BISIK HENING CINTA

BISIK HENING CINTA
MELULUHKAN KANAYA


__ADS_3

POV Kanaya


Kata-kata Sandyakala benar-benar di luar dugaan. Terang-terangan dia menolakku tapi bukan karena Arunika. Dia meninggalkanku sendirian meluapkan semua emosi dan kekecewaanku. Aku sudah tidak peduli lagi dengan sekelilingku, aku menangis sejadi-jadinya sambil terus meneriaki namanya. Ini sangat tidak adil, dia menolakku dan menyalahkanku serta menganggapku rendah dan busuk. Apa yang salah jika aku berharap balasan cinta darinya?


Beberapa pegawai mendekatiku dan berusaha menenangkan aku. aku tidak bisa terima diperlakukan seperti ini. Kenapa bukan Sandyakala yang berada di sini untuk mengatasiku? Kenapa dia selalu lari dan menjauh dariku serta seolah tidak peduli dengan penderitaan yang kualami karena perasaanku kepadanya yang tidak kunjung berbalas? Lalu kemana dia menghilang?


Tangisku mulai reda saat ku lihat Kak Widura berada di sana dan dan memelukku erat.


"Sudah Kanaya, ayo kita pulang," ajak Kak Widura.


"Kenapa kakak bisa di sini?" tanyaku.


"Sandy yang minta kakak untuk menjemputmu,"


"Kak, kenapa Sandy tidak pernah membalas cintaku?" tanyaku pelan


"Tidak baik memaksakan cinta, walaupun dia menerimamu namun tidak ada cinta dihatinya kamu juga tidak akan pernah bahagia," kata Kak Widura sambil menuntunku untuk berdiri dan berjalan meninggalkan tempat ini.


Aku akhirnya pasrah dan mengikuti Kak Widura yang membawaku ke apartemennya.


Kak Widura lalu memberikanku obat penenang dan aku mulai merasa ngantuk yang luar biasa. Tidak dapat aku tahan dan akhirnya aku terlelap.


Seperti mimpi saat aku membuka mata, Sandyakala duduk di samping tempat tidurku. Senyum dan lesung pipinya yang selalu mempesona diberikan padaku. Ku tutup lagi mataku berharap mimpi ini tak kan pernah pergi.


"Kamu pusing?" suara Sandyakala terdengar begitu nyata.


"Nggak," jawabku sambil membuka mata lagi dan ternyata ini bukan mimpi. Aku membetulkan posisi dudukku. Memandangnya seakan tidak percaya. Sandyakala duduk di depanku dengan wajah yang sangat bersahabat. Kehangatan penuh persahabatan yang aku rindukan.

__ADS_1


"Aku tahu, bahkan sangat tahu bagaimana rasanya mencintai dengan tulus namun orang yang kita cintai memilih untuk menjalani hidup dengan yang lain," katanya sambil menatapku, rasanya sangat teduh.Sandyakala lalu menceritakan tentang perasaannya ketika Arunika meminta izin padanya untuk menikah dengan Abhi. Tak bisa ku bayangkan, sesuatu yang sangat di luar perkiraan, kenapa Arunika bersama Abhi? Dan Abhi yang selama ini sangat dipercayainya. Abhi yang mengerti sebesar apa cintanya untuk Arunika. Dia merasa dikhianati oleh dua orang yang sangat dia percaya dan sangat dia sayangi. Namun, dia harus kuat menahan semuanya karena hidupnya harus terus berjalan dengan atau tanpa Arunika. Awalnya memang berat, semakin dia melawan hanya kelelahan dan kesia-siaan yang didapatkannya.


"Namun,kadang-kadang pilihan terbaik adalah menerima, apapun keputusannya kita harus ikhlas menerima," lanjut Sandyakala.


Aku hanya tertunduk, malu pada diriku sendiri. Merasa bahwa akulah korban di sini, seharusnya aku juga bisa mengerti apa yang dialami oleh Sandyakala itu lebih sakit daripada yang aku alami. Mungkin dia mencintai Arunika sejak pertama kali mereka bertemu, sejak dia lahir, mungkin sejak pertama kali dia mengenal cinta, yang dia tahu cinta itu Arunika. Sesakit apapun mencintai Arunika tapi dia berusaha bertahan. Seburuk apapun Arunika, bagi Sandyakala dia tetaplah yang terbaik.


"Maafkan keegoisanku Sand," kataku dengan air mata yang berlinang.


"Apapun keadaannya cintaku ku ke Arunika tidak bisa kuhilangkan," katanya.


Tiba-tiba Sandyakala berdiri dan menenangkan aku di dalam peluknya. Aku menumpahkan semua kesedihan di dadanya. Tangannya masih merangkul bahuku sampai tangisku mereda. Saat aku merasa lega, ku angkat kepalaku dari dadanya dan ku usap air mataku.


"Musuh terbesar kita itu ego dan keinginan terbesar kita. Kalau kita bisa menaklukkan dua hal itu, masalah seberat apapun pasti bisa kita lalui. Aku minta maaf tidak pernah bisa membuka hati untukmu. Tapi kalau kamu perlu teman, aku selalu ada kok, Kanaya." Kata Sandyakala.


"Aku berharap ada seseorang yang tulus padaku," kataku dan berusaha tersenyum padanya.


"Dulu pernah ada, hanya karena kamu fokus padaku sehingga kamu tidak menyadarinya," kata Sandyakala sambil tertawa


"Abhi, kalau kamu mau, tanya aja Nika, dia tahu semuanya" katanya sambil menepuk kepalaku.


Dia lalu pamit dan memang harus ku akui, dia punya terlalu banyak pekerjaan. Satu per satu kata-kata Sandyakala coba ku cerna. Belum pernah aku merasa pikiranku seringan ini dan rasanya semua akan berjalan baik-baik saja.


Kak Widura masuk untuk melihat keadaanku. Dia membawakan semangkuk sup ayam kesukaanku dan segelas susu hangat.


"Sandy itu anak baik, kalau bisa Kanaya jangan nyusahin dia ya. Dia selalu tulus pada siapapun," kata Kak Widura sambil menyuapi aku.


"Tiap hari dia menemui kakak khawatir sama kesehatanmu. Dia peduli karena kamu temannya," lanjut Kak Widura.

__ADS_1


"Iya, kak" kataku lalu mengambil sup dari tangan Kak Widura dan memilih untuk makan sendiri dan kembali tidur setelahnya.


Saat hari sudah sore, aku minta izin Kak Widura untuk ke rumah Tante Wening, ada yang harus aku bicarakan dengannya. Kak Widura mengantarkan ku dan memintaku untuk menghubunginya kalau aku sudah selesai.


Aku menunggu Arunika dengan cemas. Memang aku belum menghubungi dan memberitahunya kalau aku ingin bertemu. Tiba-tiba saja aku merasa ada yang harus ku bicarakan dengan Arunika dan aku segera ke sini.


"Nika masih di kantor, nggak tentu pulangnya. Tapi Abi ada di sini jadi kemungkinan dia akan cepat pulang ke sini." Kata Tante Wening saat aku menyampaikan keinginanku untuk menemui Arunika. Hampir dua jam lebih aku menunggu, akhirnya Arunika datang juga.


"Kanaya?" sapanya Arunika begitu melihatku


"Kalau kamu mau ketemu anakmu, kamu ke dalam aja, aku nungguin nggak papa," kataku.


"Oke, sebentar ya, aku mau naro tas dulu sama ganti baju sekalian," katanya dengan terburu-buru.


Ku jawab dengan anggukan.


...****************...


POV Arunika


Abi tidak ada di kamar, mungkin sedang bermain di taman bersama Mbak Asih atau ibu. Aku bergegas masuk ke ruang ganti setelah sebelumnya aku menyempatkan diri untuk sekedar cuci kaki, tangan dan muka. Aku harus bergegas karena sepertinya Kanaya sudah lama menunggu. Tapi untuk apa dia ke sini? Apa Kanaya masih belum menemukan solusi untuk pekerjaannya di cafe? Atau Sandyakala terlalu keras kepala sehingga dia membutuhkan aku untuk menyampaikan keinginannya kepada Sandyakala.


"Maaf ya Kanaya kalau kamu lama menunggu," kataku sambil membawa dua cangkir teh untuk kami.


"Aku yang mau minta maaf karena mengganggumu," katanya terlihat senang melihat kehadiranku.


"Oke, minum teh dulu ya," kataku sambil meletakkan teh di depannya.

__ADS_1


"Aku langsung aja ingin berbicara mengenai Sandy," katanya.


Aku langsung duduk diam dan mencoba menjadi pendengar yang baik. Ada apa ini?


__ADS_2