
POV Sandyakala
Kanaya minta izin untuk berkeliling, katanya dia rindu dengan suasana cafe beserta kenangannya. Dia minta izin ke lantai atas yang dulu kami sebut kost. Tidak ada yang berubah namun sudah lama tidak ada yang menyentuh lantai itu kecuali petugas cleaning service yang aku perintahkan untuk membersihkan tempat itu walaupun tidak pernah terpakai. Kanaya lalu duduk di balkon, kepalanya tertunduk dan air matanya jatuh. Aku mengurungkan niatku untuk mendekatinya dan menanyakannya. Aku waspada terhadap masa lalu saat Kanaya mengalami masalah cinta dan pikirannya tertutup.
Kemudian kami berpindah ke ruang kerja yang sudah direnovasi menjadi lebih lega dan nyaman. Beberapa karyawan menatap aneh ke arahnya, namun mereka segera menunjukkan rasa hormat setelah melihatku di samping Kanaya. Kanaya berhenti di tangga dan memandang ke area cafe. Menatap lurus ke satu sisi tembok yang terukir gambar wayang punakawan dan nama Arunika terukir di sana dengan aksara Jawa masih terpampang indah
"Karya Abhi untuk Nika dan hadiah dari Sandy, sungguh luar biasa," kata Kanaya yang menimbulkan tanda besar di dadaku. Apa yang tersirat di balik kata-katanya itu?
"Kenapa masih di situ?" tanya Kanaya kepadaku sambil menunjuk ke arah lukisan itu.
"Memangnya kenapa kalau masih di situ?" Kataku balik bertanya.
"Ada unsur pengkhianat di balik indahnya karya itu," kata Kanaya sambil menuruni tangga dan aku mencoba mengerti arti dari setiap perkataannya.
"Biar bagaimanapun, cafe ini juga masih milik Nika, kalau Nika tidak minta untuk dihapus, maka selamanya akan di situ," jawabku mencoba bijak.
Tanpa banyak kata Kanaya berlalu dari situ, semakin lama aku mulai merasa tidak nyaman dengan kehadiran Kanaya. Sama seperti dulu, gaya bicaranya terlalu menyakitkan hati dan bukannya bersimpati dengan keadaanku, Kanaya malah seolah menertawakan keterpurukanku. Aku putuskan untuk menawarkan diri mengantarnya pulang dengan alasan aku ada urusan lain yang harus aku selesaikan, untung saja saja di tidak menolaknya.
***
POV Kanaya
Aku akur saja saat Sandyakala mau mengantarku pulang, pasti dia tidak nyaman karena aku menyindir mengenai Abhi dan Arunika. Mungkin takdir mengantarku kembali di saat yang tepat untuk merebut hati Sandyakala. Sebenarnya dalam hati aku juga bertanya-tanya, apa yang terjadi sebenarnya sehingga pada akhirnya Arunika malah menikahi Abhi. Bukankah dulu malah Abhi yang beriya-iya mendorong Sandyakala untuk memperjuangkan cintanya ke Arunika dan selalu menjadi pengganggu saat aku berusaha mendekati Sandyakala? Tapi, hati orang siapa yang tahu. Mungkin berjalannya waktu, Abhi terjerat pesona polosnya seorang Arunika dan mencuri kesempatan dan malah memilih menikahinya.
"Aku baru tahu kalau Abhi itu keponakan Tante Dhira sebelum aku pergi," kataku setelah duduk di samping Sandyakala.
__ADS_1
"Oh ya? Aku sudah lumayan lama tahunya," jawab Sandyakala sambil fokus ke jalan.
Ku tatap wajah Sandyakala, ada rindu untuknya walaupun nyata selama ini dia sangat acuh padaku. Justru sikap acuhnya membuatku semakin tertantang untuk memilikinya. Sandyakala sekarang terlihat lebih dewasa, ketampanannya juga semakin mempesona.
"Kamu sudah ketemu Nika,?" tanyaku mencoba mencari tahu
"Sudah," jawabnya sangat singkat
"Kalau babynya?" tanyaku lagi supaya kami terus berbicara
"Sudah,"
Jawabnya selalu singkat sampai saat kami memasuki pekarangan rumah Om Alden dan dia mau saat ku ajak mampir. Namun, dia hanya duduk di teras tanpa mau masuk ke rumah. Aku duduk di sampingnya sambil terus memandangnya. Mungkin ini bukan saat yang tepat untuk membahas mengenai Abhi dan Arunika. Akan ada waktunya nanti.
"Seiring waktu semua pasti berubah," jawab Sandyakala terdengar bijak.
"Cerita dong apa yang berubah sejak aku pergi?" kataku lagi mencoba mengajaknya berbicara tapi entah mengapa terasa sangat sulit.
"Mungkin lain kali, aku harus ke perusahaan orang tuaku, ada banyak yang harus aku kerjakan," kata Sandyakala sambil berdiri dan berjalan menuju mobilnya.
Aku berusaha menahan diri untuk tidak mengejarnya. Dia seperti merpati yang lari jika didekati, namun suatu saat pasti makan di tangan kita. Aku harus bermain cantik untuk merebut kembali hatinya yang sepertinya hampa tidak terisi. Mungkin aku harus menawarkan diri untuk kembali membantunya di cafe, supaya kami bisa bertemu lebih sering lagi. Aku berdiri di samping pilar sambil melambaikan tangan saat mobil Sandyakala bergerak keluar dari halaman rumah. Biar saja dia menjauhi, pelan-pelan aku akan menariknya ke dalam pelukanku.
Om Alden datang tidak lama kemudian, dia tampak lelah namun masih berusaha tersenyum saat melihatku. Aku menyambutnya dengan pelukan hangat. Ada kerinduan yang mendalam untuk pria yang sudah mengasuh dan menjagaku dengan baik sejak adik tiri ku lahir. Om Alden mengajakku masuk dan menunggu makan siang dihidangkan.
***
__ADS_1
"Om, aku boleh minta alamat Tante Wening?" pintaku setelah kami selesai makan siang.
"Untuk apa?" tanya Om Alden.
"Mau berkunjung aja, biar bagaimanapun beliau kan Kakak ipar, Tante Dhira. Anak dan suaminya sudah meninggal, siapa tahu Tante Wening butuh teman, aku bosan nggak ngapa-ngapain,Om" kataku menjelaskan dengan nada manja.
"Iya, kalau Om longgar Om anterin ya," kata Om Alden.
"Ya, Kanaya ke sana sendiri nggak papa kok Om. Om tenang aja, Kanaya akan baik-baik aja kok," kataku berusaha meyakinkan.
Akhirnya Om Alden memberikan alamat yang dikirim ke ponselku. Aku melompat kemudian memeluk dan mencium pipi Om Alden.
Ada rencana yang harus aku lakukan. Yang pertama aku harus bisa menemui Arunika. Menurut info Om Alden saat kami makan tadi, Arunika sekarang tinggal di rumah Tante Wening, hanya sesekali dia pulang ke rumah orang tuanya. Aku harus meracuni pikiran Arunika supaya dia tidak berpikiran untuk kembali ke Sandyakala. Walaupun dia janda beranak satu, tapi kalau masih ada cinta di hati Sandyakala untuknya dan Arunika menyambutnya, bisa gagal rencanaku untuk menjemput cinta Sandyakala.
Aku segera kembali ke kamar, mengeluarkan isi koperku dan memindahkannya ke dalam lemari. Aku lalu mandi supaya badan terasa lebih segar, Aku perlu istirahat dan tidur sebentar supaya hilang semua lelah sebelum menghadapi tantangan cinta yang siap menyambut.
***
Ku langkahkan kaki keluar dari mobil, aku mengizinkan sopir untuk pergi dan kembali saat aku menghubungi ponselnya. Rumah yang sangat megah berdiri kokoh di depanku. Security tergopoh-gopoh mendekatiku saat aku melangkah ke arah gerbang.
"Saya mau ketemu Bu Wening, sampaikan ke ibu kalau saya keponakan Tante Dhira," kataku memperkenalkan diri.
Satpam itu kembali ke pos nya dan aku menunggu. Lumayan lama sampai dia kembali dan membukakan gerbang untukku. Satpam itu mengawalku sampai di sebuah ruang tamu yang sangat luas dan sangat nyaman. Aku terpaku, tidak menyangka jika ini adalah rumah Abhi yang terlalu biasa bagiku.
Keluar seorang wanita yang cantik dan anggun walau usianya sudah tidak muda lagi. Dia tersenyum padaku, sangat indah.
__ADS_1