
POV Sandyakala.
Om Alden masih di rumah saat kami tiba. Wajahnya bingung saat melihat Kak Widura dan berusaha menebak-nebak.
"Om!" panggil Kak Widura lalu memeluk Om Alden sambil menangis.
"Widura? " tanya Om Alden berusaha meyakinkan diri.
Aku dan Abhi hanya saling pandang menyaksikan pertemuan yang mengharukan ini. Tidak lama kemudian Kanaya, Arunika dan Jeevan keluar dari kamar. Mungkin karena mendengar sedikit keributan dan suara tangis haru.
"Kanaya?!" panggil Kak Widura lembut dan disambut dengan pelukan Kanaya dan linangan air mata.
Segera ku gandeng tangan Arunika, aku berbisik ke Abhi untuk pamit karena kami ada acara malam ini. Kami bertiga lalu pergi meninggalkan rumah ini. Ini urusan keluarga Om Alden. Tidak nyaman jika kami terus di sini. Lagipula kami harus bersiap-siap untuk merayakan ulang tahun Arunika.
...****************...
POV Kanaya
Aku sangat bahagia, bisa bertemu dengan Kak Widura. Ternyata selama ini dia mencariku. Ku kira mereka sudah tidak peduli lagi denganku sejak perceraian itu.
Kak Widura menceritakan bagaimana sulitnya mereka beradaptasi di negeri orang. Dengan kendala bahasa, kebiasaan dan adat yang jelas berbeda.
Saat ini mama sudah punya butik yang besar dan sangat menghasilkan. Kak Dewa menjadi dosen di salah satu universitas swasta dan Kak Widura menjadi fotografer profesional. Kak Widura memintaku untuk ikut tinggal bersama mereka karena seperti itulah seharusnya. Untuk masalah pendidikan aku bisa meneruskan pendidikan di sana. Selama ini aku juga hanya homeschooling sehingga tidak menjadi kendala. Aku tinggal meneruskannya di sana. Kak Dewa pasti punya kenalan dan kolega yang bisa diandalkan untuk masalah pendidikanku. Secepatnya mama dan Kak Dewa akan menyusul ke sini untuk menjemputku. Aku tentu saja sangat senang dan bahagia.
Namun jika aku pergi, aku tidak akan bisa lagi bertemu Sandyakala dan aku belum selesai mengejar cintanya. Lagipula bagaimana nasib Om Alden? Kasihan kalau Om Alden harus sendiri. Begitu banyak pertanyaan yang muncul di kepalaku.
"Kanaya kenapa?" tanya Om Alden lembut.
__ADS_1
"Kalau Kanaya pergi, Om sama siapa?" tanyaku sedih.
"Ada Abhi," jawab Om Alden seperti tanpa beban.
Aku menoleh dan menatap heran ke Abhi. Kenapa Om Alden selalu mengandalkan Abhi? Apa hebatnya si pembuat onar ini?
"Kanaya, Abhi itu bukan orang lain. Dia keponakan Tante Dhira," kata Om Alden yang seolah bisa membaca pikiranku.
"Kok bisa, kenapa selama ini Kanaya nggak tahu?" tanyaku bingung.
"Kamu nggak pernah mau mencari tahu." jawab Abhi dengan nada mengesalkan seperti biasa.
"Berarti Abhi anak Pak Darma?" tanyaku lebih lanjut.
"Betul!" jawab Om Alden sambil tersenyum.
Seingatku Pak Darma lah yang membantu modal awal cafe. Beliau punya anak laki-laki, tapi seingatku namanya bukan Abhi. Aku berusaha keras untuk mengingatnya tapi aku benar-benar lupa.
Tapi pernah suatu saat aku dan Tante Dhira bertemu dengan Pak Darma dan beliau membahas tentang anak lelakinya yang tidak suka dengan hadiah rumah mewah darinya dan menolak semua fasilitas mewah dan kekayaan darinya. Anaknya malah memilih membeli perumahan yang sangat sederhana di pinggiran kota.
"Lalu aku jadi terpisah dari Sandy?" kataku lagi.
"Sandy aja nggak keberatan pisah sama kamu," kata Abhi yang lagi-lagi membuatku kesal.
"Abhi kenapa sih?" tanyaku memelas.
"Kanaya, kamu sudah tahu kalau cinta Sandy buat Nika. Kamu jangan menyiksa diri dengan terus berharap padanya. Sandy baik sama kamu ya karena memang sifatnya begitu. Suka membantu, perhatian apalagi sama teman. Jangan kamu salah paham, akhirnya malah Sandy menjauhi kamu. Jangan sampai kamu sibuk mengejar cinta yang tidak pasti untukmu namun akhirnya kamu malah tidak menyadari bahkan mengabaikan cinta yang tulus untukmu." kata Abhi yang membuat aku trenyuh.
__ADS_1
"Kamu minum obat terus istirahat sekarang. Kak Widura juga sepertinya capek dan perlu istirahat," lanjut Abhi yang ku sambut dengan anggukan kepala.
...****************...
Hari ini merupakan hari terbaik dalam hidupku. Aku akan mengikuti mama, Kak Dewa dan Kak Widura. Dengan berbesar hati aku putuskan untuk memulai kehidupan baru bersama mama dan kakak-kakakku. Sejak mengambil keputusan terbesar ini, hati dan pikiran ku terasa jauh lebih tenang. Emosiku pun jauh lebih stabil dan perlahan dosis obat dari psikiater mulai dikurangi. Ku lihat pergelangan tanganku, dan aku tersenyum mengingat betapa bodohnya aku saat itu yang terlalu berpikir pendek.
Arunika sering ke sini, kadang sendiri kadang bersama Jeevan. Perlahan aku tahu kenapa Sandyakala lebih memilih dia, bukan karena mereka sudah bersama sejak lahir, tapi karena Arunika selalu tulus membantu. Dia terlihat polos namun cara berpikirnya sangat terbuka, tidak pernah grusa grusu dalam mengambil keputusan. Dia selalu berpikir panjang dan memandang masalah dari dua sisi. Wawasannya juga luas, mungkin karena dia sangat suka membaca. Dia juga pintar menempatkan diri dalam segala situasi. Aku menyesal selama bersama Arunika di hatiku dipenuhi rasa iri dan ingin bersaing dengannya. Seandainya aku dulu tidak punya niat buruk terhadapnya pasti aku merasakan punya sahabat. Dan Abhi tentu saja walaupun kadang perkataannya membuatku kesal tapi dia selalu telaten merawatku. Cintaku ke Sandyakala membutakan pandanganku pada kebaikan yang lainnya dan aku sadar setelah aku akan meninggalkan semua itu. Benar kata Abhi mengenai Sandyakala. Aku bukanlah prioritasnya, bahkan sampai hari ini Sandyakala belum juga menemuiku. Hanya sesekali dia WA menanyakan kabar. Tapi entah mengapa aku masih berharap padanya.
Baru saja memikirkannya Sandyakala tiba-tiba muncul di depanku. Aku seolah tidak bisa mengendalikan diri dan berlari memeluk Sandyakala. Ku lingkarkan tanganku ke lehernya dan ku ku kecup bibirnya. Sandyakala mendorong tubuhku dan mundur beberapa langkah.
"Bibirmu enak," kataku sambil menatap tajam ke mata dan tersenyum. Sesekali ku gigit bibir bawahku berusaha menggodanya.
"Ayo berangkat, semua barangmu sudah naik mobil" kata Abhi tiba-tiba sambil menarik ku dengan kasar.
Ternyata Sandyakala tidak sendiri, selain Abhi ada Arunika dan Jeevan juga. Aku berusaha santai menutupi kegugupanku.
"Aku mau dianter Sandy," kataku sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Abhi.
"Sandynya nggak mau," kata Abhi sambil terus menarik ku paksa.
Sandyakala hanya berdiri diam mematung di situ. Bahkan dia tidak menoleh saat aku menyebut namanya. Hanya Arunika yang mengikuti kami dari belakang dan disusul Jeevan. Kami berempat lalu naik ke mobil SuV yang entah milik siapa. Om Alden ternyata sudah ada di dalam.
"Sandy belum naik lho, Bhi", tanya Om Alden begitu Abhi menyalakan mobilnya.
"Sandy nggak jadi ikut, Om" jawab Abhi sambil fokus ke jalan.
Sesampainya di bandara, aku sesekali menoleh berharap melihat sosok Sandyakala di sana namun nihil. Aku menyalahkan diriku yang selalu gegabah. Andai aku bisa menahan diri pasti Sandyakala akan mengantar kepergian ku dengan manis.
__ADS_1
Mama, Kak Dewa dan Kak Widura sudah menungguku, setelah saling bersalaman dan mengucapkan salam perpisahan, aku pun berangkat memulai kehidupan baruku bersama keluargaku.
Selamat tinggal Sandyakala Jingga. Aku berharap bisa bertemu dengan mu dalam keadaan yang lebih baik. Aku masih aku terus mengejar cintamu dan pasti akan menggapainya.