BISIK HENING CINTA

BISIK HENING CINTA
KADO ULANG TAHUN


__ADS_3

POV Arunika


Pagi yang sejuk, happy birthday to myself. Terima kasih sudah menjadi pribadi yang baik dan kuat. Aku lalu bangun, mandi dan merapikan kamar tidurku. Kulirik jam dinding dan waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.


"Satu… Dua… Tiga…" hitungku sambil membayangkan Sandyakala berdiri di depan pintu saat aku membukanya.


Dan.. tok.tok.tok. Suara pintu diketuk. Itu pasti Sandyakala. Rutin yang dia lakukan sejak kami berusia sepuluh tahun di saat ulang tahunku.


"Pagi Sandy," kataku sambil tersenyum membuka pintu.


"Jangan ditebak gitu. Ulang!" kata Sandyakala sambil menutup pintu dan mendorongku kembali masuk ke kamar.Aku mulai tertawa terkekeh. Selalu saja begitu, kejutan yang sudah bisa terbaca. Ku ikuti permainannya. Ku biarkan dia menutup pintu lalu aku masuk kembali ke kamar.


Terdengar pintu diketuk tiga kali namun kali ini aku hanya berdiri di belakang pintu sambil menahan tawa. Sudah berkali-kali Sandyakala mengetuk pintu namun aku bersikukuh berdiri tanpa membuka pintu. Pintu terbuka dari luar dan kepala Sandyakala nongol.


"Buka dong, Nika!" kata Sandyakala dengan nada yang menggemaskan.


"Pura-puranya Nika masih tidur." jawabku sambil tertawa tanpa henti lalu menutup pintu kembali.


Pintu diketuk lagi dan kali ini ku buka pintu. Dan Sandyakala di depan pintu dengan tangan terbuka berteriak, "Selamat ulang tahun, Nika".


Aku lalu berlari keluar, menghindari Sandyakala melewati bawah tangannya dan memeluk bunda yang kebetulan lewat. Sandyakala lalu membalikkan badan dengan muka cemberut.


Aku dan bunda kompak tertawa.


"Udahan becandanya, ayo kita sarapan dulu." ajak bunda sambil merangkul pinggangku.


Ku ikuti langkah bunda menuju ke meja makan. Sandyakala tiba-tiba saja berjalan di samping bunda sambil merangkul bahu bunda. Kamu berdempetan padahal ruangan lumayan luas. Ayah sudah duduk di meja makan.


"Kalian ini udah gede tapi masih saja gelendotan sama bunda. Kasian tuh bundanya keberatan" protes ayah saat kami tiba di meja makan.


"Ayah protes tuh, nggak kebagian, ketinggalan kereta," kata Sandyakala yang disambut dengan tawa dan jeweran dari ayah untuk Sandyakala.


"Nanti acara jam berapa, yah?" tanya Sandyakala sambil duduk dan meminum susu coklatnya.


"Malam. Sekitar jam tujuh," jawab ayah.


"Kok ganti malam? Acaranya kan pagi, yah. semalam kata mama disuruh jangan begadang biar nggak kelabakan" protes Sandyakala.


"Mamamu bilang gimana?" tanya ayah lagi menegaskan.

__ADS_1


"Nggak usah begadang malam tahun baru gitu." jelas Sandyakala.


"Berarti mama minta Sandy jangan begadang. Memangnya mama bilang acaranya pagi?" aku menyela pembicaraan mereka.


"Nggak." jawab Sandyakala sambil tertawa.


"Sandy yang nggak bener," kata bunda sambil ikut tertawa.


Ternyata bunda masak semur ayam kesukaan Sandyakala. Sandyakala sangat senang dan makan dengan lahapnya. Seperti biasa kami makan sambil sesekali bercanda dan tertawa bersama. Aku berharap ini bisa berlangsung lama, bisa tiap hari melihat senyum semangat Sandyakala seperti dulu lagi.


"Berhubung acaranya malam, selesai makan Nika temani aku pergi ya. Tapi nanti aku siap-siap dulu" ajak Sandyakala setelah kami selesai sarapan.


Aku mengangguk tanpa banyak bertanya. Sandyakala lalu merogoh saku celananya dan memberikanku sebuah bingkisan kecil dibungkus dengan bungkus berwarna emas serta dihiasi oleh pita lucu yang rasanya tidak asing bagiku.


"Ya udah, aku pulang mau siap-siap dulu. Nanti Jeevan juga ikut kok." kata Sandyakala.


"Iya," jawabku singkat namun aku masih fokus dengan kado yang diberikan Sandyakala.


Sandyakala lalu pulang namun aku masih berdiri mematung dan berpikir keras mengenai kado yang baru saja aku terima. Setelah berusaha keras mengingat-ingat, akhirnya aku menemukan jawabnya. Spontan aku melepaskan tawaku sampai sakit perut dan mengeluarkan air mata.


"Nika, kenapa ketawa begitu? Sendirian lagi," tegur bunda yang tiba-tiba ada di belakangku. Aku berbalik dan menatap bunda.


"Bagus, apanya yang lucu? Belum dibuka juga?" tanya bunda keheranan.


"Begini bund, jadi kemarin tuh Nika kasih kado buat Sandy pakai kertas kado sama pita ini," kataku menjelaskan.


"Jadi sama Sandy dipakai lagi untuk ngasi kado Nika?" tanya mama tanda mengerti.


"Iya." jawabku singkat sambil tertawa lagi.


"Aneh-aneh aja Sandy. Selalu diluar nalar. Maksudnya biar ngirit atau gimana?" kata bunda ikut tertawa.


Bunda lalu pamit karena harus pergi keluar rumah sebentar. Aku lalu bergegas kembali ke kamarku. Sudah tiidak sabar rasanya untuk membuka kado dari Sandyakala. Kurobek kertas kado emasnya supaya aku bisa cepat melihat isinya dan ternyata itu adalah sepasang anting emas yang lucu dan berbentuk dua hati dan ada secarik kertas yang bertulisan 'Pakai ya Nika, supaya aku bisa menjewermu setiap waktu'. Aku tersenyum, selalu ada saja cara Sandyakala membuatku tersenyum bahkan tertawa. Segera ku pakai dan melihat bayang diriku di cermin. Antingnya terlihat sangat bagus. Aku lalu bersiap-siap karena harus pergi dengan Sandyakala. Daripada menunggu di rumah, lebih baik aku yang ke rumah Sandyakala. Kalau dia belum siap-siap aku bisa memintanya untuk tidak menunda-nunda.


...****************...


"Lepas dulu antingnya, Nika!" pinta Sandyakala.begitu aku tiba di rumahnya


"Lho, kenapa?" tanyaku sambil mendorong tangan Sandyakala.

__ADS_1


"Please, ku mohon. Sebentar aja," rayu Sandyakala.berulang kali.


Akhirnya aku melepaskan anting-antingku dan menyerahkan ke Sandyakala meskipun aku bingung dengan permintaan Sandyakala. Harusnya dia senang karena aku menghargai pemberiannya. Sandyakala lalu tersenyum dan memakaikan kembali anting-anting ke telingaku. Ada-ada saja tingkah anehnya Sandyakala.


"Begini baru afdol, dipasangin sama yang ngasih," kata Sandyakala sambil menatapku dengan senyumnya yang menawan.


"Makasih, Sandy." kataku sambil tersipu malu.


"Kamu cantik Nika, selalu cantik" kata Sandyakala sambil menepuk lembut pipiku. Ingin ku memeluknya namun ku tahan karena Jeevan datang.


...****************...


POV Jeevan


Dari hati yang terdalam aku akui jika Sandyakala dan Arunika sebenarnya terlihat sangat serasi, saat mereka berduaan aura kebahagiaan terpancar jelas. Ada kedamaian dan selalu membawa senyum. Namun karena hatiku diliputi perasaan iri dan cemburu, semua itu tidak berarti.


"Jadi pergi nggak?" tanyaku ke Sandyakala.


"Iya, sekarang aja biar nggak kelamaan, hari ini acara padat merayap." jawabnya lalu menggandeng tangan Arunika.


Harusnya aku yang menggandeng Arunika, bukan Sandyakala. Rasanya menyesal menyetujui ajakannya ini.


"Sandy, tunggu!" kata Arunika tiba-tiba.


Aku dan Sandyakala berhenti dan memandang aneh ke Arunika.


"Ternyata jam tangannya saat dipakai ayah kelihatan bagus, tapi pas dipakai Sandy malah jadi aneh" kata Arunika sedikit panik.


"Nggak pa pa!" Kata Sandyakala santai.


"Nika tukar ya!" pinta Arunika ke Sandyakala namun Sandyakala menolaknya.


"Memangnya kenapa, Nik?" tanyaku mulai penasaran dengan gelagat Arunika.


"Ini tuh kado dari Nika. Nika belinya sama ayah. Pas dipakai ayah kayaknya bagus banget, tapi pas dipakai Sandy malah aneh. Ini kan modelnya memang untuk bapak-bapak" jawab Arunika dengan wajah menyesal.


Oh, ternyata itu jam dari Arunika. Pantes saja semalam Sandyakala pamer dan berusaha menyukainya padahal kalau diperhatikan memang jam itu tidak sesuai dengan gaya Sandyakala yang cenderung sporty dan casual.


"Nggak apa-apa, malah bisa dipakai sampai kakek-kakek" kata Sandyakala mencoba menghibur Arunika.

__ADS_1


Setelah Sandyakala berusaha meyakinkan Arunika dengan berbagai cara bahwa Sandyakala sangat suka dengan model jamnya dan tidak ingin menggantinya. Akhirnya Arunika luluh juga, lalu kami bergegas ke rumah Om Alden untuk menjenguk Kanaya.


__ADS_2