
POV Arunika
"Nika tahu kan kalau Kanaya itu mengalami gangguan jiwa?" kata Sandyakala saat menemuiku di halaman belakang.
"Ya karena itu kita harus bantu dia, jangan bikin dia stress," kataku mencoba membujuk Sandyakala.
Sangat mencengangkan ketika Sandyakala mengatakan kalau Kanaya sudah mengelabuiku. Dia punya tujuan lain untuk kembali ke cafe. Jika Kanaya dibiarkan berada di dekat Sandyakala itu bisa memperparah keadaan Kanaya. Dan yang lebih parah lagi, beredar gosip di kantor kalau Kanaya itu calon istri Sandyakala dan kemarin dia memergoki Sandyakala berselingkuh dengan ku lalu dengan kejamnya, Sandyakala meminta security untuk mengusirnya. Aku lalu tertawa mendengarkan penuturan Sandyakala.
"Lalu, menurut Sandy apa tujuan Kanaya kembali ke cafe?" tanyaku sambil menatapnya.
"Sejak dulu, Kanaya itu mau di cafe karena berharap padaku. Kalau kemudian aku menolak cintanya lagi, dia bisa mengulang kembali kejadian dulu" kata Sandyakala sambil bergidik ngeri.
"Nika sudah janji sama Kanaya, Nika bakal bantuin Kanaya untuk kembali ke cafe," kataku berterus terang pada Sandyakala.
Sandyakala tampak tertekan dia terus menerus wira-wiri di depanku sambil memijat pelipisnya. Kemudian dia duduk di depanku sambil tersenyum dan memamerkan lesung pipinya. Entah kenapa rasanya aku jatuh cinta lagi padanya, tapi cepat ku tepis perasaan itu jauh-jauh.
"Kanaya tetap kembali ke cafe, nanti dia boleh pilih mau di cafe lama atau yang baru, pada intinya dia tetap kerja di cafe tapi tidak bekerja bersamaku" kata Sandyakala sambil bertepuk tangan.
"Ya, boleh kalau itu terserah Sandy," kataku ikut lega.
__ADS_1
"Kalau dia niatnya memang mau kerja dia nggak akan protes karena keberatan, tapi kalau ada niat tersembunyi, pasti dia akan cari-cari masalah lagi," katanya dengan senyum ceria sambil mengambil rokok dari kantongnya.
"Lagipula, kenapa Sandy nggak terima aja cinta Kanaya?" tanyaku sambil mengambil rokok dari tangan Sandyakala dan menepikannya.
Lama Sandyakala diam dan menatap ku sangat dalam. Aku malah merasa salah tingkah. Suasana menjadi hening dan aku merasa sangat kaku. Ada sedikit penyesalan, mengapa aku menanyakan hal ini yang akhirnya mengganggu suasana hati Sandyakala. Perlahan dia menarik tanganku dan menempelkan tanganku di dadanya. Bisa ku rasakan detak jantungnya yang terasa sangat cepat dan tidak beraturan.
"Dari dulu yang ada di sini hanya Nika, Kanaya tahu itu, Aslanmu juga sangat-sangat tahu tentang itu" kata Sandyakala dan matanya mulai berembun. "Papa, mama, ayah dan bunda juga mulai menyadari itu sejak Nika menikah. Semua orang yang mengenalku dengan baik juga tahu tentang ini," lanjutnya.
Ku tarik tanganku dari dadanya, aku hanya menunduk dan memainkan jemariku, tidak tahu harus berbuat apa. Sandyakala lalu memegang daguku dan perlahan mengangkat kepalaku. Mata kami bertemu dan membuat irama jantungku sama tidak beraturanya. Dari dulu cintaku juga sudah untuknya, namun saat ini ada ketidaknyamanan di hatiku untuk menerima semua ini.
"Dari dulu, sampai detik ini, sayang ku ke Nika tidak pernah berubah, apapun keadaannya," kata Sandyakala dan membuat rasa bersalah mengiris-iris hatiku.
Aku hanya menggelengkan kepala pelan, ku kembalikan rokoknya dan ku tinggalkan Sandyakala sendiri di sana. Kata maaf terucap dalam hati karena pernah melukai cintanya yang tulus, yang tetap utuh walau pernah ku rusakkan dengan keputusanku yang menurutku benar namun ternyata berbuntut panjang. Sesuatu yang menurutku niat baik itu telah melukai cinta Sandyakala yang tulus dan mencederai persahabatannya dengan Aslan.
POV Sandyakala
Arunika beranjak pergi tanpa kata. Aku tahu dia belum siap membuka diri untuk menerimaku. Banyak hal yang telah dia alami dan pasti bisa mendewasakannya. Setelah pernikahannya dengan Abhi, dia pasti akan sengat berhati-hati sebelum mengambil keputusan.
Aku lalu menghubungi Om Alden untuk mengatur pertemuan antara Aku, Om Alden dan Kanaya. Aku tidak ingin hanya berduaan dengan Kanaya. Aku lalu bergegas menuju ke cafe dan masalah ini harus segera aku tuntaskan. Om Alden dan Kanaya sudah berada di sana saat aku tiba. Tanpa banyak basa-basi, aku lali mengutarakan keputusanku kepada Om Alden dan Kanaya. Benar dugaanku, Kanaya menolak untuk memilih salah satu cafe. Dia bersikeras kalau dua kepala bekerjasama hasilnya akan lebih baik.
__ADS_1
"Begini ya Kanaya, dulu bisa seperti itu. Sekarang banyak pekerjaan yang aku tangani. Aku butuh orang yang bisa aku percaya dan aku lepas untuk membantuku. Atau begini saja, semua cafe aku serahkan ke kamu, supaya aku bisa fokus ke perusahaan keluarga sama franchise. Om Alden setuju kan?" aku mencoba menjelaskan.
Om Alden tentu sangat setuju dengan jalan pikiranku, karena Om Alden juga sama sepertiku, memegang beberapa perusahaan sekaligus. Saat ini saja Om Alden perlahan mulai mentransfer ilmu dan melepas perusahaan keluarga Abhi ke Arunika. Namun beda dengan Kanaya, dia tampak tidak senang hati dengan keputusanku ini.
Tidak lama kemudian Arunika datang dan ternyata Kanaya yang mengundangnya untuk bergabung dengan kami. Dia lalu menyampaikan pendapatnya tentang keputusanku. Di dukung oleh Om Alden dan Arunika, aku merasa di atas angin. Kalau Kanaya setuju tentu itu suatu keuntungan buatku karena pekerjaanku akan menjadi lebih ringan aku akui kepintaran Kanaya akan sangat membantuku mengatasi masalah SDM di cafe ini. Namun, jika Kanaya menolak juga membawa dampak baik, tidak ada alasan bagi Kanaya untuk mencari-cari celah untuk mendekatiku lagi.
Kanaya akhirnya meminta waktu untuk memberi jawaban. Om Alden dan Arunika akhirnya pamit untuk kembali ke pekerjaan mereka masing-masing. Tinggallah aku dan Kanaya berdua lagi.
"Nika bilang apa sampai kamu ambil keputusan ini?" tanyanya sambil menatapku kecewa.
"Ya dia cuma bilang kamu benar-benar butuh pekerjaan dan kamu cuma bisa kerja di cafe," kataku sejujurnya.
"Aku tahu kamu menghindari ku," kata Kanaya tanpa melepaskan pandangannya dariku.
"Ya baguslah kalau kamu sadar," kataku lagi dan bersikap dingin padanya.
"Apa yang kamu harapkan dari Nika? Dia mengkhianatimu. Dia tahu Abhi nggak akan hidup lama tapi warisannya banyak, menjual dirinya untuk mendapatkan kekayaan, lihatlah sekarang dia sudah mendapatkan impiannya, menguasai seluruh harta Om Darma," kata Kanaya yang membuat hatiku panas.
"Iya, aku tahu tanpa harus kamu kuliti. Kalau memang Nika sebusuk itu dan akhirnya aku meninggalkannya pilihanku juga tidak akan jatuh padamu," kataku berusaha menjatuhkan mental Kanaya yang berusaha menunjukkan kalau dia lebih baik dari Kanaya.
__ADS_1
"Aku nggak akan jatuh cinta pada perempuan yang memiliki hati busuk sepertimu, yang merendahkan orang lain demi meninggikan diri. Dan menjatuhkan orang lain demi naik tahta," kataku yang cukup menampar Kanaya.
Untuk kesekian kalinya, aku meninggalkan Kanaya sendirian. Aku meminta manajer di cafe ini untuk mengurusnya dan menelepon Kak Widura untuk menjemputnya serta menjauhkan Kanaya dari kehidupanku. Aku harus bisa mengabaikan teriakan histeris Kanaya yang menjadi pusat perhatian.