BISIK HENING CINTA

BISIK HENING CINTA
KISAH KANAYA


__ADS_3

POV Sandyakala


Lumayan lama aku di ruangan ini, Aku lalu menghubungi Pak Santo untuk menjemput kami. Aku kira Arunika akan kembali, tapi nyatanya ditelponpun dia tidak menjawab. Aku putuskan untuk keluar mencarinya. Siapa tau dia tersesat. Aku tidak mau repot membuat laporan polisi untuk pencarian orang hilang. Dari atas tangga sudah terlihat Arunika dan Abhi duduk santai di bar, sedang asyik mengobrol. Mana si Abhi, playboy cap hamster itu memandang Arunika sangat lekat. Mana bisa aku biarkan begitu saja. Aku harus segera menyusul dan menyelamatkan Arunika dari rayuan pasarannya. Belum selesai aku menapaki anak tangga, dari bawah sudah ada Kanaya dengan senyum di bibirnya yang bergincu merah.


"Hai, pak bos" katanya sambil berusaha memelukku.


Tentu saja aku menunduk dan menghindarinya, jangan sampai gincu merahnya menempel di seragam putihku. Bisa diintrogasi mama seperti beberapa hari yang lalu. Aku lalu menuju ke arah Abhi dan Arunika. Aku duduk tepat di samping Arunika dan meminum jus jeruk yang ada di depan Arunika. Tapi suasana terasa canggung


"Ada apa? Oh, kalian nggosipin aku ya?" tanyaku.


"Pasti Abhi yang mulai, Rossi udah pensiun jadi si Abhi yang jago nikung" kata Kanaya tiba-tiba sudah duduk di sebelahku.


Tanpa basa-basi, Abhi lalu berdiri dan menarik tangan Kanaya lalu membawanya pergi dari sini. Aku tak bisa menahan tawa, untung saja selalu ada Abhi yang bisa mengendalikan keliaran Kanaya dan menjauhkannya dariku. Kalau tidak, aku pasti tidak bisa berkutik menghadapinya.


"Ayo pulang, Pak Santo sudah menunggu di depan" ajakku sambil berusaha menggandeng tangan Arunika.


Arunika mengangguk namun menghindari tanganku. Dia lalu berjalan duluan, dan aku menyusulnya. Dengan lembut aku menarik kucir kudanya, supaya dia mau berjalan sejajar denganku. Pak Santo dengan sigap sudah bersiap-siap membukakan pintu mobil saat kami tiba di parkiran. Seperti biasa, Arunika duduk di belakang sopir, seolah-olah naik di situ sudah tertulis 'tempat duduk khusus Nika'. Belum juga Pak Santo tancap gas, handphoneku berdering, panggilan dari Kanaya. Aku berniat mengabaikannya. Namun, Arunika merebut handphone dari tanganku dan menjawab telpon dengan mode loud speaker.


"Pak Bos, Kok kamu pulang nggak bilang-bilang?" suara Kanaya terdengar genit.


"Sejak kapan ya harus laporan ke kamu?" jawabku ketus.


Dengan gesit aku mengambil handphone dari tangan Arunika lalu menutup panggilan. Arunika tampak tertawa kecil sambil menutup mukanya.


"Nika..." tegurku


"Sandy..." jawabnya kali ini dengan tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Jangan iseng gitu lah kalau sama Kanaya" kataku dengan nada merengek.


"Ah, Sandy itu hanya malu sama Nika. Padahal ya kalau nggak ada Nika, udah seneng banget tuh" ledekknya.


"Siapa bilang?" tantangku sambil menarik kucir kudanya


"Kan Nika yang bilang. Oh iya Pak Santo, Nika kasih tau Kanaya itu cantik, seksi, pintar. Sandy tuh sok asyik..sok jual mahal" Arunika malah mengajak pak Santo bersekongkol.


"Oh iya mbak, bapak juga pernah ketemu sama Mbak Kanaya, sering pergi sama ibu. Anaknya cantik, baik, sopan. Ibu sepertinya sangat suka sama Mbak Kanaya itu" kata Pak Santo.


Arunika tidak membalas ucapan Pak Santo, dia hanya diam dan melirikku sebentar lalu seperti biasa menatap kosong ke luar jendela.


...****************...


POV Arunika


Kenapa seperti menjadi bumerang bagiku. Niat hati menggoda Sandykala, namun saat mendengar kata-kata Pak Santo, aku merasa levelku tidak sebanding dengan Kanaya. Lagi pula mama Naomi sangat menyukai Kanaya, sedangkan aku? Mungkin hanya kesayangan karena mama sudah menimangku sejak aku baru lahir. Coba saja takdir berkata lain, mungkin Mama Naomi tidak akan memandangku yang tidak punya kemampuan apa-apa.


"Kenapa Nika harus ikut?" tanyaku tidak mengerti.


"Cafe itu kan patungan dari aku, mama dan PT. Sahabat Sejati. Nika kan bagian dari PT. Sahabat Sejati" jelas Sandyakala.


"Oh.." jawabku singkat sambil menepis tangan Sandyakala.


"Nanti kamu belajarnya sama Kanaya" lanjut Sandyakala.


"Kenapa nggak sama Abhi? Kayaknya aku lebih nyambung sama Abhi" protesku.

__ADS_1


"Ya nggak dong. Abhi kan sama aku ngurusi marketing sama operasional. Kalau Kanaya yang bagian administrasi sama laporan-laporan" masuk akal juga kata-kata Sandy.


Aku hanya mengangguk, masa iya aku harus belajar dari Kanaya? Bukan masalah gengsi tapi dari cara dia menatapku saja kelihatan kalau dia nggak suka sama aku. Atau mungkin ini perasaanku saja? Ah..ayolah Arunika kamu jangan pernah mengambil kesimpulan sendiri tanpa ada bukti.


"Nanti Nika harus banyak bersabar, Kanaya memang suka judes dengan sesama jenis. Takut ada saingan dia" Lanjut Sandyakala


"Kenapa bisa begitu?" tanyaku benar-benar penasaran.


Menurut Sandyakala, Kanaya itu anak broken home . Mereka 3 bersaudara, dia anak bungsu. Jarak usianya dengan abangnya terpaut 9 tahun. Dia juga merupakan satu-satunya cucu perempuan baik dari keluarga ayah maupun ibunya, sehingga dia sangat dimanja dan jadi pusat perhatian semua anggota keluarga. Apapun yang dia inginkan pasti bisa terpenuhi.


Hingga suatu ketika, saat Kanaya berusia 10 tahun. Orangtuanya bercerai karena orang ketiga. Ayahnya lalu menikah lagi dengan selingkuhannya yang ternyata sedang hamil 7 bulan. Saat perceraian, hak asuh anak dibagi 2, anak lelaki bersama ibunya dan anak perempuan bersama ayahnya. Ibu Kanaya memutuskan untuk menerima panggilan kerja di luar negeri sebagai desainer dan membawa serta kedua putranya.


Tidak lama kemudian, ibu tirinya melahirkan anaknya yang berjenis kelamin perempuan. Sejak saat itu, Kanaya merasa ayahnya mulai tidak adil dan lebih menyayangi adiknya. Kanaya sempat depresi dan tidak ingin tinggal bersama adiknya itu. Kanaya dibawa ke psikolog anak dan yang terbaik memang memisahkan Kanaya dari adiknya.


Om Alden, adik kandung ayahnya lalu menawarkan diri untuk mengasuh Kanaya karena setelah menikah 15 tahun, mereka belum juga dikaruniai anak. Om Alden dan istrinya sangat menyayangi Kanaya. Kanaya ceria lagi karena kasih sayang yang dirasanya hilang sudah kembali. Kanaya juga diajarkan Manajemen bisnis oleh istri Om Alden padahal Kanaya masih duduk di Sekolah Dasar dan mulai ikut Om Alden mengelola cafe dan pelan-pelan merintis bisnis properti. Saat Kanaya mulai SMP, ayahnya meninggal karena sakit. Entah sakit apa yang dideritanya. Ibu tiri dan adiknya lalu pindah ke tempat asalnya. Om Alden mengurus hak perwalian atas Kanaya.


Sampai saat istri Om Alden meninggal, tekad Om Alden semakin bulat untuk menjual cafe dan ingin lebih fokus ke bisnis propertinya. Bukan karena kesulitan keuangan, namun semua karena banyak kenangan bersama istrinya di cafe yang membuat Om Alden susah move on.


Namun Mama meminta Kanaya untuk tetap membantu di cafe, karena mama yakin dengan kemampuan dan cara kerja Kanaya yang masih muda dan sangat cekatan.


"Lalu kenapa Mama meminta Nika untuk ikut?" desakku


"Aduh...Nika, kan mama maunya kita berdua yang mengurus cafe. Kalau dilihat kita mampu, mama mau lepas tangan, biar bagaimanapun Kanaya kan orang luar" jelas Sandyakala.


Aku hanya mampu diam dan merenung. Berharap aku bisa menjalankan semua. Ku semangati diriku sendiri, Kanaya bisa karena dia mau belajar dan sudah terbiasa. Mental macam apa yang aku miliki ini? belum mulai saja aku sudah merasa rendah diri dan merasa tak mampu. Aku hanya perlu belajar bersungguh-sungguh, Aku bukanlah anak yang manja. Aku harusnya bersyukur, orangtuaku sudah mempersiapkan masa depanku. Aku tinggal menjalaninya dengan sebaik-baiknya.


"Kita kan masih SMA, umur 17 juga masih beberapa bulan lagi. Ini nggak termasuk kasus eksploitasi anak ya?" tanyaku sambil berpikir keras

__ADS_1


"Lapor sama Kak Seto aja Nik" jawab Sandyakala sambil meremas tangannya.


"Sekarang sama Bapak Arist Merdeka Sirait kali" jawabku sambil membuka pintu dan keluar dari mobil karena kami sudah sampai tujuan.


__ADS_2