Bram sambil menyemir sepatu pantofelnya.
Sandyakala juga sepertinya tidak tergerak untuk memulai cerita. Tante Naomi mulai gelisah sambil sesekali melihat ke arah jam dinding.
"Saya suka Arunika, Om, Tante," kataku terbata-bata
"Terus Arunika mau sama kamu?" tiba-tiba Sandyakala menyambar pembicaraanku.
"Sandy, yang sopan dong. Main potong aja kayak kue ulang tahun" tegur Om Bram sambil memukul lutut Sandyakala dengan sepatunya.
"Terus, kenapa kamu ribut sama Sandy?" tanya Tante Naomi.
"Masak Sandy nggak boleh dekat-dekat Nika? Nggak tahu ni Jeevan dianggapnya aku musuh," jawab Sandyakala lagi.
__ADS_1
"Sandy, kamu nggak gitu. Tadi kamu minta mama tanya Jeevan, sekarang Jeevan sudah bicara kamu main serobot aja," protes Tante Naomi sambil melotot ke Sandyakala.
"Iya Tante, saya nggak suka kalau Sandy terlalu dekat dengan Nika. Saya jadi terbatas tidak punya kesempatan untuk mendekati Nika," jawabku mulai percaya diri.
"Aku kan jarang sama Nika, waktumu harusnya lebih banyak sama Nika," kata Sandyakala dengan nada sewot.
"Tapi setiap kali kalian bertemu, kalian itu terlalu menikmati kebersamaan kalian, orang lain hanya jadi penonton. Itu juga yang bikin Kanaya sampai berbuat nekat," kataku tidak kalah emosi.
"Kok jadi melebar bawa-bawa Kanaya? Fokus ke Nikanya. Mau nggak sama kamu? Itu aja belum kamu jawab," Kata Sandyakala.
Aku hanya diam, malu mengatakan kalau Arunika belum memberikan kepastian kepadaku dan suasana kembali hening.
"Om dan Tante tidak ada rencana menjodohkan Sandy dengan Nika kan?" Tanyaku mencoba mengalihkan topik.
"Sekolah dulu yang benar, rintis karier baik-baik dulu, barulah mikirin jodoh," kata Tante Naomi sambil memegang keningnya.
"Ya, kalau Sandy mau sama Nika dan Nika tidak keberatan, pasti Om restui. Tapi kalau diantara mereka ada jodoh yang lain yan tetap direstui dengan jodoh yang lain. Tidak terikat," kata Om Bram.
"Ya, intinya kalau kamu mau sama Nika dan Nika tidak keberatan, aku juga nggak ada masalah, Tapi selama kamu belum bisa jawab Nika mau nggak sama kamu, kamu nggak ada hak buat larang-larang aku dekat dengan Nika." tambah Sandyakala.
"Jeevan, ada yang mau disampaikan?" Tanya Tante Naomi dan kujawab dengan gelengan kepala.
"OK. Usia kalian memang sudah mulai tertarik dengan lawan jenis. Tante nggak bisa menyangkal itu. Tapi Tante harap, jangan hanya karena perempuan lalu kalian ribut. Kalian itu sepupu, masih saudara. Tante juga menerima Jeevan di rumah ini supaya Sandy ada temannya, bukan malah jadi begini. Udah, diatur berdua baik-baik. Mama mau tidur." kata Tante Naomi.
Tante Naomi lalu beranjak pergi, tinggal lah kami bertiga saling pandang dan dilanjutkan dengan tawa lepas Om Bram.
"Kalian ribut sampai bikin pusing mama, nggak tahunya Nika malah sama orang lain, kan rugi," kata Om Bram sambil membereskan sepatunya dan tertawa terbahak-bahak diikuti oleh tawa Sandyakala yang berdiri lalu pergi meninggalkan aku dengan Om Bram.
"Maaf ya Jeevan, bukan Om mau bela Sandy. Kami membesarkan Sandy dan Arunika bersamaan, jadi seolah masing-masing punya dua pasang orang tua. Ibarat mereka ini anak kembar. Jadi Sandy mungkin nggak terima kalau hubungan mereka diungkit," kata Om Bram sangat serius. "Om juga ragu mengenai mereka, apakah mereka murni sahabat yang sudah seperti saudara atau ada benih-benih cinta namun mereka belum peka, atau mereka sudah saling jatuh cinta namun bertopengkan persahabatan? Hanya mereka yang tahu." lanjut Om Bram yang kemudian berdiri membawa sepatu dan alat semirnya.
"Udah, kamu belajar sana. Jangan bikin Tantemu badmood, Om pusing kena imbasnya," kata Om Bram sambil berlalu pergi meninggalkan aku sendiri.
Mungkin juga Sandyakala mencintai Arunika tapi dia berbesar hati dan tidak ingin memaksakan cintanya untuk Arunika. Semakin aku selami,semakin rumit ku rasakan hubungan yang sedang mereka jalani. Aku lalu menyusul Sandyakala ke kamarnya.
"Maafin aku ya, Sand." kataku saat kami bertemu.
"Untuk apa? Nggak ada yang salah dalam cinta, yang salah itu kalau dalam cinta timbul benci" kata Sandyakala.
"Tadi siang Nika pergi dengan sedan mewah, katanya kenalannya. Siapa sih?" tanyaku mulai mengubah arah pembicaraan.
__ADS_1
"Aku juga nggak tahu tapi menurutku biarkan saja, Nika bebas mau ke mana saja dengan siapa. Kalau dia merasa kita perlu tahu pasti dia cerita," jawab Sandyakala santai dan tanpa beban dan luapan emosi.
Perlahan aku mulai tahu kenapa Arunika lebih memilih Sandyakala daripada aku. Ada kebesaran hati dan ketulusan yang luar biasa. Mungkin ini juga yang membuat Kanaya sampai nekat bunuh diri. Cinta Sandyakala itu membebaskan, tidak mengekang pasangannya bahkan mungkin suatu saat dia akan rela terluka asalkan pasangannya bahagia. Sedangkan aku terlalu sibuk dengan kekhawatiran yang tidak jelas, hanya memikirkan diriku sendiri. Andai aku bisa seperti Sandyakala, pasti perasaanku ke Arunika tidak akan serumit ini.