BISIK HENING CINTA

BISIK HENING CINTA
SAYANG AbI


__ADS_3

POV Sandyakala


"Kamu jangan seenaknya gitu dong, Sand," suara mama setelah ku jawab teleponnya.


"Apa sih, ma?" tanyaku tidak mengerti


"Kanaya, kamu bawa dia ke sini, terus kami biarkan dia pulang sendiri," Omelan mama terdengar renyah seperti biasanya


"Ya udah, nanti biar Sandy kirim sopir buat Kanaya," kataku berusaha memberi solusi.


"Kamu dong," kata mama tegas.


"Nggak bisa ma, Sandy setengah hari ngurusin cafe sama Kanaya, sekarang Sandy repot di PT, Tadi Kanaya kok yang minta ditinggal," jawabku lalu menutup telepon.


Aneh-aneh saja, kenapa hidup ku harus direpotkan oleh seorang Kanaya? Lagipula dia bukan anak kecil lagi yang harus diawasi terus menerus. Bicara mengenai anak kecil, aku jadi teringat Abi. Nanti sepulang kerja sebaiknya aku ke rumah Bu Wening untuk menjenguknya dan membawakan bola merah untuknya. Pasti Abi akan sangat menyukainya. Aku malah lebih sering kangen ke Abi, ketawanya membuat hatiku tenang.


...****************...


Saat aku datang, Abi bermain di halaman bersama Mbak Asih karena Arunika belum pulang. Sepertinya dia sangat sibuk karena harus memimpin perusahaan yang sangat besar. Abi terlihat senang dengan bola merah yang aku bawakan untuknya.


"Abi aku ajak pulang ya," kataku ke Mbak Asih karena gemes dengan balita lucu itu.


"Nanti dicari Mbak Nika lho Mas," kata Mbak Asih khawatir.


"Nggak papa, biar Abi ikut sama Sandy. Di sana juga kan ada kakek neneknya," kata Bu Wening dari dalam rumah.


"Baik Bu, ini saya persiapkan dulu semua kebutuhan Abi," kata Mbak Asih yang kemudian berlalu pergi.


Aku berterima kasih pada Bu Wening dan menunggu Mbak Asih membawa semua keperluan Abi termasuk memasang babyseat di mobil. Sepanjang perjalanan dan sampai di rumah Abi tertidur pulas, mungkin karena kelelahan bermain. Aku menidurkannya di kamarku dan saat aku merasa aman, aku pun mandi. Aku mandi sangat cepat karena khawatir Abi terbangun dan ternyata semua aman terkendali. Aku rebahan di samping Abi dan memandangi wajah imut dan lucunya yang mirip dengan Arunika. Tanpa terasa aku pun tertidur sambil memeluk Abi.


Sampai saat terdengar suara mama pelan membangunkan aku sambil menepuk lembut pundakku dan memberi isyarat kalau Arunika menunggu di luar.


"Abi mana?" tanya Arunika saat aku nongol di depan pintu.


"Masih bobo, biarin aja sama aku," kataku sambil mendorong Arunika untuk menjauh.

__ADS_1


"Jangan dong, aku juga kangen sama Abi. Dia juga butuh ASI," kata Arunika memelas.


"Ada dibawain Mbak Asih, sudah aku freezer nanti tinggal direndam di air hangat kan?" kataku meyakinkan Arunika kalau aku bisa mengurus Abi


"Langsung dari sumbernya itu lebih baik, Sand. Produksi ASInya bisa lebih banyak" kata Arunika masih berusaha untuk mengambil Abi.


"Ya udah, Nika nginep sini, selesai Abi *****, kembaliin ke aku," kataku mencari solusi yang menurutku cukup tidak masuk akal.


Arunika melotot padaku, mungkin dia berharap aku memikirkan lagi setiap perkataanku. Tapi aku tetap bertahan di depan pintu untuk menghalangi Arunika mengambil Abi. Aku belum sempat bermain dengan Abi karena sejak tadi Abi sudah tidur.


"Kalian ini ribut apa? Abi itu anak orang, bukan boneka buat rebutan begitu," mama mulai ikut campur, pasti akhirnya aku yang harus mengalah.


"Paling nggak tunggu sampai Abi bangun ma, kasihan dia pasti capek tadi lari-larian," kataku masih berusaha menahan Abi untuk tetap di sini.


Akhirnya Arunika mengalah dan memintaku berjanji untuk mengantarnya ke rumah sebelah saat sudah bangun


...****************...


POV Arunika


Terdengar suara bunda yang sedang mengobrol di halaman belakang. Segera ku ayunkan langkah kaki ku ke sana. Penasaran juga, sepertinya obrolannya sangat seru.


"Kanaya?!" aku menatap heran dan seolah tidak percaya dengan apa yang ada di depan mataku.


"Nika, Abi mana?" tanya bunda membuyarkan kekagetanku.


"Abi diculik Sandy, Nika nggak boleh bawa pulang," kataku menjawab bunda.


Bunda lalu pamit dan meninggalkan aku berdua dengan Kanaya. Aneh juga melihat dia ada di halaman belakang. Aku lalu duduk di depan Kanaya tapi tidak tahu harus berbicara tentang apa.


"Abi dekat ya sama Sandy?" tanya Kanaya yang membuatku tersenyum.


"Iya," jawabku.


"Begitulah kalau mendekati janda harus mulai dari anaknya," kata Kanaya seolah menyindir.

__ADS_1


"Untuk apa? Aku dan Sandyakala kan dari dulu memang sudah dekat," jawabku mulai tidak suka dengan arah pembicaraan Kanaya.


Heran, mengapa akhir-akhir ini aku merasa terganggu dengan kehadiran Kanaya? Mungkin benar Kanaya ini tidak tulus, jika dia berbuat baik, ada maksud terselubung di balik kebaikannya. Ada udang di balik batu.


Terasa ada tangan yang menepuk lembut kepalaku dan tampak ekspresi tidak senang dari Kanaya. Aku menoleh Sandyakala berdiri di belakangku.


"Abi mana?" tanyaku sedikit panik melihat dia datang sendirian.


"Ada sama mama sama bunda," jawab Sandyakala lalu duduk di sampingku.


"Nika udah makan?" tanyanya santai dan tampak mengabaikan keberadaan Kanaya.


"Belum, masih kenyang tadi kebanyakan ngemil," jawabku sambil menepuk perutku.


Sandyakala kemudian pergi begitu saja sambil menepuk lembut pipiku. Rasanya akhir-akhir ini Sandyakala sudah tidak segan lagi untuk menyentuhku seperti dulu saat aku belum menikah. Dia juga sudah bersikap canggung lagi, walaupun aku masih sedikit kaget dengan perbuatannya.


Karena tidak apa yang ingin aku lakukan aku lalu pamit pulang. Sandyakala ingin mengantarku pulang namun aku menolak karena aku sudah membawa mobil sendiri. Banyak alasan yang dibuat Sandyakala supaya aku mau tapi tetap aku menolaknya. Aku hanya tidak ingin merepotkannya. Di saat bersamaan Kanaya juga pamit untuk pulang.


"Kamu pulang sama siapa Kanaya?" tanya mama terlihat perhatian.


"Pulang sendiri Tante, nanti order taksi online," kata Kanaya sangat manis dan santun.


"Udah, Sandy anterin Kanaya pulang aja daripada maksa-maksa Nika, kalian berdua ini dari lahir sampai sekarang ribut terus," kata mama dan rasanya ingin ku teriak kalau aku berubah pikiran.


Tiba-tiba saja aku merasa tidak rela kalau Kanaya dekat dengan Sandyakala. Kenapa waktu itu dengan bangga dan gagahnya aku bilang tidak apa-apa kalau Sandyakala menikah dengan perempuan lain.


"Kanaya ke sini sendiri ya harus pulang sendiri dong," kata Sandyakala menolak.


"Nika juga ke sini sendiri lho," kata mama tidak mau kalah.


"Ih, si mama. Nika ke sini kan nyusul Abi, Kalau Sandy nggak bawa Abi ke sini, Nika nggak mungkin ke sini. Ini udah malam, masa' Abi duduk sendiri di kursi belakang?" kata Sandyakala beralasan.


"Bund, bilangin tuh anak emas mu," kata mama minta pertolongan bunda.


"Nggak usah bund, Kalau Nika nggak mau dianterin Sandy. Sandy mau pulang tidur aja," kata Sandyakala sambil berjalan keluar rumah.

__ADS_1


Tampak Kanaya menatap Sandyakala dengan tatapan sebal dan kecewa.


__ADS_2