
POV Sandyakala.
Aku menghubungi Om Alden dan minta untuk bertemu. Hanya dengan Om Alden tanpa Kanaya. Bagaimanapun aku harus menjelaskan semuanya. Aku tidak mungkin terus menerus berbuat baik tapi disalah artikan seolah memberi harapan palsu. Kami sepakat untuk bertemu di cafe.
Satu jam sebelum cafe tutup Om Alden datang dengan wajah yang kusut dan tampak sangat terbebani. Rasa bersalah semakin menyelimutimu.
"Sand, Om bisa minta tolong?" kata Om Alden dengan mata sembab.
"Aku nggak berani janjian apa-apa Om" jawabku pelan.
"Kanaya cuma minta kamu temani saat malam tahun baru dan tahun baru. Hanya berdua, hanya ada kamu dan Kanaya. Hanya di hari itu saja Sandy. Setelah itu dia nggak minta apa-apa. Om mohon sama Sandy. Om nggak sanggup melihat Kanaya menderita dan tertekan seperti ini." Kata Om Alden dengan butir-butir air mata yang mulai membasahi pipinya.
Aku hanya mampu diam. Aku sudah berjanji untuk pergi bersama Arunika di hari itu. Hari ulang tahun kami. Itu adalah hari yang sangat aku tunggu.
"Gimana Sandy? Kamu bisa kan? Tolonglah Om, Sandy. Kanaya itu walaupun terlihat normal tapi psikisnya tidak kuat. Sudah lama Om tidak melihat dia terguncang seperti ini. Om khawatir dengan kesehatan mentalnya, Sand" desak Om Alden.
"Maaf Om, aku nggak bisa," kataku dengan berat hati. Tampak keputusasaan di wajah Om Alden.
Tiba-tiba Abhi datang dan mendekati kami dengan wajah tegang. Dia lalu duduk di depanku lalu memandangku dan Om Alden secara bergantian. Ada wajah tak tega melihat Om Alden yang nampak terpuruk.
"Kenapa Om?" Tanya Abhi lembut.
"Om cuma menyampaikan pesan Kanaya. Kanaya hanya minta waktu Sandy saat malam tahun baru dan tahun baru saja." Kata Alden sambil sesekali mengusap air matanya.
"Om, kalau Sandy menuruti keinginan Kanaya. Apa Om nggak takut nantinya Kanaya salah paham lagi dan semakin berharap sama Sandy? Kanaya harus belajar menerima kenyataan kalau tidak semua keinginannya bisa dipenuhi." Kata Abhi mencoba meyakinkan Om Alden.
"Om minta maaf karena menambah beban di Sandy dan Abhi. Tapi setidaknya Om sudah berusaha. Semuanya terserah Sandy." Kata Om Alden bijak namun sorot matanya tidak mampu menutup kesedihan dan rasa kecewanya.
Om Alden pamit pulang lalu aku dan Abhi menutup cafe. Kami malas untuk pergi ke mana-mana sehingga malam ini kami putuskan untuk menginap di sini saja. Aku lalu menelpon mama dan meminta izin menginap di sini.
...****************...
"Kalau kamu nggak mau memenuhi permintaan Kanaya, kamu harus menemuinya dan menjelaskan semua. Tapi kalau kamu mau, kamu harus bilang ke Nika." kata Abhi sambil memetik gitarnya.
"Yang jelas aku akan pilih Nika. Ini rencananya sudah sejak jauh hari. Harusnya Kanaya tahu itu" kataku sambil menyesap kopi hitam yang ternyata terlalu panas.
"Panas?" tanya Abhi yang ku jawab dengan anggukan. "Lain kali pakai es" lanjutnya sambil terkekeh.
"Aku takutnya Kanaya berbuat nekat." Sambung Abhi kembali serius.
Aku hanya mengusap mataku sambil menguap lalu membaringkan tubuhku. Kenekatan apa yang akan dibuat oleh seorang Kanaya? Apakah dia akan datang dengan emosinya yang meledak-ledak lagi?
__ADS_1
"Kanaya nggak pernah berhubungan ya sama mama atau kakak-kakaknya?" tanyaku mencoba mencari solusi.
"Kanaya nggak pernah mau." jawab Abhi sambil terus memetik gitarnya
"Kenapa bisa begitu?" tanyaku penasaran.
"Dia dendam sama mereka. Menurutnya mereka sudah dengan tega meninggalkannya." jawab Abhi "Dia memang selalu begitu, negative thinking terus sama lingkungan sekitarnya" lanjut Abhi.
"Ku kira kira bisa minta tolong ke mereka" kataku mulai putus asa berharap ada jalan keluar lain.
Abhi hanya diam tapi pandangannya menerawang seolah memikirkan sesuatu. Dia sudah berhenti memainkan gitarnya. Aku sudah tidak bisa menahan kantuk yang datang dan aku tertidur.
...****************...
Terdengar suara mama mengetuk pintu. Rasanya masih berat untuk membuka mata. Ini kan di cafe, mana mungkin ada mama. Aku coba menyakinkan diri kalau semua hanya mimpi. Namun sayup terdengar suara Abhi membuka pintu dan berbicara dengan mama. Terdengar nada kepanikan dan suara mama yang bergetar seolah menahan tangis. Terdengar juga suara Arunika yang ikut dalam pembicaraan. Perlahan ku paksakan diri untuk membuka mata uang terasa sangat lengket. Ternyata Abhi sudah berdiri di ujung tempat tidur.
"Ayo siap-siap kita ke rumah sakit," kata Abhi sangat panik dan sangat terburu-buru.
"Kenapa?" kataku masih berusaha mengumpulkan nyawa pagi ini.
"Kanaya mencoba bunuh diri. Semalam dia mengiris nadi tangannya dan meninggalkan sepucuk surat untukmu" Kata Abhi sambil memakai celana panjangnya dan hem flanel kotak-kotak andalannya.
Aku terkejut dan bangun lalu bergegas ganti baju. Ternyata kenekatan seperti ini yang dilakukan Kanaya. Abhi lalu menyerahkan selembar kertas yang terdapat noda darah.
Ku letakkan begitu saja surat itu di atas tempat tidur. Aku bergegas ke rumah sakit bersama Abhi, mama dan Arunika. Entah kenapa aku merasa sangat tegang. Ada ketakutan sendiri di dalam diriku. Sepanjang perjalanan aku terus menggenggam tangan Arunika untuk menenangkan diri.
"Kenapa mama bisa tahu?" tanyaku.
"Orang suruhan Om Alden ke rumah ngirim surat itu dan memberitahu mama. Apa yang sudah kamu lakukan Sand? Kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya mama dengan nada penuh emosi.
"Sandy nggak berbuat apa-apa ma" jawabku berusaha membela diri.
"Jadi kamu menginap di rumah Abhi, menginap di cafe buat lari dari Kanaya? Lari dari tanggung jawab?" Kata mama terlihat frustasi.
Aku memilih diam untuk menghindari perdebatan. Aku harus mencari waktu yang tepat untuk menjelaskan semua ke mama. Percuma bicara di saat seperti ini, mama pasti terus mencari-cari kesalahanku tanpa mau mendengar penjelasan ku. Arunika mempererat genggaman tangannya dan pandangan matanya seolah memberikan isyarat supaya aku tegar dan bersabar.
Kami sampai di rumah sakit. Menurut Om Alden, Kanaya kehilangan banyak darah yang membuat dia mengalami anemia, tekanan darahnya rendah, bahkan dia mengalami syok yang membuat kesadaran menurun. Kanaya masih dalam penanganan petugas medis sehingga kami belum diizinkan menjenguknya.
Om Alden mendekat dan memelukku erat. Aku juga membalas pelukannya.
"Terima Kasih Sandy, sudah mau datang ke sini. Walau ini bukan salah Sandy" kata Om Alden sambil menangis di bahuku.
__ADS_1
...****************...
"Kanaya itu kelihatannya normal dan sehat tapi psikisnya terganggu" kataku saat hanya ada aku, mama dan Arunika. Abhi menemani Om Alden untuk mengurus administrasi.
"Ngawur kamu" tolak mama tidak percaya.
"Abhi sama Om Alden yang bilang" kataku berusaha meyakinkan mama.
"Terus?" kata mama minta penjelasan.
"Awalnya pas malam dia bikin keributan di cafe. Dia maunya Sandy terus menerus ada di dekatnya. Minta dirawat padahal kan dia sudah sembuh. Sudah bisa apa-apa sendiri" jelasku.
"Kamu keberatan?" tanya mama menekan.
"Ya dong ma. Sandy kan punya kehidupan sendiri yang harus Sandy jalani. Nika aja yang jadi kesayangan Sandy sering Sandy tinggal-tinggal" kataku sambil melirik ke Arunika.
"Masa' cuma karena itu?" kata mama terus menginterogasi.
"Kanaya juga bilang cinta ke Sandy. Tapi kan Sandy nggak cinta sama dia. Terus sebisa mungkin Sandy menghindari Kanaya supaya dia nggak berharap sama Sandy" kataku hati-hati.
Mama hanya diam sambil sesekali merapikan rambutnya.
"Semalam Om Alden bilang ke Sandy kalau Kanaya minta ditemani pas malam tahun baru dan pas tahun baru. Ya Sandy tolak, kan Sandy sama Nika mau ulang tahun" lanjutku.
Mama masih diam tidak merespon. Aku lalu ikut diam dan memberi mama waktu untuk berpikir.
"Karena keadaannya sudah seperti ini kamu turuti saja maunya Kanaya" saran mama yang membuatku terkejut.
"Nggak bisa gitu dong, ma. Sandy sudah janji sama Nika" protesku.
"Sand. Ini masalah serius! Mama yakin Nika mau ngerti. Ini urusan sama nyawa orang" kata mama dengan sangat tegas.
"Nanti kalau Nika yang bunuh diri gimana?" jawabku asal.
"Ngawur kamu! Nika itu bisa berpikir waras. Nggak mungkin berbuat begitu. Sudah mama mau pulang kamu di sini nungguin Kanaya" perintah mama.
"Nika temani aku ya" kataku sambil memegang erat tangan kiri Arunika.
"Nikanya pulang sama mama. Kasian nanti Nika kecapekan" kata mama sambil menarik tangan kanan Arunika.
"Nika ikut mama pulang aja ya, Sand. Kan nanti ada Abhi sama Om Alden" kata Nika lembut dan perlahan melepaskan pegangan tanganku.
__ADS_1
Dengan terpaksa aku turuti keinginan mama. Setelah mereka tidak terlihat lagi. Aku lalu duduk dan mengacak-acak rambutku sendiri. Rasanya aku mulai frustasi.