
POV Sandyakala
Aku hanya mampu diam membeku. Kaget dengan ciuman Kanaya yang mendarat lembut di bibirku. Masih terbayang mata Arunika yang terbelalak melihat kejadian itu. Aku melangkah keluar dan tampak mobil yang mereka tumpangi sudah menjauhi rumah. Pasti ini ide Abhi untuk meninggalkanku sendiri di sini. Aku duduk di kursi teras, dilema antara menyusul atau tidak. Ku acak-acak rambutku dan ku usap wajahku berkali-kali. Aku putuskan untuk pergi saja, ku kirim kan pesan via WA ke Abhi untuk mengantarkan Arunika dan Jeevan pulang.
Dalam perjalananku, pikiranku melayang ke mana-mana. Tidak munafik, aku lelaki normal. Masih terasa lembut bibir Kanaya yang sedikit basah menempel di bibirku. Tapi aku tidak bisa menikmatinya karena aku tidak menginginkannya. Ku pacu mobilku menuju ke cafe, aku harus menyibukkan diri supaya tidak teringat kejadian yang menurutku sangat memalukan ini.
Ada mama di ruang kerja saat aku datang. Sibuk membolak-balik laporan bersama Bu Ayu. Bu Ayu ini selalu datang untuk membantu mama mengaudit laporan keuangan.
"Kok Sandy berantakan gitu?" tanya mama sambil melotot ke arahku.
"Tetep ganteng kok," jawabku berusaha menghindari pertanyaan mama yang biasanya melebar ke mana-mana.
"Bukannya nganterin Kanaya ke bandara?" tanya mama yang membuatku sedikit gugup.
"Yang berangkat cuma Kanaya, yang nganterin satu kompi." kataku berusaha menutupi kegugupan. Andai mama tahu apa yang terjadi.
Mama lalu diam dan meneruskan diskusi dengan Bu Ayu. Itu pertanda kalau aku sekarang aman. Ku ambil ponselku yang dari tadi diam di kantong celana.
[Maafin aku Sand, aku merusak momen perpisahan kita] WA dari Kanaya namun aku memilih untuk mengabaikannya. Menghindarinya mungkin yang terbaik untuk kamu.
"Kamu sama Arunika sementara nggak perlu ngurusin cafe. Biar mama sama Abhi yang atur semua. Kalian fokus UN yang tinggal sebentar lagi kan?" kata mama yang mengalihkan perhatianku dari ponsel.
"Kalau main-main ke cafe masak nggak boleh?" jawabku asal-asalan.
"Kan mama bilang fokus UN, jadi harus belajar tanpa ada acara main-main," kata mama tegas.
Setelah mendengarkan ceramah mama yang bukan main panjang dan lama serta tanpa berani aku menyela walau satu katapun, akhirnya aku pamit pulang ke rumah. Itu lebih aman daripada terus di sini seolah bermain dengan bom waktu yang bisa meledak sewaktu-waktu. Pulang dan tidur mungkin pilihan yang sangat tepat bagiku saat ini.
...****************...
Perlahan ku buka mataku saat terdengar suara nyanyian Jeevan. Lumayan enteng juga setelah tertidur lebih kurang satu jam. Kalau Jeevan sudah ada berarti Arunika juga sudah di rumah. Segera aku ke kamar mandi untuk mencuci muka supaya terlihat lebih segar. Aku berganti pakaian yang lebih bersih dan wangi lalu bergegas ke rumah sebelah untuk mengisi waktu. Aku hanya bosan, rasanya seharian ini tidak ada hal-hal berfaedah yang sudah aku lakukan. Lagipula cacing dalam perut mulai berteriak minta makan.
Rumah terlihat sepi, tidak terlihat kehadiran bunda di sini. Aku langsung ke dapur untuk melihat menu masakan bunda hari ini. Ca kangkung seafood dan tempe goreng yang menggugah selera. Aku langsung menikmati hidangan yang tersedia dan tidak lupa cuci piring setelahnya.
__ADS_1
"Sandy? Sejak kapan di situ?" tanya Arunika.
"Sejak mulai lapar sampai selesai makan," jawabku sekenanya.
Aku berjalan mendekati Arunika. Wangi aroma sabun mandinya memanjakan hidungku. Dia selalu terlihat manis seperti biasanya. Ku ikuti langkahnya menuju ke halaman belakang.
"Kanaya tadi gimana?" tanyaku membuka pembicaraan.
"Ya, kita antar ke bandara, disambut keluarganya ya sudah, dia pergi," kata Arunika terdengar asal-asalan.
"Hanya itu?" tanyaku mencoba meyakinkan diri.
"Terus harapan Sandy apa? Oh, Nika tahu, Sandy udah mulai kangen sama Kanaya. Iya kan?" ledek Arunika yang aku tanggapi dengan senyum tipis. "Iya deh, yang dapat kenang-kenangan sebelum berpisah," ledek Arunika lagi dan aku tahu ke arah mana pembicaraannya.
"Apaan sih, Nika? Orang Kanaya main nyelonong gitu, rasanya aneh," kataku dengan nada tidak senang hati.
"Kalau Kanaya izin baik-baik pasti Sandy nggak akan aneh, pasti suka kan?" Arunika terus meledek sambil tertawa kecil.
"Iya deh, Nika nggak paham," kata Arunika masih dengan candaannya.
"Nika belum pernah digituin sih," kataku lagi.
"Iya deh, kapan ya Nika digituin?" kata Arunika sambil memandang ke atas, seolah-olah berpikir keras dan senyum nakal meledek khas Arunika.
Aku lalu menatap mata Arunika dalam-dalam kemudian ku alihkan ke bibirnya lalu kembali ku pandangi matanya. Ku berikan senyuman lembut agar situasi menjadi nyaman dan tidak canggung. Ku dekati bibirnya dengan perlahan dan lembut lalu bibir kami semakin mendekat dan bersatu namun Arunika kemudian sedikit memundurkan kepalanya dan memegangi bibirnya.
"Bibirmu enak," kataku menirukan kata-kata Kanaya namun dengan nada yang lembut dan setengah berbisik.
Arunika hanya diam memandangku seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja aku lakukan.
"Sandy, tadi Nika cuma bercanda, tapi kenapa Sandy beneran?" protesnya
"Abisnya Nika ngeledek terus," kataku membela diri.
__ADS_1
Sebenarnya ada rasa bersalah setelah melakukan itu ke Arunika apalagi Arunika masih terus memandangiku. Ku turunkan tangan Arunika dari bibirnya dan ku genggam jemari tangannya. Pasti Arunika syok sama seperti yang aku rasakan saat Kanaya tiba-tiba menciumku.
"Nika, maafin aku ya. Ku akui aku sengaja melakukan itu. Tapi aku maunya cuma sama Nika, bukan sama yang lain apalagi Kanaya" bisikku pelan menenangkannya.
Arunika hanya menghela napas tidak menjawab apa-apa. Ku genggam tangannya semakin erat saat Arunika menundukkan pandangannya menghindari tatapan mataku.
"Aku janji nggak akan begitu lagi kalau Nika belum siap karena aku tahu rasanya sangat tidak nyaman, " kataku mencoba mengerti posisi Arunika.
Pelan aku mendekati Arunika lalu berbisik sangat dekat di telinganya, "Tapi boleh kalau aku peluk Nika?" pintaku sopan
Arunika mengangkat kepalanya dan menatapku sambil menganggukkan kepalanya pelan. Ku lingkarkan tanganku di bahunya lalu Arunika menyandarkan kepalanya di dadaku.
...****************...
POV Arunika
Ku pejamkan mata dan menikmati suara degup jantung Sandyakala yang berdetak sangat kencang. Ku nikmati hangatnya pelukannya dan lembut belaian jemarinya di rambutku. Ingin aku katakan bahwa aku sangat senang dan nyaman mendapatkan ciuman tadi. Terasa sangat lembut dan romantis. Namun aku malu untuk mengungkapkannya. Yang bisa aku lakukan hanyalah tertunduk malu dan merasakan bibir lembut Sandyakala yang menempel di bibirku walau hanya sebentar. Ku angkat kepalaku dan ku beranikan menatap wajah Sandyakala yang tersenyum kepadaku dan memamerkan lesung pipinya yang selalu membuatku terpesona.
"Nika nggak papa kok, Sand" kataku dengan senyum dan dibalas Sandyakala dengan kecupan di puncak kepalaku.
"Oh iya, tadi mama pesan kita sementara break dulu, nggak boleh mengurus cafe karena kata mama kita harus fokus UN nanti semua yang handle mama sama Abhi," kata Sandyakala berusaha mencairkan suasana.
"Nika udah siap, udah belajar terus. Sandy tuh yang susah diatur" kataku memojokkan Sandyakala.
"Kamu belajar sama siapa? Selama ini kan Aku yang jadi guru les privatemu," kata Sandyakala protes.
"Belajar sendiri dong," kataku mencoba angkuh.
"Emang bisa?" tanya Sandyakala tidak yakin
"Nggak bisa Sandy, Nika mengeluh terus ke bunda. Pusing katanya," kata bunda yang tiba-tiba nongol di depan pintu sambil tersenyum dan membawakan kue terang bulan.
Sandyakala tampak senang dan lahap menikmati kue terang bulan. Sedangkan aku adem panas penasaran, apa tadi bunda mengetahui kalau kami berciuman? Tapi dilihat dari ekspresi bunda yang tampak biasa saja, aku sedikit tenang dan menghela nafas panjang sampai-sampai tidak menyimak pembicaraan antara bunda dan Sandyakala.
__ADS_1