BISIK HENING CINTA

BISIK HENING CINTA
RENCANA LANJUTAN KANAYA


__ADS_3

POV Kanaya


Kepalaku terasa berat, aku berusaha membuka mataku. Ada Om Alden dan Sandyakala berdiri di sampingku. Aku menutup kembali mataku, rasanya sedikit pusing.


"Aku kenapa Om?" tanyaku dengan mata masih terpejam.


"Kamu ketabrak, tapi nggak papa, cuma pingsan karena benturan. Kalau sudah siuman boleh langsung pulang," kata Om Alden sambil memegang tanganku.


Terdengar Sandyakala pamit dengan Om Alden. Segera kubuka mataku dan mencegahnya untuk pergi, tapi dengan tegas Sandyakala menolakku dengan alasan ada banyak urusan penting yang harus dia kerjakan. Betapa aku tidak sepenting urusan-urusannya sehingga dengan tega dia menolakku. Kenapa aku hanya kecelakaan kecil sehingga Sandyakala tidak mengkhawatirkan ku seperti dulu, dia bersedia tinggal untuk menjaga dan merawatku. Apa aku harus di ambang kematian lagi supaya dia mau peduli padaku? Air mataku menetes deras, namun aku harus bisa mengendalikan emosi supaya dia tidak berpikiran jelek mengenaiku.


Aku mencoba duduk dan mengerahkan semua kekuatanku untuk memanggilnya kembali.


"Sandy, apa kamu mau mengantarku pulang?" tanyaku ketika langkahnya sudah hampir sampai di pintu.


"Lho, kan ada Om Alden?" tolaknya terlalu terang-terangan. Hatiku mulai memberontak ingin berteriak, namun sebisa mungkin ku tahan semuanya.


"Nanti pulang sama Om, Sandy sangat sibuk" kata Om Alden membujukku.


Mataku terus mengikuti langkah Sandyakala yang bersikap dingin padaku dan dengan tega meninggalkanku.


...****************...


POV Sandyakala


Aku tidak ingin terjebak seperti masa lalu, saat aku berniat baik menolongnya, dia malah salah paham dan menyusahkanku. Dari gelagatnya aku bisa menyimpulkan kalau Kanaya belum banyak berubah. Hanya saja sekarang dia sedikit lebih tenang, tidak mudah histeris lalu mengamuk. Aku melihat sendiri bagaimana tadi dulu berlari tanpa tujuan saat aku bersikap dingin padanya sehingga terjadilah kecelakaan ini. Pasti ada sesuatu yang tidak sesuai ekspektasinya sehingga dia menjadi tak terkendali seperti itu 


Aku lalu menghubungi sekretarisku untuk menunda semua meeting. Bagaimanapun kehadiran Kanaya tidak bisa ku abaikan begitu saja. Aku lalu menemui kak Widura di galeri fotonya.

__ADS_1


"Kemungkinan Kanaya untuk sembuh itu tergantung dari dia sendiri, kuncinya pikirannya harus tenang," kata Kak Widura sambil fokus melihat hasil pemotretan dari laptop.


"Tadi dia ditabrak mobil di depan cafe dan sekarang dia sudah sama Om Alden," kataku sambil melihat-lihat kamera yang disusun rapi di atas meja.


"Harusnya Kanaya nggak boleh bertemu kamu, Kalau sampai bertemu kamu, semua yang terjadi harus sesuai dengan pemikiran dan fantasinya." kata Kak Widura sambil berhenti dari semua aktivitasnya dan memandangiku


"Dia minta kembali bekerja di cafe, tapi aku menolaknya," kataku berusaha mengingat.


"Harus digali apa tujuannya bekerja di cafe," kata Kak Widura yang ku sambut dengan gelengan kepala.


Menurut Kak Widura, memang harus benar-benar mengerti arah pemikiran Kanaya supaya bisa ikut menjaga emosinya untuk tetap stabil. Awalnya Kak Widura membawanya kembali karena dia sangat merindukan Om Alden. Dia setiap hari dia selalu berharap ada Om Alden yang sabar dan mengerti kemauannya. Namun Kak Widura lupa memperhitungkan keberadaan ku yang selalu menjadi beban pikiran Kanaya. Kanaya memang menyukai dan mencintaiku, namun cintanya yang ambisius dan posesif sangat berbahaya untuk kesehatan mentalnya.


"Aku juga tidak akan memintamu untuk menuruti semua maunya, aku akan memikirkan cara untuk mengatasinya, bila perlu aku akan membawanya pergi," kata Kak Widura sambil menepuk bahuku.


Aku pamit pergi, sebenarnya ada keinginan untuk melihat apakah Kanaya baik-baik saja namun ku urungkan saja daripada menjadi masalah. Ku putuskan untuk menghubungi Om Alden dan katanya Kanaya baik-baik saja dan sudah pulang ke rumah. Saat ini dia sedang beristirahat di kamar.


...****************...


POV Kanaya


"Kanaya," kata Om Alden sambil mengintip di dari celah pintu.


"Masuk Om," kataku dan aku harus memasang muka kasihan dan sedih.


"Gimana? Udah baikan?" tanya Om Alden sambil membawakan segelas susu dan roti untukku.


"Maaf ya Om, aku sudah merepotkan," kataku ke Om Alden.

__ADS_1


Om Alden hanya tersenyum dan menyemangati ku. Aku lalu menceritakan pada Om Alden mengenai keinginanku kembali bekerja di cafe. Sebelumnya aku minta maaf pada Om Alden karena tidak bisa membantu pekerjaannya. Alasan ku susun rapi dengan mengatakan bahwa aku tidak mampu mempelajari hal baru karena otakku rasanya sudah sangat penuh. Oleh sebab itu, aku memilih bekerja di cafe dari kecil aku diajari Tante Dhira di sana. Aku mengatakan itu pada Om Alden dengan harapan Om Alden menyampaikan pada Sandyakala walau tanpa ku pinta. Om Alden lalu pamit, ada kerjaan yang harus dibahas dengan Arunika karena sejak kematian Pak Darma, Om Alden dipercaya untuk mengelola semua milik keluarga itu.


...****************...


POV Arunika.


Kutitipkan Abi pada Mbak Asih dan aku antarkan mereka ke rumah ibu. Aku harus menemui Om Alden di kantor karena banyak laporan yang harus aku pelajari. Aku jadi sering meninggalkan Abi karena pekerjaan yang rasanya terus kejar-kejaran. Sebenarnya tidak masalah membawa Abi ke kantor, namun aku takut Abi bisa kelelahan dan bosan.


Baru melihat setumpuk laporan di depanku saja kepalaku sudah pusing, apalagi harus mempelajarinya. Entah berapa banyak cabang yang dikelola. Aku harus menyelesaikan semuanya sebelum mengikuti rapat Komisaris dan Direksi yang diagendakan dua bulan lagi.


"Inti laporannya sama, hanya beda di angka saja. Pelajari salah satu dulu aja, nanti yang lain pasti lebih gampang memahami," kata Om Alden seolah mengerti apa yang ada di kepalaku.


Aku meminta data dari cabang yang paling kecil dan transaksinya paling sedikit. Sedikit sebanyak aku cepat mengerti karena laporannya hampir sama dengan yang pernah aku kerjakan di luar negeri. Cukup mudah ternyata, hanya butuh lebih banyak waktu dan ketelitian. Lama aku dan Om Alden tenggelam dalam laporan sampai saat Om Alden minta izin untuk mengangkat telepon dari Kanaya.


"Kalau bisa kita selesaikan sebelum jam empat ya, Om harus mengurus Kanaya," katanya dengan wajah khawatir.


"Kanaya kenapa, Om?" tanyaku ingin tahu setelah melihat ekspresi Om Alden yang jelas tidak nyaman.


"Semalam dia ditabrak di depan cafe, abis ketemuan sama Sandy," kata Om Alden sambil menghentikan semua aktivitasnya.


"Sungguhan?" tanyaku dengan nada kaget.


"Mungkin dia kalut, keinginannya untuk kerja di cafe sepertinya ditolak Sandy," kata Om Alden sambil menghela nafas.


"Kenapa bisa begitu, Om? tanyaku menyelidiki.


"Kamu tahu sendiri Kanaya gampang stress. Dari kecil yang dia tahu ya cuma kerjaan di cafe. Untuk pindah mungkin dia tidak mampu. Makanya dia agak tertekan," kata Om Alden.

__ADS_1


"OK, kita sudahi saja sekarang, lanjut besok pagi aja, Om. Otakku juga sudah terlalu penuh," kataku beralasan.


Setelah membereskan semua berkas, Om Alden bergegas pergi. Aku lalu mengambil ponselku dan membuat panggilan. Namun Sandyakala tidak juga menjawabnya.


__ADS_2