
Sejak Abi lahir, aku juga merasa seperti terlahir kembali. Abi bayi ASI yang sehat. Syukurlah ASI Nika juga berlimpah sehingga Abi tidak terlalu rewel. Setiap dua jam sekali Abi harus menyusui dan aku akan membiarkan dia berduaan saja dengan Nika. Aku juga selalu ikut begadang untuk mengurus Abi. Memang melelahkan tapi aku bahagia.
Karena seringnya begadang kondisi kesehatanku terus menurun. Melati terus menerus mengomel memintaku menjaga jadwal tidurku, namun sebagai seorang ayah tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihat dan mengurus anakku apalagi aku sadar kemungkinan waktuku bersama Abi tidak akan lama. Karena kehabisan akal menghadapi aku yang keras kepala Melati melaporkan keadaan kesehatanku pada Nika. Nika marah besar dan mengatakan sesuatu yang membuatku menurut. Katanya jika aku tidak mau memperhatikan kesehatanku dan kondisiku terus menurun maka aku tidak akan bisa lebih lama lagi bersama Abi. Akhirnya, setiap malam Mbak Asih menemani dan membantu Nika mengurus Abi. Aku selalu berusaha tidur cukup setiap malam sehingga saat pagi aku bisa bangun dan menemani Abi berjemur, memandikan Abi dan menidurkan Abi. Sepanjang siang aku selalu bersama Abi, aku akan menyerahkan Abi ke Nika ketika Abi harus menyusui. Aku sangat bahagia, entah kata-kata apa yang harus aku gunakan untuk menggambarkan kebahagiaanku ini.
...****************...
Pada usia 2 bulan menjelang 3 bulan, Abi sudah mulai bisa menegakkan leher dan kepalanya secara reflek saat digendong atau saat si Abi duduk sambil dipegangi sehingga Nika mulai mengajak Abi untuk ke kantor. Aku meminta Nika meninggalkan Abi di rumah bersamaku namun Nika dengan tegas menolak. Aku mulai tidak betah sendirian lalu ikut juga ke kantor dan membuat Nika semakin mengomel. Aku benar-benar tidak ingin pisah dari Abi sedetikpun. Akhirnya kami memutuskan untuk meminta Mbak Asih menjaga Abi saat Nika ke kantor. Dan karena kantor dengan rumah hanya beberapa langkah, Nika jadi sering bolak-balik. Nika pasti sangat lelah mengurus aku dan Abi. Memang dia dibantu oleh Mbak Asih dan ada Melati yang mengurusku hanya saja Nika tidak sepenuhnya membiarkan mereka menjalankan tugasnya. Betapa untuk memenuhi tugas dan tanggung jawabku, aku menjadi beban besar dalam hidup Nika. Aku merasa sangat sedih apalagi setiap kali aku mengungkit hal ini di depan Nika, Nika pasti marah besar. Saat marah Nika akan diam dan menyibukkan diri dengan buku-bukunya. Saat Nika mulai tenang, barulah dia membicarakan semua baik-baik.
...****************...
Maafkan aku Sandy, karena kelemah-lembutan, kesabaran dan sifat Nika yang sangat dewasa, lama kelamaan aku jatuh hati kepadanya. Aku benar-benar berkhianat padamu. Namun sama halnya seperti aku jatuh hati pada Kanaya, aku memilih untuk memendam rasa ini. Saat ini saja aku sudah menjadi beban di hidup Nika, tidak layak aku berharap cintaku terbalas. Aku tahu diri, semua takkan mungkin karena cintanya Nika selalu jadi milikmu.
__ADS_1
...****************...
Aku tahu itu dalam diam dan tenangnya. Dia memendam rindu untukmu. Semua terbukti saat malam tanggal 31 Desember, itu adalah hari ulang tahunmu. Aku melihat Nika menangis sendirian di kamar sambil memandangi fotomu. Aku memberanikan diri mendekatinya dan itu lah pertama kali aku memeluknya. Nika menangis sangat lama di pelukanku. Sejak kami menikah, kalian tidak pernah berhubungan sama sekali. Nika hanya mengetahui kabarmu dari orang tuamu dan orang tuanya dan berharap kamu tahu dia baik-baik saja di sini. Nika sangat merindukanmu dan menurut Nika inilah pertama kali dia tidak merayakan ulang tahun kalian bersama. Nika lalu mengajakku ke kamar dan menunjukkan kumpulan tulisan dan foto kalian waktu masih kecil. Kata Nika itu kado ulang tahun darimu yang kelima belas. Dia juga menunjukkan anting-anting berbentuk hati yang katanya juga kado ulang tahun darimu. Aku mengambil anting-anting di tangannya dan memakaikan ke telinganya walaupun awalnya Nika menolak karena dia takut saat memakai anting-anting itu, dia akan selalu mengingatmu dan tidak bisa menahan rindu untukmu. Sebesar itu Nika merindukanmu pasti cintanya sangat besar untukmu.
...****************...
Waktu berlalu begitu cepat, hari ini Abi sudah masuk usia 6 bulan. Abi semakin pintar berguling-guling karena otot-otot leher dan lengannya makin kuat. Abi juga sudah bisa mulai duduk sendiri. Abi mulai belajar untuk duduk sendiri dengan mendorong kedua lengannya dari posisi tengkurap ke posisi duduk. Abi juga sudah mulai bisa makan makanan padat untuk pertama kalinya. Menu pertamanya adalah puree kentang dengan wortel dan ikan salmon. Aku bersemangat menyuapinya. Hari-hari berikutnya selalu dan harus aku yang menyuapinya. Sangat senang melihat Abi makan dengan lahap. Makanan kesukaannya adalah kentang.
...****************...
Suara Melati mengomel memenuhi telingaku saat aku membuka mata. Aku pingsan lagi untuk kesekian kali, kata Melati aku mimisan dan mengeluarkan darah lebih banyak dari biasanya. Aku juga merasakan sakit kepala yang hebat dan aku mulai mual dan muntah. Melati memberikan ku obat dan aku merasa lumayan membaik. Namun seminggu setelah hari itu, aku merasa muncul benjolan di sekitar leher dan ketiak, gatal-gatal pada kulit, muncul keringat di malam hari, demam yang tidak kunjung membaik, sering mengalami infeksi, dan mengalami penurunan berat badan. Aku juga mengalami batuk kering, sesak napas, mengi, nyeri tertekan pada dada, hingga nyeri di belakang tulang pada dada. Gejala ini akan semakin memburuk ketika aku berbaring. Nika lalu memutuskan untuk melarikan ku ke rumah sakit supaya aku bisa mendapat perawatan yang lebih baik.
__ADS_1
Betapa terpukulnya aku saat tahu leukimia yang aku derita menyebabkan komplikasi dengan munculnya jenis kanker darah lain yaitu limfoma. Salah satu pengobatan yang disarankan dokter adalah dengan transplantasi sumsum tulang. Aku mulai putus asa dan lelah, aku menolak prosedur apapun yang ditawarkan pihak rumah sakit. Nika menangis di pangkuanku memohon padaku untuk mau berjuang tapi semakin Nika memohon semakin aku merasa membebaninya. Jika aku sudah tiada pasti hidup Nika akan jauh lebih baik.
...****************...
Abi sudah berusia 8 bulan dan sudah bisa berdiri, meski masih harus dibantu dengan berpegangan. Abi juga sudah dapat mengucapkan sebuah kata dengan benar yang ditujukan untuk menyebut seseorang atau sesuatu yang dia inginkan, seperti ‘Mama’ atau ‘Papa’. Sangat lucu saat Abi takut terhadap hal-hal yang tidak dia kenal atau sesuatu yang baru, seperti bunyi peluit, suara dering telepon, atau bunyi mainan baru. Saat Abi terlihat ketakutan saat mendengar bunyi-bunyian baru, aku selalu berikan ia pelukan agar merasa nyaman. Aku juga memberikan pengertian kepadanya bahwa semuanya baik-baik saja dan hal tersebut tidak berbahaya.
Namun aku tidak bisa berlama-lama menemani Abi karena kondisiku semakin memburuk, saat menulis ini aku sudah 3 hari 4 malam di rawat di rumah sakit dan aku benci tidak bisa bersama Abi
***
Tulisannya semakin tidak beraturan apalagi bagian terakhir, seperti ditulis dengan tangan yang bergetar.
__ADS_1